CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 21 Oktober 2017

Kota Batik Punya Cerita

Dering telepon di sela-sela hectic penggantian sampel kala itu membuat saya tidak terlalu memikirkan tawaran mau menjelajah mencacah di kota mana. Disebutlah nama dua kota, pertanyaan yang keluar hanya apakah bisa selain Jawa Barat? Kemudian pada telepon berikutnya ditawarkan Pekalongan, nama kota yang saya tidak tahu persisnya di mana. Katanya pilihannya sisa itu kalau selain Jawa Barat, kamu diset di sana ya. Akhirnya saya iyakan saja biar bisa cepat lanjut memproses surat cinta penggantian sampel.

Menjelang tanggal keberangkatan dipesankan tiket kereta. Ternyata perjalanan menuju kota Pekalongan memakan waktu empat jam lebih. Berasa lama banget, apalagi masih dikejar deadline. Alhasil kursi berubah jadi tempat kerja. Lalu bertambahlah alasan saya malas naik kereta untuk perjalanan jauh. Balik Jakarta nanti sangat ingin tidak naik kereta.

Pencacahan di kota batik ini ternyata tidak begitu buruk. Penunjuk jalan orang asli Pekalongan dan pernah ikut kegiatan sejenis tahun lalu membuat pekerjaan jauh lebih efisien. Sehari bisa diajak ngider motoran dari Pekalongan Timur-Barat-Utara. Superb lah. Bekas gosongnya aja yang masih tertinggal di tangan ane. Overall nice, welcomed. Kata mbake kita bisa belajar banyak dari mencacah. Secara tidak langsung kita bisa mengetahui karakter orang, belajar dari cerita-cerita mereka, dari cerita membahagiakan (achievement) sampai cerita paling menyedihkan (mortality). Kita perlu pandai-pandai menempatkan diri.

Pekerjaan tetap hal utama, tapi akan lebih baik jika kita sempatkan mengenal kota yang dikunjungi juga kan, seloroh seorang bapak. Budayanya, makanan khasnya, hingga tempat wisatanya. Menyenangkan saban hari ada yang mengajak main. Makan megono Pekalongan yang jauh berbeda dengan megono Wonosobo, makan garang asem yang juga jauh berbeda dengan garang asem yang selama ini saya kenal di Jakarta, main lima belas menit ke pantai pasir kencana, malam mampir Museum Batik sayang sudah tutup, lalu lanjut diajakin ngeronde di alun-alun.


Hari berikutnya saya traveling sendiri karena masih penasaran dengan isi Museum Batik. Tak perlu khawatir, di museum ini, walau sendiri tetap ada guide yang membantu menjelaskan. Saya pun diajak berkeliling mulai dari ruang pertama berisi peralatan membatik, seperti kain, canting, malam dan bahan pewarna. Lalu ada koleksi batik yang didominasi batik Jogja dan Surakarta, lalu beralih ke ruang kedua mengenal sejarah Batik Pekalongan, ternyata khasnya berwarna terang, motif titik-titik, jlamprang, dan bunga. Ruang ketiga lebih bervariasi. Saya mulai tahu, mulai bisa membedakan aneka motif batik, mulai dari motif kawung, megamendung, parang, hingga pagi-sore. Bagian workshop yang paling menarik, kita bisa mencoba menulis batik menggunakan canting yang diisi malam.

Budaya membatik di kota ini menjadi industri rumahan yang menyerap banyak tenaga kerja. Pemandangan jemuran kain batik di depan rumah-rumah penduduk sudah tak asing lagi. Sungai yang  tiap hari berubah warna menyesuaikan warna kain batik yang sedang diproduksi pun menjadi pemandangan yang dimaklumi. Lalu adanya air rob di daerah utara juga tidak menjadikan mereka putus asa menguruk tanah.
"Traveling itu penuh kejutan. Kejutan ini yang bikin traveling lebih dari sekedar wisata."
Kejutan itu pun dimulai ketika mau naik Kamandaka siang ke Semarang. Kalau diingat-ingat lagi konyol memang. Salah naik kereta Kamandaka, bukannya ke Semarang malah nyasar ke Pemalang. Nasib orang yang tidak terbiasa dengan peron, biasanya gate. Jadwal kereta Kamandaka hanya berbeda 15 menit. Entah karena buru-buru atau sibuk memikirkan penggantian sampel, ketika disebut kereta Kamandaka main naik-naik aja. Awalnya bingung karena kursi saya ditempati orang. Lalu orang-orang menyarankan duduk di tempat kosong aja. Selang lima menit kemudian, ketika kereta mulai meninggalkan Pekalongan baru menyadari tujuan akhir kereta ini Purwokerto, bukan Semarang .-.

Benar-benar pengalaman tersendiri. Sepuluh menit pertama doang shock, selebihnya sudah merelakan turun di Pemalang, makan siang hanya bermodal sepotong roti karena tidak ada tempat penitipan barang, membeli tiket kereta ulang yang baru tiba di Pemalang empat jam kemudian. Baterai low. Dihimpit pekerjaan tapi belum bisa masuk mencari sumber energi laptop. Sungguh terima kasih untuk semua orang yang telah memudahkan urusan saya di Pekalongan maupun Pemalang, mulai dari pegawai, mitra, responden, cs, kondektur, dan satpam. Semoga urusan kalian juga dimudahkan, dilancarkan, dan dilapangkan rezekinya. Di manapun kalian berada, percayalah masih banyak orang baik. Orang yang mau direpotkan, orang yang bersedia membantu. Mari banyak-banyak bersyukur.

Magrib kala itu Kaligung tiba. Saya pun memastikan kembali bahwa kereta yang saya naiki tujuan akhirnya adalah Semarang. Cukup sekali salah naik keretanya. Teman perjalanan saya kali ini cukup menyenangkan, bapak-bapak programmer freelance yang tinggal di Semarang. Nyambung diajak diskusi berat sampai tempat wisata Semarang. Saat tiba di Pekalongan berasa dejavu, ada mas-mas yang hampir bernasib seperti saya tadi siang. Beruntung orang-orang gerbong kooperatif, saya pun inisiatif menanyakan kereta apa, ternyata kereta masnya Kamandaka di peron sebelah. Beruntung Kaligung belum melaju dan Kamandaka masih bertengger di peron sebelah. Perlu ekstra hati-hati memang sepertinya kalau di stasiun Pekalongan. Jadwal keretanya beda-beda tipis. Mesti mempertajam pendengaran juga karena belum ada semacam dashboard yang menandakan di tiap peron telah tiba kereta apa.

Well, sekian cerita kota batik pekan lalu. Thanks for reading. Sampai bertemu di postingan berikutnya.

Sabtu, 30 September 2017

Falsify

Izinkan saya meminjam judul drama yang baru selesai tayang tiga minggu lalu, Falsify. Drama tersebut bercerita betapa artikel-artikel palsu dari sebuah media kenamaan bisa mengubah atau lebih tepatnya mengarahkan opini publik demi tercapainya kepentingan-kepentingan golongan tertentu. Miris memang. Apalagi di era sekarang, menyebarnya informasi cukup dengan bermodal jempol. Dulu mulutmu harimaumu, barangkali sekarang peribahasa yang lebih tepat jarimu harimaumu. Be aware guys.
"If one has the courage to ask righteous questions, it’s not too late for anything."
Kita sebagai pembaca, penonton, atau pendengar perlu berhati-hati ketika mendapat informasi. Apalagi rumor receh dari mulut ke mulut. Kzl kadang melihat ataupun mendengar people zaman now yang langsung menyebarkan informasi yang belum diverifikasi kebenarannya. Please, thinking hard before spread some information. Saya tipikal yang sangat malas melakukan broadcast, tapi kalau sampai ada informasi miring yang melintas mata atau telinga, I will try hard to stop it immediately. Apalagi kalau sudah ngomongin orang, stop ghibah. Masih banyak bahan obrolan yang jauh lebih bermutu dan bermanfaat.

Minggu, 24 September 2017

Happy Little Soul

Judul: Happy Little Soul: Belajar Memahami Anak dengan Penuh Cinta
Penulis: @retnohening
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2017
Tebal: 216 halaman

"Ndak apa-apa, itu namanya be-la-jar." Atau, "Sorry..." seru Kirana sambil tersenyum dengan tatapan mata teduhnya yang siapa pun pasti tak bisa menolaknya.

Please... Sorry... Thank you... adalah kata-kata tulus nan menggemaskan yang kerap disampaikan oleh Kirana ketika bermain. Baginya, belajar dari kesalahan is okay. Dan bagi Ibuk, dia justru banyak belajar tentang sabar dari sang anak, Mayesa Hafsah Kirana.

Life is an adventure. Cerita petualangan Ibuk dan Kirana di Happy Little Soul ini mengajak kita semua‒kakak, adik, orang tua, calon ayah atau ibu, dan sebagai apa pun perannya‒untuk belajar hal-hal sederhana mengenai kasih sayang dan belajar bersama mewarnai kehidupan dengan lebih baik.
***
Buku yang saya pinjam dari seorang kakak yang sebulan lalu telah menjadi ibu. Tertarik baca buku ini karena flooding di timeline awal-awal tahun, I'm just curious. Saya bahkan belum follow Ibuk, seringnya mengklik kalau ada postingan Kirana muncul di explore aja. Ketika liat buku ini ada di rumah, izin pinjem sebagai teman perjalanan. Jujur, bukunya tidak terlalu gimana-gimana. Saya selesaikan dalam perjalanan ke Cirebon kala itu, berhubung harus dikembalikan ketika jadwal pulang berikutnya mendekat.

Ada hal-hal parenting sederhana yang bisa diambil contoh. Sedikit sudah pernah saya coba, ketika berbaur dengan anak-anak and it worked. Menanyakan apakah mereka senang bermain bersama kakak, menawarkan bantuan membereskan buku bersama setelah selesai membaca, men-encourage mereka ketika berhasil menyelesaikan sesuatu, mengajarkan meminjam barang dengan baik dan mengucapkan terima kasih setelahnya. Betapa menyenangkannya dunia anak-anak, tempat kita‒yang dewasa‒ bisa ikut belajar jujur mengekspresikan sesuatu, tanpa pretensi.

Ada tips-tips bagi (calon) ayah atau ibu, ada games dan resep kreatif ala Ibuk juga. Bagi yang berminat belajar parenting, buku ini bisa dicoba. Ringan kok bahasanya. Sayang, kadang ada paragraf yang redundant, mengulang-ulang untuk menjelaskan ide yang sama. Well, harap dimaklumi basic Ibuk bukan penulis, melainkan full time mother. Bagi yang ingin melihat betapa menggemaskannya Kirana, mampir aja ke akun ig Ibuk. Mana tau ikut terinspirasi segera menjadi ibu *eh.

Kamis, 17 Agustus 2017

a (real) night at the museum


Last night, I and one of my friend went to Museum Perumusan Naskah Proklamasi or well known as Rumah Laksamana Maeda at Imam Bonjol street 1. Mengunjungi museum pada malam hari sungguh berbeda dari siang hari. Jika tidak ada event KHI (re: Komunitas Historia Indonesia), mungkin tidak akan ke sana tadi malam. Hari itu ada rapat hingga malam dan besok paginya apel. Benar-benar nekat. Beruntung dibuat tidak menyesal, walaupun harus menahan kantuk yang melanda.

Acara dimulai jam sembilan malam, kami baru sampai. Antrian registrasi masih mengular dan kami tidak sengaja bertemu adik-adik angkatan. Penting memang meninggalkan attire sejenak jika tidak ingin terdeteksi :v *abaikan

Oh iya, ini memang bukan kali pertama saya ke museum. Jika ditambahkan pada malam hari, iya, museum ini yang pertama. Museum Sejarah Nasional di bawah cawan Monumen Nasional menjadi yang pertama saya kunjungi. Setelah itu, diajak tour museum oleh seorang teman, yang pada akhirnya tidak pernah beranjak dari kata wacana. Selanjutnya ke Museum Nasional Indonesia dengan teman-teman yang berbeda dalam rangka Jakarta City Tour kala itu. Lalu, dua bulan lalu (18/06) mulai ikut kegitan KHI dengan tema Jelajah Jejak Arab di Batavia. Fascinating, saya menemukan bahwa belajar sejarah bisa semenyenangkan itu. Guide yang mengerti sejarah benar-benar membantu, membuat ingin belajar lebih banyak lagi. Dulu ketika masih sekolah, I always said history is not my cup of tea.

Tadi malam belajar lagi peristiwa-peristiwa penting menjelang perumusan naskah proklamasi. Mulai dari lumpuhnya Jepang setelah pengeboman Hiroshima Nagasaki, pengasingan Soekarno Hatta ke Rengasdengklok, perjuangan Ibu Fatmawati mencari kain hingga menjahit bendera merah putih pertama kali, hingga Sayuti Melik mengetikkan naskah proklamasi. Sungguh kemerdekaan Indonesia diperjuangkan dengan keringat, darah, dan nyawa. Kita sekarang pun perlu mengisi kemerdekaan dengan berjuang: berjuang melawan lupa, hilang ingatan sejarahnya.
"bangunlah jiwanya, bangunlah badannya"
Kita tidak bisa sampai pada kondisi sekarang tanpa bambu runcing. Mari manfaatkan momentum introspeksi. Sudah tercapaikah cita-cita bangsa? Apa yang sudah kita lakukan untuk bangsa ini? Kita memang berbeda-beda, jangan individualis, jadilah sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat.

Mari merayakan kemerdekaan dengan belajar sejarah, mengenal para pahlawan, mengenal perjuangan mereka, mendoakan mereka, mengapreasiasi mereka, hingga kita bisa meneruskan cita-cita mereka, bukan dengan hura-hura. Apakah lomba balap karung, makan kerupuk, atau lari bawa kelereng di atas sendok akan meningkatkan kecintaan pada Indonesia?
"cintai sejarah, supaya kita bisa lebih mencintai Indonesia"
Another shot. Have you ever got different feeling when sang national anthem, Indonesia Raya? Menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak pernah sama lagi. I don't remember exactly from when. Mungkin ketika menyanyikan lagu tersebut sesaat sebelum turnamen internasional di Gelora Bung Karno. Atau mungkin ketika menyanyikan lagu tersebut di luar teritorial Indonesia. Ada perasaan jatuh cinta, bergetar, yang entahlah, tidak bisa dijelaskan dengan rinci sejak kapan atau karena apa. It's just happen.

Tadi malam menemukan hal yang menambah rasa bergetar menyanyikan Indonesia Raya. Lagu yang diciptakan W.R. Supratman ini ternyata memang lagu yang paling menggugah semangat. Lagu yang dinyanyikan pertama kali pada kongres pemuda ini, bahkan penciptanya tidak bisa menyaksikannya menjadi lagu kebangsaan karena beliau meninggal sebelum Indonesia merdeka. Sudah punya lagu ini di smartphone masing-masing? Kalau belum, silakan di-download terlebih dahulu atau kalau berminat dijadikan ring back tone seperti Kang Asep Kambali, founder KHI.


Overall, acara kayak tadi malam beneran worth to try, again. Menambah wawasan, menambah pengalaman, menambah teman pun. Sayang film dokumenter berbahasa Jepang kemarin tidak ada subtitle-nya. Jadi agak sulit memahami ketika tidak dinarasikan. Alhasil, lost focus sometimes. Sesi renungan kemerdekaan membuat saya benar-benar bangun malam itu. Thanks for remind me. The highlight, jelajah tengah malam peristiwa perumusan proklamasi kemerdekaan RI dimulai setengah satu dini hari. Our group guide (re: Rendy) did a good job. Terima kasih penjelasannya kak.
 "kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan sejarah?
Sekian cerita kali ini. Masih banyak hal-hal seru di museum ini, misalnya teks proklamasi tulisan asli Soekarno atau patung lilin Sayuti Melik yang mengetik naskah proklamasi atau bunker misterius di belakang museum. Sengaja tidak memberikan gambar spoiler :D Silakan menyempatkan diri berkunjung, belajar sejarah, mengenal para pahlawan pejuang proklamasi di sana. Tenang saja masuknya gratis, tapi tetap saja museum di sini sepi pengunjung. Kesadaran diri masing-masing sepertinya yang perlu ditingkatkan :)

Sabtu, 05 Agustus 2017

you are just on time

"You are not late.
You are not early.

You are just on time.
Jangan stress."
Syawal passed and you still got many wedding invitations. When it came from your bestie, you also happy, rite? Last night got unexpected call regarding same issue and joking around, you feel relieved huh? Wkwkk. On the second call, you realized that when you met Mr. Right, you knew it's him, well said.

I just want to clarify something urgent last night. Time flies, people changes. And there must be a huge reason, like family, friends or surrounding environment. I exactly know, there are responsibilities that we must hold. Tergantung kitanya kapan mau berani mengambil tanggung jawab itu.

Percayalah bahwa Allah sudah mengatur rezeki/jodoh kita sedemikian rupa. Jangan lupa bersyukur. Ikhlas dan sabar menerima segala ketetapan-Nya. Tulang rusuk tidak akan tertukar. Kalau kita kehilangan seseorang sesuatu, nanti akan diganti yang lebih baik. Percayalah. Akan tiba saat yang tepat.

Stop doing something silly. Stop delusional. There are a looot of things that you can do while waiting. Banyak hal yang jauh lebih bermanfaat. Banyak cara untuk menyibukkan diri. Banyak jalan untuk merelakan, salah satunya dengan mendoakan. Get hold to yourself. Stay cool. Everything happen for a reason.

Senin, 31 Juli 2017

poverty line is just a number

Garis kemiskinan sedang ramai diperbincangkan beberapa hari terakhir. Sayang, tidak semua cukup paham mengenai angka tersebut. Kita, apalagi awam, perlu berhati-hati menerjemahkan angka, apalagi angka nasional.

Garis kemiskinan itu pengeluaran per kapita, pengeluaran per orang. Tidak dibedakan daerah perkotaan atau perdesaan. Tidak dibedakan daerah sentra ekonomi atau daerah tertinggal. Tidak dibedakan pengeluaran anak-anak atau dewasa. Sehingga angka tersebut cukup wajar, pun mengingat lebar kesenjangan di negeri ini.

Garis kemiskinan dipakai untuk mengestimasi jumlah penduduk miskin. Kemudian muncul kesimpulan tahun sekian jumlah penduduk miskin bertambah atau berkurang. Lalu, orang-orang mulai banyak berspekulasi dan sedikit memberi solusi.
What you can do to END poverty?
Kita bisa (sedikit) berkontribusi dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Ada tiga poverty terminator, yaitu (1) pendidikan, misal dengan ikut serta mengajar anak-anak dari keluarga kurang mampu atau menyediakan perpustakaan keliling agar meningkatkan minat baca mereka; (2) pro poor technology, misal dengan andil membangun BTS di daerah terpencil, memperbaiki jalan menuju sekolah atau puskesmas; (3) enterpreneurship, membagi semangat positif.
Do you believe zero poverty can be achieved?
Say yes guys, be positive! We can make small contribution. Learning something new for better tomorrow. Make human more productive (in education and health). Improve technology and infrastructure. Create jobs. Equality in opportunity. Keluarga miskin harus mampu menikmati pelayanan dasar (pendidikan, kesehatan, sanitasi, air bersih, etc.)
Can we be the first generation in human history to abolish extreme poverty?
- Yes, we can.
Bisakah kita menjadi generasi pertama dalam sejarah umat manusia yang menghapuskan kemiskinan ekstrim? Mengentaskan kemiskinan sesuatu yang berat, tetapi bisa dilakukan. Tidak hanya membutuhkan dana, tapi juga pemikiran. Perlu pembelajaran, perlu kita semua untuk melihat, meneliti, mengawasi, dan memberikan laporan. Mari gotong royong membangun Indonesia :)

Inspired by #supermentor16 End Poverty, October 17, 2016

Rabu, 31 Mei 2017

when Bandung seems nice

I always too lazy to go to Bandung actually, for kind of 'additional' job. It's good to be youth, but please, can you exclude me next time?

Well, we need to work hard, but for me 'work hard, play harder' :p So, I decided to join my senior trip, even though I don't really know the rest. Luckily, I got last ticket on same schedule with them.

We rent a car in Bandung. We went to Tebing Keraton and Maribaya. It's really nice went to somewhere green. Refresh our mind. Even when getting job in the middle, forgot it! I paid it back as soon as my playin time done :v

Maribaya's Mountain Swing*
*)Another group photos will attached later wkk.

Fyi, ticket to Tebing Keraton 12k, ticket to Maribaya 20k. Tebing Keraton is a nice-quiet-green place, but the road towards there is worst. The car can only drive up to the welcome gate. We need to get an 'ojek' for the rest cobblestone roads. Maribaya is famous-crowded-green place, even on weekdays. In Marabaya, we must pay for each 'wahana', such as Sky Tree 15k, Zip Bike 20k, and Mountain Swing 20k. The queue quite long, so we decided just took one ride. There will be a photographer who takes our pictures. And we can get soft copy with 10k for every single picture.

Time to go back to reality. Four days like errr I don't even want to described it. Skip to Saturday, please. Finally, I met one of my highschool best pal. She already moved to Sukabumi. It has been more than four years I guess last met her. Thanks for two hours of quality time. Talking bout rush, movies, series, and of course quarter-life-crisis stuff. Jangan jera dikunjungi ya wkk. See you on the top sis.

NB: Forgive my poor grammar and vocab :x