CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 September 2019

The Book Imaginary Beliefs

Judul: The Book of Imaginary Beliefs
Penulis: Lala Bohang
Penerbit: Gramedia
Terbit: Februari 2019
Tebal: 152 halaman

Earth is blue, fragile, light, and not a star. And we’re part of it, not just living on it. Earth is a battle ground where all species constantly face an invisible war. And we’re the main actor of growth, destruction, and peace.

Someone’s precious is someone else’s garbage.
Someone’s interest is someone else’s boredom.
Someone’s principle is someone else’s violation.
Someone’s contentment is someone else’s pressure.
Someone’s recipe for immunity is someone else’s cause of death.
Either you’re the “someone” or the “someone else”, it doesn’t matter because confusion will always bounce back to you, no matter how far you’ve been running away from it.

It’s about facing an empty page each day, it’s about waking up in the morning deciding to be alive, it’s about choosing which mistakes to avoid, it’s about considering what and who to ignore, it’s about crafting a self that’s truly your own, it’s about faking a smile to cure the pain of others, it’s about continuously moving forward because going back is never a choice, it’s about looking at the blue sky and having small talks with it, it’s about everything that feels small and unworthy, it’s about becoming buoyant, never being trapped between other people’s cacophonic agendas, it’s about counting your breath.
***

Buku ini merupakan sekuel The Book of Forbidden Feeling dan The Book of Invisible Questions. Tertarik men-check out-nya sebulan lalu karena diskon, judul, berwarna hijau dan sepotong kalimat pada blurb. 
Either you’re the “someone” or the “someone else”
Ha. Tidak bisa dipungkiri bahwa saya mungkin kadang kala menjadi the "someone else". Bagi yang level bodo amat-nya di atas rata-rata, tidak perlu berbusa-busa mendebat penilaian orang lain terhadap kita, hal yang di luar kendali kita. Just stay focus in your values and priorities.
"You feel anxious when you have nothing to do. You feel anxious when you haven't checked one of your long to-do lists."
Akan terasa buku ini terbilang dewasa dibanding kedua saudaranya. Pada suatu halaman diingatkan untuk stop being so hard on yourself. Bagian yang paling relatable. Sisanya, entahlah, I can't really figured it out, esp the long stories. Maybe I'll reread this book, agar lebih meresapinya :p

Buku ini masih dilengkapi dengan ilustrasi yang weirdly beautiful, dengan ciri khasnya, the cute stripe girl. Haha. Overall, dari ketiga buku, saya tetap merasa lebih berkesan membaca buku yang pertama, lebih dark somehow. Kembali ke selera masing-masing. Selamat membaca.

Sabtu, 08 Desember 2018

Cinta yang Marah

Judul: Cinta yang Marah
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2017
Tebal: 96 halaman

Suatu hari kelak, sebelum salah satu di antara aku dan kau tersangkut maut, pada hari ulang tahun kau, ketika tidak ada pekerjaan kantor yang melarang kau cuti, aku akan mengajak kau menjadi tua renta, kemudian mengajak kau kembali menjadi anak-anak.
***

Buku ini (katanya) sebelumnya pernah diterbitkan pada 2009. Buku ini saya baca setelah TANYHI dan Melihat Api Bekerja. Menilik potongan-potongan koran pada buku ini sarat politis, berisi fragmen-fragmen sejarah orde baru. Namun, membaca dua puluh satu sajak ini justru meninggalkan jejak romantis bagi saya. Wkwk. I'm not good with political things anyway, topik yang saya hindari.
"Koran atau televisi punya kekuatan mencopot kepala dan dada pembaca atau penonton. Agar tidak merasa kehilangan saat kepala dipenggal, dada kita disesaki bermacam-macam perasaan. Sebaliknya, agar tidak merasa kehilangan saat dada dicopot, kepala kita dipenuhi beraneka ragam pikiran. Media massa akhirnya hanya mampu menciptakan dua kelompok besar pengikut: 1) orang-orang berkepala besar, tapi berdada melompong dan 2) orang-orang berdada lapang, tapi berkepala kosong. Mereka yang masih lengkap kepala dan dadanya adalah kelompok minoritas di negara berpenduduk banyak ini."
Menarik sekali catatan akhir buku ini. Bagi yang berminat membaca mungkin bisa mampir ke medium @hurufkecil. Mudah-mudahan termasuk kelompok minoritas yang masih lengkap kepala dan dadanya. Serangkaian sajak aku-tanpa-nama kepada kau-yang-sudah-mati seolah membawa reformasi pada sudut pandang yang berbeda.

Kamis, 08 November 2018

Buku Latihan Tidur

Judul: Buku Latihan Tidur
Penulis: Joko Pinurbo
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2017
Tebal: 68 halaman

Bahasa Indonesiaku yang gundah membawaku ke sebuah paragraf yang menguarkan bau tubuhmu. Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk bertingkat yang hangat di mana kau induk kalimat dan aku anak kalimat. Ketika induk kalimat bilang pulang, anak kalimat paham bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung. Ruang penuh raung. Segala kenang tertidur di dalam kening. Ketika akhirnya matamu mati, kita sudah menjadi kalimat tunggal yang ingin tetap tinggal dan berharap tak ada yang bakal tanggal.
***

Buku kumpulan puisi Jokpin yang pertama kali saya baca. Tertarik membaca semula karena buku ini bertengger di halaman buku-buku nominator dan peraih penghargaan sastra, promo bulan bahasa gramedia bulan lalu. Hampir memasukkan dalam keranjang, batal berhubung salah seorang teman sudah punya. Haha.

Buku yang terbilang tipis ini berisi humor dan satire, disisipi sedikit ilustrasi. Permainan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang sederhana. Kadang tidak baku, kadang terselip bahasa Jawa yang tidak berhasil dicari dalam kamus.  
"bahwa orang lebih takut kepada hantu, ketimbang kepada tuhan
bahwa lidah memang pandai berdalih
bahwa amin yang terbuat dari iman, menjadikan kau merasa aman" - hlm. 3
Kadang hanya butuh sekejap menuntaskan satu sajak, kadang butuh jeda lebih. Kadang membuat terpingkal, sajak "Langkah-langkah Menulis Puisi" misalnya. Kadang membuat terenyak dan meninggalkan aftertaste.
"Pesan Ibu: Yang kauperlukan hanya tidur yang cukup, pikiran yang jernih, dan hati yang pasrah." - hlm. 7
"Pada suatu pulang ada hati ibu yang tak pernah pergi." - hlm. 9
Kadang begitu relatable, seperti sajak "Kemacetan Tercinta" dan "Punggungmu". Analogi ibu kota Jakarta adalah punggung yang sabar menanggung beban kerjamu, bangun pagimu, pulang malammu, perjalanan macetmu. Duh.
"Kemacetan ini terbentang antara hati yang kusut dan pikiran yang ruwet. Kamu dan negara sama-sama mumet." - hlm. 25
Kadang begitu frontal menyindir, tengoklah "Sajak Balsem untuk Gus Mus". Kadang menggelitik sejuk seperti sajak "Pemeluk Agama". Membaca kumpulan puisi ini membuat kaya akan rasa bagi yang cukup peka. Silakan dipertimbangkan.

Sabtu, 03 November 2018

gratitude

bukan hal besar mengulang hari
setiap bertambah bilangan tahun
membuat perayaan bukan budaya
hadiah terbaik cukup teriring doa

hal yang pantas dilakukan
berterima kasih kepada kedua orang tua
dan senantiasa berusaha memperbaiki diri
setiap kesempatan menghirup udara pagi

Selasa, 16 Oktober 2018

Melihat Api Bekerja

Judul: Melihat Api Bekerja
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2015
Tebal: 155 halaman

Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.
—Menikmati Akhir Pekan

“Aan adalah salah seorang dari dua atau tiga penyair kita yang berhasil memaksa kita dengan cermat mendengarkan demi penghayatan atas keindahan dongengnya.“ - Sapardi Djoko Damono
***

Buku puisi @hurufkecil yang saya baca setelah "Tidak Ada New York Hari Ini". Buku pinjaman yang sudah lama mengendap di tumpukan buku. Sudah lama selesai membaca kumpulan puisi ini, kebanyakan dengan kening berkerut. Namun, setelah mengulik beberapa lembar, agaknya ingin mengadopsi buku ini ke dalam rak buku pribadi. Terkadang ketika membaca ulang puisi yang sama dapat membuncah perasaan yang berbeda.
"Puisi adalah pasangan bercinta yang kasar—kadang seperti perkelahian yang menggairahkan. Ada kalanya puisi seperti cinta. Tidak tahu di mana harus berhenti." - hlm. 50-51
Buku puisi yang bercerita dengan pertautan diksi yang tidak biasa, dilengkapi ilustrasi yang barangkali eksentrik. Terkadang judul puisinya saja menggelitik seperti satu baris sajak, misal "Sejam Sebelum Matahari Tidak Jadi Tenggelam" dan "Sajak buat Seorang yang Tak Punya Waktu Membaca Sajak".
"Jika kau ingin mengucapkan selamat tinggal, lakukan seperti matahari tenggelam," kataku kepada diri sendiri.
Sampai ketemu besok pagi. Lagi." - hlm. 118
"Aku memilih tinggal di kota dan itu adalah hukuman. Jangan pernah mengunjungiku, agar aku bisa tiba-tiba merindukanmu di antara hal-hal yang teratur." - hlm. 137
"Barangkali lebih baik dia tidak tahu apa-apa tentang aku.
Aku ingin diam-diam mencintainya seperti benda kecil yang sengaja menjatuhkan diri dan berharap tidak pernah ditemukan." - hlm. 139
Tak apa jika kamu terpana dalam ketidakmengertian. Tak apa jika kamu perlu waktu membaca berulang-ulang. Perlahan-lahan perasan perasaan akan menyusup, mungkin sambil membisikkan sebongkah pemaknaan.

Minggu, 14 Oktober 2018

kesempatan

ada banyak kesempatan yang ditawarkan
bukan sekali dua kali, melainkan berkali-kali
hanya saja tidak punya cukup keberanian
hanya saja tidak cukup nekat keluar dari zona nyaman
hingga banyak kesempatan yang dilewatkan

maju satu langkah mundur dua langkah
bergerak tapi tidak maju signifikan
sulit bukan berarti tidak mampu
perlu pemicu perlu tabungan ilmu
hingga sukses mengikis krisis kepercayaan atas diri sendiri

Rabu, 10 Oktober 2018

The Book of Invisible Questions

Judul: The Book of Invisible Questions
Penulis: Lala Bohang
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2017
Tebal: 152 halaman

Who?
A breathing meat.

Why?
Some breathing meat lucky enough to understand their purpose of existence. But most of the meats have no idea why they exist in the universe. The meat who knows and the meat who doesn’t know experience the same pain, uncertainty, and heartbreak, but have different points of view on everything.

Where?
Under the sky. On the soil. Between the air and the sea. In the arms of people who treat you badly.

What?
Something you don’t know and something you know. If you’re lucky you’ll find the answer but other questions will come to you soon after that.

When?
Not today.
***

Buku kedua Lala Bohang yang saya baca setelah The Book of Forbidden Feelings. Lighter dibanding buku pertamanya. Berhasil saya tuntaskan dalam dua jam tanpa pikir panjang, setelah memberi sebuah keputusan cukup penting.
"Life is not that easy.
It's never easy.
It's the same for everyone." - page 15
It is a also poetry book like before, but with blue illustrations. Sebagian besar sajak diawali sebuah pertanyaan yang akan mengajakmu berpikir sejenak.
"How to accept everything just as it is?
Shut down your brain
Turn off your heart
Close your eyes
Be invisible" - page 21
If I can, I'd like to be invisible. Haha. Let's laugh at ourselves. Disappear from every awkward situation.
"What is letting go?
Imagine yourself taking off your
heavy backpack after a long day.
That's what letting go is about." - page 66
Pardon me who don't really understand the long kind of conversation or poems on this book. Maybe I will re-read it if I have a plenty of time.
"Human: a statue of memories." - page 77
"What is your strongest talent?
Self-doubt." - page 85
Terjebak dengan keraguan atas diri sendiri. Entah siapa yang berhasil menggerakkan. Entah kapan berani mengambil tanggung jawab.
"Aren't we all just compilations of all of our good and bad decisions?" - page 142

Minggu, 15 Juli 2018

Stories for Rainy Days

Judul: Stories for Rainy Days
Penulis: Naela Ali
Penerbit: POP (Kepustakaan Populer Gramedia)
Terbit: 2016
Tebal: 198 halaman

It was rainy day,
with a hot darjeeling tea,
warm striped blanket and polka dot socks.
One perfect moment to read stories for cats."

***
"That solitary moment you have at a crowded place, when nothing else matters, only you and your book. That is bliss." - page 131
Buku yang sebagian besar saya nikmati di tengah hiruk-pikuk-panasnya angkutan umum ibukota, sangat bertolak belakang dengan anjuran judul dan ilustrasi sampulnya. Tertarik membaca buku ini karena watercolor illustrations yang ditawarkan begitu aesthetic. Ketika mendapat pinjaman buku ini, tidak menyangka bahwa buku berukuran mini dan berisi kumpulan cerita pendek.

Sepertiga bab awal terasa biasa saja, tidak sampai membuat saya baper. Haha. Kisah percintaannya terlalu personal and sorry, I can't relate :p. Ditambah lagu-lagu yang asing bagi saya. Well, lagu tertentu memang bisa mengingatkan kita pada seseorang atau suatu peristiwa.
"But honestly, I am scared right now, about the future that awaits me. Really, I might seem like careless girl who doesn't care about things, but I do, I really do think much about the future and about anything in fact, as I tend to be an overthinking person.

I'm afraid of starting a new relationship. I am afraid of failure. I know I am being dramatic. But if I am going to start a new relationship, I want it to be the last, to be real." - page 89
Saya mulai meresapi bab "Letter of Hope", saat keraguan mulai menyergap. Keraguan akan seseorang, keraguan akan masa depan. Hmm melewati fase quarter life crisis tidak pernah mudah. Seiring bertambahnya usia, bertambah pula serangkaian pertimbangan akan masa depan.
"Dear Past,

I don't know why I wrote to you, I guess there are some things that are left unsaid and I'd really love to talk to you. But meeting up maybe isn't a good idea. Not that I hate to see you but maybe later on we could meet up over casual conversations. But right now it is better this way.

Firstly, I would like to thank you for all the good things you did to me. Really, maybe we don't have that many exciting things to talk about. But when I looked back several times, I found many simple things that I actually should be grateful about." - pages 161-162
Bab "A Letter to the Past" akan membuat kita mengenang kembali masa lalu. Bahwa kita telah melewati hal-hal yang tak mudah. Kita dibuat belajar banyak hal; belajar sabar, belajar menerima, belajar memberi, dan belajar melepaskan.
"I realized that life is all about letting go - letting go our own egos that we are willing to make certain amount of efforts and energy to take the risks and accept the good or bad circumstances that might happen for the one we love.

Letting go also means that sometimes, no matter how much you thought you've put efforts into it, certain things are just not meant to be.

But then again, "In the end, the love you take is equal to the love you make." If it's meant to be, things will be just great...eventually." - page 195
Ada certain things atau yang biasa dikenal sebagai takdir, tidak dapat diubah meskipun kita telah berusaha sekuat tenaga. Maka berserah dirilah kepada Yang Membolak-balikkan Hati. You did well, yes, you did well. Semoga segera mendapat kabar baik.

Selasa, 23 Januari 2018

The Book of Forbidden Feelings

Judul: The Book of Forbidden Feelings
Penulis: Lala Bohang
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2016
Tebal: 152 halaman

I wanted to say, "I would love to know your obsessions, Is it landed house, gadgets, power, domestic life, succulent plants, achievements, money, work, more likes and followers, health, validations, sex, organic food, pets, perfect selfies, children, sports, religion, relationship, minimalism, perfection, muscles, urban toys, shoes, traveling, or fame?" but nobody is prepared for that kind of question on a first date. So I said, "You look great."

***

Sudah lumayan lama mengincar buku ini. Pertama kali sentuh di Gramedia GI, kala itu dibuat tidak beranjak. Jangan mudah tertipu dengan covernya yang biasa saja. Hanya perlu waktu sebentar membaca buku ini, meresapinya yang lama. I finally bought this book during the Gramedia.com's harbolnas promotion last year.
"You’re the kind of love that
I always avoid." - page 13
It is a poetry book with the illustrations. The poems are deep and honest, but also dark and depressing. The poems use simple diction, yet complicated and meaningful.
"Mixed feeling is something you can't really explain but you know exactly how it feels. It's something interesting but you don't know exactly what the ingredients are. Pretty similar to the uneventful taste of that ugly green healthy juice." - page 16
It is a book that says a lot about what's going inside your head but you're too afraid to admit it. It will makes you contemplate.
"I want to grow up but my soul
doesn't seem to be very excited about it." - page 35
The book offers a different perspective. We as readers maybe can understand the poems better when looking at the illustrations. The illustrations are weirdly beautiful.
“Be extremely selective about which memories you want to keep.” - page 106 

Minggu, 24 Desember 2017

Hujan Bulan Juni

Judul: Hujan Bulan Juni
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2015
Tebal: 144 halaman

Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.
***
"Tidak ada yang lebih tabah dari pembaca novel ini." - AZ
Kutipan review g*odreads di atas cukup mewakili :p Novel ini sudah saya ajak berkelana, bahkan hingga ke salah satu kota setting ceritanya di utara sana, tapi teteup gak kelar-kelar bacanya. Sepertinya perlu dibaca ketika tidak ada beban pikiran ditemani secangkir teh hangat dan rintik hujan, biar syahdu. Wkwk. Terbilang berat bagi yang sastranya di bawah rata-rata. Alurnya pun bisa bikin emosi bagi yang kurang tabah.

Cerita novel ini sederhananya berpusat pada Sarwono dan Pingkan, dua orang yang saling jatuh cinta, namun terhalang perbedaan Jawa Menado. Sering kali diulang cerita berlatar kedua suku tersebut, getting me irritated. Lalu ada orang ketiga, orang keempat, orang kelima, you named it.

Jujur separuh bagian pertama membuat mumet. Tertarik baca sebelum menonton filmnya. Boro-boro. Baru dapat memahami tutur bahasa SDD pun separuh bagian setelahnya. Setelah hampir dua bulan menonton filmnya. Banyak bagian yang tambal sulam. Bagian menggembala gerombolan biri-biri Tonsea di novel padahal lumayan menarik. Bagian bertemu Toar juga cukup menarik. Belakangan baru tau Toar itu kakak Pingkan. Seingat saya, di film tidak disinggung-singgung.

Filmnya terlalu menonjolkan cerita yang dikaitkan Katsuo. Heran aing. Teman saya menonton kala itu ngakak terus tiap sosok Katsuo muncul, beyond your imagination lah pokoknya. Di novel tidak terlalu banyak membahas Sontoloyo Jepun itu (sebutan dari Sarwono). Endingnya pun. Ah, film tidak melulu harus happy ending kok. Penonton belakangan cukup bijak. Bagian apiknya mendeklamasikan puisi. Even puisi yang tidak dicakup di novel ini, tapi di buku puisi dengan judul yang sama. Setelah melalui ketiganya, saya lebih menyukai buku puisinya, terlebih bagian berikut.
"Kukirim padamu beberapa patah kata yang sudah langka. Jika suatu hari nanti mereka mencapaimu, rahasiakan, sia-sia saja memahamiku."
"Dalam setiap kata yang kau baca, selalu ada huruf yang hilang. Kelak kau pasti akan kembali menemukannya di sela-sela kenangan penuh ilalang."

Selasa, 28 November 2017

Sufficient

Setiap orang berhak membuat pilihan
Kemudian menjalani konsekuensi atas pilihan tersebut

Setiap orang hampir selalu mempunyai alasan
Namun tidak berarti berhak menyinggung perasaan orang lain

Setiap orang baiknya melapangkan ruang pemahaman
Lantas menjadi cukup karena tidak semua hal perlu ditanya

Senin, 31 Oktober 2016

Garis Waktu

Judul: Garis Waktu
Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: Mediakita
Terbit: 2016
Tebal: 212 halaman

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu. 

Maka, ikhlaskan saja kalau begitu. 

Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.
***

Buku yang pertama kali ku beli karena menaksir covernya. Simple, yet catchy. Sebelumnya belum pernah mendengar nama penulisnya, ternyata (setelah sedikit kepo) sepertinya adalah seorang musisi. Alasan kuat lain membeli buku ini karena berisi kumpulan sajak sehingga bisa dibaca kapan pun dan dari bagian mana pun. Awal-awal membaca lembaran buku ini terasa biasa saja, di sepertiga bagian terakhir baru menemukan *feeling* membaca tulisannya Bung :3
"Jika kita berjodoh, walaupun hari ini dan di tempat ini tidak bertemu, kita pasti akan tetap dipertemukan dengan cara yang lain."
Bukan, bukannya tidak tertarik dengan roman jatuh hati, hanya saja lebih tertarik pada bagian menyembuhkan luka. I can't say "Hai! Apa kabar?" lightly to certain someone, membuat seseorang (baca: diri sendiri) gagal move on. Pukpuk diri sendiri. Wkwkk.
"Jangan memikat jika kau tak berniat mengikat."
See? Don't get impressed easily. Orang yang baik kepadamu mungkin juga baik kepada semua orang. Jangan delusional.
"Lagi-lagi imajinasi menertawakanku karena selalu berhasil menemuimu. Sementara realitas? Dalam realitas kita berdua hanyalah dua orang yang berlari."
"Sadarkah bahwa Tuhan mengujimu karena Dia percaya dirimu lebih kuat dari yang kau duga? Bangkit. Hidup takkan menunggu."
"Lambat laun ku sadari, beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa. Beberapa rasa memang harus dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk diutarakan, hanya untuk disyukuri keberadaannya."
I think I must stop here, before I copy-paste the whole book :p Singkatnya, buku ini bisa membuatmu senyum-senyum sendiri di suatu halaman dan membuatmu membiru di halaman yang lain. Brace your heart. Buku ini menyuguhkan perjalanan, ya, perjalanan menghapus luka.

Salam dari orang yang senang bermain-main dengan luka; mengoreknya tepat kala ia beranjak kering, membiarkannya kembali basah, lalu menikmati sakitnya :')

Minggu, 03 Januari 2016

Lautan Langit


Judul : Lautan Langit
Penulis : Kurniawan Gunadi
Penerbit : CV IDS
Tebal : 208 halaman
Terbit : September 2015

Buku ini buku kedua masgun setelah Hujan Matahari. Berhasil menepati janji membaca buku ini setelah 'urusan' yang satu itu beres. Oktober-November-Desember tahun lalu benar-benar bulan yang sibuk. Yep, sibuk menata hidup pascasarjana :p

Okay, back to Lautan Langit. Ah, cover buku ini bikin kesemsem sejak pandangan pertama. Pengen ikutan preorder, tapi entah kenapa waktu itu sampai kelewat.
Bisakah kesabaran kita seluas lautan? Bisakah hati kita sejernih langit?
Baca kumpulan cerita dalam buku ini siap-siap baper terus ya. Tiap mantengin tulisan masgun di tumblr pun. Walaupun udah pernah baca tulisan yang sama di tumblr, tetep aja ada rasa yang berbeda ketika dibaca ulang dalam bentuk buku, ketika dibaca ulang di waktu yang berbeda. Mungkin emang perlu memperkaya koleksi genre buku semacam ini deh, biar kaya akan rasa dan pemahaman baik.
Ada yang diam-diam berusaha mewujudkan impianmu.
Kali ini Lautan Langit dibagi dalam tiga bagian: Pagi, Siang, Sore. Bahasanya ringan, sederhana khas masgun. Memberikan pemahaman tanpa kesan menggurui. Membuat kita kadang berhenti sebentar, berpikir, dan merefleksikannya dalam kehidupan kita. Pertanyaan-pertanyaan pun kadang sengaja dibiarkan menggantung agar kita berpikir keras mencari jawaban yang sekiranya pantas.
Apabila kamu mengetahui yang sebenarnya tentang orang yang tidak kamu beri kesempatan, apakah kamu akan berubah pikiran?
Pemahaman seseorang terhadap sesuatu tentu berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksa orang lain mempunyai pandangan yang sama dengan kita. Jadi di akhir review ala kadarnya ini, I will give you some quotes. Perkara kamu membacanya atau tidak, itu pilihanmu.

Jumat, 31 Juli 2015

Dear You: Demi Apa? Demikian Aku Mencintaimu


Judul: Dear You
Penulis: Moammar Emka
Editor: Christian Simamora
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: 2012 (cetakan ketiga)
Tebal: 382 halaman

"Seberapa jauh aku bisa bersembunyi tanpa mengingatmu? Sepertinya aku tak mampu melakukannya."

Ah, sudah lama mengidamkan buku ini, sudah lama juga menamatkannya, tapi sama sekali tak keberatan membacanya ulang demi review ini. Sungguh, bagaimana mengatakannya ya, buku ini terbilang frontal, hati-hati terseret, apalagi sampai baper. Haha. Suka diksinya yang tak biasa, tapi sungguh mengena. Merah jambu sampai biru legam.
"Jarak terkadang lebih indah karena ada jeda dan memberi ruang rindu yang luas bagi hadir sang cinta nanti."
"Karena kata hanya perantara, tak bisa seutuhnya. Biarkan rasa yang bicara dari kedalamannya, detik ini. Masih. Rindu ini, untukmu."
"Mulailah belajar melupakanku. Jika tidak mampu, biasakanlah mencintaiku."
Buku ini berisi kumpulan prosa yang dipersembahkan untuk cinta, demi cinta, dan kepada cinta. Sejumlah cinta, rindu, gerimis, hujan, dan senja dipaparkan. Kadang ada bagian-bagian yang ringan, mudah dicerna. Namun, kadang juga ada bagian-bagian yang perlu dibaca pelan-pelan baris demi baris, perlu dieja ulang dari awal untuk memahami maknanya. Ungkapan-ungkapan yang digunakan terkadang ada yang kocak juga xD
"Galau itu sebagian dari rindu. Kalau berlangung terus menerus hubungi rumah sakit terdekat."
"Kangen itu mirip kebelet buang air besar. Makin ditahan, makin blingsatan."
"Penemuan bersejarah di hidupku itu ya kamu. Selamanya ingin kumuseumkan di hati."
Aku selalu jatuh cinta dengan pagi. | "Kalau sama aku?" | "Bentar, bentar. Aku cek isi hati dulu."
Ada banyak banget kutipan favorit dari buku ini. Entah emang karena suka, entah tersindir, entah terjleb-jleb. Haha. Udah usaha mengurangi jumlahnya tapi ternyata masih tetep banyak. Maafkeun. Kalau kalian merasa ini spoiler, jangan dibaca selanjutnya.

Rabu, 27 Agustus 2014

Untitled

Sudah berapa lama waktu berlalu?
Ku pikir aku sudah cukup berdamai dengan masa lalu
Tapi ternyata ketika kita bersinggungan kembali di suatu waktu
Aku belum bisa

Kamu tau?
Aku baru saja melakukan perjalanan singkat,
Bertamasya ke masa lalu

Ah, tulisan-tulisan itu
Aku benar-benar tidak menyangka
Apa yang merasuki ku menuliskannya

Beruntungnya, kamu tidak bisa menemukannya di sini
Seberapa keras pun kamu mencarinya
Biarlah tulisan itu tersegel dalam binder hijau lusuh
Cukup aku dan Allah yang tau

Selamat tengah malam, kamu.

Sabtu, 15 Februari 2014

Repost : Anggaplah Aku Satu dari Seribu

Anggaplah aku satu dari seribu.
Jika orang lain mencintaimu dengan mengejarmu, aku hanya bisa tersenyum seraya menunduk kepadamu, bergurau dengan canda tawa di hadapanmu demi menutupi wajahku yang merona merah…menutupi diriku yang sesungguhnya sangat salah tingkah ketika bersamamu.

Anggaplah aku satu dari seribu.
Jika orang lain mencintaimu dengan mengejarmu, aku hanya bisa mengirimkan beberapa sms semangat, yang kemudian kuhentikan karena merasa ada yang tidak benar dengan mengirimkan sms-sms itu…sejujurnya jari-jariku ini terasa gatal tiap kali aku membuka kontak di ponselku dan melihat namamu ada di dalamnya.

Anggaplah aku satu dari seribu.
Jika orang lain mencintaimu dengan mengejarmu, semakin hari aku semakin takut berada di dekatmu, aku menahan diriku agar dapat sejarang mungkin berkomunikasi denganmu…kemudian aku perlahan menjauh, ketika hatiku mulai bergemuruh hanya dengan melihat sosokmu, ketika mataku senantiasa menemukan dirimu, tak peduli ada berapa banyak orang di sekitar kita, tak peduli seberapa jauh jarak antara aku dan kamu.

Anggaplah aku satu dari seribu.
Jika orang lain mencintaimu dengan mengejarmu, aku mulai gelisah…dan aku mulai menceritakan tentangmu kepada Sang Pembolak-balik hati, kutitipkan hati dan harapanku kepadaNya…lalu kusebutkan namamu di tiap do’a dalam sujud-sujudku, dan tak ada satupun do’a yang memohonkan agar aku bisa memilikimu, semua do’aku tiada lain senantiasa dan selalu…agar kamu menemukan kebahagiaan dalam hidupmu. dengan cara itulah aku mencintaimu.

Anggaplah aku satu dari seribu.
Jika orang lain mencintaimu dengan mengejarmu.
Aku akan mendoakanmu, mengirim rindu dan merasa malu dihadapanNya karena akan terus memintamu.

Jaga diri baik-baik disana, kamu.

Sumber:http://greenndyshe.tumblr.com/post/76415416661/kuntawiaji-anggaplah-aku-satu-dari-seribu

Senin, 28 Mei 2012

Re-Post : Dalam Diam Aku Mencintaimu

Bila belum bersedia melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam…
Karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya…
Kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang,
Kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya..



Karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu..
Menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu..

Karena diammu bukti kesetiaanmu padanya..
Karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH SWT pilihkan untukmu…



Ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan Ali??
Yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan…
Tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah…

Karena dalam diammu tersimpan kekuatan, kekuatan harapan…

Hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata…
Bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap pada-Nya??

Dan jika memang ‘Cinta Dalam Diammu’  itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, biarkan ia tetap diam…


Jika dia memang bukan milikmu, Allah, melalui waktu akan menghapus ‘Cinta Dalam Diammu’ itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat…
Biarkan ’Cinta Dalam Diammu’  itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahsia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu…


Cintailah ia dalam diam, dari kejauhan, dengan kesederhanaan dan keikhlasan…
Ketika cinta kini hadir tidaklah untuk Yang Maha Mengetahui saat secercah rasa tidak lagi tercipta untuk Yang Maha Pencipta izinkanlah hati bertanya untuk siapa ia muncul dengan tiba-tiba… mungkinkah dengan ridha-Nya atau hanya mengundang murka-Nya…


Jika benar cinta itu karena Allah maka biarkanlah ia mengalir mengikuti aliran Allah karena hakikatnya ia berhulu dari Allah, maka ia pun berhilir hanya kepada Allah..

”Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat:49)
”Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32)
”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.“  (QS. Ar-Ruum:21)

Tapi jika memang kelemahan masih nyata dipelupuk mata maka bersabarlah… berdo’alah… berpuasalah…

”Wahai kaum pemuda, siapa saja diantara kamu yang sudah sanggup untuk menikah, maka menikahlah, sesungguhnya menikah itu memelihara mata, dan memelihara kemaluan, maka bila diantara kamu belum sanggup untuk menikah, berpuasalah, karena sesungguhnya puasa tersebut sebagai penahannya.” (Hadist)
”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.“ (QS. Al Israa’ :32)

Cukup cintai ia dalam diam…
bukan karena membenci hadirnya, tapi menjaga kesuciannya,

bukan karena menghindari dunia, tapi meraih surga-Nya,
bukan karena lemah untuk menghadapinya, tapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyelusup..


Cukup cintai ia dari kejauhan…
karena hadirmu tiada kan mampu menjauhkannya dari cobaan,

karena hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan,
karena hadirmu mungkin saja akan membawa kenelangsaan hati-hati yang terjaga…


Cukup cintai ia dengan kesederhanaan…
memupuknya hanya akan menambah penderitaan, menumbuhkan harapan hanya akan mengundang kekecewaan, mengharapkan balasan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan…

Maka cintailah ia dengan keikhlasan…
karena tentu kisah Fatimah dan Ali bin Abi Thalib diingini oleh hati, tapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi…?


“…boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” (QS. AlBaqarah:216)
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS.An Nuur:26)

Cukup cintai ia dalam diam dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan…
karena tiada yang tahu rencana Tuhan… mungkin saja rasa ini ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan karena hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikan… serahkankan rasa yang tiada sanggup dijadikan halal itu pada Yang Memberi dan Memilikinya, biarkan ia yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya…



♥ ♥ ♥ ”Jika namamu yg ditulis di Luh Mahfuz untuk diriku,
niscaya rasa cinta itu akan ALLAH tanamkan dalam diri kita..
Tugas pertamaku bukan mencari dirimu tetapi mensolehahkan diriku..

Sukar untuk mencari soleh dirimu andai solehahku tidak setanding dengan kesolehahan mu.. Janji ALLAH pastiku pegang dalam misi mencari diri ‘Lelaki yang baik untuk wanita yang baik” ♥♥♥
Ya Allah,
Seandainya rindu ini suci maka kuatkanlah,
Seandainya ukhuwah ini kudus maka panjangkanlah,
Seandainya luka ini berhikmah maka biarlah,
Seandainya ingatan ini berfaedah maka teruskanlah…


Sumber: http://mencintaisederhana.blogspot.com/2012/01/dalam-diam-aku-mencintaimu.html dengan pengubahan

Rabu, 18 April 2012

Re-Post : Karena Aku Mencintai Mu

Sesuatu yang menurutmu baik untukmu, belum tentu baik menurut Allah untukmu.
Dan sesuatu yang menurutmu buruk bagimu, belum tentu buruk menurut Allah bagimu”.

“Wahai Allah, aku meminta kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, Kecintaan kepada orang yang mencintaimu, serta aku meminta amalan yang dapat mengantarkan aku kepada cinta-Mu.”




“Karena Aku Mencintaimu”

 
Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu
 
Karena cintaku padamu,
Tak akan ku biarkan cermin hatimu menjadi suram
Tak akan ku biarkan telaga jiwamu menjadi keruh
Tak akan ku biarkan perisai qalbumu menjadi retak, bahkan pecah

Karena cinta ini,

Ku tak ingin mengusik ketenteraman batinmu,
Ku tak ingin mempesonakan mu,
Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,
Atau pun menaruh harap padaku.

Maka biarlah……
Aku bersikap tegas padamu,
Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,
Biarkan aku bersikap dingin,

Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,
Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….
Semua itu karena aku mencintaimu,
Demi keselamatanmu,
Demi kemuliaanmu...


Sebab…

Ada kekasih yang membuktikan cintanya dengan jutaan kalimat pujian dan rayuan….
Ada pula dengan sikap nan penuh kasih..

Tidak sedikit dengan pengorbanan yang meluluh lantakkan harga diri..
Ada pula dengan berkorban tenaga dan harta…..

Namun bagiku…
Aku mecintai mu dengan menundukkan wajahku pada mu,
Bukan karena ku ingin berpaling darimu, 
Tetapi karena ku ingin menjaga pandanganmu dari panahan iblis..

Ku mecintaimu dengan tidak melemah lembutkan suaraku padamu,
Bukan karena aku ingin menyakitimu,
Namun karena aku ingin menjaga hatimu dari bisikan syaitan yang menipu..

Ku mencintaimu dengan menjauh darimu,
Bukan karena ku membencimu….
Namun karena ku ingin menjaga mu dari khalwat yang menjebak..

Ku mencintaimu dengan menjaga diri mu dan diriku…..
Menjaga kesucianmu dan kesucianku…..

Menjaga kehormatanmu dan kehormatanku…..
Menjaga kejernihan hatimu dan hatiku….

Cinta...
Tak mengapa saat ini kita jauh,
karena kelak Allah yang akan menyatukan kita dalam ikatan sucinya…..

Karena itu jauh lebih berarti..
Jauh lebih abadi..
Karena ku yakin…
Janji Allah adalah pasti, lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik..
Seperti inilah ku mencintaimu…..
Dengan menjaga kesucian diri, jiwa dan hatiku….
Hanya untuk ku persembahkan pada mu kelak…..
Oleh karena itu cinta….
Jaga kesucian cintamu juga hanya untukku..
 
Ya Rabb…
PadaMu ku curahkan cintaku padanya... :)


Sabtu, 14 Januari 2012

''ANDAI HARI INI AKU DIMAKAMKAN"

( Untuk Direnungkan )

Hari ini ku mati,
Perlahan...
... Tubuhku ditutup tanah...
Perlahan...
Semua pergi meninggalkanku...

Masih terdengar jelas langkah² terakhir mereka,
Aku sendirian,
Di tempat gelap yg tak pernah terbayang,
Sendiri,
Menunggu pertanyaan malaikat...

Belahan hati,
Belahan jiwa pun pergi.
Apa lagi sekedar kawan dekat atau orang lain.
Aku bukan siapa² lagi bagi mereka...

Sanak keluarga menangis,
Sangat pedih,
Aku pun demikian,
Tak kalah sedih...

Tetapi aku tetap sendiri,
Disini, menunggu perhitungan.
Menyesal sudah tak mungkin.
Tobat tak lagi dianggap,
Dan maaf pun tak bakal didengar,
Aku benar² harus sendiri...

Ya ALLAH jika Engkau beri aku 1 lagi kesempatan,
jika Engkau pinjamkan lagi beberapa hari milikMU,
Untuk aku perbaiki diriku,
Aku ingin memohon maaf pada mereka...

Yg selama ini telah merasakan zalimku,
Yg selama ini sengsara karena aku,
Tersakiti karena aku...

Aku akan kembalikan jika ada harta kotor ini yg telah kukumpulkan,
Yg bahkan kumakan,
Yaa ALLAH Beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
Untuk berbakti kepada ayah & ibu tercinta...

Teringat kata² kasar & keras yg menyakitkn hati mereka,
Maafkan aku ayah & ibu, mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu,

Beri juga ya ALLAH aku waktu untuk berkumpul dgn keluargaku,
Menyenangkan saudara²ku..
Untuk sungguh² beramal soleh.

Aku sungguh ingin bersujud dihadapan-Mu lebih lama lagi..
Begitu menyesal diri ini.
Kesenangan yg pernah kuraih dulu,
Tak ada artinya sama sekali...

Mengapa kusia²kan waktu hidup yg hanya sekali itu...?
Andai aku bisa putar ulang waktu itu...

Aku dimakamkan hari ini
Dan ketika semua menjadi tak termaafkan
Dan ketika semua menjadi terlambat
Dan ketika aku harus sendiri...
Untuk waktu yg tak terbayangkan sampai yaumul hisab & dikumpulkan di Padang Masyar...

Ya RABB sampaikan salamku utk sahabatku yg selalu mengingatkanku akan hari terakhirku didunia

Selasa, 04 Oktober 2011

Abstrak

Hei kau !
Tolong jangan lihat aku seperti itu.
Tolong jangan buat aku salah paham.
Tolong jangan berdiri di tempat yang aku bisa melihat.

Aaaaaaa !
Kenapa semakin lama kau semakin terlihat mirip seperti seseorang.
Seseorang yang semua kenangannya sudah kutinggalkan di tanah Banjarbaru.
Kenapa kau melakukan hal konyol seperti tadi.

Hei kau !
Ya, kau yang disana.
Kau kau dan kau. Lagi-lagi kau.
Benar-benar membuatku bingung.

Aish !
Ayolah stop memikirkan hal-hal konyol.
Babo !
Jangan biarkan fantasi gila ini menyeretmu lebih jauh.
Stop thinking about that.
Stop ya.
Sudah cukup. Enough.
It's time to say good bye.
Lalalalala~

Gutnite :)