CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2018

Nanti kita cerita tentang hari ini


Judul: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
Penulis: Marchella FP
Penerbit: POP
Terbit: Oktober 2018
Tebal: 200 halaman

Buku yang tentu saja saya adopsi bukan karena pengaruh betapa hype-nya di ig :p I bit late to know, entah baca postingan blog mana, sampai sekarang pun belum tergerak buat follow ig-nya. Silakan intip @nkcthi bagi yang minat.

Pertama kali baca judul buku ini seperti tagline yang menarik, covernya pun simple and cute. Setelah meminta pendapat seorang teman yang bacaannya cukup sering beririsan, saya memutuskan membelinya di promosi harbolnas Gramedi*, ditambah promo g*pay. Tidak mau rugi wkwk. Wajar sih pricey untuk ukuran buku hardcover 200 halaman full color ini.

Nkcthi berisi nasihat seorang ibu untuk anaknya di masa depan yang dikemas dalam tulisan singkat nan sederhana ditemani ilustrasi yang menarik. Cukup duduk sebentar untuk mengkhatamkan buku ini, bisa kurang dari setengah jam. Ringan, visually pleasing.
"Jangan mudah tersinggung, di bumi... bukan cuma kamu yang punya perasaan."
Kalau mau direnungi, beberapa halaman akan membuatmu berpikir ulang. Kalau mau diresapi, sebagian bisa memberi efek self improvement. I didn't expect much, sehingga tidak kecewa berlebih. Apalagi mendapatkan buku ini cukup setengah harga normal :v
"Nafas sebentar, apa sih yang dikejar?"
Mudah-mudahan bukan sekadar materi. Sudah hampir di penghujung tahun, semoga bisa senantiasa menjadi lebih bermanfaat.

Sabtu, 08 Desember 2018

Cinta yang Marah

Judul: Cinta yang Marah
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2017
Tebal: 96 halaman

Suatu hari kelak, sebelum salah satu di antara aku dan kau tersangkut maut, pada hari ulang tahun kau, ketika tidak ada pekerjaan kantor yang melarang kau cuti, aku akan mengajak kau menjadi tua renta, kemudian mengajak kau kembali menjadi anak-anak.
***

Buku ini (katanya) sebelumnya pernah diterbitkan pada 2009. Buku ini saya baca setelah TANYHI dan Melihat Api Bekerja. Menilik potongan-potongan koran pada buku ini sarat politis, berisi fragmen-fragmen sejarah orde baru. Namun, membaca dua puluh satu sajak ini justru meninggalkan jejak romantis bagi saya. Wkwk. I'm not good with political things anyway, topik yang saya hindari.
"Koran atau televisi punya kekuatan mencopot kepala dan dada pembaca atau penonton. Agar tidak merasa kehilangan saat kepala dipenggal, dada kita disesaki bermacam-macam perasaan. Sebaliknya, agar tidak merasa kehilangan saat dada dicopot, kepala kita dipenuhi beraneka ragam pikiran. Media massa akhirnya hanya mampu menciptakan dua kelompok besar pengikut: 1) orang-orang berkepala besar, tapi berdada melompong dan 2) orang-orang berdada lapang, tapi berkepala kosong. Mereka yang masih lengkap kepala dan dadanya adalah kelompok minoritas di negara berpenduduk banyak ini."
Menarik sekali catatan akhir buku ini. Bagi yang berminat membaca mungkin bisa mampir ke medium @hurufkecil. Mudah-mudahan termasuk kelompok minoritas yang masih lengkap kepala dan dadanya. Serangkaian sajak aku-tanpa-nama kepada kau-yang-sudah-mati seolah membawa reformasi pada sudut pandang yang berbeda.

Kamis, 08 November 2018

Buku Latihan Tidur

Judul: Buku Latihan Tidur
Penulis: Joko Pinurbo
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2017
Tebal: 68 halaman

Bahasa Indonesiaku yang gundah membawaku ke sebuah paragraf yang menguarkan bau tubuhmu. Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk bertingkat yang hangat di mana kau induk kalimat dan aku anak kalimat. Ketika induk kalimat bilang pulang, anak kalimat paham bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung. Ruang penuh raung. Segala kenang tertidur di dalam kening. Ketika akhirnya matamu mati, kita sudah menjadi kalimat tunggal yang ingin tetap tinggal dan berharap tak ada yang bakal tanggal.
***

Buku kumpulan puisi Jokpin yang pertama kali saya baca. Tertarik membaca semula karena buku ini bertengger di halaman buku-buku nominator dan peraih penghargaan sastra, promo bulan bahasa gramedia bulan lalu. Hampir memasukkan dalam keranjang, batal berhubung salah seorang teman sudah punya. Haha.

Buku yang terbilang tipis ini berisi humor dan satire, disisipi sedikit ilustrasi. Permainan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang sederhana. Kadang tidak baku, kadang terselip bahasa Jawa yang tidak berhasil dicari dalam kamus.  
"bahwa orang lebih takut kepada hantu, ketimbang kepada tuhan
bahwa lidah memang pandai berdalih
bahwa amin yang terbuat dari iman, menjadikan kau merasa aman" - hlm. 3
Kadang hanya butuh sekejap menuntaskan satu sajak, kadang butuh jeda lebih. Kadang membuat terpingkal, sajak "Langkah-langkah Menulis Puisi" misalnya. Kadang membuat terenyak dan meninggalkan aftertaste.
"Pesan Ibu: Yang kauperlukan hanya tidur yang cukup, pikiran yang jernih, dan hati yang pasrah." - hlm. 7
"Pada suatu pulang ada hati ibu yang tak pernah pergi." - hlm. 9
Kadang begitu relatable, seperti sajak "Kemacetan Tercinta" dan "Punggungmu". Analogi ibu kota Jakarta adalah punggung yang sabar menanggung beban kerjamu, bangun pagimu, pulang malammu, perjalanan macetmu. Duh.
"Kemacetan ini terbentang antara hati yang kusut dan pikiran yang ruwet. Kamu dan negara sama-sama mumet." - hlm. 25
Kadang begitu frontal menyindir, tengoklah "Sajak Balsem untuk Gus Mus". Kadang menggelitik sejuk seperti sajak "Pemeluk Agama". Membaca kumpulan puisi ini membuat kaya akan rasa bagi yang cukup peka. Silakan dipertimbangkan.

Selasa, 16 Oktober 2018

Melihat Api Bekerja

Judul: Melihat Api Bekerja
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2015
Tebal: 155 halaman

Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.
—Menikmati Akhir Pekan

“Aan adalah salah seorang dari dua atau tiga penyair kita yang berhasil memaksa kita dengan cermat mendengarkan demi penghayatan atas keindahan dongengnya.“ - Sapardi Djoko Damono
***

Buku puisi @hurufkecil yang saya baca setelah "Tidak Ada New York Hari Ini". Buku pinjaman yang sudah lama mengendap di tumpukan buku. Sudah lama selesai membaca kumpulan puisi ini, kebanyakan dengan kening berkerut. Namun, setelah mengulik beberapa lembar, agaknya ingin mengadopsi buku ini ke dalam rak buku pribadi. Terkadang ketika membaca ulang puisi yang sama dapat membuncah perasaan yang berbeda.
"Puisi adalah pasangan bercinta yang kasar—kadang seperti perkelahian yang menggairahkan. Ada kalanya puisi seperti cinta. Tidak tahu di mana harus berhenti." - hlm. 50-51
Buku puisi yang bercerita dengan pertautan diksi yang tidak biasa, dilengkapi ilustrasi yang barangkali eksentrik. Terkadang judul puisinya saja menggelitik seperti satu baris sajak, misal "Sejam Sebelum Matahari Tidak Jadi Tenggelam" dan "Sajak buat Seorang yang Tak Punya Waktu Membaca Sajak".
"Jika kau ingin mengucapkan selamat tinggal, lakukan seperti matahari tenggelam," kataku kepada diri sendiri.
Sampai ketemu besok pagi. Lagi." - hlm. 118
"Aku memilih tinggal di kota dan itu adalah hukuman. Jangan pernah mengunjungiku, agar aku bisa tiba-tiba merindukanmu di antara hal-hal yang teratur." - hlm. 137
"Barangkali lebih baik dia tidak tahu apa-apa tentang aku.
Aku ingin diam-diam mencintainya seperti benda kecil yang sengaja menjatuhkan diri dan berharap tidak pernah ditemukan." - hlm. 139
Tak apa jika kamu terpana dalam ketidakmengertian. Tak apa jika kamu perlu waktu membaca berulang-ulang. Perlahan-lahan perasan perasaan akan menyusup, mungkin sambil membisikkan sebongkah pemaknaan.

Senin, 31 Oktober 2016

Garis Waktu

Judul: Garis Waktu
Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: Mediakita
Terbit: 2016
Tebal: 212 halaman

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu. 

Maka, ikhlaskan saja kalau begitu. 

Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.
***

Buku yang pertama kali ku beli karena menaksir covernya. Simple, yet catchy. Sebelumnya belum pernah mendengar nama penulisnya, ternyata (setelah sedikit kepo) sepertinya adalah seorang musisi. Alasan kuat lain membeli buku ini karena berisi kumpulan sajak sehingga bisa dibaca kapan pun dan dari bagian mana pun. Awal-awal membaca lembaran buku ini terasa biasa saja, di sepertiga bagian terakhir baru menemukan *feeling* membaca tulisannya Bung :3
"Jika kita berjodoh, walaupun hari ini dan di tempat ini tidak bertemu, kita pasti akan tetap dipertemukan dengan cara yang lain."
Bukan, bukannya tidak tertarik dengan roman jatuh hati, hanya saja lebih tertarik pada bagian menyembuhkan luka. I can't say "Hai! Apa kabar?" lightly to certain someone, membuat seseorang (baca: diri sendiri) gagal move on. Pukpuk diri sendiri. Wkwkk.
"Jangan memikat jika kau tak berniat mengikat."
See? Don't get impressed easily. Orang yang baik kepadamu mungkin juga baik kepada semua orang. Jangan delusional.
"Lagi-lagi imajinasi menertawakanku karena selalu berhasil menemuimu. Sementara realitas? Dalam realitas kita berdua hanyalah dua orang yang berlari."
"Sadarkah bahwa Tuhan mengujimu karena Dia percaya dirimu lebih kuat dari yang kau duga? Bangkit. Hidup takkan menunggu."
"Lambat laun ku sadari, beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa. Beberapa rasa memang harus dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk diutarakan, hanya untuk disyukuri keberadaannya."
I think I must stop here, before I copy-paste the whole book :p Singkatnya, buku ini bisa membuatmu senyum-senyum sendiri di suatu halaman dan membuatmu membiru di halaman yang lain. Brace your heart. Buku ini menyuguhkan perjalanan, ya, perjalanan menghapus luka.

Salam dari orang yang senang bermain-main dengan luka; mengoreknya tepat kala ia beranjak kering, membiarkannya kembali basah, lalu menikmati sakitnya :')

Minggu, 03 Januari 2016

Lautan Langit


Judul : Lautan Langit
Penulis : Kurniawan Gunadi
Penerbit : CV IDS
Tebal : 208 halaman
Terbit : September 2015

Buku ini buku kedua masgun setelah Hujan Matahari. Berhasil menepati janji membaca buku ini setelah 'urusan' yang satu itu beres. Oktober-November-Desember tahun lalu benar-benar bulan yang sibuk. Yep, sibuk menata hidup pascasarjana :p

Okay, back to Lautan Langit. Ah, cover buku ini bikin kesemsem sejak pandangan pertama. Pengen ikutan preorder, tapi entah kenapa waktu itu sampai kelewat.
Bisakah kesabaran kita seluas lautan? Bisakah hati kita sejernih langit?
Baca kumpulan cerita dalam buku ini siap-siap baper terus ya. Tiap mantengin tulisan masgun di tumblr pun. Walaupun udah pernah baca tulisan yang sama di tumblr, tetep aja ada rasa yang berbeda ketika dibaca ulang dalam bentuk buku, ketika dibaca ulang di waktu yang berbeda. Mungkin emang perlu memperkaya koleksi genre buku semacam ini deh, biar kaya akan rasa dan pemahaman baik.
Ada yang diam-diam berusaha mewujudkan impianmu.
Kali ini Lautan Langit dibagi dalam tiga bagian: Pagi, Siang, Sore. Bahasanya ringan, sederhana khas masgun. Memberikan pemahaman tanpa kesan menggurui. Membuat kita kadang berhenti sebentar, berpikir, dan merefleksikannya dalam kehidupan kita. Pertanyaan-pertanyaan pun kadang sengaja dibiarkan menggantung agar kita berpikir keras mencari jawaban yang sekiranya pantas.
Apabila kamu mengetahui yang sebenarnya tentang orang yang tidak kamu beri kesempatan, apakah kamu akan berubah pikiran?
Pemahaman seseorang terhadap sesuatu tentu berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksa orang lain mempunyai pandangan yang sama dengan kita. Jadi di akhir review ala kadarnya ini, I will give you some quotes. Perkara kamu membacanya atau tidak, itu pilihanmu.

Jumat, 31 Juli 2015

Dear You: Demi Apa? Demikian Aku Mencintaimu


Judul: Dear You
Penulis: Moammar Emka
Editor: Christian Simamora
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: 2012 (cetakan ketiga)
Tebal: 382 halaman

"Seberapa jauh aku bisa bersembunyi tanpa mengingatmu? Sepertinya aku tak mampu melakukannya."

Ah, sudah lama mengidamkan buku ini, sudah lama juga menamatkannya, tapi sama sekali tak keberatan membacanya ulang demi review ini. Sungguh, bagaimana mengatakannya ya, buku ini terbilang frontal, hati-hati terseret, apalagi sampai baper. Haha. Suka diksinya yang tak biasa, tapi sungguh mengena. Merah jambu sampai biru legam.
"Jarak terkadang lebih indah karena ada jeda dan memberi ruang rindu yang luas bagi hadir sang cinta nanti."
"Karena kata hanya perantara, tak bisa seutuhnya. Biarkan rasa yang bicara dari kedalamannya, detik ini. Masih. Rindu ini, untukmu."
"Mulailah belajar melupakanku. Jika tidak mampu, biasakanlah mencintaiku."
Buku ini berisi kumpulan prosa yang dipersembahkan untuk cinta, demi cinta, dan kepada cinta. Sejumlah cinta, rindu, gerimis, hujan, dan senja dipaparkan. Kadang ada bagian-bagian yang ringan, mudah dicerna. Namun, kadang juga ada bagian-bagian yang perlu dibaca pelan-pelan baris demi baris, perlu dieja ulang dari awal untuk memahami maknanya. Ungkapan-ungkapan yang digunakan terkadang ada yang kocak juga xD
"Galau itu sebagian dari rindu. Kalau berlangung terus menerus hubungi rumah sakit terdekat."
"Kangen itu mirip kebelet buang air besar. Makin ditahan, makin blingsatan."
"Penemuan bersejarah di hidupku itu ya kamu. Selamanya ingin kumuseumkan di hati."
Aku selalu jatuh cinta dengan pagi. | "Kalau sama aku?" | "Bentar, bentar. Aku cek isi hati dulu."
Ada banyak banget kutipan favorit dari buku ini. Entah emang karena suka, entah tersindir, entah terjleb-jleb. Haha. Udah usaha mengurangi jumlahnya tapi ternyata masih tetep banyak. Maafkeun. Kalau kalian merasa ini spoiler, jangan dibaca selanjutnya.

Sabtu, 29 November 2014

Hujan Matahari

Judul : Hujan Matahari
Penulis : Kurniawan Gunadi
Penerbit : Canting Press
Tebal : 204 halaman
Terbit : Cetakan pertama, Agustus 2014

Udah lama ngidam buku ini, semenjak liburan semester lalu. Beruntung menemukan teman yang punya. Berhubung buku ini self publishing jadi agak susah belinya, mesti order dulu. Besok (30 November 2014), sebenarnya ada acara bedah bukunya di Bogor. Lumayan bisa dijangkau sih, tapi berhubung Selasanya ada ujian dan belum menemukan teman yang bisa diculik ke sana, jadi yaudah lah. Lain kali mungkin, pas acaranya di Jakarta :)

Lagi-lagi baca kumpulan cerita dan prosa. Buku ini bisa dibilang lebih padat dibanding Ja(t)uh. Ada banyak banget pembelajaran yang bisa kita ambil, kalo kita bersedia melapangkan pemikiran. 
Hidup ini sungguh menyimpan banyak pembelajaran. Setiap orang menjadi hujan sekaligus matahari bagi orang lain. Datang ke dalam hidup seseorang untuk memberikan pembelajaran. Pergi pun meninggalkan pembelajaran.
Buku ini di bagi menjadi 3 bagian. Gerimis, Hujan, Reda. Ada banyak kisah, sebagian besar sweet. Ah, kamu harus kuat iman juga baca buku ini, nanti kamu jatuh :D Aku suka analogi-analoginya. Diksi-diksi yang digunakan. Pemahaman yang disematkan. Well, you must read it by yourself.

Beberapa cerita dan/atau prosa di dalamnya pernah dimuat di akun tumblrnya, bahkan beberapa sudah dijadikan suaracerita, kayak "Tujuan", "Bersamaku" dan "Maukah Kau Mencoba Menjadi Angin?". Beberapa tulisannya, "Perasaan Kita", "Maukah Kau Menunggu?", "Bila Tidak Ada Pertemuan", "Laki-laki dan Perempuan" dan masih banyak lagi. Kalau kamu penasaran tapi belum bisa baca bukunya bisa kepo akun tumblrnya dulu. Hahaha. Jadi semacam promosi *plak.

Bingung apa lagi yang mesti ditulis. Bagi quotes aja kali ya. Happy reading. Jangan salahkan aku kalau nanti kalian ketagihan baca tulisannya ya. Hahaha. Fyi, beberapa orang sudah menjadi korban. Mungkin kalian akan menjadi yang kesekian :p

Suatu Sore di Bawah Pohon Randu
"Kira-kira apa yang harus kami lakukan kalau kami belum siap memberikan kepastian?"
"Jangan sekali-kali memberikan harapan. Camkan itu."
Kamu Baik, Masa Lalumu Tidak
Perempuan lebih suka dengan laki-laki yang datang dan membicarakan masa depan, bukan masa lalu.
Untuk Siapa
"Ya Allah, hamba tidak tahu berjodoh dengan siapa. Hamba tidak tahu berdoa untuk siapa. Tidak satu pun nama bisa hamba sebut karena nama itu tidak pernah hamba tahu. Hamba hanya memohon, jodohkanlah hamba dengan seseorang yang selalu menyebut nama hamba dalam doanya. Siapapun dia, setidaknya hamba tahu bahwa ketika mencintaiku, dia tidak melupakan-Mu."
Hujan yang Jatuh
Ah, kamu tahu? Hujan tidak pernah tahu di mana ia jatuh. Maka beruntunglah hujan yang jatuh di tempat yang tepat. Di tempat yang sedang membutuhkan hujan. Aku adalah tempat itu dan kamu adalah hujan.
Tujuan
Aku bukan pilihan, aku tujuan
"Aku tidak ingin menjadi pilihanmu. Sekalipun kamu memilihku diantara banyak pilihan. Karena kamu telah memulainya dengan pembandingan"
Boneka
Seseorang yang peduli dengan perasaannya akan memilih maju atau menunggu, ia tidak pernah diam saja.
Surat
Kamu terlalu baik kepada banyak lawan jenismu, kepada banyak perempuan. Membuat mereka terlalu nyaman di dekatmu dan membuat mereka merasa aman untuk membuka cerita kepadamu.
Aku hanya sekedar mengingatkan, berhati-hatilah. Kamu menumbuhkan apa yang tidak mereka tanam. Perasaan aman dan nyaman itu lebih berbahaya dari perasaan cinta. Kau perlu tahu itu, teman.
Karena Apa?
"Aku tidak sedang mencari teman minum kopi atau membaca buku, tidak juga sedang mencari teman naik gunung. Aku mencari teman hidup di dunia dan akhirat. Seseorang yang bisa bersama menuju-Nya. Dan aku tidak peduli dengan selain itu."
Untuk Sementara Waktu
Untuk sementara waktu, jagalah hati kita masing-masing tetap berada pada tempatnya. Tetap berada pada perlindungannya. Sampai waktu dimana dia harus diberikan dan diterima oleh orang lain. Sampai waktu di mana kita akan menerima hal yang sama pula dari orang lain.

Kamis, 30 Oktober 2014

Ja(t)uh

Judul         : Ja(t)uh
Penulis      : Azhar Nurun Ala
Penerbit    : Azharologia
Tebal         : 164 halaman
Terbit        : April 2013

Metafora telah menjadi hobi, obat curhat paling mujarab. Lebih manjur dari rintik hujan, lebih ampuh dari sinar bulan. Apapun yang dirintis, pastikan ia tetap manis. Sudahlah, biarkan mereka berbusa mulutnya, berduri matanya, mereka tidak pernah mengerti arti romantis. Arti kerapuhan yang indah, atau ketakberdayaan yang memesona. Yang meruntuhkan langit. Yang menenggelamkan matahari di laut mati.

Ja(t)uh merupakan kumpulan cerpen, puisi, serta prosa-prosa ringan yang sebagian besar pernah dipublikasikan di blog azharologia dan ditulis selama tahun 2011-2013. Ja(t)uh berisi proses pencarian jati diri, pemaknaan terhadap cinta, serta renungan-renungan sederhana tentang kehidupan. Tanpa bermaksud menebarkan kegalauan di muka bumi apalagi menggurui, Ja(t)uh hadir terutama untuk mengajak kita memaknai kembali cinta: betapa suci dan indahnya ia.

***

Sebelumnya aku tidak begitu menyukai hal-hal berbau sastra, yang penuh dengan diksi-diksi rumit. Mungkin karena dulu aku salah memilih buku sastra yang pertama kali harusnya kubaca. Namun, belakangan ini jadi agak tergila-gila dengan sastra, jatuh dengan selera diksinya yang unik. Walaupun kadang perlu mengernyit, ternyata banyak hal yang bisa disembunyikan aksara. Berjuta perasaan.

Buku ini, terbagi dua bagian, Jatuh dan Jauh. Di bagian Jatuh, kamu akan disuguhkan berbagai tulisan, yang dengan membacanya saja kamu mungkin akan terseret jatuh, merah jambu, malu-malu atau bahkan rindu. Kadang kamu juga mungkin akan tersentil dan secara tidak langsung dapat belajar berbagai pemahaman baik. Berikut beberapa kutipan dari bagian Jatuh. Kalau kamu merasa ini spoiler, jangan dibaca :D

Selasa, 28 Oktober 2014

Dikatakan atau Tidak Dikatakan, itu Tetap Cinta.

Baru kali ini baca buku kumpulan sajak sampai tuntas, mungkin karena buku ini tipis juga kali ya. 72 halaman, 24 sajak. Anyway, suka ilustrasi doodle artnya, bener-bener memanjakan mata :3

"Dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta."

Berisi berbagai sajak.
Sajak tentang memiliki, pun tentang melepaskan.
Sajak tentang pertemuan, juga tentang perpisahan.
Sajak tentang kebahagiaan, juga tentang kesedihan.
Juga sajak bergurau, bercanda dengan perasaan.

Ketika membacanya mungkin kamu akan berhenti sejenak, berpikir, kemudian tertawa atau bahkan termakjlebi :p Berikut beberapa kutipan dari sajak dalam buku tersebut.

Saat Hujan
...
Perasaan adalah perasaan
Tidak kita bagikan, dia tetap perasaan
Tidak kita sampaikan, ceritakan, dia tetap perasaan
...
Perasaan adalah perasaan
Hidup bersamanya bukan kemalangan
Hei, bukankah dia memberikan kesadaran betapa indahnya dunia ini?

Memilikimu
...
Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika sungguh cinta, kita akan membiarkannya
Seperti apa adanya
Hanya menyimpan perasaan itu dalam hati.
Selalu begitu, hingga akhir nanti.
Sajak Jangan Habiskan
...
Sungguh, jangan habiskan waktu kita
Untuk seseorang yang tidak pernah tahu
Bahwa kita menghabiskan waktu demi dia.
Sajak "Kalaupun Tidak"
...
Bersabar dan diam lebih baik.
Jika memang jodoh akan terbuka sendiri jalan terbaiknya.
Jika tidak, akan diganti dengan orang yang lebih baik.
Sajak Menjagamu
Akan kurawat kau dalam diam
Agar tumbuh besar penuh pemahaman
Akan kurawat kau dalam hening
Agar tumbuh tinggi penuh kesabaran
Akan kurawat kau dalam senyap
Agar tumbuh kokoh penuh keikhlasan.
...
Bukankah, atau Bukankah
...
Bukankah,
Banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang
Yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji
“Kau menungguku? Sejak kapan?”