CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Agustus 2019

Jakarta Aquarium

Akhir tahun lalu hanya mengunjungi virtual aquarium, kemudian awal bulan Agustus (04/08) terealisasi mengunjungi real aquarium bersama tamu dadakan, so happy little kid. Haha. Memang rezekinya tetap dapat tiket promo, hampir separuh harga weekend. Normalnya harga tiket masuk  aquarium yang beroperasi sejak 2017 ini kala weekday 150ribu dan weekend 200ribu. Berlokasi di NEO Soho, jikalau naik transjakarta bisa turun di S. Parman Podomoro. Lalu, menyeberang dari Central Park melalui Jembatan Eco Skywalk yang katanya lebih bagus dilihat kelap-kelipnya saat malam hari. Aquarium terletak di LG.

finding nemo (re: clownfish) and dory (re: surgeonfish)

Bagi yang pernah snorkelling, tentu tidak asing melihat aneka ikan perairan dangkal. Aquarium ini  menawarkan pengalaman hal serupa versi mini-nya. Anemone lautnya pun hidup. Ada beragam ikan, termasuk nemo dan dory. Selain itu, ada aneka satwa darat, seperti kura-kura, iguana, kukang, biawak, dan landak. Kemudian beranjak mulai melihat aneka ikan perairan dalam, seperti berbagai jenis hiu hingga pari manta.

Senin, 29 Juli 2019

(not) official trip

Strolling with large group was not so bad. Tak masalah membaurkan berbagai angkatan. Terima kasih tour guide dadakan. Terima kasih PIC andalan. Budget traveling terlaksana juga awal (lima) bulan lalu dengan perombakan jadwal di sana-sini. Next, science art museum mesti diagendakan ulang ya. Haha.

Seminggu sebelum berangkat, beberapa teman baru mengurus benda hijau. Sekarang sepertinya jauh lebih mudah prosesnya, bisa mendaftar online via aplikasi dan bisa memantau progress dari aplikasi yang sama. Pun sudah dapat mengantongi benda hijau tersebut kurang dari lima hari kerja. Selagi luang, tidak ada salahnya menyempatkan diri mengurusnya (bagi yang belum punya) sebagai aset yang perlu dimiliki.
sengaja blur :p

Tidak ada kantong yang jebol sepanjang Orchard Road, paling-paling hanya kaki yang pegal berkelana. Sangat disarankan memakai alas kaki yang nyaman kemana pun, karena kebanyakan menggunakan public tranport dan berjalan cukup jauh sampai tujuan. Transportasi umum yang digunakan kadang bus, kadang mrt yang jalurnya mudah dipahami, typical developed country. You can pay using Tourist Pass (STP) or Ez-link card. I prefer the latter.

Sabtu, 01 Desember 2018

ridiculous one day penida trip

Mengingat cuaca Kuta lima hari terakhir hampir membuat batal merencanakan trip ini. Sejak awal  pesan tiket memang tidak ingin extend karena sudah punya agenda weekend berikutnya. Alhasil H-1 nekat mencoba menghubungi pihak tour, berulang kali menanyakan kondisi cuaca, lalu mengumpulkan pasukan. Well, semoga kalian tidak menyesal diajak trip bersama. Haha.

Fastboat menuju Nusa Penida ternyata cukup besar, lebih kukuh terhadap ombak, hingga seorang teman pun bisa tidur nyenyak. Butuh waktu sekitar satu jam menyeberang dari Sanur. Pastikan menggunakan sendal selama di dermaga untuk naik-turun boat, dan antisipasi bawa baju ganti. Basah tak bisa dihindari kala turun dari boat yang menepi.

Sempat mendapat tiket fastboat kembali ke Sanur jam 17.00, sementara flight jam 19.40. Beruntung mbok part time yang antar inisiatif memberi kabar ke pihak tour hingga sesampainya di dermaga Penida tiket kembali ditukar menjadi jam 16.30. Sedikit melegakan, awalnya mendapat informasi dari pihak tour bahwa sekitar 16.30 sudah di Sanur makanya sengaja ambil paket trip ini, tanpa snorkeling. Waktunya sempit, teman traveling pun tak ada yang berminat.

Kelingking Beach

Jumat, 29 Desember 2017

Negeri sejuta pelangi

Setelah sekitar dua bulan lalu tur negeri timah, saya pun menyempatkan berkunjung ke negeri tetangganya. Negeri yang juga disebut 1001 warung kopi ini menjadi objek wisata tujuan cukup banyak orang, setelah salah satu film lokal yang diangkat dari novel berjudul sama mengambil syuting di negeri ini.

ini replika SD-nya, do you remember?

Siang itu (27/10) saya sudah tiba di TJQ. Berhubung seorang yang dituju berada di Belitung Timur, saya mesti naik travel dulu ke sana. Menunggu penuh baru travelnya jalan. Hampir satu jam travel pun berangkat. Sejuknya udara sehabis hujan sukses lift up my mood that day. Sepanjang jalan melihat hijau-hijau, memanjakan mata yang terbiasa terpapar radiasi.

Kamis, 30 November 2017

Tur Negeri Timah

Sebelum mendarat ke pulau ini, pemandangan birunya pantai akan serta-merta memanggilmu. Namun, semakin beranjak ke tengah, terlihat banyak sekali bekas tambang timah yang kondisinya (sepertinya) tidak terawat. Actually, I need to do some simple paperwork. If anyone who live in this island voluntary wanna help me, let me know.

Well, tag along feels nice. You can peacefully feed your tummy and travel around. Selain kulinernya juara, wisata Bangka juga lumayan. Walaupun katanya tidak se-wah Belitung. Pantai-pantai yang bagus di Bangka jauh. Karena keterbatasan waktu, kami cukup puas menjelajah daerah Sungailiat.

vitamin sea recharged :3

Kamis, 23 November 2017

Feed your tummy in Bangka

Bagi yang ingin memanjakan perut, mungkin perlu mencoba main ke Pulau Bangka, Pangkal Pinang lebih tepatnya. Namun, dengan catatan bagi yang suka makan ikan dan menimbun kolesterol ya. Wkk.

Makanan khas pertama yang perlu kamu coba setelah merapat di pulau ini: Lempah Kuning. Makanan yang menawarkan kesegaran rempah ditambah nanas. Kala itu mendung-mendung diajak ke Mang Bewok, agak pedas lempah yang disuguhkan, tapi tetap susah berhenti makannya. Haha. Dapat info di sana Iga Bakarnya juga enak, sayang belum coba, lebih memilih makanan lokal.

Next, diajak makan pempek dan aneka otak-otak. Pulau ini pecahan Sumsel, makanya pempek tak asing lagi. Otak-otaknya variatif, sausnya pun variatif, ada cuka terasi, cuka tauco, dan cuka serba pedas. Saus inilah yang katanya membedakan otak-otak khas Bangka.

Otak-otak Ase pic by @lindafaradian

Setelah menyelesaikan tugas, diberi 'reward' makan Pantiaw :D Sejenis kuetiaw yang disajikan dengan siraman bumbu kuah ikan. Gurihnya pol. Katanya kudapan ini biasa dijadikan snack rapat. Wih, untuk ukuran snack, pantiaw ini tergolong makanan berat menurut hemat saya. Karbohidrat ada, proteinnya ada.

Last day di Bangka, menjajal Mie Koba. Fyi, Koba itu nama daerah di Bangka. Mie Koba ini mirip-mirip mie ayam, perbedaannya lagi-lagi terletak pada kuahnya yang juga kuah ikan. Kalau dibandingkan dengan pantiaw, rasanya lebih manis, lihat saja perbandingan kuahnya di gambar di bawah ini :p 

Pantiaw versus Mie Koba

Hal yang menarik di pulau ini harus berhati-hati membeli makanan karena banyak Chinese, penting menanyakan apakah makanan tersebut halal. Info lain katanya kalau membeli Mie Bangka di luar Bangka, misal Jekardah, sudah bisa dipastikan ketidakhalalannya. Be aware guys.

Kocak banget tiap malam mencari martabak Bangka yang konon juga terkenal kelezatannya. Malam pertama mencari martabak asin, berhubung sudah larut malam susah cari tempat jualan yang masih buka. Malam kedua mencari martabak manis, belum terlalu malam, Martabak Acau dengan wisman (jenis margarin, bukan akronim wisatawan mancanegara ya :v) sudah habis. Jadi, sejauh terbatasnya perkulineran martabak saya, menurut saya rasanya not too stand out loh ya. Cmiiw. Lain kali, ajaklah saya ke tempat yang bisa buat saya ketagihan martabak :p

Sekian dulu culinary posting kali ini, traveling posting menyusul. Thanks for reading. 

Minggu, 29 Oktober 2017

One (fine) day in Semarang

Setelah drama Kamandaka di Kota Batik, malam itu (13/10) akhirnya tiba di muara tujuan. Terdengar kabar bahwa malam itu terjadi penutupan kawasan Tugumuda terkait gladi bersih upacara peringatan pertempuran 5 hari di Semarang. Alhasil batal dijemput, berhubung penjemput belum hapal jalan alternatif. Lalu, berpindahlah ke transport online. Beruntung dapat driver yang tau jalan kompleks menuju Lemah Gempal. Setelah menempuh cukup banyak kelokan kompleks dan keluar ke jalan utama, jam sembilan kurang Tugumuda sudah lancar saudara-saudara, sudah tidak ditutup. Wkk.
"A journey is best measured in friends, rather than miles." – Tim Cahill
Betapa panjangnya drama terkatung-katung di jalanan hari itu. Bahagia banget liat sudah ada yang menyambut, bantuin bawa koper. Lanjut cerita kekonyolan sembilan jam terakhir. Tujuan utama balik lewat Semarang mengincar flight schedule. Tujuan lebih utamanya tentu saja menemui sahabat karib di sana; bertukar cerita, jalan-jalan bonusnya. Berasa napak tilas zaman sekolah abu-abu dulu, beda kotanya aja.

give my little heart to her :3

Terima kasih telah rela mendapat sunburn lagi ya. Semarang lebih panas dari ibukota, indeed. Bercak gosong masih setia menempel di tangan saya sampai menuliskan ini. Entah dari perjalanan sebelum atau sesudahnya :p

Fyi, tiket masuk Sam Poo Kong temple 8k untuk keliling kompleks halaman. Kalau mau masuk klenteng perlu menambah 20k. Berhubung bukan tempat ibadah kami masing-masing, touring di halaman saja saya rasa cukup. Mengingat komentar seseorang, orang non muslim pun belum tentu datang mengunjungi masjid kan? Alhasil berteduh sambil menyeruput que*n's mango. Seketika adem. Wkk abaikan.

Kami pun mencari tempat berteduh berikutnya, sekalian mengisi energi, sekalian mendiskusikan destinasi berikutnya. Pilihan pun jatuh ke Kota Lama, ada akar-akar instagramable katanya. Sampai Kota Lama, terlihat 3D art museum, lalu singgahlah kami. Seolah terhipnotis, langsung setuju membayar tiket masuk seharga 50k :x Berkelilinglah kami, mengitari aneka 3D art, tak terasa lebih sejam di sana. Udah lupa tujuan awalnya akar-akar instagramable. Wkk.


Foto-foto di akar yang disebut-sebut sebelumnya tak ada yang worth buat dipajang. Udah antri padahal wkk. Penting banget spot foto itu kayaknya. Kami cuma bentar di sana, mood fotonya sudah terenggut. Berhubung sudah mendekati jam penerbangan saya juga, kami memutuskan balik. Lalu berakhirlah trip Semarang kala itu.

Thanks for reading guys. Sampai jumpa pada cerita trip berikutnya :D

Sabtu, 21 Oktober 2017

Kota Batik Punya Cerita

Dering telepon di sela-sela hectic penggantian sampel kala itu membuat saya tidak terlalu memikirkan tawaran mau menjelajah mencacah di kota mana. Disebutlah nama dua kota, pertanyaan yang keluar hanya apakah bisa selain Jawa Barat? Kemudian pada telepon berikutnya ditawarkan Pekalongan, nama kota yang saya tidak tahu persisnya di mana. Katanya pilihannya sisa itu kalau selain Jawa Barat, kamu diset di sana ya. Akhirnya saya iyakan saja biar bisa cepat lanjut memproses surat cinta penggantian sampel.

Menjelang tanggal keberangkatan dipesankan tiket kereta. Ternyata perjalanan menuju kota Pekalongan memakan waktu empat jam lebih. Berasa lama banget, apalagi masih dikejar deadline. Alhasil kursi berubah jadi tempat kerja. Lalu bertambahlah alasan saya malas naik kereta untuk perjalanan jauh. Balik Jakarta nanti sangat ingin tidak naik kereta.

Pencacahan di kota batik ini ternyata tidak begitu buruk. Penunjuk jalan orang asli Pekalongan dan pernah ikut kegiatan sejenis tahun lalu membuat pekerjaan jauh lebih efisien. Sehari bisa diajak ngider motoran dari Pekalongan Timur-Barat-Utara. Superb lah. Bekas gosongnya aja yang masih tertinggal di tangan ane. Overall nice, welcomed. Kata mbake kita bisa belajar banyak dari mencacah. Secara tidak langsung kita bisa mengetahui karakter orang, belajar dari cerita-cerita mereka, dari cerita membahagiakan (achievement) sampai cerita paling menyedihkan (mortality). Kita perlu pandai-pandai menempatkan diri.

Pekerjaan tetap hal utama, tapi akan lebih baik jika kita sempatkan mengenal kota yang dikunjungi juga kan, seloroh seorang bapak. Budayanya, makanan khasnya, hingga tempat wisatanya. Menyenangkan saban hari ada yang mengajak main. Makan megono Pekalongan yang jauh berbeda dengan megono Wonosobo, makan garang asem yang juga jauh berbeda dengan garang asem yang selama ini saya kenal di Jakarta, main lima belas menit ke pantai pasir kencana, malam mampir Museum Batik sayang sudah tutup, lalu lanjut diajakin ngeronde di alun-alun.


Hari berikutnya saya traveling sendiri karena masih penasaran dengan isi Museum Batik. Tak perlu khawatir, di museum ini, walau sendiri tetap ada guide yang membantu menjelaskan. Saya pun diajak berkeliling mulai dari ruang pertama berisi peralatan membatik, seperti kain, canting, malam dan bahan pewarna. Lalu ada koleksi batik yang didominasi batik Jogja dan Surakarta, lalu beralih ke ruang kedua mengenal sejarah Batik Pekalongan, ternyata khasnya berwarna terang, motif titik-titik, jlamprang, dan bunga. Ruang ketiga lebih bervariasi. Saya mulai tahu, mulai bisa membedakan aneka motif batik, mulai dari motif kawung, megamendung, parang, hingga pagi-sore. Bagian workshop yang paling menarik, kita bisa mencoba menulis batik menggunakan canting yang diisi malam.

Budaya membatik di kota ini menjadi industri rumahan yang menyerap banyak tenaga kerja. Pemandangan jemuran kain batik di depan rumah-rumah penduduk sudah tak asing lagi. Sungai yang  tiap hari berubah warna menyesuaikan warna kain batik yang sedang diproduksi pun menjadi pemandangan yang dimaklumi. Lalu adanya air rob di daerah utara juga tidak menjadikan mereka putus asa menguruk tanah.
"Traveling itu penuh kejutan. Kejutan ini yang bikin traveling lebih dari sekedar wisata."
Kejutan itu pun dimulai ketika mau naik Kamandaka siang ke Semarang. Kalau diingat-ingat lagi konyol memang. Salah naik kereta Kamandaka, bukannya ke Semarang malah nyasar ke Pemalang. Nasib orang yang tidak terbiasa dengan peron, biasanya gate. Jadwal kereta Kamandaka hanya berbeda 15 menit. Entah karena buru-buru atau sibuk memikirkan penggantian sampel, ketika disebut kereta Kamandaka main naik-naik aja. Awalnya bingung karena kursi saya ditempati orang. Lalu orang-orang menyarankan duduk di tempat kosong aja. Selang lima menit kemudian, ketika kereta mulai meninggalkan Pekalongan baru menyadari tujuan akhir kereta ini Purwokerto, bukan Semarang .-.

Benar-benar pengalaman tersendiri. Sepuluh menit pertama doang shock, selebihnya sudah merelakan turun di Pemalang, makan siang hanya bermodal sepotong roti karena tidak ada tempat penitipan barang, membeli tiket kereta ulang yang baru tiba di Pemalang empat jam kemudian. Baterai low. Dihimpit pekerjaan tapi belum bisa masuk mencari sumber energi laptop. Sungguh terima kasih untuk semua orang yang telah memudahkan urusan saya di Pekalongan maupun Pemalang, mulai dari pegawai, mitra, responden, cs, kondektur, dan satpam. Semoga urusan kalian juga dimudahkan, dilancarkan, dan dilapangkan rezekinya. Di manapun kalian berada, percayalah masih banyak orang baik. Orang yang mau direpotkan, orang yang bersedia membantu. Mari banyak-banyak bersyukur.

Magrib kala itu Kaligung tiba. Saya pun memastikan kembali bahwa kereta yang saya naiki tujuan akhirnya adalah Semarang. Cukup sekali salah naik keretanya. Teman perjalanan saya kali ini cukup menyenangkan, bapak-bapak programmer freelance yang tinggal di Semarang. Nyambung diajak diskusi berat sampai tempat wisata Semarang. Saat tiba di Pekalongan berasa dejavu, ada mas-mas yang hampir bernasib seperti saya tadi siang. Beruntung orang-orang gerbong kooperatif, saya pun inisiatif menanyakan kereta apa, ternyata kereta masnya Kamandaka di peron sebelah. Beruntung Kaligung belum melaju dan Kamandaka masih bertengger di peron sebelah. Perlu ekstra hati-hati memang sepertinya kalau di stasiun Pekalongan. Jadwal keretanya beda-beda tipis. Mesti mempertajam pendengaran juga karena belum ada semacam dashboard yang menandakan di tiap peron telah tiba kereta apa.

Well, sekian cerita kota batik pekan lalu. Thanks for reading. Sampai bertemu di postingan berikutnya.

Rabu, 31 Mei 2017

when Bandung seems nice

I always too lazy to go to Bandung actually, for kind of 'additional' job. It's good to be youth, but please, can you exclude me next time?

Well, we need to work hard, but for me 'work hard, play harder' :p So, I decided to join my senior trip, even though I don't really know the rest. Luckily, I got last ticket on same schedule with them.

We rent a car in Bandung. We went to Tebing Keraton and Maribaya. It's really nice went to somewhere green. Refresh our mind. Even when getting job in the middle, forgot it! I paid it back as soon as my playin time done :v

Maribaya's Mountain Swing*
*)Another group photos will attached later wkk.

Fyi, ticket to Tebing Keraton 12k, ticket to Maribaya 20k. Tebing Keraton is a nice-quiet-green place, but the road towards there is worst. The car can only drive up to the welcome gate. We need to get an 'ojek' for the rest cobblestone roads. Maribaya is famous-crowded-green place, even on weekdays. In Marabaya, we must pay for each 'wahana', such as Sky Tree 15k, Zip Bike 20k, and Mountain Swing 20k. The queue quite long, so we decided just took one ride. There will be a photographer who takes our pictures. And we can get soft copy with 10k for every single picture.

Time to go back to reality. Four days like errr I don't even want to described it. Skip to Saturday, please. Finally, I met one of my highschool best pal. She already moved to Sukabumi. It has been more than four years I guess last met her. Thanks for two hours of quality time. Talking bout rush, movies, series, and of course quarter-life-crisis stuff. Jangan jera dikunjungi ya wkk. See you on the top sis.

NB: Forgive my poor grammar and vocab :x

Selasa, 26 April 2016

One day off to Dieng

Yesterday, we took one day off. We had a loooot of fun. Kind of refreshing. Haha. After sh*t that we have been through :p

02:00 am alarm sounded. We were getting ready to catch a sunrise, fellas.

03:00 am we were picked up. The journey from Wonosobo city to Dieng took about 1 hour.

04:05 am we reached Dieng. The road was so quiet because yesterday was weekday. Our vehicle slowed. We can't ask anyone. Thanks two of us already got there last week.

04:30 am Subuh prayer time. After that we start hiking. We almost late to catch the sunrise. Dark. Slippery (rocky) road. Extremely cold. Out of breath. But, we didn't give up. Five of us reached Sikunir Peak at 05:13 am.

Finally, sunrise :3

Did you see me? :p

Senin, 08 Juni 2015

Virgin Beach


Rabu lalu (03/06) menyempatkan 'liburan' di sela-sela jadwal kuliah. Jalan-jalan bareng anak satu kelas emang susah, apalagi di antara tumpukan deadline tugas dan skripsi. Perlu kedok foto buku tahunan biar rame yang ikut. Hahaha. Alhasil 28 dari 34 sukses dihasut ikut jalan-jalan ini :D Sayangnya kemaren cuma sehari. Sehari aja udah seru sih, tapi coba nginep deh, pasti bakal seru pake banget. Bisa snorkeling, BBQ, dst.

Fyi, buat kamu yang barangkali mau jalan ke Virgin Beach alias Pantai Pasir Perawan di Pulau Pari edisi hemat, biayanya ga terlalu mahal kok kalau mau sedikit repot ngurus sendiri, ga pake jasa agen travel. Memaksimalkan satu hari penuh buat main. Mulai dari berangkat dini hari ke Tanjung Pasir, bukan Muara Angke ya, soalnya jaraknya lebih deket ke Pulau Pari. Kemaren persis Subuh kami sampai di Tanjung Pasir. Biaya masuknya Rp 5.000 per orang ditambah biaya parkir, misal pake bus Rp 25.000,-. 

Setelah sholat langsung menyebrang pulau. Kemaren udah nyewa perahu sebelumnya, biayanya Rp 80.000,- pulang pergi per orang. Perjalanan menuju Pulau Pari sekitar 2 jam. Walaupun cukup lama, kalian bisa menikmati sunrise, mengamati barisan burung-burung terbang dan aneka pemandangan indah di pagi hari lainnya. Tentunya kamu bakal mendapati udara yang jauh lebih baik dari udara yang biasanya kamu hirup di ibukota.

Sesampainya di pelabuhan Pulau Pari, kamu bisa nyari sarapan di sana, udah banyak warung-warung yang buka. Kalau mau lebih hemat bawa bekal aja. Setelah sarapan, kami pun meluncur ke Pasir Perawan. Suasana kala itu sepi, banget, berasa eksklusif, berhubung weekday juga kali ya.

Rombongan pertama yang mendarat di Pantai Pasir Perawan

Biaya masuk pantai ini Rp 3.500,- per orang. Kami benar-benar rombongan pertama yang datang ke pantai ini. Bapak-bapak yang jualan pun mengakuinya dan menanyakan apakah kami berangkat dari Tanjung Pasir. Soalnya biasanya yang berangkat dari Muara Angke baru dateng jam 9an katanya. Pas kami dateng itu warung-warung baru buka, air di kamar mandi pun masih mati, belum siap menyambut kedatangan kami. Terpaksa cuci muka pake air kemasan, berhubung harus cepet siap-siap buat pemotretan. Masa iya masih ada sisa jejak tidur di muka :v

Harusnya kelompokku dapat jatah pemotretan pertama, tapi karna scene kami perlu angin dan pagi itu angin tak kunjung bertiup, jadwal kami ditunda sampai yang paling akhir. Sampai kering nunggu giliran. Hahaha. Jadilah jalan-jalan sambil nonton yang lagi pemotretan. Ohiya, di pantainya juga ada net, bisa main voli pantai di sana. Kebetulan kemaren kami bawa bola voli buat properti, lapangan itu udah kayak lapangan sendiri deh. Pas sore-sore kami mau pulang baru ada pengunjung lain yang main.

Matahari pantai bener-bener terik guys, jangan lupa pake sunblock sampai sunsreen biar ga gosong. Berkali-kali kalo perlu :p Bawa topi pantai juga, serius, berguna banget menghalau teriknya panas matahari. Kalau mau duduk-duduk santai ada pohon-pohon teduh juga di sana. Ada banyak pondok-pondok juga. Kalau mau sewa sepeda Rp 15.000,- seharian, trus bisa naik perahu juga keliling pantai, biayanya Rp 10.000,- per orang. Kalau mau snorkeling kurang tau berapa harganya, kemaren ga sempat, buat foto buku tahunan aja udah setengah hari lebih. Gilak.

Kayaknya buat foto buku tahunan ini kelas kami emang yang paling all out. Sampai ke pantai segala demi foto. Kelas lain pada banyak milih yang praktis, misal cuma foto di studio. Punya ketua tim ybm di kelas emang beda. Hahaha. Vote awal dominan ke Hutan Mangrove pun bisa berpindah ke Pantai Kepulauan Seribu dalam sehari :D Terima kasih buat semua yang udah bersusah payah ngurusin jalan-jalan kelas ini. Terima kasih buat para tim make over, mulai tata rias sampai tata jilbab. Terima kasih buat kenangan yang udah kalian torehkan guys. Lagi-lagi momen berkesanku bertambah. Thanks. Semoga foto buku tahunan kita jadinya bagus ya, sesuai harapan.

Regards, tha :)

Jumat, 03 April 2015

Dibalik 2665 mdpl

7-9 November 2014
"Aku merindukan waktu di mana mendaki itu bukan untuk mencapai puncak, tapi menikmati perjalanan

Aku menanti waktu di mana mendaki itu bukan untuk menikmati kesendirian, tapi kebersamaan

Aku merindukan waktu di mana mendaki itu bukan untuk melepas penat, tapi menikmati kebahagiaan"

— kurniawangunadi
 
Kangen kalian boleh? 

Minggu, 21 Desember 2014

Jakarta Lantern Festival

Setelah minggu yang melelahkan akhirnya bisa main juga. Minggu lalu (12-14 Desember) ada festival lampion gitu di Lapangan Banteng. Berhubung datengnya di hari terakhir jadi rame bingits. Untungnya punya bodyguard berseragam. Hahaha.

Agak-agak awkward juga jalan bareng si bodyguard. Well, siap-siap dapet tatapan aneh aja dari pengunjung lain. Harus ekstra hati-hati juga karena caranya menyebrang. Udah kayak yang punya jalan aja dia *peace Hahaha.

Lampionnya bagus-bagus, tapi kalo diajak foto bareng ga bagus. Hahaha. Selalu kayak gitu, nasib kalo main ke tempat lampion. Hmm harus punya kamera yang agak bagusan kali ya. Well, selamat melihat-lihat yang (sedikit) bisa diselamatkan.

Sabtu, 12 Juli 2014

PKL-things: Jalan-jalan

#verylatepost

PKL ga lengkap rasanya tanpa jalan-jalan :p Setelah mengemban tugas besar mengumpulkan data yang jujur dan apa adanya, boleh dong ya mencuri waktu barang sebentar buat refreshing *pembenaran sepihak :D

Jadi, hari itu (29/04/2014) anak-anak BL ngajakin jalan ke pantai. Ah, bener-bener angin segar di hari terakhir pencacahan. Pantai, uyeah. Kalo jalan-jalan semangatnya emang beda haha. Demi jalan bela-belain beli kaos tangan, padahal sisa sehari di Lampung, tangan udah kepalang gosong.

Boncengin Dinar

Berangkat-berangkat gatau pantai apa yang mau dituju, kirain Pantai Mutun. Pasang Go*gle Map, ternyata rombongan membawa ke jalan yang berbeda, ya udah deh kami hanya mengikuti arus. Jauuuh banget jalannya, jelek pula, banyak lubang-lubangnya. Lama-lama aku sampe cape nge-gas terus, rasanya pengen dibonceng aja -_-

Seteleh naik-turun gunung, akhirnya sampai juga. Pantainya udah mulai keliatan, jadi semangat lagi :3 Namanya kalo ga salah Pantai Ringgung. Di sini nih bisa ngerasain sholat di atas mushola terapung. Ada Mesjid Apungnya juga di tengah pantai.

Pantai Ringgung

Ba'da ashar kami menyebrang ke tujuan (re: Pasir Timbul), tapi sayang ternyata pasirnya udah ga timbul lagi karena airnya sudah mulai pasang. Akhirnya kami merapat ke pulau tetangganya yang entah namanya apa.

Teman sepenyebrangan :D

Ohiya, ka Inda ga ikutan nyebrang, takut mabok katanya. Kebetulan ada keluarga asuhnya juga ikutan nyusul ke Pantai Ringgung. Aku juga heran waktu itu tiba-tiba Bang Firman sama Pipit udah ada aja di sana. Ka Inda cepet banget dapet keluarga asuh di pulau orang xD

Pantainya masih biru :3
Sayang udah sore, jadinya ga main aer.

Menjelang sunset :3

Pantainya cantik. Ga rugi deh udah bersusah-payah ke sana. Semoga pemerintah sana terketuk membetulkan sarana dan prasarana di sana, terutama jalannya. Sayang kan kehilangan kesempatan salah satu objek wisata yang lumayan menjanjikan, apalagi Pasir Timbulnya. Pas liat foto-foto mereka yang berhasil ke Pasir Timbul bikin envy. Seriusan. Apalagi yang udah ke Teluk Kiluan liat lumba-lumba. Aaah, super duper envy deh pokoknya. Lain kali mesti main lagi ke Lampung \m/

Senin, 16 Juni 2014

Menuju Puncak Jakarta

Cerita edisi PKLnya sementara ku pending dulu ya guys :D Kali ini mau membahas agenda 'Tur Museum' yang berubah jadi 'Tur Pekan Rakyat' *eh.

Jadi, jumat malam kemaren ada temen yang ngajakin tur museum weekend ini. Berhubung malam itu badan lagi ga enak, jawab ala kadarnya aja. Diantara alpha tetha, cuma inget sabtu ada kuliah, jadi bilangnya oke-oke aja asal ga sabtu. Eh tau-tau paginya dapet jarkom batal sesi. Jadilah kemaren sabtu (14/06/2014) tur museum kami pun dimulai.

Rencananya ke Monas dulu, main ke museumnya, trus ke puncaknya, baru ke museum nasional dan ke sederatan museum di sekitarnya. Tapi, itu semua hanya wacana saudara-saudara. Sampai di Monas sekitar jam 10an dan kami baru tau bahwa lagi ada event Pekan Rakyat, salah satu acara edisi ulang tahun Jakarta ke-487. Udah weekend, tambah rame lah itu Monas.

Sekali menyelam minum air, cuci mata sambil mencari pintu masuk ke monas. Haha. Sayang belum banyak stand yang buka, masih sepi. Mungkin sore/malam baru banyak yang buka. Tujuan utama ke sana tentu puncak Monas. Selama tiga tahun di sini belum pernah kesampaian main ke sana. Udah sering ke monasnya, dari jalan-jalan, jogging, sampai jualan pun pernah. Tapi belum pernah ke puncaknya *miris.

Ada banyak stand yang pengen kami singgahi, tapi terpaksa kami lewati begitu aja dulu demi menuju puncak. Yeah. Biaya masuk untuk mahasiswa sampai puncak Rp 8.000,- So, manfaatkanlah kartu pelajar/mahasiswamu. Kalau umum lebih mahal, tapi kurang tau sih persisnya berapa. Hehe. Museum di lantai bawah pun hanya sekilas pandang. Ada patung-patung lilin tentang sejarah gitu, dari zaman batu apa ya kalo ga salah liat. Menurut kepala rombongan yang lebih berpengalaman (re: Dwi), kalo liat museumnya mah bisa kapan aja, masalahnya ke puncak itu ga setiap saat bisa, apalagi kalo liftnya lagi diperbaiki. Nah, jadi makin fokus deh menuju puncak *tsah.

Udah semangat naik tangga, trus keluar entah lewat pintu sebelah mana, yang jelas deket liftnya. Waktu liat antrian, dalam hati, oh cuma sebaris gitu. Eh pas udah jalan, jalan, dan jalan lagi menuju belakang barisan antrian, respon berubah 180 derajat, oh, meeeeen, ternyata masih banyak di belakangnya. Hampir setengah putaran tugu monas lah itu antriannya. Gilak.
Tips: jangan ke monas saat weekend.

Sabtu, 01 Februari 2014

#3 Tidak Semua Berjalan Sesuai Rencana

27.12.2013
Kemaren rencananya jam 8 pagi mulai perjalanan kan. Tapi karena sesuatu hal jadi ngaret. Gara-gara ceweknya lagi sih. Pfft. Habis kami ga enak langsung kabur waktu Tutut lagi beliin sarapan. Efri sama Fakhri udah di depan padahal dari jam 8 lewat 15 menitan. Karena agak-agak ga enak jadinya kami suruh mereka cari sarapan dulu, eh tapi ternyata mereka masih stay nunggu kami di depan sampai jam 9an. Maaf ya.

Sesampainya di kosan Ridwan lama lagi. Mereka sarapan dulu. Jadilah lumayan siang baru bener-bener berangkatnya. Cuaca hari itu bersahabat. Meskipun panasnya cukup menyengat, ya, setidaknya hari itu ga hujan. Lalu dimulailah perjalanan kami mengenang masa lalu ke Selecta. Cukup jauh perjalanan yang kami tempuh, sekitar satu jam. Yang duduk di belakang aja pegel, apalagi yang nyetir. Ditambah sisa-sisa kantuk malam sebelumnya lagi.

Enaknya tinggal di daerah pegunungan kayak gini itu, meski matahari sedang terik-teriknya bersinar udaranya tetap sejuk, adem. Serius. Enak banget udaranya, beda jauh sama daerah metropolitan. Pantes banyak alumni SMANSA yang memilih untuk menyesaikan kuliah di sini ya.

Sepenglihatanku Selecta ga beda jauh sama yang terakhir aku liat waktu study tour empat tahun yang lalu. Ga banyak yang berubah. Jenis bunga-bunganya pun masih sama. Paling ada tambahan wahana permainannya aja. Ada Kora-Kora Dufan versi mini di sana, trus bisa keliling naik kuda, ada flying foxnya juga. Sayangnya kalau mau mencoba wahana permainannya mesti nambah bayar lagi, belum termasuk di tiket masuk awal tadi. Jadi disana kami cuma mengelilingi taman bunga yang cukup luas selama kurang lebih 30 menit. Seru banget, sampai-sampai Efri agak menyesal udah membakar tiket Rp.20.000nya ke Surabaya demi ini. Hahaha :p

Panas menyengat waktu itu membuat kami ga terlalu hiperaktif di hadapan kamera. Yup. Tapi pada akhirnya kami tetap menyempatkan foto juga sebelum pulang untuk menandai kami pernah ke sana. Mehehe :3

Jumat, 17 Januari 2014

#2 Bertemu Kalian Tidaklah Mudah

25.12.2013

Setelah hampir 20 jam, ralat 19 jam 9 menit, duduk dalam kondisi tidak terlalu nyaman di kursi Ekonomi AC, akhirnya mendarat juga di stasiun Malang. Telat 2,5 jam dari jadwal yang tertera dalam tiket. Perjalanan yang benar-benar panjang. Ditambah tidur yang seperti tidak tidur. Tapi setidaknya beruntung sepanjang malam tidak diganggu dengan banyaknya pedagang yang hilir mudik dalam gerbong dan berteriak "air, air, mijon, mijon."

Baik banget ada temen yang udah stand by menunggu kedatangan kami di stasiun, bahkan dia udah datang sesuai jadwal kedatangan yang tertera, kasian, pasti udah nunggu lama. Mana hari itu katanya hujan telah mengguyur kota Malang sejak dini hari. Cuaca yang padahal pas banget untuk bergelung di bawah selimut. Tapi dia bersedia jemput. Makasih banyak saudara Efri :D

Kemudian kami mengisi perut sambil menunggu jemputan lain (re: saudara Naufal). Hujan masih mengisi langit kala itu. Hujannya sepertinya bakal awet. Orang-orang dengan carier bertebaran di depan stasiun, sepertinya ingin menakhlukkan Mahameru. Semenjak disorot dalam film 5 cm, makin terkenal aja gunung yang satu itu. Tapi jika cuaca hujan terus, medannya pasti susah. Tambah dingin juga pastinya. Kata Efri kami salah pilih tanggal, salah musim, kalau datang di musim panas bisa liat bunga lavender yang mekar katanya. Kalau sekarang entahlah. Aku pun ragu untuk naik gunung jika cuaca kurang mendukung. Ah, lagi-lagi Ranu Kumbolo menambah panjang daftar wacana.

Senin, 30 Desember 2013

#1 Mengejar Kereta Matarmaja Tambahan

24.12.2013

Pagi-pagi sudah berkeliaran mencari Puskesmas untuk membuat Surat Sehat yang katanya sebagai syarat hiking di sana. Walaupun belum tentu jadi hikingnya, tetap kami buat suratnya buat jaga-jaga. Kami berdua sama-sama tidak tahu di mana persisnya letak Puskesmas Kelurahan Cipinang-Cempedak itu. Ternyata dekat Taman Simanjuntak atau yang terkenal dengan sebutan Tajun.

Cara membuat Surat Sehat di sana cukup mudah. Tinggal registrasi di loket pendaftaran, dikenakan biaya Rp 2.000,- Lalu menaruh kartu di Poli Umum dan menunggu diperiksa dokternya. Isiannya hanya tinggi badan, berat badan dan tekanan darah. Dokternya menanyakan riwayat penyakit asma. Kalau tidak ada, kita sudah bisa mengantongi surat tersebut dan membayar biaya periksa sebesar Rp 5.000,-

Sekembalinya di kosan, aku kembali menenggelamkan diri dalam lautan kata pada Bab 7 Buku Morgan, Economic Survey Methods, untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Survei Contoh yang kemungkinan dikumpulkan setelah liburan. Niatnya supaya ga ada beban tugas waktu liburan nanti, tapi sampai saat aku menulis ini pun tugas tersebut belum sepenuhnya selesai. Berhubung jadwal kuliah ditunda, boleh dong tugasnya juga ditunda *eh :D

Akhirnya aku menyudahi tugas yang satu itu dan ba'da zuhur hari-H baru mulai packing. Jadwal keberangkatan kereta tertera jam 17.12 dan diharapkan datang 1 jam sebelumnya untuk mencetak tiket di loket KA-Online. Dengan sangat yakin aku bilang berangkat dari kos ba'da ashar aja, kupikir jam tiga lewat sedikit sudah adzan, tapi ternyata hampir setengah empat baru adzan.

Jam setengah empat berangkat dari kosan. Nunggu taksi di depan jalan Otista III ga ada yang kosong, selebihnya sudah reserved. Setengah frustasi menunggu selama 10 menit taksi tak kunjung didapat, kami naik angkot dulu menuju jalan utama Otista. Aku ingat jam tanganku menunjukkan pukul empat kurang lima menit. Oh men, padahal sebaiknya minimal jam 16.12 sudah di stasiun, tapi kami masih duduk manis dalam taksi.

Normalnya sekitar 30 menit sampai ke stasiun Pasar Senen, 45-60 menit kalau macet. Oh my, dalam taksi hanya bisa pasrah. Ga lucu banget batal liburan gara-gara ketinggalan kereta -_- Yang namanya macet ga bisa dihindari. Macet parah di jalan depan stasiun. Kami terpaksa turun dan berjalan kaki. Dan jam sudah menunjukkan setengah lima lewat.

Argh, mau ga mau lari-lari nyari loket penukaran tiket. Udah kayak di sinetron-sinetron, cuman settingnya aja di stasiun, bukan bandara -_- Udah lama ga ke stasiun ini dan ternyata letak loketnya sudah berubah. Lumayan jauh dari depan dan sampai di loket antriannya mengular. Gilak. Kayaknya ga keburu nih. Matilah. Tiket hangus.

Kemudian ada satpam yang menghampiri barisan antrian dan menyarankan pindah ke counter cetak tiket online mandiri. Bingung, terang aja, tapi yaudahlah ngikut saran bapak satpam. Kelihatannya sistem mencetak tiket online mandiri ini baru aja diterapkan. Kelihatan masih banyak pengguna yang kebingungan mengisi isian kode booking, nomor identitas, dan stasiun asal sehingga memakan waktu cukup lama. Untungnya ada petugas dari KAI yang membantu orang yang sedang mengisi isiian divdepanku. Kemudian aku menyimak bagaimana sistemnya bekerja. Lumayan bagus.

Giliran kami pun tiba. Cukup mudah. Hanya saja tanganku tidak berhenti bergetar saat menuliskan serangkaian huruf maupun angka yang tertera pada struk pembayaran online. Ckck. Baru tiket berangkat aja yang kami cetak, tiket pulang belum, mengingat masih banyak yang antri dan jam sudah menunjukkan hampir jam 5.

Lagi-lagi setengah berlari menuju loket boarding. Antriannya juga tidak kalah panjang dengan antrian loket tiket. Ngos-ngosan. Ketemu rombongan sekeluarga yang juga baru datang dan napasnya naik-turun tidak teratur juga, sama-sama takut ketinggalan kereta. Tapi alhamdulillah masih sempat terkejar.

Gerbong 7 kursi 15D-15E. Lega jam 5 lewat sudah berada di kursi yang seharusnya. Kemudian mengatur barang dan mengatur nafas. Ga lagi deh berangkatnya mepet. Pelajaran. Lain kali prepare lebih baik ya. Okesip. Perjalanan masih panjang, sangat-sangat panjang dan ini baru awal dari petualangan kami menuju Malang :3

Minggu, 29 Desember 2013

Prolog: Liburan ke Kota Apel

"Masa liburan nanti ga kemana-mana?"

Yah, begitulah respon pertamaku waktu itu, setelah mengetahui hanya tiket kereta eksekutif yang tersisa untuk tujuan Malang, dengan harga yang bahkan lebih mahal dari tiket pesawat ke Surabaya. Mungkin liburanku kali ini akan bertransformasi menjadi wacana untuk kesekian kalinya. Dan mungkin akan berakhir dengan membaca setumpuk novel, menonton sejumlah film atau maraton drama. Tidak terlalu buruk.

Ya, tidak seburuk ujian Teknologi Web. Ah, ujian mata kuliah lain di minggu pertama ujian juga tidak kalah randomnya. Ga Database II, Analisis Perancangan Sistem Informasi juga. Survei Contoh agak mendingan sedikit. Kesalahan paling fatal ujian TekWeb ga liat waktu pengerjaan yang diberikan hanya 110 menit, padahal biasanya 2 jam/120 menit. Agak-agak menyesal, jadinya satu soal sangat kurang maksimal, estimasi waktunya meleset -_- Trus setelah ujian berakhir iseng mengecek lagi dan ternyata banyak jawabanku yang kurang lengkap. Ah, kenapa kemaren pake acara mengecek jawaban segala. Harusnya pakai prinsip "Kerjakan, Kumpulkan, Lupakan" aja. Oke, case closed. Apapun hasilnya, UAS nanti harus jauh lebih baik. Semangaaat \m/

Ujian minggu kedua lumayan bisa. Entah karena terlalu bersemangat, ga sabar pengen liburan atau karena kebanyakan menggunakan sistem Open Book. Wkwk. Kebayang ga sih kalau mengoding di atas kertas tanpa amunisi? Bapak dosen Pemrograman Berbasis Web ini juga dengan baiknya baru memberi tahu kurang dari setengah jam ujian dimulai. Bahkan aku baru dapat jarkom 15 menit sebelum ujian dimulai, sudah otw ke kampus. Ga sia-sia subuh-subuh mencetak file materi, walau ga semuanya, tapi lumayanlah buat bekal ujian :D

Di minggu kedua ujian ini pula dapat info disediakan beberapa kereta tambahan untuk memfasilitasi libur Natal dan Tahun Baru. Konyolnya aku tidak begitu tau cara mengeceknya. Maklum jarang pakai kereta :p Tau sih lewat situs apa, tapi bingung nama stasiun tujuannya apa. Lantas bertanya pada teman SMA yang kuliah disana. Katanya stasiun Kota Baru. Sekali dicek ga ada nama stasiun itu. Setelah googling baru tau kalo yang dimaksud stasiun Malang Kota Baru, tapi di situs KAI cuma ditulis stasiun Malang. Oalah. Hahaha.

Jadilah hari itu (18/12/2013), bukannya sibuk belajar untuk ujian Analisis Regresi, malah berkutat mengutak-atik akun untuk pemesanan tiket kereta. Parah. Cukup memakan waktu lama berhubung otodidak, tanpa tutor karena temen kosan juga belum ada yang berpengalaman di bidang itu, mainannya kan biasanya tiket pesawat :D Beruntung ada mbak-mbak jasa pemesanan tiket yang bisa diandalkan, mengakhiri ke-soktahuan-ku bermain dengan akun tadi.

Sebelum konfirmasi pembelian tiket, nelpon Mama dan dengan mudah dapat izin. Ditanyain kenapa ga ke Jogja aja, trus ku jawab udah pernah Ma, nanti bosen kalo keseringan :D Toh tahun depan insya Allah ke sana lagi kan demi wisuda kakak tercinta. Aamiin. Semoga cepat beres tesisnya ya kakak :3 Nanti diusahain kesana deh sebagai tebusan wisuda sebelumnya ga bisa dateng.

So, bukti pembelian tiket online langsung didapat hari itu juga. Pulang-pergi. Untuk tanggal 24 dan 28 Desember dengan berbagai pertimbangan, salah satunya karena sahabatku yang satu itu masih ada kuliah tanggal 23 yang ga bisa ditinggalkan.

Ohiya, liburan kali ini juga janjian sama satu temen SMA lagi yang kuliah di Bandung. Dia mau ke Pare Kampung Inggris, tapi siap travelling ke Malang katanya. Di Malang mau kemana aja? Entahlah. Aku kurang tau. Berhubung aku masih ada satu matkul ujian jadilah temenku itu yang ku suruh jadi Event Organizernya, tapi ternyata dia juga ada ujian terakhir, bedanya dia ujian terakhir di semester 5.

Katanya pokoknya kita harus ke Ranu Kumbolo. Well, semoga ga berubah label menjadi wacana lagi aja, setelah wacana-wacana Pantai Angsana, Pulau Bira, dan Bandung. Entah kapan terealisasi. Someday maybe.

Okee, sekian dulu prolognya. Tunggu cerita sebenarnya di postingan selanjutnya :D

Kamis, 14 November 2013

#OneDayTrip Pulau Seribu

Sekali dayung, 3 pulau terlampaui :D

10 November lalu kami main-main bareng @TripPulauSeribu. Paket Hemat guys. 89 ribu bisa dapet 3 pulau. Disini kita diajak wisata alam, sejarah, dan budaya. Ini open trip pertama yang aku ikuti. Tau info pertama kali sebenernya dari kak Dany, trus Pumo ngasih tau aku, trus ngajakin anak kos, trus trus trus jadi rame deh yang mau ikut, gara-gara ulahku juga sih, trus akhirnya harus rela jadi sesi repot. Daaaan, terbayarkan juga akhirnya pas hari-H. Makasih buat Om Nopi yang udah bantu ngurus transport. Makasih buat temen-temen yang ikut, jangan jera ya jalan bareng :v

Berikut pulau yang kami kunjungi kemaren:
Pulau Kelor (Benteng Martello) tempat menikahnya Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan
Pulau Onrust (Museum, Makam belanda & Makam Kartosuwiryo)
Pulau Cipir (Gedung Tua peninggalan Belanda)
Info selengkapnya cek http://trippulauseribu.com

Meeting point sama rombongan anak pulau lain di dermaga ikan Muara Kamal, bukan Muara Angke. Ternyata lumayan deket dari Otista, ga sampe 1 jam udah sampai di TKP. Maaf ya kepagian nyuruh ngumpulnya, takut ditinggal, soalnya belum tau lokasi. Hehehe. Akhirnya sarapan di sana, cerita-cerita psyco by Alfi, trus main Onet sambil nunggu jam 8 :v

Setengah 9 briefing singkat oleh Mas Arya and you know? Di trip ini ternyata satu rombongan sama dosen aku, dosen yang ngajar PPTI semester 3 lalu, namanya Mbak Ratih. Uwow. Agak-agak awkward juga, ga enak malah Mbaknya yang nyapa duluan, nanyain dari STIS ya? Trus aku dengan polosnya jawab iya, trus trus trus mulai akrab deh hihihi. Mungkin ada benarnya orang yang melakukan perjalanan bersama akan tumbuh bersama :D