CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 28 Desember 2018

Nanti kita cerita tentang hari ini


Judul: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
Penulis: Marchella FP
Penerbit: POP
Terbit: Oktober 2018
Tebal: 200 halaman

Buku yang tentu saja saya adopsi bukan karena pengaruh betapa hype-nya di ig :p I bit late to know, entah baca postingan blog mana, sampai sekarang pun belum tergerak buat follow ig-nya. Silakan intip @nkcthi bagi yang minat.

Pertama kali baca judul buku ini seperti tagline yang menarik, covernya pun simple and cute. Setelah meminta pendapat seorang teman yang bacaannya cukup sering beririsan, saya memutuskan membelinya di promosi harbolnas Gramedi*, ditambah promo g*pay. Tidak mau rugi wkwk. Wajar sih pricey untuk ukuran buku hardcover 200 halaman full color ini.

Nkcthi berisi nasihat seorang ibu untuk anaknya di masa depan yang dikemas dalam tulisan singkat nan sederhana ditemani ilustrasi yang menarik. Cukup duduk sebentar untuk mengkhatamkan buku ini, bisa kurang dari setengah jam. Ringan, visually pleasing.
"Jangan mudah tersinggung, di bumi... bukan cuma kamu yang punya perasaan."
Kalau mau direnungi, beberapa halaman akan membuatmu berpikir ulang. Kalau mau diresapi, sebagian bisa memberi efek self improvement. I didn't expect much, sehingga tidak kecewa berlebih. Apalagi mendapatkan buku ini cukup setengah harga normal :v
"Nafas sebentar, apa sih yang dikejar?"
Mudah-mudahan bukan sekadar materi. Sudah hampir di penghujung tahun, semoga bisa senantiasa menjadi lebih bermanfaat.

Sabtu, 15 Desember 2018

how to redeem miles

Sebagai tim yang jarang beli tiket jauh-jauh hari tetap mesti punya budget planning. Tetap bergeming walau sejak dua bulan lalu diajak dearest someone yang jelas disetujui cutinya beli tiket. Melihat harga tiket meroket dua kali lipat dari sebelumnya dan tidak ada tanda-tanda mengalami penurunan, well, harus mencari peluang saving. Selalu penuh drama pencarian tiket ini, sedari dahulu kala.

Setelah berkelana ke lima situs penjualan tiket, memutuskan redeem miles. Sebelum redeem, pastikan jumlah miles yang dimiliki cukup (menggunakan kalkulator penukaran miles) untuk destinasi yang diinginkan. Kebetulan sedang ada diskon penukaran miles 30% jika beli satu tiket, jadilah iseng mencoba. Bisa lewat website atau datang ke kantor penjualan tiket GA. 
Book & Trip
Masukkan destinasi, tanggal berangkat, dan tak lupa masukkan kode promo. Kemudian tekan tombol Redeem Miles. Kemarin (14/12) promo penukaran miles hingga tanggal 26 Desember, untuk periode berangkat 1 Januari - 31 Maret 2019 kalau tidak salah lihat. Halaman websitenya telah diupdate, silakan reconfirm barangkali ke kantor penjualan tiket GA agar lebih meyakinkan.

Sabtu, 08 Desember 2018

Cinta yang Marah

Judul: Cinta yang Marah
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2017
Tebal: 96 halaman

Suatu hari kelak, sebelum salah satu di antara aku dan kau tersangkut maut, pada hari ulang tahun kau, ketika tidak ada pekerjaan kantor yang melarang kau cuti, aku akan mengajak kau menjadi tua renta, kemudian mengajak kau kembali menjadi anak-anak.
***

Buku ini (katanya) sebelumnya pernah diterbitkan pada 2009. Buku ini saya baca setelah TANYHI dan Melihat Api Bekerja. Menilik potongan-potongan koran pada buku ini sarat politis, berisi fragmen-fragmen sejarah orde baru. Namun, membaca dua puluh satu sajak ini justru meninggalkan jejak romantis bagi saya. Wkwk. I'm not good with political things anyway, topik yang saya hindari.
"Koran atau televisi punya kekuatan mencopot kepala dan dada pembaca atau penonton. Agar tidak merasa kehilangan saat kepala dipenggal, dada kita disesaki bermacam-macam perasaan. Sebaliknya, agar tidak merasa kehilangan saat dada dicopot, kepala kita dipenuhi beraneka ragam pikiran. Media massa akhirnya hanya mampu menciptakan dua kelompok besar pengikut: 1) orang-orang berkepala besar, tapi berdada melompong dan 2) orang-orang berdada lapang, tapi berkepala kosong. Mereka yang masih lengkap kepala dan dadanya adalah kelompok minoritas di negara berpenduduk banyak ini."
Menarik sekali catatan akhir buku ini. Bagi yang berminat membaca mungkin bisa mampir ke medium @hurufkecil. Mudah-mudahan termasuk kelompok minoritas yang masih lengkap kepala dan dadanya. Serangkaian sajak aku-tanpa-nama kepada kau-yang-sudah-mati seolah membawa reformasi pada sudut pandang yang berbeda.

Sabtu, 01 Desember 2018

ridiculous one day penida trip

Mengingat cuaca Kuta lima hari terakhir hampir membuat batal merencanakan trip ini. Sejak awal  pesan tiket memang tidak ingin extend karena sudah punya agenda weekend berikutnya. Alhasil H-1 nekat mencoba menghubungi pihak tour, berulang kali menanyakan kondisi cuaca, lalu mengumpulkan pasukan. Well, semoga kalian tidak menyesal diajak trip bersama. Haha.

Fastboat menuju Nusa Penida ternyata cukup besar, lebih kukuh terhadap ombak, hingga seorang teman pun bisa tidur nyenyak. Butuh waktu sekitar satu jam menyeberang dari Sanur. Pastikan menggunakan sendal selama di dermaga untuk naik-turun boat, dan antisipasi bawa baju ganti. Basah tak bisa dihindari kala turun dari boat yang menepi.

Sempat mendapat tiket fastboat kembali ke Sanur jam 17.00, sementara flight jam 19.40. Beruntung mbok part time yang antar inisiatif memberi kabar ke pihak tour hingga sesampainya di dermaga Penida tiket kembali ditukar menjadi jam 16.30. Sedikit melegakan, awalnya mendapat informasi dari pihak tour bahwa sekitar 16.30 sudah di Sanur makanya sengaja ambil paket trip ini, tanpa snorkeling. Waktunya sempit, teman traveling pun tak ada yang berminat.

Kelingking Beach

Minggu, 18 November 2018

What I Wish I Had Known

Judul: What I Wish I Had Known (And Other Lessons You Learned in Your 20s)
Penulis: Marcella Purnama
Illustrator: Nabila Adani
Penerbit: 2017
Terbit: POP (Imprint KPG)
Tebal: 208 halaman

I’ve lived my whole life following people and taking their choices as mine. I will dream a new dream, a dream that’s totally my own, and I will work hard to get it.

Ever since her acceptance letter to study abroad arrived at her inbox, nothing in Marcella Purnama’s life has gone according to plan. Instead of choosing Science, like her two older sisters did before her, she steered path to study Arts—a degree so alien to both her families and friends. But as she traveled thousands miles away, struggled with English, had her first byline and went back home to apply for her first job, Marcella realized that plans are meant to be changed. Full of relatable tales of horrific group work, falling in love, first job interview and quarter-life crisis, this illuminating account follows how a young adult grapples with life’s small and big questions, and the lessons learned along the way.
***

Sudah cukup lama menaksir buku ini karena covernya yang cute. Yet, I'm not buying, (lagi-lagi) hasil pinjaman. Wkwk. Belum pernah membaca blog penulis. Belakangan buku ini menjadi teman di perjalanan pulang kantor yang dirasa panjang. Sebulan lebih baru selesai membacanya disela-sela bacaan yang lain.

Nonfiction. Written in English. Diksi yang digunakan tidak begitu sulit, you will rarely using a dictionary. First impression membaca beberapa bab awal biasa saja sehingga tidak tergesa menyelesaikan buku ini. Entah kenapa, mungkin karena sudah memasuki half 20s, sudah mengecap sebagian, dan sudah menjalani dengan cara sendiri.
"Grades are still important, but they are not the most important things. As cliched as it is, the things you learn outside class is more important than the textbooks you blindly memorize in time for exams." - page 43
Simply, author shared her experiences, about study abroad, friendship, work life, and so on. We are slightly on the same page. Each of us has own value. Pastikan value dirimu tidak mudah tergerus, tidak mudah terpengaruh. Cukup ambil yang baik-baik, sisanya gunakan untuk memperluas sudut pandang.

Beruntunglah yang memiliki kesempatan untuk memilih, work from home misalnya. Dambaan pejuang traffic ibukota. Haha. Besok senin, mau mencoba berangkat dari kota hujan. Wish me luck :p

Jumat, 16 November 2018

STAFair 2018


Yesterday (15/11) I went to Science Technology & Art Fair. Simply, because I wanna feel augmented reality and this place was near my office. Haha. Meskipun bukan bidang saya, menarik melihat hasil riset karya anak bangsa, terlebih yang dikemas dengan apik. Belajar teknologi menjadi menyenangkan.

Satu penelitian sudah diterapkan di Karimun Jawa, beberapa penelitian masih prototype. Salah satu yang menarik minat saya potensi konversi energi angin laut. Silakan berkunjung ke https://stafair.ristekdikti.go.id/ untuk informasi lebih lengkap. 

Barangkali ada yang berminat mampir ke virtual akuarium gratis, tinggal dua hari lagi. Merasakan sensasi berenang bersama hiu dari dekat :p


Pastikan mendownload aplikasinya terlebih dahulu untuk menyaksikan seperti gambar di atas. Ada octopus juga, tapi karena terlalu hiperaktif jadi tidak terekam dalam gambar. 3D dan bergerak, apalagi ketika layar disentuh :p

Kamis, 08 November 2018

Buku Latihan Tidur

Judul: Buku Latihan Tidur
Penulis: Joko Pinurbo
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2017
Tebal: 68 halaman

Bahasa Indonesiaku yang gundah membawaku ke sebuah paragraf yang menguarkan bau tubuhmu. Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk bertingkat yang hangat di mana kau induk kalimat dan aku anak kalimat. Ketika induk kalimat bilang pulang, anak kalimat paham bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung. Ruang penuh raung. Segala kenang tertidur di dalam kening. Ketika akhirnya matamu mati, kita sudah menjadi kalimat tunggal yang ingin tetap tinggal dan berharap tak ada yang bakal tanggal.
***

Buku kumpulan puisi Jokpin yang pertama kali saya baca. Tertarik membaca semula karena buku ini bertengger di halaman buku-buku nominator dan peraih penghargaan sastra, promo bulan bahasa gramedia bulan lalu. Hampir memasukkan dalam keranjang, batal berhubung salah seorang teman sudah punya. Haha.

Buku yang terbilang tipis ini berisi humor dan satire, disisipi sedikit ilustrasi. Permainan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang sederhana. Kadang tidak baku, kadang terselip bahasa Jawa yang tidak berhasil dicari dalam kamus.  
"bahwa orang lebih takut kepada hantu, ketimbang kepada tuhan
bahwa lidah memang pandai berdalih
bahwa amin yang terbuat dari iman, menjadikan kau merasa aman" - hlm. 3
Kadang hanya butuh sekejap menuntaskan satu sajak, kadang butuh jeda lebih. Kadang membuat terpingkal, sajak "Langkah-langkah Menulis Puisi" misalnya. Kadang membuat terenyak dan meninggalkan aftertaste.
"Pesan Ibu: Yang kauperlukan hanya tidur yang cukup, pikiran yang jernih, dan hati yang pasrah." - hlm. 7
"Pada suatu pulang ada hati ibu yang tak pernah pergi." - hlm. 9
Kadang begitu relatable, seperti sajak "Kemacetan Tercinta" dan "Punggungmu". Analogi ibu kota Jakarta adalah punggung yang sabar menanggung beban kerjamu, bangun pagimu, pulang malammu, perjalanan macetmu. Duh.
"Kemacetan ini terbentang antara hati yang kusut dan pikiran yang ruwet. Kamu dan negara sama-sama mumet." - hlm. 25
Kadang begitu frontal menyindir, tengoklah "Sajak Balsem untuk Gus Mus". Kadang menggelitik sejuk seperti sajak "Pemeluk Agama". Membaca kumpulan puisi ini membuat kaya akan rasa bagi yang cukup peka. Silakan dipertimbangkan.