CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 17 Mei 2019

Follow @MerryRiana

Judul: Follow @MerryRiana
Penulis: Debbie Widjaja
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2013
Tebal: 360 halaman

5 Reasons Why My Life is Screwed Up:

5. Setelah setahun bekerja di Everell, penampilanku yang berantakan cocok sekali untuk menjadikanku model majalah Cosmopolitan. Judul artikelnya: Tanda-Tanda Anda Bekerja Terlalu Keras.

4. Pacarku marah besar karena katanya aku berubah jadi monster menyeramkan. Dan, oh, mungkin dia selingkuh dengan Agita, pramugari cantik itu.

3. Setiap kali pembaca novelku bertanya, “Kapan novel selanjutnya terbit, Kak?”, aku cuma bisa meringis dan berkelit, “Belum sempat, masih sibuk nih.”

2. Daftar orang yang kukecewakan sudah melampaui daftar film horor Indonesia. Yang paling parah, orang yang sangat kusayangi, Papa dan Mama, justru berada di urutan teratas!

But the number 1 reason why my life is screwed up is:

1. I DON’T EVEN HAVE A LIFE ANYMORE!

Bella punya karier cemerlang yang membentang di hadapannya—tapi ada harga yang harus dibayar. Dan ketika satu per satu masalah memukulnya, barulah ia terenyak dan bertanya, “Apakah aku ada di jalan yang benar?” Lalu cahaya terang itu muncul... lewat sosok yang sangat menginspirasinya: Merry Riana. Dari Merry Riana, Bella mempelajari hal-hal berharga. Makna perjuangan, kesuksesan, dan bagaimana menjalani hidup yang utuh sesuai passion.

***

Sudah lama sekali buku ini, mungkin saya saja yang baru membacanya di 2019. Wkwk. I'm not into Merry Riana back then (sampai sekarang pun). Pernah sekali ikut semacam seminar turunannya, but I didn't get it. Sorry, I just pictured promotions everywhere. Even I didn't post anything about it in here. I also haven't watched the movie.

Kembali ke buku ini, isinya bercerita seorang Bella yang fanatik akan Miss Merry. Akan ada kutipan cuitan (twitter) Miss Merry pada setiap babnya. Penulis (sepertinya) menuliskan kisahnya sendiri, mulai dari bagaimana mengetahui Miss Merry pertama kali, lalu terinspirasi hingga bagaimana hidupnya menjadi lebih baik.

Cerita Bella ini beralur maju mundur. Baru mulai tertarik menamatkan kisahnya ketika masuk petualangan NEXT—New Enterprise Executive Training. Salah satu percakapan menarik antara sang ayah dan Bella; perumpamaan hidup seperti juggling lima bola sekaligus: pekerjaan, keluarga, kesehatan, spiritualitas, dan teman-teman. Kelimanya penting dan usahakan supaya semuanya tetap ada di udara. Bola pekerjaan terbuat dari karet, sedangkan empat bola lainnya terbuat dari kaca.
"Dalam pekerjaan atau bisnis, kalaupun kamu sekarang dipecat atau bangkrut, kamu akan menemukan kesempatan lain. Kamu bahkan bisa mendapat yang lebih baik. Bola karet itu akan selalu membal, Bel. Tapi beda dengan bola kaca. Sekali kamu kena stroke, misalnya, kamu bisa lumpuh seumur hidup. Atau sekali kamu menyakiti hati teman kamu... belum tentu kalian bisa baik lagi." - hlm. 234
Got the point? Bekerjalah secukupnya, istirahat selebihnya *eh, maksudnya penuhi hak jasmani, sirami rohani, dan tengok social life sesekali. Put family first, instead of work. Intinya balik lagi ke value masing-masing. It's your life anyway. Selanjutnya, ada kutipan puisi yang relatable.
"Rest if you must, but don't quit." - hlm. 262
"Don't give up though the pace seems slow,
You may succeed with another blow.
Success is failure turned inside out,
The silver tint of the clouds of doubt,
And you never can tell how close you are,
It may be near when it seems so far,
So stick to the fight when you're hardest hit,
It's when things seem worse,
That you must not quit." - hlm. 265
To sum up, this book share idea to live a fulfilled life. A fulfilled life adalah hidup berdasarkan passion atau panggilan hidup kita. Hanya kita yang paling mengenal dan mengetahui yang paling baik bagi diri kita sendiri. Dengarkan suara hati kita, tanpa terlalu terganggu dengan tekanan dari media atau pendapat orang lain di sekitar kita.
"Don't chase after money; rather, chase your passion and money will chase after you." - hlm. 304
Selamat #HariBukuNasional. 

Jumat, 26 April 2019

when your order expired

Dua hari lalu (24/04) memesan return ticket di aplikasi tiket(dot)com, lumayan ada potongan harga hingga 300ribu. Kala itu sudah melakukan pembayaran BRIVA. Transaksi ibanking hampir gagal akibat koneksi internet, tapi setelah logout mendapat pesan notifikasi bahwa transaksi berhasil. Namun, eticket tak kunjung diterbitkan.

Waktu pesan menumpang via aplikasi seorang kakak karena kesulitan mengganti detail pemesan pada aplikasi sendiri. Alhasil membuat dia panik. Me? Cenderung santai, hanya sedikit cemas karena seorang teman pernah mengalami kejadian serupa saat promo gledek bulan lalu. Eticketnya baru terbit H+5, status pemesanan eticket processing. Deg.

Tiket yang saya pesan untuk keberangkatan Minggu (28/04). Kalau lima hari kemudian eticket baru terbit hanguslah perjalanan saya. Status pada aplikasi pun pesanan sudah kadaluarsa. Berkali-kali menghubungi cs, via email, whatsapp, dan telepon pada hari memesan. Nihil. Tak ada respon. Sambungan telepon cs tak bersambut, disarankan mesin penjawab untuk hubungi via whatsapp.

Hari berikutnya mencoba menghubungi cs lagi via email dan whatsapp. Tetap tak kunjung mendapat balasan. I was not in a good shape that morning. Hingga tidak begitu memikirkan. Worse case-nya ya paling tinggal memesan return ticket ulang. Sorenya disarankan kakak yang direpotin buat hubungi pihak bank bahwa transaksi gagal, saldo terpotong. Setengah mengiyakan. Namun, sore itu diminta memikirkan hal lain dan malamnya reroute menonton Endgame. Terlupakanlah itu menelpon cs bank, rencana besoknya saja langsung bertemu fisik.

Kabar baik sebelum subuh Jumat (26/04) whatsapp dibalas cs tiket(dot)com; diminta mengirimkan screenshot bukti pembayaran. Beruntung belum menghubungi cs bank hari sebelumnya. Jumat pagi sekitar jam sembilan mendapat telepon tiket(dot)com bahwa transaksi pembayaran sudah diterima, tapi tiket gagal issued. Ditawarkan dua opsi apakah dibantu pemesanan tiket ulang atau refund. Setelah berpikir sejenak saya memilih opsi pertama dan cs-nya pun membantu mengecek ketersediaan jadwal penerbangan maskpai yang dipilih. 

Setelah konfirmasi detail pemesan dan jadwal diterima, diberitahukan bahwa tiket akan diproses dalam satu jam. Jika tiket yang dipesankan lebih mahal dari yang sebelumnya dipesan, kelebihannya akan ditanggung pihak mereka. Betapa leganya mendapatkan eticket kurang dari satu jam yang dijanjikan. Intinya belajar tidak tergesa-gesa dalam bertindak. Jika sendiri terasa berat, libatkan beberapa kepala untuk berpikir. YNWA.

Sabtu, 06 April 2019

Aroma Karsa

Judul: Aroma Karsa
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: 2018
Tebal: 724 halaman

Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng, ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia.

Obsesi Raras memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasi melalui aroma, mempertemukannya dengan Jati Wesi.

Jati memiliki penciuman luar biasa. Di TPA Bantar Gebang, tempatnya tumbuh besar, ia dijuluki si Hidung Tikus. Dari berbagai pekerjaan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, satu yang paling Jati banggakan, yakni meracik parfum.

Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Jati masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Bertemulah Jati dengan Tanaya Suma, anak tunggal Raras, yang memiliki kemampuan serupa dengannya.

Semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, semakin banyak misteri yang ia temukan, tentang dirinya dan masa lalu yang tak pernah ia tahu.

***

Sudah lama sekali tidak menyentuh karya Dee. Pun hanya mengecap Madre dan Perahu Kertas sekitar 6-7 tahun yang lalu. Sampai sekarang belum menguatkan diri menyelami seri Supernova-nya, khawatir tenggelam gagal paham :p

Pertama kali disuguhi buku setebal ini menciutkan selera membaca seketika. Membaca bab-bab awal pun terasa membosankan, saraf olfaktori belum tune in dengan dunia aroma. Seiring perkembangan karakter, makin lama makin dibuat candu, menagih, terlebih saat petualangan mencari Puspa Karsa dimulai; dibuat tidak beranjak.

Bagi yang suka fantasi mungkin cocok dengan buku ini, melatih imajinasi dengan kadar yang sulit ditakar, menguji kepekaan indra penciuman. Tidak habis pikir penjabaran aneka aroma yang dijejalkan. Terselip dongeng berlatar sejarah, ditambah sentuhan Bahasa Jawa kuno. Tidak sepakat romansa Jati-Suma tidak terkesan vulgar :p Haha.

Plot twist endingnya patut diacungi jempol. Sempat terkena efek samping; dibuat penasaran dengan Gunung Lawu, apakah benar mistis dan menyimpan sejarah yang tak tertulis dimana pun. Tulisan Dee terkesan apik dan kaya akan riset. Menarik dengan diksi yang tidak lazim.
"Badanmu ringan. Pikiranmu yang berat." - hlm. 624

Senin, 18 Maret 2019

obscure

Beberapa hal terkadang tidak perlu repot dijelaskan dalam situasi tertentu. Terlepas dari benar atau tidak konteks percakapan. Boleh kalau tidak sepakat. Tidak menjawab pertanyaan saat berada di lift yang padat. Tidak menjawab pertanyaan random saat di lorong. Meskipun yang tanya bapak-bapak yang terhormat *ditoyor. Mohon maaf atas ketidakacuhan yang disegaja, membiarkan pertanyaan menggantung di udara, kadang sengaja tidak meralat asumsi jawaban. NB: I use sneakers for other particularly reason anyway. Hobi olahraga (lari) baru belakangan, iya, lari dari kenyataan :p  

Mungkin hanya sebagian kecil populasi tersisa yang masih minta izin terlebih dulu sebelum memberikan nomor orang lain dan saya memilih menjadi salah satunya. Privacy. Tidak banyak yang menyadari. Bukan bermaksud sombong, minimal kasih heads up lah, tidak sembarang kasih. Nanti repot lagi kalau ada yang tersinggung jika pesan tidak segera dibalas atau kalau di grup hanya menjadi silent reader. Lebih mudah matikan saja paket datanya, but I didn't. Ya mudah-mudahan cukup paham sedang hectic atau ada yang lebih urgent. I'll be back if needed. I rarely pick up unknown number calls. Maklum textrovert :p

Pernah suatu ketika membeli sepatu bersama teman yang heran karena mencari sepatu yang seminimal mungkin tampak mereknya. Lalu kapan hari dia kemudian berseloroh barang-barangmu terlihat murah. I take it as compliment. Haha. Membeli barang 'mahal' untuk pembuktian ke orang lain tidak menjadi tujuan saya. Misal, pernah ada yang dikomentari warna tasnya lusuh. Tidak perlu tersinggung. Iya, gantungan monyetnya kok yang mahal. Haha. Tidak perlu tersinggung pun ketika beberapa barang ditanya original atau tidak. Hargai justifikasi masing-masing orang. Pasti ada alasan yang cukup reasonable dibalik hasrat kebendaannya :p

Kalau ditanya worth it atau tidak mengeluarkan sedemikian jumlah rupiahnya, kembali pada preferensi masing-masing. Seringnya ada harga, ada kualitas. Kadang ada juga kok yang murah dan berkualitas. Pintar-pintar kita sebagai pembeli. Ketika si bulky dianggap flagship S, tidak perlu buang energi meralat, senyumin aja. Pun harus merelakan jika temannya (benar) berpindah tangan. Predecessor yang sudah menemani hampir lima tahun. Mudah-mudahan diganti yang lebih baik.

Minggu, 10 Februari 2019

(basic) financial planning

Empat bulan sudah memantau keuangan diri sendiri. Pengeluaran membengkak akibat (antara) dua hal: goods or traveling. Keseringan jebol dalam nominal yang (mungkin) tidak wajar bagi sebagian orang. Kemudian neraca isinya jiwa dan memori yang bahagia. Duh. Middle income trap. YOLO? FOMO? Mari mulai memperbaiki mindset. Income naik, upgrade aset dulu baru upgrade life style.


Kemarin (09/02) tidak sengaja mengikuti sesi "Smart Financial Planning for Millennials" di atamerica. Bagi yang berminat menonton rekaman video-nya, silakan klik link-nya. Lumayan menambah wawasan dasar bagi pemula yang tertarik belajar financial planning. Intinya "how to manage your spending, not your income".

Why consumerism? Seringnya karena peer pressure; insecurity; industry.
Money problem nowadays? Feeling lack of income; difficulity paying debt; no saving; do not understand about: insurance, investment, future needs, how to manage wealth.


Setiap orang punya kebutuhan yang berbeda, minimal mengerti bagaimana prioritas mengatur keuangan pribadi. Mulai menentukan financial goals: short term, medium term, dan long term. Salah satunya tentu ingin mencapai financial freedom, misal agar tidak mengalami kesulitan keuangan dengan mulai mempersiapkan emergency fund dan pension fund.

Beberapa tips: disarankan saving dulu baru spending, manfaatkanlah fitur auto debet setelah terima income. Produk investasi disesuaikan dengan financial goals, manajemen resiko, dan budget. Misal untuk jangka pendek lebih aman dengan reksadana atau obligasi; saham sifatnya volatile, return tinggi risk tinggi. Kemudian lakukan rebalancing, sesuaikan dengan kebutuhan yang ada seiring bertambahnya usia.

Mari berbenah. Kurangi spending buat life style. Tambah saving atau investment. Semakin awal memulai lebih baik. Starting it somewhere. Demi menghindari financial report yang makin lama dilihat makin miris.

Sabtu, 02 Februari 2019

Bertumbuh

Judul: Bertumbuh
Penulis: Satria Maulana, Kurniawan Gunadi, Iqbal Hariadi, Mutia Prawitasari, Novie Ocktaviane Mufti
Penerbit: CV IDS
Terbit: Cetakan kedua, Maret 2018
Tebal: xvi + 297 halaman

Salah satu hal tersulit yang dihadapi oleh seorang manusia adalah perubahan, baik perubahan di lingkungan, orang lain, maupun diri sendiri. Sebab, perubahan itu seringkali tidak disadari, juga tanpa persiapan. Segalanya seperti tiba-tiba saja terjadi, saat kita semua sibuk menjalani hari demi hari.

Tidak ada yang tetap dan menetap. Waktu bergerak. Benih bertumbuh. Air mengalir. Hidup bergulir layaknya segala sesuatu yang kita kenal. Kebahagiaan, ketenangan, kegelisahan, keresahan, kekhawatiran, dan perasaan-perasaan, semuanya turut bertumbuh.

Hari ini kita akan melatih kepekaan, melihat kembali jejak perjalanan yang telah dilewati, meneliti lagi jalan yang membentang di depan, mendengarkan ulang kata hati dan nasihat-nasihat, meraba perasaan-perasaan kita yang semakin samar.

Ada begitu banyak hal berharga yang kadang terlewati begitu saja, ada kebahagiaan yang kerap kita lupa mengenalinya, dan ada kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu repot-repot kita bawa.

Ada banyak hal yang luput tak tercatat, ada banyak hal yang terlupa karena tidak sempat kita abadikan. Akan kita ingat lagi: apa-apa yang sudah terjadi, apa-apa yang tengah kita lewati, dan apa-apa yang akan kita hadapi-dengan satu harapan, semoga semuanya menjadi rasa syukur.

***

Sudah cukup lama punya buku ini, sempat dibawa dalam beberapa perjalanan pun, baru selesai dibaca dalam reckless journey bulan lalu. Tidak mudah menyelesaikan buku yang terbilang padat ini dalam waktu singkat, terlebih bagi yang tengah memasuki fase QLC, menghadapi keresahan dalam berbagai bentuk.

Penulis-penulis buku ini aktif di laman biru tua Tumblr pada masanya. Seperti pernah membaca beberapa tulisan sebelumnya, salah satu yang paling diingat trisula-nya satriamaulana. Sebelumnya juga ternyata pernah dengar podcast subjective-nya iqbalhariadi. Setiap penulis punya warna tulisannya masing-masing.
"Kamu tahu, apa yang paling menarik sekaligus melegakan dari sebuah perjalanan bertumbuh? Kamu tidak sendirian."
 Buku ini terbagi dalam lima sub poin ciri-ciri orang bertumbuh, yakni:
  1. Bangun pagi.
    Dia memiliki cita-cita untuk dicapai setiap hari.
  2. Fokus pada tujuan hidupnya.
    Bukan pada "apa" atau "yang mana" jalannya, melainkan bagaimana cara menjalaninya.
  3. Tidak iri dengan pertumbuhan hidup orang lain.
    Alih-alih, dia ikut senang dan bahagia apabila ada orang lain yang meraih keberhasilan—dan justru terinspirasi untuk menjadi versi dirinya yang lebih baik.
  4. Banyak bersedekah.
    Dia semakin menyadari bahwa apa yang dimilikinya—entah harta, waktu, atau energi—bukanlah miliknya sendiri.
  5. Semakin bertambah keimanan, ketakwaan, dan rasa syukur.
    Dia semakin mengenal siapa dirinya, untuk apa dia diciptakan, dan ke mana dia akan pulang.
Semangat bertumbuh kepada kalian sekalian. Lapangkan pendengaran, ruang pemahaman. Lantas bersedia untuk berjuang, bersedia untuk lelah. Jangan menyerah. Semoga kita dimampukan untuk mengelola setiap keadaan.
"Ada jarak yang harus ditempuh oleh orang-orang yang sedang bertumbuh—jarak yang jauh antara hati dan pikirannya sendiri."
"Ada yang lebih penting daripada mengikuti passion, yaitu menjadi bermanfaat. Pastikan bahwa setiap pilihanmu adalah manfaat—dunia akhirat." 

Minggu, 27 Januari 2019

reckless journey

"tus seriously" - k, delapan menit sebelum kereta Jakarta-Bandung berangkat
Teman perjalanan saya yang lebih panik hari itu (15/01) :v Bagaimana tidak, saya tak kunjung sampai Gambir, padahal berangkat dari kantor. Banyak perkara yang menahan kalau ke kantor dulu :p Empat puluh menit sebelumnya sudah memesan online transport. Lima belas menit berlalu dengan sabar menunggu driver-nya. I rarely canceled my booking. Meskipun agak jauh, pun mesti muter dulu, kalau driver-nya sudah kontak bersedia jemput, I'll wait. Hingga terjawablah sudah kenapa driver-nya salah muter, kenapa lama kali baru sampai tujuan: driver-nya bukan orang Jakarta. Pantesan. Anyway, thanks for saving me, five minutes before departure.

Dilanjut berlarian naik tangga, syukur keretanya belum jalan. Tidak separah catching running train tempo dulu. Bandung lebih banyak menyemai memori tidak menyenangkan bagi saya. Kembali menuju kota itu seperti bersiap akan menghadapi perjuangan yang lain. Sekalipun sudah beralih seksi, tak jauh berbeda. Bonusnya mungkin bisa bertemu lebih banyak teman angkatan. Saban malam bisa berkeliaran cari kuliner.

Semula bimbang apakah melanjutkan rute ke kota berikutnya, kota yang selalu berakhir menjadi wacana subdit. Berhubung ada special occation tour guide saya di negeri sejuta pelangi dua tahun lalu, H-2 (18/01) pun sepakat membeli tiket bersama partner yang berangkat dari ibukota. Batal balik ibukota dulu, langsung berangkat dari Bandung mengingat badan yang ringkih haha habis terkuras energinya. Akan bertemu teman yang sudah lama tak jumpa juga menjadi salah satu alasan yang memicu saya memenuhi undangan.

Pergi sendiri naik kereta membuat saya menjadi lebih awas dengan peron, semenjak tragedi konyol di Pekalongan. Berulang kali memastikan dan mendengarkan nama kereta yang dinaiki sudah sesuai. Beruntung bertemu teman angkatan yang menuju kota yang sama. Baru tau di stasiun, resiko mendadak reroute. Kami pun berbeda gerbong.

Selama perjalanan masih tenang tiket kereta balik ibukota "terlihat" masih ada. Memutuskan belinya setelah bertemu partner. Partner saya sudah tiba setengah jam lebih awal di Tegal. Fascinating fact, we shared same birth date. Sepanjang kenal, baru kali ini satu perjalanan :p I'm not an extrovert, you just knew different shade of me. Haha.

Special thanks for mbak hes, atas segala bantuannya, atas tumpangannya, atas jamuannya, atas oleh-olehnya (P.S. pada doyan bawang gorengnya mbak :v). Maafken telah sangat merepotkan. Kota ini memang lebih pas untuk kuliner ketimbang wisata alam. Ada wisata alamnya, tapi jauh. Kami pun hanya touring ke mangrove terdekat.


Yup. We end up didn't get train tickets. Kami pun naik bus malam yang terjadwal pukul 20.00, tapi baru berangkat pukul 20.45 karena supirnya sakit dan ganti bus. Satu jam kemudian berhenti di salah satu pool bus dan berhenti selama satu jam. Akibat kendala teknis, kami diminta ganti bus (lagi) dan baru benar-benar berangkat pukul 22.30. Having trouble sleeping that night, berujung diskusi topik yang agak berat. Mengingat besok paginya mesti langsung ngantor, kami pun beranjak tidur sebelum hari berganti.

Drained, sungguh perjalanan yang menguras energi. Not in a good shape. Sudah sangat lama tidak naik bus jarak jauh. Kelak perlu mempersiapkan jauh-jauh hari agar dapat tiket kereta yang nyaman.