CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 31 Oktober 2019

Perjalanan Samtama

It's been a long time. Semburat jingga masih malu-malu dibalik jendela, suatu sabtu pagi di depan Jalan Sudirman terlihat salah satu petugas oranye tengah beraksi. Ada yang lebih pagi sudah mulai bekerja, ada yang mengambil peran agar jalanan terlihat lebih bersih. Kemudian tergerak dengan ikhlas membuka laptop pagi itu. Tidak ada salahnya (sesekali) menambah jam kerja sukarela di weekend, sebelum memulai serangkaian agenda yang lain.


Minggu berikutnya mendapati postingan di atas, tagline-nya menarik, sampah tanggung jawab bersama, indeed. Pada kalimat penutupnya ditawarkan perjalanan menuju TPST Bantargebang, untuk merasakan kondisi nyatanya, sekaligus belajar bagaimana cara memilah sampah yang benar, mengolahnya, membuat kompos sendiri, mendaur ulang, dan disadarkan apa jadinya kalau sampah tidak diolah dengan benar.

Kemudian saya memutuskan mendaftar, meskipun tak berhasil mengajak satu teman pun, hingga menjelang batas akhir pendaftaran. Salah satu pertanyaan yang menggelitik adalah motivasi bergabung dalam perjalanan Samtama. Selain yang tertulis, there are another reasons that I keep. Haha. Salah satunya yaitu penasaran dengan setting Aroma Karsa, ingin mencoba sekelebat merasakan menjadi Jati. Masih tidak habis pikir, warung di sana pun benar-benar ada.

perhatikan bagian tengah di zona 3 ini

Rabu, 18 September 2019

The Book Imaginary Beliefs

Judul: The Book of Imaginary Beliefs
Penulis: Lala Bohang
Penerbit: Gramedia
Terbit: Februari 2019
Tebal: 152 halaman

Earth is blue, fragile, light, and not a star. And we’re part of it, not just living on it. Earth is a battle ground where all species constantly face an invisible war. And we’re the main actor of growth, destruction, and peace.

Someone’s precious is someone else’s garbage.
Someone’s interest is someone else’s boredom.
Someone’s principle is someone else’s violation.
Someone’s contentment is someone else’s pressure.
Someone’s recipe for immunity is someone else’s cause of death.
Either you’re the “someone” or the “someone else”, it doesn’t matter because confusion will always bounce back to you, no matter how far you’ve been running away from it.

It’s about facing an empty page each day, it’s about waking up in the morning deciding to be alive, it’s about choosing which mistakes to avoid, it’s about considering what and who to ignore, it’s about crafting a self that’s truly your own, it’s about faking a smile to cure the pain of others, it’s about continuously moving forward because going back is never a choice, it’s about looking at the blue sky and having small talks with it, it’s about everything that feels small and unworthy, it’s about becoming buoyant, never being trapped between other people’s cacophonic agendas, it’s about counting your breath.
***

Buku ini merupakan sekuel The Book of Forbidden Feeling dan The Book of Invisible Questions. Tertarik men-check out-nya sebulan lalu karena diskon, judul, berwarna hijau dan sepotong kalimat pada blurb. 
Either you’re the “someone” or the “someone else”
Ha. Tidak bisa dipungkiri bahwa saya mungkin kadang kala menjadi the "someone else". Bagi yang level bodo amat-nya di atas rata-rata, tidak perlu berbusa-busa mendebat penilaian orang lain terhadap kita, hal yang di luar kendali kita. Just stay focus in your values and priorities.
"You feel anxious when you have nothing to do. You feel anxious when you haven't checked one of your long to-do lists."
Akan terasa buku ini terbilang dewasa dibanding kedua saudaranya. Pada suatu halaman diingatkan untuk stop being so hard on yourself. Bagian yang paling relatable. Sisanya, entahlah, I can't really figured it out, esp the long stories. Maybe I'll reread this book, agar lebih meresapinya :p

Buku ini masih dilengkapi dengan ilustrasi yang weirdly beautiful, dengan ciri khasnya, the cute stripe girl. Haha. Overall, dari ketiga buku, saya tetap merasa lebih berkesan membaca buku yang pertama, lebih dark somehow. Kembali ke selera masing-masing. Selamat membaca.

Sabtu, 24 Agustus 2019

Jakarta Aquarium

Akhir tahun lalu hanya mengunjungi virtual aquarium, kemudian awal bulan Agustus (04/08) terealisasi mengunjungi real aquarium bersama tamu dadakan, so happy little kid. Haha. Memang rezekinya tetap dapat tiket promo, hampir separuh harga weekend. Normalnya harga tiket masuk  aquarium yang beroperasi sejak 2017 ini kala weekday 150ribu dan weekend 200ribu. Berlokasi di NEO Soho, jikalau naik transjakarta bisa turun di S. Parman Podomoro. Lalu, menyeberang dari Central Park melalui Jembatan Eco Skywalk yang katanya lebih bagus dilihat kelap-kelipnya saat malam hari. Aquarium terletak di LG.

finding nemo (re: clownfish) and dory (re: surgeonfish)

Bagi yang pernah snorkelling, tentu tidak asing melihat aneka ikan perairan dangkal. Aquarium ini  menawarkan pengalaman hal serupa versi mini-nya. Anemone lautnya pun hidup. Ada beragam ikan, termasuk nemo dan dory. Selain itu, ada aneka satwa darat, seperti kura-kura, iguana, kukang, biawak, dan landak. Kemudian beranjak mulai melihat aneka ikan perairan dalam, seperti berbagai jenis hiu hingga pari manta.

Senin, 29 Juli 2019

(not) official trip

Strolling with large group was not so bad. Tak masalah membaurkan berbagai angkatan. Terima kasih tour guide dadakan. Terima kasih PIC andalan. Budget traveling terlaksana juga awal (lima) bulan lalu dengan perombakan jadwal di sana-sini. Next, science art museum mesti diagendakan ulang ya. Haha.

Seminggu sebelum berangkat, beberapa teman baru mengurus benda hijau. Sekarang sepertinya jauh lebih mudah prosesnya, bisa mendaftar online via aplikasi dan bisa memantau progress dari aplikasi yang sama. Pun sudah dapat mengantongi benda hijau tersebut kurang dari lima hari kerja. Selagi luang, tidak ada salahnya menyempatkan diri mengurusnya (bagi yang belum punya) sebagai aset yang perlu dimiliki.
sengaja blur :p

Tidak ada kantong yang jebol sepanjang Orchard Road, paling-paling hanya kaki yang pegal berkelana. Sangat disarankan memakai alas kaki yang nyaman kemana pun, karena kebanyakan menggunakan public tranport dan berjalan cukup jauh sampai tujuan. Transportasi umum yang digunakan kadang bus, kadang mrt yang jalurnya mudah dipahami, typical developed country. You can pay using Tourist Pass (STP) or Ez-link card. I prefer the latter.

Rabu, 17 Juli 2019

Seni Tinggal di Bumi

Judul: Seni Tinggal di Bumi
Penulis: Farah Qoonita
Penerbit: Kanan Publishing
Terbit: 2018
Tebal: 178 halaman

Karena kita hidup di sepetak kerajaan-Nya, ketahui seni tinggal di sana.

Mulai dari, Seni Melangkah di Bumi, tentang bagaimana kita menorehkan setiap guratan warna-warni kuas dalam kanvas kehidupan. Tentang Hati yang Ingin Dicintai, perihal bagaimana seharusnya kita memerlakukan hati sang pengemudi diri. Tentang Perempuan, ketahui bagaimana spesialnya perempuan di mata-Nya. Manusia Langit, kenali dan pelajari lebih jauh manusia-manusia yang telah sukses mendapat medali kemenangan nan agung. Dunia Di Sekitarmu, ketahui bagaimana romantisme perjuangan pembebasan Palestina, dan perihal dunia Islam pada umumnya. Terakhir, Menapaki Keabadian, tentang bagaimana kita seharusnya bersikap pada kehidupan setelah kematian.

Selamat menorehkan karya seni paling indah di dunia untuk negeri akhiratmu.

***

Sudah sejak tahun lalu (kadang-kadang) mengintip akun teh qoon, laman dakwah yang breathtaking. Sempat tertarik beli bukunya, tapi baru tergerak dua bulan lalu mengadopsinya dan menargetkan menamatkannya dalam bulan Ramadhan.
"Do what you love? Do what Allah loves!" - hlm. 27
Diksi buku ini terbilang ringan, penulis memparafrasakan aneka cerita Sirah Nabawiyah dikaitkan keseharian dengan sederhana. Penuh hikmah. Agaknya menjembatani bagi yang belum membaca redaksi cerita sahabat nabi secara utuh.

Buku ini bisa dicerna per bab secara acak, kecuali beberapa tulisan yang berupa cerpen. Jika membacanya urut, semakin memasuki tema besar terakhir, semakin keras tamparannya. Semakin dibuat merenung, salah satunya oleh tulisan berjudul "meminta recehan dilemparkan dari langit".
"Jangan-jangan selama ini kita mengerjakan akhirat hanya untuk dunia. Jangan-jangan kita lebih merindu untuk bergelimang harta, dibanding mendapatkan rida, ampunan, dan kasih sayang-Nya." - hlm. 162
Sedikit terganggu dengan beberapa typo, terlebih body tulisan yang kurang konsisten antara Serif atau Sans-Serif. I prefer Serif tho buat buku cetak begini. Despite of anything, formating tidak mengurangi pesan yang ingin disampaikan teh qoon. Grab the new-catchy-cover book dan selamat terinspirasi.

Sabtu, 15 Juni 2019

BukaTalks: Questions of Life

Sebulan lalu (11/05) menghadiri acara BukaTalks sekaligus buka bersama teman sefase bertumbuh. Berawal dari ajakan yang tumben tidak dadakan, saya pun berpartisipasi karena ada penulis "Filosofi Teras" menjadi salah satu pembicaranya. Buku yang masuk wishlist, menunggu bacaan habis dulu baru pinjam. Wkwk. Okeskip.


Najelaa Shihab. Korban pendidikan yang memilih berdaya, mengambil peran untuk pendidikan Indonesia. Proses belajar mengajar cenderung masih sama dari zaman ke zaman, yang hanya mengikuti kurikulum, tanpa tau dan memikirkan relevansi terhadap tujuan hidup. Padahal sebenarnya sejak lahir anak sudah merdeka belajar dengan banyak bertanya. Namun, fitrah anak untuk selalu bertanya dan berekspresi itu dimatikan karena pola pendidikan.

Ciri-ciri orang yang merdeka belajar:
1. Punya komitmen dengan tujuan; murid jarang memiliki pemahaman yang utuh, tujuannya sebagian besar hanya nilai atau peringkat
2. Mandiri; yakin punya kendali pada apapun yang terjadi pada dirinya.
3. Berani berefleksi; murid jarang mencari feedback, padahal perlu berkolaborasi dengan orang lain.

#semuamuridsemuaguru, semua diri kita menjadi murid sekaligus guru. Mari mengambil peran untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik kedepannya.


dr. Jiemi Ardian. Psikiater yang cukup sering tweet-nya mampir timeline meskipun tidak saya follow. Bahasan self awarness menarik minat jiwa-jiwa yang terpapar vulnerability belakangan ini, termasuk saya mungkin (#eh) yang masih belajar meregulasi emosi.

Topik yang disampaikan dr. Jiemi kemarin terkesan ilmiah, namun mudah dicerna. Dibuka dengan kisah salah satu pasiennya yang kemudian dikaitkan dengan konsep definisi: sehat; mental dissorder. Berdasarkan sebuah penelitian, bahagia hanya dipengaruhi 10 persen oleh faktor-faktor/kejadian luar seperti stress, kehidupan, masalah; 50 persennya genetik/nasib yang tidak dapat diubah; sisanya 40 persen dipengaruhi respon internal kita.

Jumat, 17 Mei 2019

Follow @MerryRiana

Judul: Follow @MerryRiana
Penulis: Debbie Widjaja
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2013
Tebal: 360 halaman

5 Reasons Why My Life is Screwed Up:

5. Setelah setahun bekerja di Everell, penampilanku yang berantakan cocok sekali untuk menjadikanku model majalah Cosmopolitan. Judul artikelnya: Tanda-Tanda Anda Bekerja Terlalu Keras.

4. Pacarku marah besar karena katanya aku berubah jadi monster menyeramkan. Dan, oh, mungkin dia selingkuh dengan Agita, pramugari cantik itu.

3. Setiap kali pembaca novelku bertanya, “Kapan novel selanjutnya terbit, Kak?”, aku cuma bisa meringis dan berkelit, “Belum sempat, masih sibuk nih.”

2. Daftar orang yang kukecewakan sudah melampaui daftar film horor Indonesia. Yang paling parah, orang yang sangat kusayangi, Papa dan Mama, justru berada di urutan teratas!

But the number 1 reason why my life is screwed up is:

1. I DON’T EVEN HAVE A LIFE ANYMORE!

Bella punya karier cemerlang yang membentang di hadapannya—tapi ada harga yang harus dibayar. Dan ketika satu per satu masalah memukulnya, barulah ia terenyak dan bertanya, “Apakah aku ada di jalan yang benar?” Lalu cahaya terang itu muncul... lewat sosok yang sangat menginspirasinya: Merry Riana. Dari Merry Riana, Bella mempelajari hal-hal berharga. Makna perjuangan, kesuksesan, dan bagaimana menjalani hidup yang utuh sesuai passion.

***

Sudah lama sekali buku ini, mungkin saya saja yang baru membacanya di 2019. Wkwk. I'm not into Merry Riana back then (sampai sekarang pun). Pernah sekali ikut semacam seminar turunannya, but I didn't get it. Sorry, I just pictured promotions everywhere. Even I didn't post anything about it in here. I also haven't watched the movie.

Kembali ke buku ini, isinya bercerita seorang Bella yang fanatik akan Miss Merry. Akan ada kutipan cuitan (twitter) Miss Merry pada setiap babnya. Penulis (sepertinya) menuliskan kisahnya sendiri, mulai dari bagaimana mengetahui Miss Merry pertama kali, lalu terinspirasi hingga bagaimana hidupnya menjadi lebih baik.

Cerita Bella ini beralur maju mundur. Baru mulai tertarik menamatkan kisahnya ketika masuk petualangan NEXT—New Enterprise Executive Training. Salah satu percakapan menarik antara sang ayah dan Bella; perumpamaan hidup seperti juggling lima bola sekaligus: pekerjaan, keluarga, kesehatan, spiritualitas, dan teman-teman. Kelimanya penting dan usahakan supaya semuanya tetap ada di udara. Bola pekerjaan terbuat dari karet, sedangkan empat bola lainnya terbuat dari kaca.
"Dalam pekerjaan atau bisnis, kalaupun kamu sekarang dipecat atau bangkrut, kamu akan menemukan kesempatan lain. Kamu bahkan bisa mendapat yang lebih baik. Bola karet itu akan selalu membal, Bel. Tapi beda dengan bola kaca. Sekali kamu kena stroke, misalnya, kamu bisa lumpuh seumur hidup. Atau sekali kamu menyakiti hati teman kamu... belum tentu kalian bisa baik lagi." - hlm. 234
Got the point? Bekerjalah secukupnya, istirahat selebihnya *eh, maksudnya penuhi hak jasmani, sirami rohani, dan tengok social life sesekali. Put family first, instead of work. Intinya balik lagi ke value masing-masing. It's your life anyway. Selanjutnya, ada kutipan puisi yang relatable.
"Rest if you must, but don't quit." - hlm. 262
"Don't give up though the pace seems slow,
You may succeed with another blow.
Success is failure turned inside out,
The silver tint of the clouds of doubt,
And you never can tell how close you are,
It may be near when it seems so far,
So stick to the fight when you're hardest hit,
It's when things seem worse,
That you must not quit." - hlm. 265
To sum up, this book share idea to live a fulfilled life. A fulfilled life adalah hidup berdasarkan passion atau panggilan hidup kita. Hanya kita yang paling mengenal dan mengetahui yang paling baik bagi diri kita sendiri. Dengarkan suara hati kita, tanpa terlalu terganggu dengan tekanan dari media atau pendapat orang lain di sekitar kita.
"Don't chase after money; rather, chase your passion and money will chase after you." - hlm. 304
Selamat #HariBukuNasional.