CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 01 Mei 2023

Selamat Tinggal

Judul: Selamat Tinggal
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia
Terbit: November 2020
Tebal: 360 halaman

Kita tidak sempurna. Kita mungkin punya keburukan, melakukan kesalahan, bahkan berbuat jahat, menyakiti orang lain. Tapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji tidak melakukannya lagi, memperbaiki, dan menebus kesalahan tersebut.
Mari tutup masa lalu yang kelam, mari membuka halaman yang baru. Jangan ragu-ragu. Jangan cemas. Tinggalkanlah kebodohan dan ketidakpedulian. “Selamat Tinggal” suka berbohong, “Selamat Tinggal” kecurangan, “Selamat Tinggal” sifat-sifat buruk lainnya.

Karena sejatinya, kita tahu persis apakah kita memang benar-benar bahagia, baik, dan jujur. Sungguh “Selamat Tinggal” kepalsuan hidup.

***

Sudah lama sekali tidak membaca novel Tere Liye. Sampai series Bumi menjadi tiga belas, belum kunjung membacanya juga haha. Ternyata terakhir membaca Pergi.

Selamat Tinggal bercerita tentang Sintong, seorang mahasiswa abadi yang mencari jejak penulis besar yang terlupakan, Sutan Pane, untuk skripsinya. Premis awalnya kontradiktif antara pronsip tokoh dan pekerjaannya sebagai penjaga toko buku bajakan.

Jadi inget dulu awal kuliah pernah berada di antara toko buku serupa di Senen. Buku bajakan yang tulisannya ada yang buram, lem kertasnya lepas-lepas, sampai pernah menjilid spiral sebuah buku .-.
"Di mana coba berkahnya ilmu yang diperoleh dari buku bajakan?" - hlm. 13

Senin, 07 November 2022

Laut Bercerita

Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Terbit: Oktober 2017
Tebal: 379 halaman

Jakarta, Maret 1998

Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.

Jakarta, Juni 1998

Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.

Jakarta, 2000

Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.

Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan akan anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.

***

Sudah melirik novel ini sejak 2018 karena covernya. 2020 men-check-out-nya bersama satu buku prosa (Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau) yang tentu sudah lebih dahulu selesai dibaca. 2022 dibuat sesak seusai membaca novel ini. Sudah lama ternyata tidak membaca fiksi, terakhir Aroma Karsa. Genre sejarah sejujurnya not my cup of coffee, makanya tak kunjung selesai dibaca. Terlalu lama jeda membaca prolog yang sejatinya sudah menyuratkan ending ceritanya. Memasuki pertengahan cerita baru tergesa ingin menyelesaikannya.

Novel ini berisi flashback yang dibagi menjadi dua bagian, dari sudut pandang Biru Laut dan Asmara Jati (adiknya). Sesuai judulnya, benar-benar Laut yang bercerita di awal. Ia turut bergabung dengan Winatra, organisasi mahasiswa yang memihak pada kaum kecil, seperti buruh dan petani. Cerita fiksi yang terasa begitu nyata, perjuangan para aktivis yang kegiatannya dianggap menentang pemerintahan kala itu, dikejar-kejar aparat, hingga harus hidup berpindah-pindah. Kemudian, satu per satu mereka hilang (re: penghilangan orang secara paksa). Bagian terberat mendapati satu pengkhianat berada di antara mereka.

"Setiap langkahmu, langkah kita, apakah terlihat atau tidak, apakah terasa atau tidak, adalah sebuah kontribusi, Laut. Mungkin saja kita keluar dari rezim ini 10 tahun lagi, atau 20 tahun lagi. Tapi apapun yang kamu alami di Blangguan dan Burungasih adalah sebuh langkah. Sebuah baris dalam puisimu. Sebuah kalimat pertama dari cerita pendekmu." -hlm. 183

"Aku hanya ingin kau paham, orang yang suatu hari berkhianat pada kita biasanya adalah orang yang tak terduga, yang kau kira adalah orang yang mustahil melukai punggungmu." - hlm. 31

Emosi kian memuncak di bab Asmara Jati, yang perlahan mengajarkan kita agar berdamai dengan kehilangan. Sekian tahun keluarga para aktivis, baik orang tua, kakak, adik, kekasih, menyangkal bahwa mereka yang hilang sudah tiada. Sang adik, mencoba untuk mengajak kedua orang tuanya ‘keluar dari kepompong’ dan menghadapi kenyataan bahwa Mas Laut hilang dan tak akan pernah kembali. The last part hit the hardest, I couldn't hold back my tears.

"Kalau sampai aku diambil dan tidak kebali, sampaikan pada Asmara, maafkan aku meninggalkan dia ketika bermain perak umpet, dia akan paham. Aku akan selalu mengirim pesan kepadanya melalui apa pun yang dimiliki alam. Dan sampaikan pada Anjani, carilah kata-kata yang tidak terungkap di dalam cerita pendekku." - hlm. 226

"Gelap adalah bagian dari alam. Tetapi jangan sampai kita mencapai titik kelam, karena kelam adalah tanda kita sudah menyerah. Kelam adalah sebuah kepahitan, sebuah titik ketika kita merasa hidup tak bisa dipertahankan lagi." - hlm. 2

"Seandainya belum ada satu pimpinan pun yang menunaikan janjinya untuk mengungkap kasus kematianku dan kematian semua kawan-kawan, maka inilah saranku: kalian semua harus tetap menjalankan kehidupan dengan keriangan dan kebahagiaan." - hlm. 366

I really want to thank all of the activists involved at that time because they have succeeded in creating a better country for us to live in. Selamat (sebentar lagi) Hari Pahlawan!

Sabtu, 13 Agustus 2022

Memberi Ruang

Judul: Memberi Ruang
Penulis: Kurniawan Gunandi
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Juni 2022
Tebal: 160 halaman

Kalau ingin memahami orang lain, pertama-tama kita harus bisa memahami diri sendiri. Sebab, bagaimana mungkin memahami perasaan, masalah, dan apa pun yang sedang dialami orang lain kalau kita gagal melakukan hal serupa pada diri ini.

Beri ruang yang cukup untuk dirimu sendiri. Beri waktu yang lapang untuk mengenali diri dengan baik. Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan dunia luar sehingga gagal memahami diri ini. Lalu saat sudah berumur, kita masih dibuat bingung dengan keinginan yang ada.

Memberi Ruang akan  membawa kita memahami berbagai pelajaran hidup yang hadir lewat kegagalan, kesedihan, kecemasan, dan masalah-masalah lainnya.

***

Buku ketujuh yang ditulis masgun sejak 2014. Kali ini sengaja langsung direview tak lama setelah bukunya selesai dibaca, agar tidak terlewat seperti Bising (yang rencana reviewnya akan disusulkan kemudian, haha). Mungkin di antara kalian ada yang sudah pernah membaca Hujan Matahari, Lautan Langit, Menentukan Arah, Bertumbuh, atau Arah Musim; tidak akan asing dengan buku kumpulan tulisan pendek ini. 

"Hati-hati segalanya memiliki konsekuensi." - pesan di samping tanda tangan yang dibubuhkan masgun
Hal yang paling terasa sejak Bising, tulisannya lebih dewasa, topiknya lebih kompleks. Tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi dewasa itu sulit. Setiap cerita dalam buku ini bisa diikuti secara acak, tidak ada cerita yang bersambung, beberapa poin berulang. My personal opinion, tidak semelelahkan membaca Bising, karena buku ini memang negasinya.

Bulan lalu mengikuti bedah buku ini secara online. Berikut beberapa catatan yang sempat dikutip. Masalah besar atau kecil itu persfektif, tergantung ruang yang dimiliki. Kemudian, bagaimana respon terhadap masalah yang dihadapi. Seberapa sering menghindar atau lari dari masalah?
"Kita tidak selamanya bisa bergantung kepada orang lain. Seseorang yang akan terus menemani kita adalah diri sendiri. Maka, bantulah dirimu untuk bisa menjadi pribadi yang baik. Pribadi yang menyenangkan. Bantulah dirimu untuk menjadi orang yang berwawasan, bisa kamu ajak bicara, dan kamu merasa nyaman dengannya setiap waktu." - hlm. 42

Apakah nyaman ngobrol dengan diri sendiri di fase krisis? Everyone was a beginner, selami cara berpikirnya. Kalau ada yang bisa diperbaiki, bantu memperbaiki cara berpikirnya. Respect dengan peran yang diambil oleh orang lain. Di luar sana ada yang tidak bisa memilih peran, karena seolah-olah itu takdir. Appreciate, apa yang dikerjakan itu bernilai.

Kapan terakhir kali benar-benar bicara dengan orang tua?

Seberapa penting hal itu bagimu? Jika perlu waktu mencapainya 7 sampai 10 tahun apakah bersedia mengambil konsekuensinya? Jangan memilih sesuatu yang tak ingin kamu miliki seumur hidup.

"Tak ada yang mengejar-ngejarmu, kecuali kekhawatiran dan ketakutanmu sendiri." - hlm. 111

"Kita sering kali memilih sesuatu yang lebih mudah dijalani, mesti bukan yang benar-benar kita inginkan." - hlm. 157

Diselipkan beberapa halaman kosong untukmu menulis tentang dirimu sendiri pada buku ini. Semangat berkontemplasi.

Minggu, 31 Juli 2022

caving

2021 passed like a flash. It has been a long time since I wrote again. As if someone paying attention wkwk. Some people may wonder what I am going through. Gathering myself to write last year's sum up post required more courage, without getting burst into tears. So many things that I wanna skip. However, thanks again, you are survived. Even if you feel weird about yourself, somehow.

Certain someone asked me what I have learned the most in the past year, and my answer was... being healthy. Before you nurse other, make sure to take care of yourself. Even though there was a second wave of Covid-19, walking in and out of hospital for a while. When my legs became helpless, hear the monitor beeped. Then, watching medical dramas will never be the same again. It took a lot of my time, to getting back on my feet. But it's okay, it's really okay to be vulnerable during those time. I even (try) normalized to take annual leave to rest. Last third of last year has been so busy that I did not think much.

Health is one of valuable asset. After three months of window shopping, I decided to buy slow juicer to make green juices. The results are visible when my mood swing improves, and my skin is a bit glowing pfft. But most importantly, I can adjust my diet so it does not cause flare-ups or other digestive problems. Lately, to consistently make green juices is a different story. Haha.

Another skill that was unlocked last year was composting. Previously, I started sorting organics and inorganic waste. The most household waste is organic waste. I knew even sorted waste, when picked up by dustman or dropped on a laystall, it got jumbled up again. Thankfully, my housemates support composting. Then, we bought composting kit and learn how to do it. We failed at first because we did not use the right brown materials. We harvested compost twice last year. She even developed a new hobby (re: gardening). Nowadays, I am not the only one who has plastics laundry :D

Ah ya, for the first time I lost my annual leave. However, I had the opportunity to go home twice, of course while working. And as the third one, I've so tired, thus I decided to plan a vacation, obviously not alone :p Thanks for wrapping last year (at least) beautifully.

Minggu, 31 Januari 2021

shifting

2020 was a tough year. Thank you, at least you survived. I learn to pick up my (messy) self. Despite so many unfortune news circulated. Thanks to every support systems through this year. Tribute to careerclass, one that makes me realistic and shows many perspectives. I wrote a little about it in this post. Tribute to beginagain channel that help calming my feeling, even I didn't understand any single lyrics :p. Tribute to ustadz nuzul zikri one-hour-live every morning that support me spiritually and succeed make me not sleep again after dawn :p

When I look back, ah, slow living idea was nice thing. I simply tried just to be ordinary person. Wkwk. I don't wanna love my self too much. I don't wanna be so hard on my self. I just want to balance things. Being comfortable with imperfection. Dealing with loneliness. Bravely to make life better by my own standards, little by little. In some case I choose to be bold, literally, with eloquent communication skill. Pfft. You can't please everyone anyway.

Changing habit is not easy. You need strong will and perseverance. Start small, for me like a morning walk. I start morning walk / jog to organize my thoughts, two years ago. Nowadays, I simply walk to get some sunlight or just to keep my self from doze off during meetings without coffee. Haha. Another thing that I take seriously as (health) investment is consume real foods; eat less flour, sugar, dairy, and processed food. I learn from rainbowofmylife. It's really helpful to deal with my picky eater problem, even if I haven't tried green smoothies yet.

Based on one of financial class careerclass, I decided to try another investment instruments with smaller risk than stocks (re: mutual funds). Following my previous posting about investment, when my portfolio slightly greener, I came back wkwk. There are still many things that needs to be improved, I also took CSM class. Yet the problem still lies in me who is not disciplined with trading plan and managed greed. Fighting, pension fund target still far away. Haha. So, choose your battle wisely.

Minggu, 27 September 2020

Strawberry Generation

 

Judul: Strawberry Generation
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: Mizan
Terbit: Juni 2017
Tebal: 280 halaman

Dari bentuk dan warnanya, strawberry itu menawan. Namun, di balik keindahannya, ia ternyata begitu rapuh. Itu adalah ilustrasi dari strawberry generation. Sebuah bagian dari suatu generasi yang rapuh meski terlihat indah.

Dalam buku ini Rhenald Kasali berbicara mengenai perubahan, baik yang tak terhindarkan maupun yang harus diusahakan. Salah satunya, ia mengingatkan anak muda agar tidak menjadi bagian dari strawberry generation. Generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.

Padahal, menurut Rhenald, kesuksesan tidak bisa diraih melalui jalan pintas. Maka, mentalitas rapuh itu harus diubah. "Passenger" harus menjadi "driver". Fixed mindset digantikan growth mindset.

Inilah buku yang penting dibaca oleh mereka yang ingin menjadi manusia tangguh. Yaitu, manusia yang berkarakter kuat, berjiwa terbuka, dan pandai mengungkapkan isi pikirannya.
***

Akhirnya setelah sekian bulan pandemi, berhasil menamatkan sebuah buku dari penulis yang tidak asing. Penulis merupakan pendiri Rumah Perubahan. Artikel beliau yang pertama kali pernah saya baca dan begitu menggugah, berjudul Pasport. Pernah mendaftar salah satu kursus online beliau di IndonesiaX, sayangnya terlewatkan, maybe I will catch up later.

Buku ini berisi kumpulan artikel, seputar dunia pendidikan dan parenting. Topik bahasan dibagi menjadi lima bagian besar, yaitu Pada Mulanya adalah Mindset, Hi-Tech and Hi-Touch Parenting, Memetik Moral dari yang Viral, Bianglala Entrepreneurship dan Mencegah Rajawali jadi Merpati. Banyak hal menarik yang diungkapkan dan membuat mengangguk sepanjang membaca, membenarkan hal yang disampaikan.
"Albert Einstein pernah mengatakan bahwa semua orang yang dilahirkan di muka bumi ini pada dasarnya genius. Masalahnya, mereka selalu diukur kecerdasannya berdasarkan hal-hal yang tidak mereka miliki, bukan atas apa yang mereka miliki." - hlm. 37
Sepakat pentingnya growth mindset dalam pendidikan. Agar berani mengambil tantangan hidup yang lebih besar dan mencoba hal-hal baru, sehingga terlatih melihat peluang untuk berkembang. Selain itu, penting memiliki skill memadai dalam mengambil keputusan dan menentukan skala prioritas. Belajar bukan hanya menghapal, tetapi berpikir kritis.
Namun, bagi Agustinus dari Hippo, "Those who do not travel read only one chapter." - hlm. 44
Pergi ke luar negeri tanpa ditemani satu orang pun supaya berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat atau kehabisan uang. Agar mendapatkan life skills, di antaranya kemampuan mengelola rasa frustasi, cognitive flexibility, focus dan self-control, kemampuan mengambil keputusan dengan jernih, menimbang resiko, berpikir logis, kritis, dan kreatif, berkomunikasi artikulatif, berempati pada kesulitan orang lain, serta kemampuan melihat dari perspektif yang berbeda, menurut Carol Dweck disebut sebagai growth mindset. 

Agar tidak terjebak sistem pendidikan negeri ini, sebaiknya orang tua perlu membuat kurikulum pendidikan sendiri untuk anaknya, tentu menjadi tantangan mendidik generasi Z atau alpha ke depannya. Zaman sudah berubah dan problematika semakin kompleks sehingga mungkin tidak bisa lagi di-handle dengan cara-cara lama. Jadilah driver yang menentukan arah, membawa penumpang-penumpangnya ke tempat tujuan dan mengambil resiko.
"Kalau kita mau hidup enak, ya kita harus belajar terus, tidak boleh ada tamatnya meski tidak ada ijazahnya." - hlm. 187
"Learning itu gabungan dari relearn dan unlearn." - hlm. 191
"Kalau kita berani melewati jalan tidak nyaman, lambat laun kita pun bisa meraih kemahiran. Kalau sudah mahir dan nyaman, jangan lupa cari jalan baru lagi. Seorang climber, kata Paul Stoltz terus mencari tantangan baru. Dia bukanlah a quiter atau a camper." - hlm. 192
It took me a while to finish reading this book. Beberapa poin penting dalam buku ini mengingatkan kembali hal-hal yang pernah disampaikan pemateri career class. Memberikan perspektif baru untuk menjadi generasi tangguh, tidak mudah rapuh karena tekanan.

Kamis, 04 Juni 2020

(not so) fancy food at home

Setelah hampir tiga bulan wfh, mencermati cashflow bulanan akan makanan, tidak bisa dipungkiri, meningkat cukup signifikan. After all this time far from home, I (almost) always consumed cooked food by others. Did not expect to cook my own meal haha even my family. But, this pandemic forced me to change. I started to buy organic vegetables, brown rice, and (healthy) snacks sometimes. It was costly. They said, it was okay, because we shifted transportation and weekly entertainment cost, do you agree?

The most fancy groceries I ever bought this time was salmon sashimi grade and sliced beef. Haha. Fyi, fresh salmon can be eaten raw. You will realize that anyone can cook, selama ada niat dan bumbu jadi. Wkwk. I only cook simple meal anyway, mostly boiled or steamed, tried to reduce fried foods or foods containing coconut milk.  Tapi ya kalau dikasih, tidak akan menolak :p

(not so) fancy food collection

Truthfully, one food materials can be cooked into many dishes. It's always much cheaper than eating once at a restaurant for the same dish. For example, I can made five portions from 500 gram sliced beef, four dishes shown in picture above. My simplest dish shown above is steamed potatoes with broccoli and cheese, I can make 2-3 servings with the same price I guess, apalagi kemarin (31/05) dapat kiriman brokoli. Haha. You can add flavor with himalayan salt if you want. Last, my favorite salmon soup with kombudashi (seaweed stock). Like ordinary soup actually, the taste was just a little different because of the broth. Not yet achieved making grilled salmon with lemon sauce :v

That's all from me. I don't plan to share some recipes here, because there are already many on cookpad or youtube. And I still faaar away to become a good cook. Haha. Pernah suatu ketika membuat pancake gluten free, snack terniat, percobaan pertama gagal, perlu ada yang bantuin mengayak tepungnya baru berhasil. Begitulah, selamat berkreasi. Stay healthy, stay sane. Thanks for reading.

Senin, 25 Mei 2020

Special eid mubarak

In early stage of lockdown, over two months ago, still keep hoping that I can go home to celebrate this special day. Day after day passed, I did not buy airplane ticket yet. I almost never bought ticket in advance anyway, as impromptu team. Until flight schedule has been restricted from or to red zone area, I even got wild suggestion, to go home by ship from Semarang. Of course I did not take it.
"If you hear of an outbreak of plague in a land, do not enter it; but if the plague breaks out in a place while you are in it, do not leave that place."- Prophet Muhammad said
This too shall pass. Sabr, we were choosen to face this global pandemic, hopefully we can overcome this challenge, physically and mentally healthy. Alhamdulillah, even for little things. We are not laid off or (forced) unpaid leave or hardly earn daily income. Everbody struggling. Thanks for surviving and fighting so far. Keep it up.

I really like the working from home idea before. Thanks to this pandemic, I tasted the bittersweet. First two weeks still excited, tried virtual meeting till predawn with friends. In the third week, I even asked how to get day-off during wfh, to practically doing nothing, halfly joking wkwk. Recently, I just knew it can't be done, except you're sick.

I managed stay at home somehow, just went out to fill my weekly logistic. Everyone has their own coping mechanism anyway, such as gardening, cooking, baking, learning, creating any content or online shopping (?) Haha. Sometimes, I choose cooking (healthy food), joined webinar and career class. I need to make my self busier with other than work, to keep me sane :p

Since last week, I realized how I missed real chit chat with human. I decided to spend Eid with my friends, eat opor ayam, sambel goreng kentang, rendang and other eid food signature. Surely, it felt different, especially when you can only met your family virtually. I am already on acceptance mode. But, it still little bit hurt when read text contain something like "salam untuk keluarga di rumah".
Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal yaa kariim.
Mohon maaf lahir dan batin.
Hope we meet Ramadan again with better conditions.
Wfh is almost lifted, maybe this week will be the last week. People talked about new normal idea, when number of positive cases has not been decreased. Most are worried, including me. We need to think again if using public transportation during wfo, physical distancing seems hard to do. Herd immunity seems to be an illusion. Stay alert, obey healthy protocol, wash hand often, reduce touching face and use mask. Maximize ikhtiar and dua'. May Allah immediately revoke this pandemic.
“I’m so tired of love songs, tired of love songs. Just wanna go home, wanna go home." - Lauv & Troye Sivan on I'm so tired
Stay healthy, stay sane everyone. Thanks for reading. 

Jumat, 08 Mei 2020

Sharia investment that I ever tried

I start to write this because someone drop "sharia investment" topic in my question box five days ago. Haha. Truthfully, I still learning about investment, especially sharia investment. Disclaimer, I didn't have any Economics background, so the story onward will be my personal experience. Don't get your expectation high :p

First thing first, before you start to invest somewhere, make sure you have prepared emergency fund and insurance according to your needs. Then, specify your financial goals and know your risk profile: your risk appetite and risk tolerance. Simply, seberapa ingin menerima resiko (personality, experience, knowledge) dan seberapa besar kapasitas menanggung resiko tersebut (assets, liquidity, number of dependents).

You can choose any investment instruments based on your short or long financial goals and your risk profile. From my basic knowledge of sharia investment, the purpose of its investment to earn halal profits in strict conformity with the precepts of Islamic sharia. The investments must free from riba', uncertainty (gharar) and gambling (maisir).

Don't worry to much as a beginner, there are already custodians to help you review some sharia investment instruments, such as Dewan Syariah Nasional MUI, OJK, Dewan Pengawas Syariah, and Bapepam. Yet, you still need to learn sharia investment terms (e.g. mudharabah-profit sharing, musyarakah-partnership, murabahah-cost plus). In addition, maybe you need to know how to read financial statements.

Learning need a process, step by step. Do not rush, take your time. Better knowing first, before start an investment. Before I started, I learn from many sources, almost six months before my very first investment. Haha. Mostly, from so well-known financial advisor account @jouska_id. I also try to read books, read news about Economics or Business. Recently, I like to listen some podcasts and following @bigalphaid. You can explore and getting insight from everywhere, if you want.

For short financial goals, I try a very low risk investment: governments bonds, called Sukuk Tabungan and Sukuk Ritel. You can go to Kemenkeu website to explore what it is, what akad being used, etc. or explore accounts that I mentioned before. They have already discussed the topic. Be curious, please. I started from small amount, but I feel happy every month got (small) coupon share this past year, even that only cover my phone bills. Haha. Growing mindset of investment that matter the most, beside to help government :p

Next, one level above, you can try some called sharia mutual fund (reksadana). You entrust your investment to investment managers. I never tried it before, there is nothing I can tell you. I will skip it into sharia stock. There are many emitens, you can explore the list on Daftar Efek Syariah OJK, will be updated every semester. I am a type of saving in stock. In this pandemic period, I paused. I am on "wait and see" mode. Poor my bleeding portfolio. I will see you later, when the season changed maybe, when everything seems better. Wkwk. If you are trading person, you can utilize Sharia Online Trading System (SOTS). Stock investment offers high return, but remember it's full of high risk. Don't try it, if you can not bear that risk, especially with the possibility of a recession.

Last, I've tried some agriculture investments on tanijoy.id. Purely because my personal reason, I like agriculture sector, partly come from my childhood. The story to help farmers impressed me. There are some projects that you can choose to invest, go check their website if you are interested. Investment period varies depend on commodities you want to invest. Return of investment will be divided, mostly for farmers. You can check the expected ROI in every investment details.

Okay, that's all from me. Let me remind you, this posting not part of any endorsement haha just sharing my little experieces. Hopefully, it will be usefull for you that wanna to start sharia investments. If you have any questions, comments or any experiences related, just drop it in comment  below or feel free to contact me. Thanks for reading.

Senin, 27 April 2020

My Career Class Story

Last month, in very last minute, I decided to enroll a full package of #CareerClass by @kurniawan_gunadi and @alia.aryo. I have a first class of Topic 3 that night. Actually, I wanna join this class since January 2020. I have already contacted the admin and asked for the cost one of topic that I want. Yet, I have not fulfilled the registration form till last day. I became busy with something maybe.

My weekend in last month became very productive. Hampir tiada akhir pekan tanpa career class. Agile and dynamic. I still try to keep up my pace. Haha. Sudah lama tidak memaksimalkan potensi diri. Kemudian diajak lari, bertumbuh bersama. Lima dari empat belas topik telah dikecap. Setiap kelas menyisakan kesan tersendiri. Kadang-kadang diselipi kejutan, kesempatan dan tentu saja ada tugas. Teori hanya mengendap menjadi teori tanpa praktek. Let's start, action now.

If you ask my ultimate reason why joining this class, to be honest, investasi terhadap diri sendiri. This pandemic made me change my investment slot. Investasi leher ke atas, they named it. When I first heard this, the first thing that crossed my mind, ah, skincare? Wkwk. Just kidding. Sepakat bahwa investasi pada diri sendiri itu penting, upgrade knowledge, upgrade skill, and upgrade networking. It's not cheap, it needs a process to change mindset.

I need to make my self busier, somehow. I need 'safe' escape route from my never ending routine work wkwk. To keep me sane, to get this pandemic through. Even introvert will find it hard to just stay at home, for months, right? I need new circle, to widen my point of view. Setelah sebulan ini berasa banget positive vibes-nya. Belajar hal-hal baru, mencoba kesempatan baru. Cerita per topiknya mungkin nanti bakal aku share di postingan berikutnya. Terima kasih telah membaca sejauh ini.

Minggu, 16 Februari 2020

Arah Musim

Judul: Arah Musim
Penulis: Kurniawan Gunadi
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Oktober 2019
Tebal: 200 halaman

Tindakan-tindakan kecil kita di masa lalu telah mengubah banyak hal di kehidupan kita saat ini. Mungkin kita tidak pernah menyadarinya. Mungkin kita telah melupakannya. Meski kemudian kita kebingungan karena tidak mampu memahami rentetan kejadian sebab dan akibat itu.

Kita sering gagal memahami bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita adalah hal-hal terbaik yang bisa kita dapatkan. Kita seringkali salah memahami maksud-maksud tersembunyi yang Dia hadirkan dalam semua rentetan kejadian hidup yang amat berharga. Dia ingin mengajarkan kita sesuatu. Sesuatu yang seringkali kita tolak kehadirannya. Sesuatu yang barangkali menjadi doa-doa kita selama ini.

Tapi, kita tidak cukup sabar melewati musim-musim yang silih berganti.

***

Buku yang sebenarnya sudah dituntaskan dalam liburan akhir tahun lalu, tapi baru dibuka kembali. 2020 baru berjalan sebulan, tapi berasa sudah terengah-engah. Haha. Berawal dari mencari sebuah penggalan kalimat, berakhir dengan membaca ulang beberapa cerita dalam buku ini. Sudah lama mengetahui judul buku kelima masgun ini, sekitar tiga tahun lalu. Namun, buku ini baru diterbitkan melalui penerbit mayor, tidak seperti Hujan Matahari, Lautan Langit, Menentukan Arah, dan Bertumbuh, yang diterbitkan secara indie.
"Kamu harus kuat, sebab perjalanan ke depan butuh kekuatanmu untuk bisa menahan diri, mengendalikan diri. Bukan karena kamu harus bertarung secara fisik dengan orang lain, melainkan karena kamu harus melawan egomu, ambisimu, dan dirimu sendiri." - hlm. 20
Some parts are relatable, as always. I've tapped his stories on ig and feel like I've been slapped virtually. Haha. Begitu pun dalam membaca buku ini. Pada bagian tertentu akan membuatmu merenung sejenak, membawamu mendapatkan pemahaman baik.
"Ketidakbahagiaan kita saat ini mungkin disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk bersyukur atas hal-hal yang bisa dengan mudah kita dapatkan." - hlm. 76
It's okay to be different. It's okay to have different point of views. But seriously, this book getting deeper, terlebih bagian kisah anak perempuan yang dituliskan oleh seorang ayah. Pesannya sungguh dalam. One of my favourite quote below.
"Kau adalah gadis yang cemerlang. Jangan biarkan tekanan sosial, kata orang, dan pandangan umum masyarakat mengalahkan keteguhan hatimu, mengerdilkan peranmu. Juga, jangan takut untuk menjadi seseorang yang lebih, yang kata orang-orang nanti tidak ada laki-laki yang mau denganmu. Jangan dengarkan itu, dengarkan bahwa itu tidak ada hubungannya sama sekali. Kau adalah gadis yang cerdas. Kamu mampu membuat rumusan hidupmu sendiri, mampu menyesuaikan dirimu dengan keadaan, mampu mengubah keadaan di sekitarmu." - hlm. 54
Buku ini berisi kumpulan cerita seperti buku-buku masgun sebelumnya, yang kentara membedakan, ada cerita bersambung dalam setiap chapter arah musim yang cukup menarik kisahnya. Mungkin bisa dibilang mini serial novel dengan plot twist tak terduga. Suatu saat musim akan berganti, jangan sampai terlambat menyadari dan menyesal di kemudian hari.
"Hal-hal berharga dalam hidup kita memang tidak pernah diukur dengan cara matematis. Hidup kita jauh lebih berharga dari hitungan-hitungan untung dan rugi. Ada yang jauh lebih bernilai dan berharga, yaitu keberkahan." - hlm. 123

"Apa yang kamu lihat dengan apa yang orang lain lihat mungkin berbeda. Apalagi jika kamu hanya melihat dan belum pernah mengalami." - hlm. 132
Sebagai penutup, berikut kutipan pamungkas yang dicari di awal. Haha. Beberapa tulisan kadang menyisakan pertanyaan menggantung, yang entahlah, aku pun kadang belum punya jawaban sedemikian rupa. Salah satu contohnya, 'kalau ada yang memperjuangkan, beranikah untuk ikut berjuang?' Seorang teman mengingatkan untuk memupuk jiwa realistis. Yeah, hopefully.
"Coba ingat-ingat lagi sebenarnya apa yang kita perjuangkan, apakah kamu hanya memperjuangkan seseorang untuk menjadi pendampingmu atau memperjuangkan ibadahmu. Jika memang untuk ibadahmu, sebenarnya, dengan siapa pun kamu bisa melakukannya, tidak harus denganku. Semoga kita bisa ikhlas menerimanya." - hlm. 143-144

Selasa, 07 Januari 2020

vicinity

endapan 2018: Overcome self-doubt is hard. Stay strong.
2019 terlalu banyak bercanda, akhirnya dibecandain sama hidup. Eh? Haha. One year already passed again and feel like I did nothing. Just being wasted. Kebanyakan rebahan. Terlalu santai dan belakangan baru menyadari betapa telah menyia-nyiakan waktu. Penyesalan baru datang di akhir, as always.

Yet, setidaknya ada beberapa pencapaian diri di tahun lalu. Salah satu hal yang patut diapreasi: berhasil memulai makan makanan sehat, walau masih sering cheating dan sulit menahan diri dari godaan kopi. Wkwk. Berawal akibat tidak begitu banyak yang bisa dimakan untuk mensiasati kondisi bawaan imun. Disangka picky-eater atau diet sudah biasa. Ketika yang paham berkomentar, kamu beruntung sedari muda sudah menyadari pentingnya makanan sehat, washed up other comments :v

Hal lain yang mengejutkan, berhasil memaksa diri belajar sendiri satu hal baru di sela-sela working life hingga mendapatkan sertifikasi. Mengatur jadwal agar tetap konsisten menjadi tantangan tersendiri. Semoga senantiasa bertumbuh ke arah lebih baik ya. Sesekali mungkin perlu menengok teman yang telah jauh bertumbuh, sebagai pemicu jantung di jalan sendiri.

highlight from last year trip, thanks for my dearest private driver :p

I used to travel far away a lot. Namun, tahun lalu cenderung hanya sedikit melakukan perjalanan dan dalam jarak dekat saja. Tentu tetap main ke pantai dan gunung, gunung paling epic pun didaki dalam Perjalanan Samtama. Awal mula #aksihidupbaik. Climate change is real thing and it gets worse all the time. Let's save our planet, from small things you can do.

Another my concern, still about basic financial planning. Haha. Tried some investments. Neraca unbalanced, tidak sampai berutang. Tapi entah kenapa berasa broke tahun lalu, sampai pada level selling before buying. Wkwk. Mungkin menambah daftar hobi absurd baru: membeli barang online berebutan, dipakai belum tentu. Selain hobi membeli aneka buku, dibaca tak kunjung purna. Sungguh menyedihkan jika mengingat kembali sedikitnya bacaan yang dituntaskan tahun lalu.

It's okay to be vulnerable sometimes. Yeah, maybe you've read my post about companion. Mental health agak terusik. Perlu kembali mengarah pada visi hakiki: beribadah kepada-Nya :')
"karena hidup bisa saja tiba-tiba mengatakan 'selesai', tak peduli mimpimu sudah atau belum tergapai." - sholahayub

Minggu, 15 Desember 2019

companion

dulu sangat bisa pergi ke mana-mana sendiri, ke tempat yang absurd sekalipun. sekarang juga bisa sih, tapi entah kenapa merasa lebih baik jika ada temannya. ada yang menyadari, tak menduga katanya. I rarely bail out from my own agendas, indeed. I still never go to cinema alone.

dulu I used to be a kind of EO, mengambil inisiatif mengurus sesuatu sebagai tim anti wacana club. sekarang menjadi lebih santai, lebih suka mengekor saja. maybe I just tired of trying so hard. sekarang agenda dadakan pun lebih sering terlaksana, yang terencana cenderung bermuara wacana. just try it, seberapa ku berjuang melawan kemageran. haha.

except for my bestfriends sih, I even willingly to commute from Depok two days in a row, dengan alasan sangat absurd: menemaninya menginap di suite room. when I was in a vulnerable state, sampai ambil CS, tapi malamnya pergi menemani nonton. dasar aku. wkwk. I will make a time somehow, meskipun kurang dari satu jam sebelum ganti hari, after my packed agendas. I will go to you. just know that I stay tuned in if you have something to tell. I will lend you my ears, although I didn't give any solutions. hehe.

so, you're that kind of person. its okay to change. you still being you. just in case you missing your old self, you always can go back :')

Sabtu, 30 November 2019

Heal Yourself: Untukmu yang Pernah Terluka

Judul: Heal Yourself: Untukmu yang Pernah Terluka
Penulis: Novie Octaviane Mufti
Penerbit: CV.IDS
Terbit: Oktober 2019
Tebal: 270 halaman

Seseorang sedang duduk di balik jendela. Seluruh ruang ditutupnya rapat-rapat sebab ia tidak ingin satu sosok pun mengetahui keberadaannya. Tangisnya menggema dalam diam, menggaung tanpa kata-kata. Pikirnya berkelana pada berbagai kilasan masa ketika ia dilupakan, ditinggalkan, dilukai, juga dikhianati hingga ia merasa kehilangan dirinya sendiri.

Kamu tahu, nampaknya ia sedang benar-benar membutuhkan sosok teman yang berbesar hati mendengarkan, menyapa perasaan, menemani berjuang, dan membantunya mengurai benang-benang kusut dari dalam kepalanya yang berjuntaian. “Siapakah dia?” Mungkin itu tanyamu dalam hati. Sekarang, pandangi wajahmu di cermin.

Di sana akan kamu dapati sesosok manusia yang hatinya istimewa sebab dirinya begitu berharga. Sosok yang kamu lihat itu adalah orang yang sejak tadi kita bicarakan.
Maukah kamu menemaninya berjuang?
***

Buku yang masih hangat, belum sampai sebulan mendarat. Memilih menuntaskan buku ini di antara tumpukan buku yang lain. Entah karena belakangan semacam kehilangan diri sendiri, entah sebab apa.
"Kukira aku hanya bisa terluka oleh orang lain atau segala sesuatu yang ada di luar diri. Namun, ternyata aku pun bisa terluka karena diriku sendiri. Lalu harus bagaimana?" - hlm. 1
Pertama kali membaca tulisan teh Novie dalam Bertumbuh. Kemudian sekitar Juni lalu menemukan satu tulisannya dalam tumblr yang berjudul Heal Yourself #29: Quarter Life Crisis, Harus Gelisah, Kah? dan tersadarkan, kita seringkali mengkhawatirkan apa-apa yang sudah ditetapkan Allah #jleb.

Buku ini dirintis penulis dengan tagline #30DaysRamadhanWriting di akun ig @healyourself.id. Sungguh menarik, silakan dikulik, terlebih bagi yang tertarik akan isu kesehatan mental. Buku ini juga mengaitkan berbagai tulisannya dengan literatur psikologi, Al Quran dan hadist. Ya, tulisannya bergenre Islamic self help, hingga sampai pada pemahaman bahwa segala sesuatu mesti dikembalikan kepada Allah SWT.
"By remembering and retelling events, people can deal and making sense of the past." - Charmaz, 1991
Bonus writing for healing journal-nya sepertinya perlu dicoba. Belajar untuk meregulasi emosi. Selain itu, buku ini juga memberikan tips sebagai teman bercerita. Jadi belajar seni mendengarkan. Carilah teman bercerita, jika merasa tak mampu menanggung masalah sendiri, pun tidak mengapa jikalau membutuhkan bantuan psikolog.

Ohiya, buku ini self publishing, jadi yang berminat mengadopsi bisa lewat langitlangit.yk saat periode pemesanan dibuka. Menemukan dua paragraf berulang pada tulisan yang berjudul "Ilfeel sama Allah?", mungkin bisa diperbaiki pada cetakan berikutnya. Rasanya juga ketemu sedikit typo, tapi tidak sampai mengganggu esensi isi. Terima kasih telah menuliskan buku ini teh :')
"The best moments usually occur when a person's body or mind is stretched to its limits in a voluntary effort to accomplish something difficult and worthwhile." - Mihaly Csikszentmihalyi

Kamis, 31 Oktober 2019

Perjalanan Samtama

It's been a long time. Semburat jingga masih malu-malu dibalik jendela, suatu sabtu pagi di depan Jalan Sudirman terlihat salah satu petugas oranye tengah beraksi. Ada yang lebih pagi sudah mulai bekerja, ada yang mengambil peran agar jalanan terlihat lebih bersih. Kemudian tergerak dengan ikhlas membuka laptop pagi itu. Tidak ada salahnya (sesekali) menambah jam kerja sukarela di weekend, sebelum memulai serangkaian agenda yang lain.


Minggu berikutnya mendapati postingan di atas, tagline-nya menarik, sampah tanggung jawab bersama, indeed. Pada kalimat penutupnya ditawarkan perjalanan menuju TPST Bantargebang, untuk merasakan kondisi nyatanya, sekaligus belajar bagaimana cara memilah sampah yang benar, mengolahnya, membuat kompos sendiri, mendaur ulang, dan disadarkan apa jadinya kalau sampah tidak diolah dengan benar.

Kemudian saya memutuskan mendaftar, meskipun tak berhasil mengajak satu teman pun, hingga menjelang batas akhir pendaftaran. Salah satu pertanyaan yang menggelitik adalah motivasi bergabung dalam perjalanan Samtama. Selain yang tertulis, there are another reasons that I keep. Haha. Salah satunya yaitu penasaran dengan setting Aroma Karsa, ingin mencoba sekelebat merasakan menjadi Jati. Masih tidak habis pikir, warung di sana pun benar-benar ada.

perhatikan bagian tengah di zona 3 ini

Rabu, 18 September 2019

The Book Imaginary Beliefs

Judul: The Book of Imaginary Beliefs
Penulis: Lala Bohang
Penerbit: Gramedia
Terbit: Februari 2019
Tebal: 152 halaman

Earth is blue, fragile, light, and not a star. And we’re part of it, not just living on it. Earth is a battle ground where all species constantly face an invisible war. And we’re the main actor of growth, destruction, and peace.

Someone’s precious is someone else’s garbage.
Someone’s interest is someone else’s boredom.
Someone’s principle is someone else’s violation.
Someone’s contentment is someone else’s pressure.
Someone’s recipe for immunity is someone else’s cause of death.
Either you’re the “someone” or the “someone else”, it doesn’t matter because confusion will always bounce back to you, no matter how far you’ve been running away from it.

It’s about facing an empty page each day, it’s about waking up in the morning deciding to be alive, it’s about choosing which mistakes to avoid, it’s about considering what and who to ignore, it’s about crafting a self that’s truly your own, it’s about faking a smile to cure the pain of others, it’s about continuously moving forward because going back is never a choice, it’s about looking at the blue sky and having small talks with it, it’s about everything that feels small and unworthy, it’s about becoming buoyant, never being trapped between other people’s cacophonic agendas, it’s about counting your breath.
***

Buku ini merupakan sekuel The Book of Forbidden Feeling dan The Book of Invisible Questions. Tertarik men-check out-nya sebulan lalu karena diskon, judul, berwarna hijau dan sepotong kalimat pada blurb. 
Either you’re the “someone” or the “someone else”
Ha. Tidak bisa dipungkiri bahwa saya mungkin kadang kala menjadi the "someone else". Bagi yang level bodo amat-nya di atas rata-rata, tidak perlu berbusa-busa mendebat penilaian orang lain terhadap kita, hal yang di luar kendali kita. Just stay focus in your values and priorities.
"You feel anxious when you have nothing to do. You feel anxious when you haven't checked one of your long to-do lists."
Akan terasa buku ini terbilang dewasa dibanding kedua saudaranya. Pada suatu halaman diingatkan untuk stop being so hard on yourself. Bagian yang paling relatable. Sisanya, entahlah, I can't really figured it out, esp the long stories. Maybe I'll reread this book, agar lebih meresapinya :p

Buku ini masih dilengkapi dengan ilustrasi yang weirdly beautiful, dengan ciri khasnya, the cute stripe girl. Haha. Overall, dari ketiga buku, saya tetap merasa lebih berkesan membaca buku yang pertama, lebih dark somehow. Kembali ke selera masing-masing. Selamat membaca.

Sabtu, 24 Agustus 2019

Jakarta Aquarium

Akhir tahun lalu hanya mengunjungi virtual aquarium, kemudian awal bulan Agustus (04/08) terealisasi mengunjungi real aquarium bersama tamu dadakan, so happy little kid. Haha. Memang rezekinya tetap dapat tiket promo, hampir separuh harga weekend. Normalnya harga tiket masuk  aquarium yang beroperasi sejak 2017 ini kala weekday 150ribu dan weekend 200ribu. Berlokasi di NEO Soho, jikalau naik transjakarta bisa turun di S. Parman Podomoro. Lalu, menyeberang dari Central Park melalui Jembatan Eco Skywalk yang katanya lebih bagus dilihat kelap-kelipnya saat malam hari. Aquarium terletak di LG.

finding nemo (re: clownfish) and dory (re: surgeonfish)

Bagi yang pernah snorkelling, tentu tidak asing melihat aneka ikan perairan dangkal. Aquarium ini  menawarkan pengalaman hal serupa versi mini-nya. Anemone lautnya pun hidup. Ada beragam ikan, termasuk nemo dan dory. Selain itu, ada aneka satwa darat, seperti kura-kura, iguana, kukang, biawak, dan landak. Kemudian beranjak mulai melihat aneka ikan perairan dalam, seperti berbagai jenis hiu hingga pari manta.

Senin, 29 Juli 2019

(not) official trip

Strolling with large group was not so bad. Tak masalah membaurkan berbagai angkatan. Terima kasih tour guide dadakan. Terima kasih PIC andalan. Budget traveling terlaksana juga awal (lima) bulan lalu dengan perombakan jadwal di sana-sini. Next, science art museum mesti diagendakan ulang ya. Haha.

Seminggu sebelum berangkat, beberapa teman baru mengurus benda hijau. Sekarang sepertinya jauh lebih mudah prosesnya, bisa mendaftar online via aplikasi dan bisa memantau progress dari aplikasi yang sama. Pun sudah dapat mengantongi benda hijau tersebut kurang dari lima hari kerja. Selagi luang, tidak ada salahnya menyempatkan diri mengurusnya (bagi yang belum punya) sebagai aset yang perlu dimiliki.
sengaja blur :p

Tidak ada kantong yang jebol sepanjang Orchard Road, paling-paling hanya kaki yang pegal berkelana. Sangat disarankan memakai alas kaki yang nyaman kemana pun, karena kebanyakan menggunakan public tranport dan berjalan cukup jauh sampai tujuan. Transportasi umum yang digunakan kadang bus, kadang mrt yang jalurnya mudah dipahami, typical developed country. You can pay using Tourist Pass (STP) or Ez-link card. I prefer the latter.

Rabu, 17 Juli 2019

Seni Tinggal di Bumi

Judul: Seni Tinggal di Bumi
Penulis: Farah Qoonita
Penerbit: Kanan Publishing
Terbit: 2018
Tebal: 178 halaman

Karena kita hidup di sepetak kerajaan-Nya, ketahui seni tinggal di sana.

Mulai dari, Seni Melangkah di Bumi, tentang bagaimana kita menorehkan setiap guratan warna-warni kuas dalam kanvas kehidupan. Tentang Hati yang Ingin Dicintai, perihal bagaimana seharusnya kita memerlakukan hati sang pengemudi diri. Tentang Perempuan, ketahui bagaimana spesialnya perempuan di mata-Nya. Manusia Langit, kenali dan pelajari lebih jauh manusia-manusia yang telah sukses mendapat medali kemenangan nan agung. Dunia Di Sekitarmu, ketahui bagaimana romantisme perjuangan pembebasan Palestina, dan perihal dunia Islam pada umumnya. Terakhir, Menapaki Keabadian, tentang bagaimana kita seharusnya bersikap pada kehidupan setelah kematian.

Selamat menorehkan karya seni paling indah di dunia untuk negeri akhiratmu.

***

Sudah sejak tahun lalu (kadang-kadang) mengintip akun teh qoon, laman dakwah yang breathtaking. Sempat tertarik beli bukunya, tapi baru tergerak dua bulan lalu mengadopsinya dan menargetkan menamatkannya dalam bulan Ramadhan.
"Do what you love? Do what Allah loves!" - hlm. 27
Diksi buku ini terbilang ringan, penulis memparafrasakan aneka cerita Sirah Nabawiyah dikaitkan keseharian dengan sederhana. Penuh hikmah. Agaknya menjembatani bagi yang belum membaca redaksi cerita sahabat nabi secara utuh.

Buku ini bisa dicerna per bab secara acak, kecuali beberapa tulisan yang berupa cerpen. Jika membacanya urut, semakin memasuki tema besar terakhir, semakin keras tamparannya. Semakin dibuat merenung, salah satunya oleh tulisan berjudul "meminta recehan dilemparkan dari langit".
"Jangan-jangan selama ini kita mengerjakan akhirat hanya untuk dunia. Jangan-jangan kita lebih merindu untuk bergelimang harta, dibanding mendapatkan rida, ampunan, dan kasih sayang-Nya." - hlm. 162
Sedikit terganggu dengan beberapa typo, terlebih body tulisan yang kurang konsisten antara Serif atau Sans-Serif. I prefer Serif tho buat buku cetak begini. Despite of anything, formating tidak mengurangi pesan yang ingin disampaikan teh qoon. Grab the new-catchy-cover book dan selamat terinspirasi.

Sabtu, 15 Juni 2019

BukaTalks: Questions of Life

Sebulan lalu (11/05) menghadiri acara BukaTalks sekaligus buka bersama teman sefase bertumbuh. Berawal dari ajakan yang tumben tidak dadakan, saya pun berpartisipasi karena ada penulis "Filosofi Teras" menjadi salah satu pembicaranya. Buku yang masuk wishlist, menunggu bacaan habis dulu baru pinjam. Wkwk. Okeskip.


Najelaa Shihab. Korban pendidikan yang memilih berdaya, mengambil peran untuk pendidikan Indonesia. Proses belajar mengajar cenderung masih sama dari zaman ke zaman, yang hanya mengikuti kurikulum, tanpa tau dan memikirkan relevansi terhadap tujuan hidup. Padahal sebenarnya sejak lahir anak sudah merdeka belajar dengan banyak bertanya. Namun, fitrah anak untuk selalu bertanya dan berekspresi itu dimatikan karena pola pendidikan.

Ciri-ciri orang yang merdeka belajar:
1. Punya komitmen dengan tujuan; murid jarang memiliki pemahaman yang utuh, tujuannya sebagian besar hanya nilai atau peringkat
2. Mandiri; yakin punya kendali pada apapun yang terjadi pada dirinya.
3. Berani berefleksi; murid jarang mencari feedback, padahal perlu berkolaborasi dengan orang lain.

#semuamuridsemuaguru, semua diri kita menjadi murid sekaligus guru. Mari mengambil peran untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik kedepannya.


dr. Jiemi Ardian. Psikiater yang cukup sering tweet-nya mampir timeline meskipun tidak saya follow. Bahasan self awarness menarik minat jiwa-jiwa yang terpapar vulnerability belakangan ini, termasuk saya mungkin (#eh) yang masih belajar meregulasi emosi.

Topik yang disampaikan dr. Jiemi kemarin terkesan ilmiah, namun mudah dicerna. Dibuka dengan kisah salah satu pasiennya yang kemudian dikaitkan dengan konsep definisi: sehat; mental dissorder. Berdasarkan sebuah penelitian, bahagia hanya dipengaruhi 10 persen oleh faktor-faktor/kejadian luar seperti stress, kehidupan, masalah; 50 persennya genetik/nasib yang tidak dapat diubah; sisanya 40 persen dipengaruhi respon internal kita.