CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 31 Oktober 2014

Cinderella Rambut Pink

Judul            : Cinderella Rambut Pink
Penulis         : Dyan Nuranindya
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2010
Tebal            : 200 halaman

Sinopsis       :
Karena dianggap merusak nama baik keluarga besar Montaimana, bertahun-tahun Oscar tinggal di Amerika. Tapi ternyata Oscar nggak berubah. Dia tetap jadi anak nakal yang malas dan hobi berantem. Cuma satu yang dia cintai: membidik objek dari balik kameranya.

Mengetahui di Jogja banyak tempat indah, Oscar langsung terbang ke sana untuk sekalian bertemu Bima, kakaknya. Tapi apesnya, di Jogja kepala Oscar malah jadi sasaran sepatu dekil seorang cewek eksentrik bernama Dara.

Kepribadian Dara yang unik dan mandiri menarik perhatian Oscar. Padahal penampilan Dara agak-agak ajaib untuk seorang cewek. Celana belel, kaus hitam, rambut highlight pink, dan permen karet yang tak pernah ketinggalan di mulut. Sangat ngasal dan berantakan!

Di sisi lain, Dara merasa hari-harinya jadi penuh kesialan. Selain karena sepatunya yang diberi nama Mr. Dekil hilang, Dara juga mendapati pacarnya, Ray, selingkuh. Belum lagi ada cowok bernama Oscar yang sepertinya sok mau tau dengan kehidupannya. Apa maunya sih cowok itu?

Resensi       :
Kemaren beli buku ini karena lagi ada bazar buku murah. Berasa familier gitu sama penulisnya dan  ternyata gara-gara penulis novel ini juga nulis Dealova, salah satu buku yang pertama kali ku baca waktu SMP.

Cerita dalam novel ini secara garis besar udah terangkum dalam sinopsisnya. Begitulah. Ceritanya khas teenlit, sederhana, ringan. Sayangnya, alurnya ketebak. Entahlah. Rasa-rasanya aku pernah membaca cerita yang serupa, mungkin memang buku yang sama, tapi aku lupa udah pernah membaca buku ini atau belum. Rasa-rasanya sih belum, tapi entahlah. Memang udah cukup tua umur bukunya. (lagi-lagi) Mungkin aku sebaiknya membacanya ketika SMA dulu, biar lebih dapet feelnya. Hahaha.

Paling suka momen pas Dara buka album foto dari Oscar. Somehow sweet, ketika ternyata ada seseorang yang diam-diam memperhatikan kehidupanmu lebih dari dirimu sendiri. Jangan lewatkan, kesempatan yang sama ga selalu datang untuk kedua kalinya.

When you love someone just be brave to say
That you want him to be with you
When you hold your love don't ever let him go
Or you will loose your chance to make your dream come true

Sepenggal lirik dari Endah n Rhesa ini mungkin sudah cukup untuk mengakhiri resensi kali ini. Semoga ga jera baca resensi dari blog ini ya xD

Kamis, 30 Oktober 2014

Ja(t)uh

Judul         : Ja(t)uh
Penulis      : Azhar Nurun Ala
Penerbit    : Azharologia
Tebal         : 164 halaman
Terbit        : April 2013

Metafora telah menjadi hobi, obat curhat paling mujarab. Lebih manjur dari rintik hujan, lebih ampuh dari sinar bulan. Apapun yang dirintis, pastikan ia tetap manis. Sudahlah, biarkan mereka berbusa mulutnya, berduri matanya, mereka tidak pernah mengerti arti romantis. Arti kerapuhan yang indah, atau ketakberdayaan yang memesona. Yang meruntuhkan langit. Yang menenggelamkan matahari di laut mati.

Ja(t)uh merupakan kumpulan cerpen, puisi, serta prosa-prosa ringan yang sebagian besar pernah dipublikasikan di blog azharologia dan ditulis selama tahun 2011-2013. Ja(t)uh berisi proses pencarian jati diri, pemaknaan terhadap cinta, serta renungan-renungan sederhana tentang kehidupan. Tanpa bermaksud menebarkan kegalauan di muka bumi apalagi menggurui, Ja(t)uh hadir terutama untuk mengajak kita memaknai kembali cinta: betapa suci dan indahnya ia.

***

Sebelumnya aku tidak begitu menyukai hal-hal berbau sastra, yang penuh dengan diksi-diksi rumit. Mungkin karena dulu aku salah memilih buku sastra yang pertama kali harusnya kubaca. Namun, belakangan ini jadi agak tergila-gila dengan sastra, jatuh dengan selera diksinya yang unik. Walaupun kadang perlu mengernyit, ternyata banyak hal yang bisa disembunyikan aksara. Berjuta perasaan.

Buku ini, terbagi dua bagian, Jatuh dan Jauh. Di bagian Jatuh, kamu akan disuguhkan berbagai tulisan, yang dengan membacanya saja kamu mungkin akan terseret jatuh, merah jambu, malu-malu atau bahkan rindu. Kadang kamu juga mungkin akan tersentil dan secara tidak langsung dapat belajar berbagai pemahaman baik. Berikut beberapa kutipan dari bagian Jatuh. Kalau kamu merasa ini spoiler, jangan dibaca :D

Selasa, 28 Oktober 2014

Dikatakan atau Tidak Dikatakan, itu Tetap Cinta.

Baru kali ini baca buku kumpulan sajak sampai tuntas, mungkin karena buku ini tipis juga kali ya. 72 halaman, 24 sajak. Anyway, suka ilustrasi doodle artnya, bener-bener memanjakan mata :3

"Dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta."

Berisi berbagai sajak.
Sajak tentang memiliki, pun tentang melepaskan.
Sajak tentang pertemuan, juga tentang perpisahan.
Sajak tentang kebahagiaan, juga tentang kesedihan.
Juga sajak bergurau, bercanda dengan perasaan.

Ketika membacanya mungkin kamu akan berhenti sejenak, berpikir, kemudian tertawa atau bahkan termakjlebi :p Berikut beberapa kutipan dari sajak dalam buku tersebut.

Saat Hujan
...
Perasaan adalah perasaan
Tidak kita bagikan, dia tetap perasaan
Tidak kita sampaikan, ceritakan, dia tetap perasaan
...
Perasaan adalah perasaan
Hidup bersamanya bukan kemalangan
Hei, bukankah dia memberikan kesadaran betapa indahnya dunia ini?

Memilikimu
...
Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika sungguh cinta, kita akan membiarkannya
Seperti apa adanya
Hanya menyimpan perasaan itu dalam hati.
Selalu begitu, hingga akhir nanti.
Sajak Jangan Habiskan
...
Sungguh, jangan habiskan waktu kita
Untuk seseorang yang tidak pernah tahu
Bahwa kita menghabiskan waktu demi dia.
Sajak "Kalaupun Tidak"
...
Bersabar dan diam lebih baik.
Jika memang jodoh akan terbuka sendiri jalan terbaiknya.
Jika tidak, akan diganti dengan orang yang lebih baik.
Sajak Menjagamu
Akan kurawat kau dalam diam
Agar tumbuh besar penuh pemahaman
Akan kurawat kau dalam hening
Agar tumbuh tinggi penuh kesabaran
Akan kurawat kau dalam senyap
Agar tumbuh kokoh penuh keikhlasan.
...
Bukankah, atau Bukankah
...
Bukankah,
Banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang
Yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji
“Kau menungguku? Sejak kapan?”

Senin, 27 Oktober 2014

Congraduation, kamu.


Congraduation kakak-kakak 52~
Tahun ini karena banyak yang dikenal jadinya banyak buat bunga wisuda. Kali ini aku milih warna peach biar ga sama kayak yang lain. Well, ceritanya tahun ini kami, para Beningers, inisiatif ngasih bunga dengan warna yang beda-beda. Kosan Bening udah kayak home industry aja hari itu (18/10/2014). Saking sibuknya *tsah banyak yang belum selesai, terutama  geng atas, jadilah ngebut ngerjain paginya bareng-bareng, untung keburu dateng ke wisuda siangnya :3
 Spoiler bunga wisuda karya Beningers


Mungkin kalo nanti ada yang mau pesen, bisa kontak salah satu dari kami, dengan syarat dan ketentuan berlaku :p

Tahun ini aku ga ada ngasih buket, spesial buat kakakku nanti aja deh :3 Semoga cepet kelar tesisnya ya kakak. Semoga dimudahkan. Ditunggu wisudanya.

Sekarang kalo liat orang wisuda bawaannya mupeng. Aaaa, kompre-tkd-skripsi-nya bisa diskip langsung wisuda aja ga? Pengennya, tapi yaudahlah, jalanin aja. Toh nanti juga satu per satu lewat dengan sendirinya :')

Sekarang pertanyaan 'udah dapet topik?' lagi in banget. Dan kalo ditanya jawabnya belum dan pas nanya balik dia jawab udah itu rasanya jleb! Hey you, kapan mulai serius? Tahun terakhirmu loh ini. Harusnya makin rajin. Bangun ya, get out of the box. Ga ada yang berubah, kalo kamu sendiri ga memutuskan untuk berubah. Semangat, semangat. #WISUDA2015. Aamiin. Semoga sukses buat kita semua gaes.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Let's Have Fun

Semenjak balik ke jekardah (12/10/2014), penghuni Beningers nambah 1 orang. Aku inget malam itu baru banget nyentuh kamar langsung capcus menjemput teman kami di Bidcin, sebut saja Nalla. Ternyata dia udah seminggu di sini, tapi nginep di tempat temen mamanya atau siapa gitu (lupa hehe). Dan ga terasa tiga belas hari pun berlalu dan dia mulai berpindah ke tempat teman kami yang lain, Yoland.

Berhubung kami udah mulai kuliah jadinya gabisa sering-sering main, kecuali udah weekend. Maaf banget ya nal, jarang nemenin (apalagi aku), susah banget menyesuaikan jadwal. Akhirnya dia jadi sering jalan sendiri waktu kami kuliah. Hebat banget lah dia baru di Jakarta udah berani main sendiri. Jangan jera main ke sini ya Nall :v

Kebetulan Kamis minggu lalu kami ga ada jadwal kuliah. Jadilah kami memutuskan jalan-jalan bareng ke Seaworld. Sampai Ancol ternyata Seaworldnya tutup. Apa banget. Ga ada satupun dari kami yang baca beritanya, padahal katanya udah seminggu tutup -_- Akhirnya, setelah berpikir cukup keras, kami berputar haluan ke Harco, nemenin Vya nyari barang. 

Sebenernya, rencana awal banget pengen ngajak main ke Dufan, lagi ada paket Ber5, lumayan hematlah jadinya, 110k kalo weekdays. Tapi berhubung yang berhasil kami hasut, gabisa ikutan kalo Kamis, makanya ke Seaworld. Tapi apa daya ternyata tutup. Pukpuk Nalla. Besok Jumatnya kami jadiinlah ke Dufannya. Untung pasukan pada bisa semua xD

Selasa, 07 Oktober 2014

Time flies, people change.

06.10.2014

Udah nyaris satu dekade kenal mereka. Ya, temen-temen SD. Biasanya tiap tahun mereka rajin ngadain reuni seangkatan. Cuma tahun ini ga, pada sibuk panitianya hahaha. Akhirnya, meetup kecil-kecilan doang. Makasih udah nyulik aku gaes xD

Waktu bener-bener ga terasa udah berputar cepet ya. Dulu pertama kali kenal masih pada ingusan, sekarang udah pada wisuda. Erla sama Endah contohnya. Tahun depan aku insya Allah nyusul, Mega juga. Mereka bertiga sebelumnya udah saling kenal sejak TK. Awet banget ya sampe sekarang. Aku dulunya mah masih TK di tempat kelahiran. Baru ketemu mereka pas SD. Kalo sama Mega kenal gara-gara sekampung :D

Episode pulang ku kali ini, entah kenapa rasanya atmosfirnya beda. Mungkin asap yang menyelimuti Banjarbaru merupakan salah satu alasannya. Atau karena Idul Adha pertama di rumah semenjak kuliah. Hehehe. Entah mungkin aku tersugesti Uni, pengen nyoba Idul Adha di rumah. Dan ternyata feelnya emang beda. Berasa Idul Adhanya :3

Karena ada momen berkurban ini pula, aku jadi main ke langgar. Orang-orang sekampung pada ngumpul dan ga sengaja ketemu temen SD lainnya. Ada yang udah nimang anak, ada yang bantu-bantu penyembelihan hewan kurban. Ah, entah mereka masih mengenaliku atau engga. Aku cuma ngeliat dari jauh aja sih. But, that's true, time flies, people change. Dan sebentar lagi mungkin aku juga akan memasuki fase kehidupan yang berbeda.

Hmm habis makan kemaren, kami berempat mampir ke tempat kerja salah satu teman kami. Makasih Ayu C atas traktiran photoboxnya. Berasa cacat banget di dalam bareng mesin photobox kemaren dan beginilah jadinya.

Masing-masing kena jatah ketutupan .-.
 
Akhirnya selfie sendiri dalam box pfft

Yap, acara kemaren pun ditutup dengan main ke rumah Endah. Entah saking lamanya ga ke sana atau keasikan ngobrol di jalan, aku sama Mega melewatkan rumah Endah wkwkk. Another failed moment. But, anyway, thanks for yesterday. Semoga sukses buat kita semua ya. Semoga yang nyari kerja diterima, yang masih kuliah cepet wisuda. Semoga cepet ketemu jodohnya masing-masing. Aamiin :D

Jumat, 03 Oktober 2014

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Kepada hujan, barangkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. Hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap rahasia. Karena ternyata, hujan tak hanya menghapus rintik rindu, tapi juga melarutkan kenangan-kenangan. Membawanya pergi entah ke mana, sebab laut tak pernah sanggup jadi muara buat segala. Jadilah kita tetap sendiri-sendiri­—aku sendiri, kamu sendiri. Dan tak perlu lagi kita bicara janji.
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Kita pernah melangkah dan berhenti dengan irama yang sama. Kita pernah menatap bulan dari sudut yang sama. Kita jua yang menjadi sebab adanya pemaknaan-pemaknaan positif tentang jarak dan keterpisahan. Kita telah mencipta banyak pembenaran-pembenaran indah, dan itu pertanda kita ragu. Tapi hujan menghapus keraguan itu—sayangnya—bersama butir-butir cinta yang ada di sana. Sayang sekali, memang. Tapi kita bahkan tak mampu memisahkan cinta dari keragu-raguan, apalagi meninggikannya—jadi lupakan saja.
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Tidak semua apa yang kita rasa perlu diungkapkan, bukan? Sebagian rasa memang membahagiakan ketika diungkapkan. Sebagiannya lagi menentramkan bila dipendam. Boleh jadi sisanya ada untuk dilupakan. Itukah yang kini kurasakan? Kau rasakan? Dalam diam kita, hujan memang terlalu banyak bicara. Tapi bagaimanapun, sampaikanlah terima kasih yang dalam padanya, sebab—sekali lagi,—hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap menjadi rahasia. Barangkali inilah cara kita menghapus rindu, membiarkannya larut bersama hujan—yang tak pernah kita tahu pasti kapan ia hadir untuk melakukannya.

Puisi oleh : Sapardi Djoko Damono (1989)

Bagian paling favorit dari novelnya Azhar Nurun Ala "Tuhan Maha Romantis" :3