CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 29 Desember 2017

Negeri sejuta pelangi

Setelah sekitar dua bulan lalu tur negeri timah, saya pun menyempatkan berkunjung ke negeri tetangganya. Negeri yang juga disebut 1001 warung kopi ini menjadi objek wisata tujuan cukup banyak orang, setelah salah satu film lokal yang diangkat dari novel berjudul sama mengambil syuting di negeri ini.

ini replika SD-nya, do you remember?

Siang itu (27/10) saya sudah tiba di TJQ. Berhubung seorang yang dituju berada di Belitung Timur, saya mesti naik travel dulu ke sana. Menunggu penuh baru travelnya jalan. Hampir satu jam travel pun berangkat. Sejuknya udara sehabis hujan sukses lift up my mood that day. Sepanjang jalan melihat hijau-hijau, memanjakan mata yang terbiasa terpapar radiasi.

Minggu, 24 Desember 2017

Hujan Bulan Juni

Judul: Hujan Bulan Juni
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2015
Tebal: 144 halaman

Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.
***
"Tidak ada yang lebih tabah dari pembaca novel ini." - AZ
Kutipan review g*odreads di atas cukup mewakili :p Novel ini sudah saya ajak berkelana, bahkan hingga ke salah satu kota setting ceritanya di utara sana, tapi teteup gak kelar-kelar bacanya. Sepertinya perlu dibaca ketika tidak ada beban pikiran ditemani secangkir teh hangat dan rintik hujan, biar syahdu. Wkwk. Terbilang berat bagi yang sastranya di bawah rata-rata. Alurnya pun bisa bikin emosi bagi yang kurang tabah.

Cerita novel ini sederhananya berpusat pada Sarwono dan Pingkan, dua orang yang saling jatuh cinta, namun terhalang perbedaan Jawa Menado. Sering kali diulang cerita berlatar kedua suku tersebut, getting me irritated. Lalu ada orang ketiga, orang keempat, orang kelima, you named it.

Jujur separuh bagian pertama membuat mumet. Tertarik baca sebelum menonton filmnya. Boro-boro. Baru dapat memahami tutur bahasa SDD pun separuh bagian setelahnya. Setelah hampir dua bulan menonton filmnya. Banyak bagian yang tambal sulam. Bagian menggembala gerombolan biri-biri Tonsea di novel padahal lumayan menarik. Bagian bertemu Toar juga cukup menarik. Belakangan baru tau Toar itu kakak Pingkan. Seingat saya, di film tidak disinggung-singgung.

Filmnya terlalu menonjolkan cerita yang dikaitkan Katsuo. Heran aing. Teman saya menonton kala itu ngakak terus tiap sosok Katsuo muncul, beyond your imagination lah pokoknya. Di novel tidak terlalu banyak membahas Sontoloyo Jepun itu (sebutan dari Sarwono). Endingnya pun. Ah, film tidak melulu harus happy ending kok. Penonton belakangan cukup bijak. Bagian apiknya mendeklamasikan puisi. Even puisi yang tidak dicakup di novel ini, tapi di buku puisi dengan judul yang sama. Setelah melalui ketiganya, saya lebih menyukai buku puisinya, terlebih bagian berikut.
"Kukirim padamu beberapa patah kata yang sudah langka. Jika suatu hari nanti mereka mencapaimu, rahasiakan, sia-sia saja memahamiku."
"Dalam setiap kata yang kau baca, selalu ada huruf yang hilang. Kelak kau pasti akan kembali menemukannya di sela-sela kenangan penuh ilalang."

Minggu, 03 Desember 2017

Frequently contacted

Blogwalking kali ini disuguhi sebuah tulisan yang menarik. Beberapa waktu lalu sempat mendapat pertanyaan serupa terkait frequently contacted. Kemudian hanya menjawabnya dengan diam. Konteksnya bercanda sih, tapi menyisakan lingering feeling gitu. Setelah membaca tulisan di bawah ini, diingatkan kembali bahwa itu merupakan bentuk penjagaan, betapa derasnya cinta-Nya :')


Kepada Perempuan-Perempuan yang Merasa Berbeda

by novieocktavia

Suatu hari, kita mungkin pernah mendapati diri merasa berbeda dengan perempuan-perempuan lain di sekitar kita karena tidak ada satu pun lelaki yang bisa dengan mudah kita sebut namanya. Kita hanya mendengar mereka bercerita tanpa menanggapinya dengan cerita yang serupa, sebab memang tak ada siapapun yang hadir di hati kita. Lalu, mengapa bersedih? Bukankah memang tidak perlu ada seorang lawan jenis pun yang mengisi semesta hati kita sebelum hari bahagia itu tiba? Sehebat dan sesempurna itulah Allah menjaga, sebab tak ingin ada hati yang berrongga karena kebahagiaan yang belum waktunya.
Suatu hari, kita mungkin pernah mendapati diri merasa tak sama dengan perempuan-perempuan lain di sekitar kita karena tidak ada satu pun lelaki yang namanya muncul pada frequently contacted di ponsel kita. Kita hanya melihat bagaimana mereka berinteraksi tanpa bisa menebak bagaimana rasanya, sebab memang tidak ada seorang pun diantara teman-teman lawan jenis kita yang sering berbalas pesan setiap harinya dengan kita. Kalaupun ada, urusannya adalah tugas kuliah, pekerjaan, bisnis, atau hal-hal penting lainnya yang hanya saling berbalas seadanya. Lalu, mengapa bersedih? Bukankah interaksi yang terbatas akan memudahkan hati agar tidak mudah terjun bebas? Sehebat dan sesempurna itulah Allah menjaga, sebab tak ingin ada air mata yang jatuh percuma.
Suatu hari, kita mungkin pernah mendapati diri merasa asing diantara perempuan-perempuan lain di sekitar kita karena tidak ada satu pun lelaki yang pernah menghabiskan perjalanan berdua dengan kita. Kita hanya mendengar atau melihat, tanpa bisa berempati sebab tak tahu bagaimana rasanya. Selama ini, perjalanan dihabiskan dengan teman-teman perempuan, orangtua, adik, kakak, atau saudara. Lalu, mengapa bersedih? Bukankah perjalanan-perjalanan yang dilakukan berdua sebelum waktunya lebih dekat pada bahaya? Sehebat dan sesempurna itulah Allah menjaga, sebab tak ingin ada mata yang terus beradu pandang dan raga yang terus beradu sentuh sebelum waktunya.
Jika pun suatu hari nanti akan ada seseorang yang dengan mudah kita sebut namanya, semoga itu adalah dia yang tersebab akadnya maka kita boleh menceritakan kebaikannya. Jika pun suatu hari nanti ada seseorang yang setiap hari berbalas pesan dengan kita, semoga itu adalah dia yang tersebab akadnya maka dengannya kita boleh membicarakan apa saja. Jika pun suatu hari nanti ada seseorang yang banyak menghabiskan perjalanan bersama kita, semoga itu adalah dia yang tersebab akadnya diperbolehkan mengajak kita bersafar kemana saja. Tapi sekarang, semoga kita senantiasa berbahagia dengan penjagaan-Nya yang sedemikian rupa.
Jangan lupa berdoa dan saling mendoakan perempuan-perempuan lainnya, sebab berat, susah, dan berlikunya menjaga diri tak akan pernah bisa kita terka hingga mungkin kita tak selamanya akan mudah menjalaninya. Bagaimana pun, semoga Allah senantiasa menjaga dan memudahkan. Selamat berbahagia diantara deras cinta-Nya. Baarakallahu fiik :”)

Kamis, 30 November 2017

Tur Negeri Timah

Sebelum mendarat ke pulau ini, pemandangan birunya pantai akan serta-merta memanggilmu. Namun, semakin beranjak ke tengah, terlihat banyak sekali bekas tambang timah yang kondisinya (sepertinya) tidak terawat. Actually, I need to do some simple paperwork. If anyone who live in this island voluntary wanna help me, let me know.

Well, tag along feels nice. You can peacefully feed your tummy and travel around. Selain kulinernya juara, wisata Bangka juga lumayan. Walaupun katanya tidak se-wah Belitung. Pantai-pantai yang bagus di Bangka jauh. Karena keterbatasan waktu, kami cukup puas menjelajah daerah Sungailiat.

vitamin sea recharged :3

Selasa, 28 November 2017

Sufficient

Setiap orang berhak membuat pilihan
Kemudian menjalani konsekuensi atas pilihan tersebut

Setiap orang hampir selalu mempunyai alasan
Namun tidak berarti berhak menyinggung perasaan orang lain

Setiap orang baiknya melapangkan ruang pemahaman
Lantas menjadi cukup karena tidak semua hal perlu ditanya

Kamis, 23 November 2017

Feed your tummy in Bangka

Bagi yang ingin memanjakan perut, mungkin perlu mencoba main ke Pulau Bangka, Pangkal Pinang lebih tepatnya. Namun, dengan catatan bagi yang suka makan ikan dan menimbun kolesterol ya. Wkk.

Makanan khas pertama yang perlu kamu coba setelah merapat di pulau ini: Lempah Kuning. Makanan yang menawarkan kesegaran rempah ditambah nanas. Kala itu mendung-mendung diajak ke Mang Bewok, agak pedas lempah yang disuguhkan, tapi tetap susah berhenti makannya. Haha. Dapat info di sana Iga Bakarnya juga enak, sayang belum coba, lebih memilih makanan lokal.

Next, diajak makan pempek dan aneka otak-otak. Pulau ini pecahan Sumsel, makanya pempek tak asing lagi. Otak-otaknya variatif, sausnya pun variatif, ada cuka terasi, cuka tauco, dan cuka serba pedas. Saus inilah yang katanya membedakan otak-otak khas Bangka.

Otak-otak Ase pic by @lindafaradian

Setelah menyelesaikan tugas, diberi 'reward' makan Pantiaw :D Sejenis kuetiaw yang disajikan dengan siraman bumbu kuah ikan. Gurihnya pol. Katanya kudapan ini biasa dijadikan snack rapat. Wih, untuk ukuran snack, pantiaw ini tergolong makanan berat menurut hemat saya. Karbohidrat ada, proteinnya ada.

Last day di Bangka, menjajal Mie Koba. Fyi, Koba itu nama daerah di Bangka. Mie Koba ini mirip-mirip mie ayam, perbedaannya lagi-lagi terletak pada kuahnya yang juga kuah ikan. Kalau dibandingkan dengan pantiaw, rasanya lebih manis, lihat saja perbandingan kuahnya di gambar di bawah ini :p 

Pantiaw versus Mie Koba

Hal yang menarik di pulau ini harus berhati-hati membeli makanan karena banyak Chinese, penting menanyakan apakah makanan tersebut halal. Info lain katanya kalau membeli Mie Bangka di luar Bangka, misal Jekardah, sudah bisa dipastikan ketidakhalalannya. Be aware guys.

Kocak banget tiap malam mencari martabak Bangka yang konon juga terkenal kelezatannya. Malam pertama mencari martabak asin, berhubung sudah larut malam susah cari tempat jualan yang masih buka. Malam kedua mencari martabak manis, belum terlalu malam, Martabak Acau dengan wisman (jenis margarin, bukan akronim wisatawan mancanegara ya :v) sudah habis. Jadi, sejauh terbatasnya perkulineran martabak saya, menurut saya rasanya not too stand out loh ya. Cmiiw. Lain kali, ajaklah saya ke tempat yang bisa buat saya ketagihan martabak :p

Sekian dulu culinary posting kali ini, traveling posting menyusul. Thanks for reading. 

Minggu, 29 Oktober 2017

One (fine) day in Semarang

Setelah drama Kamandaka di Kota Batik, malam itu (13/10) akhirnya tiba di muara tujuan. Terdengar kabar bahwa malam itu terjadi penutupan kawasan Tugumuda terkait gladi bersih upacara peringatan pertempuran 5 hari di Semarang. Alhasil batal dijemput, berhubung penjemput belum hapal jalan alternatif. Lalu, berpindahlah ke transport online. Beruntung dapat driver yang tau jalan kompleks menuju Lemah Gempal. Setelah menempuh cukup banyak kelokan kompleks dan keluar ke jalan utama, jam sembilan kurang Tugumuda sudah lancar saudara-saudara, sudah tidak ditutup. Wkk.
"A journey is best measured in friends, rather than miles." – Tim Cahill
Betapa panjangnya drama terkatung-katung di jalanan hari itu. Bahagia banget liat sudah ada yang menyambut, bantuin bawa koper. Lanjut cerita kekonyolan sembilan jam terakhir. Tujuan utama balik lewat Semarang mengincar flight schedule. Tujuan lebih utamanya tentu saja menemui sahabat karib di sana; bertukar cerita, jalan-jalan bonusnya. Berasa napak tilas zaman sekolah abu-abu dulu, beda kotanya aja.

give my little heart to her :3

Terima kasih telah rela mendapat sunburn lagi ya. Semarang lebih panas dari ibukota, indeed. Bercak gosong masih setia menempel di tangan saya sampai menuliskan ini. Entah dari perjalanan sebelum atau sesudahnya :p

Fyi, tiket masuk Sam Poo Kong temple 8k untuk keliling kompleks halaman. Kalau mau masuk klenteng perlu menambah 20k. Berhubung bukan tempat ibadah kami masing-masing, touring di halaman saja saya rasa cukup. Mengingat komentar seseorang, orang non muslim pun belum tentu datang mengunjungi masjid kan? Alhasil berteduh sambil menyeruput que*n's mango. Seketika adem. Wkk abaikan.

Kami pun mencari tempat berteduh berikutnya, sekalian mengisi energi, sekalian mendiskusikan destinasi berikutnya. Pilihan pun jatuh ke Kota Lama, ada akar-akar instagramable katanya. Sampai Kota Lama, terlihat 3D art museum, lalu singgahlah kami. Seolah terhipnotis, langsung setuju membayar tiket masuk seharga 50k :x Berkelilinglah kami, mengitari aneka 3D art, tak terasa lebih sejam di sana. Udah lupa tujuan awalnya akar-akar instagramable. Wkk.


Foto-foto di akar yang disebut-sebut sebelumnya tak ada yang worth buat dipajang. Udah antri padahal wkk. Penting banget spot foto itu kayaknya. Kami cuma bentar di sana, mood fotonya sudah terenggut. Berhubung sudah mendekati jam penerbangan saya juga, kami memutuskan balik. Lalu berakhirlah trip Semarang kala itu.

Thanks for reading guys. Sampai jumpa pada cerita trip berikutnya :D

Sabtu, 21 Oktober 2017

Kota Batik Punya Cerita

Dering telepon di sela-sela hectic penggantian sampel kala itu membuat saya tidak terlalu memikirkan tawaran mau menjelajah mencacah di kota mana. Disebutlah nama dua kota, pertanyaan yang keluar hanya apakah bisa selain Jawa Barat? Kemudian pada telepon berikutnya ditawarkan Pekalongan, nama kota yang saya tidak tahu persisnya di mana. Katanya pilihannya sisa itu kalau selain Jawa Barat, kamu diset di sana ya. Akhirnya saya iyakan saja biar bisa cepat lanjut memproses surat cinta penggantian sampel.

Menjelang tanggal keberangkatan dipesankan tiket kereta. Ternyata perjalanan menuju kota Pekalongan memakan waktu empat jam lebih. Berasa lama banget, apalagi masih dikejar deadline. Alhasil kursi berubah jadi tempat kerja. Lalu bertambahlah alasan saya malas naik kereta untuk perjalanan jauh. Balik Jakarta nanti sangat ingin tidak naik kereta.

Pencacahan di kota batik ini ternyata tidak begitu buruk. Penunjuk jalan orang asli Pekalongan dan pernah ikut kegiatan sejenis tahun lalu membuat pekerjaan jauh lebih efisien. Sehari bisa diajak ngider motoran dari Pekalongan Timur-Barat-Utara. Superb lah. Bekas gosongnya aja yang masih tertinggal di tangan ane. Overall nice, welcomed. Kata mbake kita bisa belajar banyak dari mencacah. Secara tidak langsung kita bisa mengetahui karakter orang, belajar dari cerita-cerita mereka, dari cerita membahagiakan (achievement) sampai cerita paling menyedihkan (mortality). Kita perlu pandai-pandai menempatkan diri.

Pekerjaan tetap hal utama, tapi akan lebih baik jika kita sempatkan mengenal kota yang dikunjungi juga kan, seloroh seorang bapak. Budayanya, makanan khasnya, hingga tempat wisatanya. Menyenangkan saban hari ada yang mengajak main. Makan megono Pekalongan yang jauh berbeda dengan megono Wonosobo, makan garang asem yang juga jauh berbeda dengan garang asem yang selama ini saya kenal di Jakarta, main lima belas menit ke pantai pasir kencana, malam mampir Museum Batik sayang sudah tutup, lalu lanjut diajakin ngeronde di alun-alun.


Hari berikutnya saya traveling sendiri karena masih penasaran dengan isi Museum Batik. Tak perlu khawatir, di museum ini, walau sendiri tetap ada guide yang membantu menjelaskan. Saya pun diajak berkeliling mulai dari ruang pertama berisi peralatan membatik, seperti kain, canting, malam dan bahan pewarna. Lalu ada koleksi batik yang didominasi batik Jogja dan Surakarta, lalu beralih ke ruang kedua mengenal sejarah Batik Pekalongan, ternyata khasnya berwarna terang, motif titik-titik, jlamprang, dan bunga. Ruang ketiga lebih bervariasi. Saya mulai tahu, mulai bisa membedakan aneka motif batik, mulai dari motif kawung, megamendung, parang, hingga pagi-sore. Bagian workshop yang paling menarik, kita bisa mencoba menulis batik menggunakan canting yang diisi malam.

Budaya membatik di kota ini menjadi industri rumahan yang menyerap banyak tenaga kerja. Pemandangan jemuran kain batik di depan rumah-rumah penduduk sudah tak asing lagi. Sungai yang  tiap hari berubah warna menyesuaikan warna kain batik yang sedang diproduksi pun menjadi pemandangan yang dimaklumi. Lalu adanya air rob di daerah utara juga tidak menjadikan mereka putus asa menguruk tanah.
"Traveling itu penuh kejutan. Kejutan ini yang bikin traveling lebih dari sekedar wisata."
Kejutan itu pun dimulai ketika mau naik Kamandaka siang ke Semarang. Kalau diingat-ingat lagi konyol memang. Salah naik kereta Kamandaka, bukannya ke Semarang malah nyasar ke Pemalang. Nasib orang yang tidak terbiasa dengan peron, biasanya gate. Jadwal kereta Kamandaka hanya berbeda 15 menit. Entah karena buru-buru atau sibuk memikirkan penggantian sampel, ketika disebut kereta Kamandaka main naik-naik aja. Awalnya bingung karena kursi saya ditempati orang. Lalu orang-orang menyarankan duduk di tempat kosong aja. Selang lima menit kemudian, ketika kereta mulai meninggalkan Pekalongan baru menyadari tujuan akhir kereta ini Purwokerto, bukan Semarang .-.

Benar-benar pengalaman tersendiri. Sepuluh menit pertama doang shock, selebihnya sudah merelakan turun di Pemalang, makan siang hanya bermodal sepotong roti karena tidak ada tempat penitipan barang, membeli tiket kereta ulang yang baru tiba di Pemalang empat jam kemudian. Baterai low. Dihimpit pekerjaan tapi belum bisa masuk mencari sumber energi laptop. Sungguh terima kasih untuk semua orang yang telah memudahkan urusan saya di Pekalongan maupun Pemalang, mulai dari pegawai, mitra, responden, cs, kondektur, dan satpam. Semoga urusan kalian juga dimudahkan, dilancarkan, dan dilapangkan rezekinya. Di manapun kalian berada, percayalah masih banyak orang baik. Orang yang mau direpotkan, orang yang bersedia membantu. Mari banyak-banyak bersyukur.

Magrib kala itu Kaligung tiba. Saya pun memastikan kembali bahwa kereta yang saya naiki tujuan akhirnya adalah Semarang. Cukup sekali salah naik keretanya. Teman perjalanan saya kali ini cukup menyenangkan, bapak-bapak programmer freelance yang tinggal di Semarang. Nyambung diajak diskusi berat sampai tempat wisata Semarang. Saat tiba di Pekalongan berasa dejavu, ada mas-mas yang hampir bernasib seperti saya tadi siang. Beruntung orang-orang gerbong kooperatif, saya pun inisiatif menanyakan kereta apa, ternyata kereta masnya Kamandaka di peron sebelah. Beruntung Kaligung belum melaju dan Kamandaka masih bertengger di peron sebelah. Perlu ekstra hati-hati memang sepertinya kalau di stasiun Pekalongan. Jadwal keretanya beda-beda tipis. Mesti mempertajam pendengaran juga karena belum ada semacam dashboard yang menandakan di tiap peron telah tiba kereta apa.

Well, sekian cerita kota batik pekan lalu. Thanks for reading. Sampai bertemu di postingan berikutnya.

Sabtu, 30 September 2017

Falsify

Izinkan saya meminjam judul drama yang baru selesai tayang tiga minggu lalu, Falsify. Drama tersebut bercerita betapa artikel-artikel palsu dari sebuah media kenamaan bisa mengubah atau lebih tepatnya mengarahkan opini publik demi tercapainya kepentingan-kepentingan golongan tertentu. Miris memang. Apalagi di era sekarang, menyebarnya informasi cukup dengan bermodal jempol. Dulu mulutmu harimaumu, barangkali sekarang peribahasa yang lebih tepat jarimu harimaumu. Be aware guys.
"If one has the courage to ask righteous questions, it’s not too late for anything."
Kita sebagai pembaca, penonton, atau pendengar perlu berhati-hati ketika mendapat informasi. Apalagi rumor receh dari mulut ke mulut. Kzl kadang melihat ataupun mendengar people zaman now yang langsung menyebarkan informasi yang belum diverifikasi kebenarannya. Please, thinking hard before spread some information. Saya tipikal yang sangat malas melakukan broadcast, tapi kalau sampai ada informasi miring yang melintas mata atau telinga, I will try hard to stop it immediately. Apalagi kalau sudah ngomongin orang, stop ghibah. Masih banyak bahan obrolan yang jauh lebih bermutu dan bermanfaat.

Minggu, 24 September 2017

Happy Little Soul

Judul: Happy Little Soul: Belajar Memahami Anak dengan Penuh Cinta
Penulis: @retnohening
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2017
Tebal: 216 halaman

"Ndak apa-apa, itu namanya be-la-jar." Atau, "Sorry..." seru Kirana sambil tersenyum dengan tatapan mata teduhnya yang siapa pun pasti tak bisa menolaknya.

Please... Sorry... Thank you... adalah kata-kata tulus nan menggemaskan yang kerap disampaikan oleh Kirana ketika bermain. Baginya, belajar dari kesalahan is okay. Dan bagi Ibuk, dia justru banyak belajar tentang sabar dari sang anak, Mayesa Hafsah Kirana.

Life is an adventure. Cerita petualangan Ibuk dan Kirana di Happy Little Soul ini mengajak kita semua‒kakak, adik, orang tua, calon ayah atau ibu, dan sebagai apa pun perannya‒untuk belajar hal-hal sederhana mengenai kasih sayang dan belajar bersama mewarnai kehidupan dengan lebih baik.
***
Buku yang saya pinjam dari seorang kakak yang sebulan lalu telah menjadi ibu. Tertarik baca buku ini karena flooding di timeline awal-awal tahun, I'm just curious. Saya bahkan belum follow Ibuk, seringnya mengklik kalau ada postingan Kirana muncul di explore aja. Ketika liat buku ini ada di rumah, izin pinjem sebagai teman perjalanan. Jujur, bukunya tidak terlalu gimana-gimana. Saya selesaikan dalam perjalanan ke Cirebon kala itu, berhubung harus dikembalikan ketika jadwal pulang berikutnya mendekat.

Ada hal-hal parenting sederhana yang bisa diambil contoh. Sedikit sudah pernah saya coba, ketika berbaur dengan anak-anak and it worked. Menanyakan apakah mereka senang bermain bersama kakak, menawarkan bantuan membereskan buku bersama setelah selesai membaca, men-encourage mereka ketika berhasil menyelesaikan sesuatu, mengajarkan meminjam barang dengan baik dan mengucapkan terima kasih setelahnya. Betapa menyenangkannya dunia anak-anak, tempat kita‒yang dewasa‒ bisa ikut belajar jujur mengekspresikan sesuatu, tanpa pretensi.

Ada tips-tips bagi (calon) ayah atau ibu, ada games dan resep kreatif ala Ibuk juga. Bagi yang berminat belajar parenting, buku ini bisa dicoba. Ringan kok bahasanya. Sayang, kadang ada paragraf yang redundant, mengulang-ulang untuk menjelaskan ide yang sama. Well, harap dimaklumi basic Ibuk bukan penulis, melainkan full time mother. Bagi yang ingin melihat betapa menggemaskannya Kirana, mampir aja ke akun ig Ibuk. Mana tau ikut terinspirasi segera menjadi ibu *eh.

Kamis, 17 Agustus 2017

a (real) night at the museum


Last night, I and one of my friend went to Museum Perumusan Naskah Proklamasi or well known as Rumah Laksamana Maeda at Imam Bonjol street 1. Mengunjungi museum pada malam hari sungguh berbeda dari siang hari. Jika tidak ada event KHI (re: Komunitas Historia Indonesia), mungkin tidak akan ke sana tadi malam. Hari itu ada rapat hingga malam dan besok paginya apel. Benar-benar nekat. Beruntung dibuat tidak menyesal, walaupun harus menahan kantuk yang melanda.

Acara dimulai jam sembilan malam, kami baru sampai. Antrian registrasi masih mengular dan kami tidak sengaja bertemu adik-adik angkatan. Penting memang meninggalkan attire sejenak jika tidak ingin terdeteksi :v *abaikan

Oh iya, ini memang bukan kali pertama saya ke museum. Jika ditambahkan pada malam hari, iya, museum ini yang pertama. Museum Sejarah Nasional di bawah cawan Monumen Nasional menjadi yang pertama saya kunjungi. Setelah itu, diajak tour museum oleh seorang teman, yang pada akhirnya tidak pernah beranjak dari kata wacana. Selanjutnya ke Museum Nasional Indonesia dengan teman-teman yang berbeda dalam rangka Jakarta City Tour kala itu. Lalu, dua bulan lalu (18/06) mulai ikut kegitan KHI dengan tema Jelajah Jejak Arab di Batavia. Fascinating, saya menemukan bahwa belajar sejarah bisa semenyenangkan itu. Guide yang mengerti sejarah benar-benar membantu, membuat ingin belajar lebih banyak lagi. Dulu ketika masih sekolah, I always said history is not my cup of tea.

Tadi malam belajar lagi peristiwa-peristiwa penting menjelang perumusan naskah proklamasi. Mulai dari lumpuhnya Jepang setelah pengeboman Hiroshima Nagasaki, pengasingan Soekarno Hatta ke Rengasdengklok, perjuangan Ibu Fatmawati mencari kain hingga menjahit bendera merah putih pertama kali, hingga Sayuti Melik mengetikkan naskah proklamasi. Sungguh kemerdekaan Indonesia diperjuangkan dengan keringat, darah, dan nyawa. Kita sekarang pun perlu mengisi kemerdekaan dengan berjuang: berjuang melawan lupa, hilang ingatan sejarahnya.
"bangunlah jiwanya, bangunlah badannya"
Kita tidak bisa sampai pada kondisi sekarang tanpa bambu runcing. Mari manfaatkan momentum introspeksi. Sudah tercapaikah cita-cita bangsa? Apa yang sudah kita lakukan untuk bangsa ini? Kita memang berbeda-beda, jangan individualis, jadilah sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat.

Mari merayakan kemerdekaan dengan belajar sejarah, mengenal para pahlawan, mengenal perjuangan mereka, mendoakan mereka, mengapreasiasi mereka, hingga kita bisa meneruskan cita-cita mereka, bukan dengan hura-hura. Apakah lomba balap karung, makan kerupuk, atau lari bawa kelereng di atas sendok akan meningkatkan kecintaan pada Indonesia?
"cintai sejarah, supaya kita bisa lebih mencintai Indonesia"
Another shot. Have you ever got different feeling when sang national anthem, Indonesia Raya? Menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak pernah sama lagi. I don't remember exactly from when. Mungkin ketika menyanyikan lagu tersebut sesaat sebelum turnamen internasional di Gelora Bung Karno. Atau mungkin ketika menyanyikan lagu tersebut di luar teritorial Indonesia. Ada perasaan jatuh cinta, bergetar, yang entahlah, tidak bisa dijelaskan dengan rinci sejak kapan atau karena apa. It's just happen.

Tadi malam menemukan hal yang menambah rasa bergetar menyanyikan Indonesia Raya. Lagu yang diciptakan W.R. Supratman ini ternyata memang lagu yang paling menggugah semangat. Lagu yang dinyanyikan pertama kali pada kongres pemuda ini, bahkan penciptanya tidak bisa menyaksikannya menjadi lagu kebangsaan karena beliau meninggal sebelum Indonesia merdeka. Sudah punya lagu ini di smartphone masing-masing? Kalau belum, silakan di-download terlebih dahulu atau kalau berminat dijadikan ring back tone seperti Kang Asep Kambali, founder KHI.


Overall, acara kayak tadi malam beneran worth to try, again. Menambah wawasan, menambah pengalaman, menambah teman pun. Sayang film dokumenter berbahasa Jepang kemarin tidak ada subtitle-nya. Jadi agak sulit memahami ketika tidak dinarasikan. Alhasil, lost focus sometimes. Sesi renungan kemerdekaan membuat saya benar-benar bangun malam itu. Thanks for remind me. The highlight, jelajah tengah malam peristiwa perumusan proklamasi kemerdekaan RI dimulai setengah satu dini hari. Our group guide (re: Rendy) did a good job. Terima kasih penjelasannya kak.
 "kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan sejarah?
Sekian cerita kali ini. Masih banyak hal-hal seru di museum ini, misalnya teks proklamasi tulisan asli Soekarno atau patung lilin Sayuti Melik yang mengetik naskah proklamasi atau bunker misterius di belakang museum. Sengaja tidak memberikan gambar spoiler :D Silakan menyempatkan diri berkunjung, belajar sejarah, mengenal para pahlawan pejuang proklamasi di sana. Tenang saja masuknya gratis, tapi tetap saja museum di sini sepi pengunjung. Kesadaran diri masing-masing sepertinya yang perlu ditingkatkan :)

Sabtu, 05 Agustus 2017

you are just on time

"You are not late.
You are not early.

You are just on time.
Jangan stress."
Syawal passed and you still got many wedding invitations. When it came from your bestie, you also happy, rite? Last night got unexpected call regarding same issue and joking around, you feel relieved huh? Wkwkk. On the second call, you realized that when you met Mr. Right, you knew it's him, well said.

I just want to clarify something urgent last night. Time flies, people changes. And there must be a huge reason, like family, friends or surrounding environment. I exactly know, there are responsibilities that we must hold. Tergantung kitanya kapan mau berani mengambil tanggung jawab itu.

Percayalah bahwa Allah sudah mengatur rezeki/jodoh kita sedemikian rupa. Jangan lupa bersyukur. Ikhlas dan sabar menerima segala ketetapan-Nya. Tulang rusuk tidak akan tertukar. Kalau kita kehilangan seseorang sesuatu, nanti akan diganti yang lebih baik. Percayalah. Akan tiba saat yang tepat.

Stop doing something silly. Stop delusional. There are a looot of things that you can do while waiting. Banyak hal yang jauh lebih bermanfaat. Banyak cara untuk menyibukkan diri. Banyak jalan untuk merelakan, salah satunya dengan mendoakan. Get hold to yourself. Stay cool. Everything happen for a reason.

Senin, 31 Juli 2017

poverty line is just a number

Garis kemiskinan sedang ramai diperbincangkan beberapa hari terakhir. Sayang, tidak semua cukup paham mengenai angka tersebut. Kita, apalagi awam, perlu berhati-hati menerjemahkan angka, apalagi angka nasional.

Garis kemiskinan itu pengeluaran per kapita, pengeluaran per orang. Tidak dibedakan daerah perkotaan atau perdesaan. Tidak dibedakan daerah sentra ekonomi atau daerah tertinggal. Tidak dibedakan pengeluaran anak-anak atau dewasa. Sehingga angka tersebut cukup wajar, pun mengingat lebar kesenjangan di negeri ini.

Garis kemiskinan dipakai untuk mengestimasi jumlah penduduk miskin. Kemudian muncul kesimpulan tahun sekian jumlah penduduk miskin bertambah atau berkurang. Lalu, orang-orang mulai banyak berspekulasi dan sedikit memberi solusi.
What you can do to END poverty?
Kita bisa (sedikit) berkontribusi dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Ada tiga poverty terminator, yaitu (1) pendidikan, misal dengan ikut serta mengajar anak-anak dari keluarga kurang mampu atau menyediakan perpustakaan keliling agar meningkatkan minat baca mereka; (2) pro poor technology, misal dengan andil membangun BTS di daerah terpencil, memperbaiki jalan menuju sekolah atau puskesmas; (3) enterpreneurship, membagi semangat positif.
Do you believe zero poverty can be achieved?
Say yes guys, be positive! We can make small contribution. Learning something new for better tomorrow. Make human more productive (in education and health). Improve technology and infrastructure. Create jobs. Equality in opportunity. Keluarga miskin harus mampu menikmati pelayanan dasar (pendidikan, kesehatan, sanitasi, air bersih, etc.)
Can we be the first generation in human history to abolish extreme poverty?
- Yes, we can.
Bisakah kita menjadi generasi pertama dalam sejarah umat manusia yang menghapuskan kemiskinan ekstrim? Mengentaskan kemiskinan sesuatu yang berat, tetapi bisa dilakukan. Tidak hanya membutuhkan dana, tapi juga pemikiran. Perlu pembelajaran, perlu kita semua untuk melihat, meneliti, mengawasi, dan memberikan laporan. Mari gotong royong membangun Indonesia :)

Inspired by #supermentor16 End Poverty, October 17, 2016

Rabu, 31 Mei 2017

when Bandung seems nice

I always too lazy to go to Bandung actually, for kind of 'additional' job. It's good to be youth, but please, can you exclude me next time?

Well, we need to work hard, but for me 'work hard, play harder' :p So, I decided to join my senior trip, even though I don't really know the rest. Luckily, I got last ticket on same schedule with them.

We rent a car in Bandung. We went to Tebing Keraton and Maribaya. It's really nice went to somewhere green. Refresh our mind. Even when getting job in the middle, forgot it! I paid it back as soon as my playin time done :v

Maribaya's Mountain Swing*
*)Another group photos will attached later wkk.

Fyi, ticket to Tebing Keraton 12k, ticket to Maribaya 20k. Tebing Keraton is a nice-quiet-green place, but the road towards there is worst. The car can only drive up to the welcome gate. We need to get an 'ojek' for the rest cobblestone roads. Maribaya is famous-crowded-green place, even on weekdays. In Marabaya, we must pay for each 'wahana', such as Sky Tree 15k, Zip Bike 20k, and Mountain Swing 20k. The queue quite long, so we decided just took one ride. There will be a photographer who takes our pictures. And we can get soft copy with 10k for every single picture.

Time to go back to reality. Four days like errr I don't even want to described it. Skip to Saturday, please. Finally, I met one of my highschool best pal. She already moved to Sukabumi. It has been more than four years I guess last met her. Thanks for two hours of quality time. Talking bout rush, movies, series, and of course quarter-life-crisis stuff. Jangan jera dikunjungi ya wkk. See you on the top sis.

NB: Forgive my poor grammar and vocab :x

Rabu, 17 Mei 2017

Let's Eat: Ikkudo Ichi


Anyone who love Ramen should go to this place I guess. This place is one of my friend favorite. For the first try, I choose Tori Miso because the corn on the menu picture. And at the second try, I choose Ikkudo's Tori Kara. Well, spicy Ramen is so much better anyway :v

Setiap tempat punya cerita. Walau makan di tempat yang sama (bahkan di meja yang sama) dengan teman yang berbeda, sangat terasa perbedaannya. You know, bukan tempatnya yang dirindukan, melainkan orangnya. Yeah, I miss you my eating buddies. Sering-sering main Jekardah yak.

Kamis, 11 Mei 2017

Festival Ikut Bekerja

 
So excited waktu mendapat email H-4 acara #FIB2017. Betapa menunggu-nunggu acara semacam ini setelah merasakan euforia FGIM 2013 lalu. Jika berminat membaca ceritanya, silakan klik di sini.

Belakangan sudah mulai terasa sulitnya mencari teman main, mungkin efek memasuki dunia kerja, beberapa punya kesibukan masing-masing dan sulit menyesuaikan jadwal. Beruntung masih ada temen yang ayuk aja diajakin H-2, temen yang ayuk aja juga H-hitungan jam diajakin nonton Guardian of Galaxy vol. 2 wkwkk. Terima kasih telah menyelamatkan weekend saya dua minggu lalu.

Back to #FIB2017. Kami ikut bekerja pada hari kedua (30/04). Acara kali ini bertempat di Mall Kota Kasablanka. Setiba di sana, sempat berkeliling dulu, menebak-nebak di sudut mana kah gerangan acaranya bermuara. Ketika menemukan, komentar pertama, wah sepertinya tidak seramai 2013, mengingat wahana yang disuguhkan juga hanya empat.

Hari itu kami tiba sekitar jam 11. Kami sudah daftar on-line untuk sesi jam 10.00-12.00, akan tetapi belum transfer. Jadilah daftar on the spot lagi, ambil sesi jam 12.00-14.00. Setelah makan dan sholat zhuhur kami pun merapat ikut bekerja.

Makin siang peserta terlihat makin ramai. Wahana pertama yang kami sambangi keping pedia. Di wahana ini kami membuat semacam puzzle yang pada bagian belakangnya ditulisi pesan semangat. Saya ingat membuat puzzle bertema alat musik tradisional Indonesia, yang ditujukan untuk adik-adik rumah baca di suatu tempat yang saya lupa haha :x Tidak memakan waktu lama di wahana ini, kami pun ke wahana selanjutnya.

Yak, surat semangat! Wahana favorit saya, menuliskan surat atau lebih tepatnya membalas surat secara random untuk adik-adik yang telah berkirim surat untuk kakak-kakak relawan #FIB2017. Saya berkesempatan membalas surat dari Bunga Lestari, SDN 57 Ketam Putih, Bengkalis. Salam kenal, dik. Kapan-kapan, jika memang ada kesempatan, akan menyenangkan bisa berkunjung ke desa dan sekolah yang katamu indah :)

Setelah selesai membalas surat, sudah hampir jam 14.00. Di awal, kami mendaftar ikut wahana ular tangga di sesi berikutnya. Kami pun merapat ke panggung utama, ikutan flash mob, can't stop the feeling, sambil menunggu peserta wahana ular tangga berkumpul. Seperti apa wahana ini, I don't really know. Berhubung partner minat ikut, jadilah ikutan juga. Wahana ini berkelompok, waktu itu kelompok diacak berdasarkan warna baju, lalu tas, terakhir tahun lahir pfft. Sekilas gambaran wahana ini mengunjungi pos-pos yang merepresentasikan hint, pos nomor berapa sesuai hasil kocokan dadu, di tiap-tiap pos akan ada tantangan yang perlu diselesaikan.
Kelompok kami hanya berempat, mendapat nomor dadu 1. Semua buram dengan hint pos 1, sudah menjelajah lantai LG Kokas, berputar-putar dua kali, tapi tak kunjung menemukan pos yang merepresentasikan pendongkrak ekonomi Indonesia. Can you tell where is it in a Mall? We are clueless, sampai-sampai belanja di Carref*ur wkwkk. Fasil pun mendapat laporan bahwa ada peserta tersesat menemukan pos sehingga fasil menunggu di depan pos sambil bawa bendera mini. Selamat! Habis bayar di kasir kami pun menemukan fasil :D Kokas in weekend is no joke. Ramainya, sudah kayak cendol someone said.

You know what 'pendongkrak ekonomi Indonesia' looks like? UMKM saudara-saudara. Kebayang dong gimana susahnya mencari kumpulan UMKM di Mall. Hahaha. Ternyata lagi ada pameran kerajinan gitu di Kokas. Task di Pos 1, mencari dan menyebutkan toko di mana benda-benda yang disebutkan fasil berada. Kakak-kakak di kelompok kami sangat bersemangat setelah tersesat, wkwk, kami pun sukses mendapat kata kunci di pos ini, yakni Sabu Raijua.

Next, we move to Pos 6, di lantai 2, hint amazing world. Kami menemukan wahana bermain amazing, tapi tidak menemukan fasil dengan bendera mini. Ternyata fasilnya ada di depan wahana dekat eskalator. He said something really 'nice' after we met. Karena Pos 6 ada ularnya, jadi di pos itu tidak ada games, hanya mengambil kartu untuk turun ke pos berapa, wkwk. Kami pun menuju Pos 4 dengan hint kopi+kimchi+eskalator di lantai UG. Tidak sulit menemukannya karena sudah cukup familier dengan tempat makan di Kokas. Lagi-lagi fasil berada dekat eskalator daaan pos ini juga ada ularnya haha poor us. Sebelum ambil kartu turun ke pos berapa disuruh buat yel-yel dulu minimal 15 detik. Random banget lah. We got the feeling, yeah, ikut bekerja, let's dance dance dance, ikut bahagia, let's dance dance dance!

pejuang ular tangga

Kami pun turun lagi, ke Pos 2, pintar, cerdas, pandai di lantai LG. Sungguh ya, wahana ular tangga ini semacam energy drain. Walau sudah terbiasa keliling mall sekedar cuci mata atau belanja, tetep aja pegel bo. Naik turun eskalator. Menjelajah sana sini demi mencari Pos. We already know, di mana Pos 2: genius. Di sana ada game menyusun sepuluh files holder dalam satu menit. Kami gagal pada pos ini sehingga turun lagi ke Pos 1. Bertemu fasil yang sama, main game yang sama, mendapat kata kunci yang sama, dan dengan kebaikan hati fasil kami boleh lempar dadu lagi ketika dapat angka 5. Wkwk. Naiklah kami ke Pos 7, flormar di lantai UG.

Pos 7 ternyata tempat jualan kosmetik. Ada game pesan berantai di sana, dan peserta yang mendapat pesan terakhir diminta menyusun aneka kosmetik hasil pesan berantai. Berada di ekor rada-rada burdensome. Ingatan kuat tapi tak familier dengan kosmetik, ya podo wae, ketuker-tuker jadinya, wkwk. Berada di kepala juga walau familier dengan kosmetik bisa tertipu dengan aneka produk yang bentuknya membingungkan. Walhasil kami tetap mendapat kata kunci: Majene. Karena sesi ular tangga hampir berakhir, kami pun berhenti sampai di sana. Melihat-lihat kosmetik dan cerita-cerita dengan fasil.

Agak sedih melihat sedikitnya peserta laki-laki seloroh seorang fasil. Saya pun mengiyakan dalam hati. Mungkin bisa dibilang bisa dihitung jari loh. Entah apa yang terjadi. Sempat bahas rasio laki-laki perempuan Indonesia juga masih 101, lalu menyerempet ke mas alah jodoh. Pfft. Tenang jumlah laki-laki masih lebih satu diantara seratus perempuan. Jodoh pasti bertamu they said. Haha. Mengenai rasio laki-laki perempuan itu menyebar untuk semua range umur dan tempat gaes. Sepengetahuan saya, jumlah bayi laki-laki memang lebih banyak dibanding bayi perempuan. Namun, katanya perempuan cenderung dapat bertahan hidup lebih lama dibanding laki-laki. So, melihat rasio laki-laki perempuan saja tidak cukup, mesti dirinci hingga kelompok umur menurut hemat saya.

Well, sejujurnya dulu laki-laki kok yang share event FGIM 2013 hingga muncul di laman saya. Perkara sedikitnya peserta laki-laki sekarang, entahlah. Mungkin jika tahu ada Raisa tampil di acara sebelah bakal lebih banyak yang mampir ke Kokas :p Tapi, saya percaya masih banyak laki-laki baik di luar sana, laki-laki yang tidah mudah tergoda harta, tahta, dan Raisa :p So, jangan pernah lelah memperbaiki diri wahai perempuan baik. Okeskip.
Next, kami memasuki wahana terakhir, kotak cakrawala. Di wahana ini juga berkelompok sekitar enam orang. Akan ada fasil yang memandu buku-buku apa saja yang perlu kami kumpulkan untuk dikirimkan ke adik-adik penjuru nusantara yang membutuhkan. Buku beragam, dari buku mewarnai, buku cerita, novel, hinnga buku pelajaran. Butuh effort ekstra ketika memasukkan buku dalam kotak. Ratusan buku harus dimasukkan, untung punya satu man power :p

ikut bekerja, ikut bahagia :)

Jumat, 21 April 2017

way back home

"Then I smell a familiar scent and hear a familiar sound." - AKMU
You choose such a good date to go home. Meninggalkan ibukota di tengah riuhnya putaran kedua. I can’t participate in election anyway. But, may Muslim leaders be elected. Semoga ya, semoga hasil quick count-nya sesuai.

Well, I just wanna go out from Jekardah for a while. Life these days is getting rough. Exhausted, I need an escape. Dan ya, I’m glad my ‘home’ still same. Sekarang ketika libur, saya prefer pulang daripada jalan-jalan. Sesuka apapun saya dengan travelling, kadang mendengar ocehan orang tua jauh lebih membahagiakan. Kita tidak pernah tau sampai berapa lama lagi kita bisa membersamai mereka. Taman bermain, pantai, gunung bisa menunggu. So, go home fellas.

Pulang kali ini saya tidak membawa buku bacaan, jadi tidak ada review. Barangkali ada yang nyariin :p Pulang kali ini membawa sejumlah beban pikiran seperti pulang akhir tahun lalu, bedanya beberapa sudah memperoleh jawaban. Feeling relieved, meskipun awalnya kalut-marut. Sangat penting mengambil keputusan ketika sober, not overwhelming. Berusaha segera, tapi tidak tergesa-gesa. Sisanya, biarkan semesta bekerja.

Selamat hari Kartini!

Selasa, 11 April 2017

another perspective

"Ingat, selalu ada hal-hal bahagia yang bisa kita rengkuh. Sekecil apapun, tumbuhkan. Kumpulkan remah-remah bahagia itu. Sampai sakumu penuh. Dipenuhi syukur.
Beri ruang pada hati yang sedang biru untuk memahami bahwa setelah kesulitan, pasti ada kemudahan.
Semua akan terlewati dengan baik-baik saja. Jangan khawatir." - ajinurafifah
Hari kesekian dua minggu lalu di Kendari tergelitik tulisan Selalu Ada Bahagia yang Bisa Disyukuri karya mbak Apik. Betapa punya sahabat yang rela jauh-jauh hujan-hujanan mendatangi, pun bersedia direpotkan ini itu patut disyukuri. Betapa punya teman yang selelah-lelahnya tetap menyempatkan menyebrang untuk berkunjung patut disyukuri. Betapa punya teman-teman baru kenal yang bersedia menemani makan ataupun jalan-jalan patut disyukuri. Sungguh, selalu ada bahagia yang bisa disyukuri.

Hari pertama yang melelahkan pun hari-hari berikutnya, tumpukan surat cinta penggantian sampel, hingga menunda rencana pulang bulan lalu. Mungkin ini yang namanya bahagia yang satu digantikan bahagia yang lain. Tetap ada kepingan-kepingan bahagia yang bisa kamu pungut, seruwet apapun kehidupanmu. Pernah dengar istilah bahagia itu pilihan? Maka pilihlah untuk bahagia. Selamat tinggal frasa bahagia yang tertinggal di masa lalu. Di masa sekarang, pun di masa yang akan datang mungkin kamu bisa bahagia. Apalagi kalau sudah menemukan jawab ya, jawaban atas doa-doa yang kamu gantungkan di langit. Kemudian vanish into thin air *abaikan.

Satu hal lagi yang ingin saya bagi. Fyi, jalanan ibukota sedang tidak sehat. Betapa menyedihkan lembar presensi saya minggu lalu, hingga puncaknya Jumat lalu perjalanan pulang mencapai tiga jam. Gils. Kalau di rumah mungkin sudah bisa tengok ponakan baru. Ah, ada perasaan ingin rehat dari ibukota ini dan kembali setelah pembangunan selesai saja. Tapi ya, setelah mendengar sudut pandang lain kenapa pembangunan serentak di berbagai titik ibukota ini perlu digalakan, membuat saya cukup lapang hampir satu jam berdiri dalam bis menunggu bisa menyebrang menuju Matraman hari berikutnya.

Penebalan jalan, pembangunan jembatan double-double track, pembangunan LRT, flyover dan proyek lainnya membuat macet parah di berbagai titik. Pengguna jalan (termasuk saya) tentu lelah dan banyak mengeluh. Ingin mengubah rute, tapi di ruas jalan lain pun belum tentu bebas macet. Di tengah keriuhan politiknya, pembangunan ini memang harus dimulai, proyek-proyek yang tidak disukai banyak orang ini pun harus tetap berjalan demi perbaikan. Kita sebagai pengguna jalan harus ekstra sabar dan harus banyak-banyak melapangkan dada. Semoga kedepannya sarana dan prasarana transportasi ibukota semakin baik.

Minggu, 02 April 2017

Letters to Karel

Judul: Letters to Karel
Penulis: Nasrul Anwar
Penerbit: - (self publishing)
Terbit: 2014
Tebal: 220 halaman

Jika kamu membaca surat-surat ini kelak, entah di bilangan berapa usiamu menginjak, surat ini hanyalah salah satu cara abi untuk mengenalkan ummi kamu, Karel. Bukan karena ummi perempuan terbaik, masih banyak jutaan perempuan di luar sana yang jauh lebih baik daripada ummi. Tapi agar kamu bisa selalu berbakti kepadanya, Sayang. Walaupun tidak bisa secara langsung, setidaknya dengan meneladani kebaikan-kebaikannya, dengan berusaha sebisa mungkin untuk menjadi anak yang baik lagi sholeh. Karena tak ada cara terbaik untuk membalas kebaikan orangtua, selain dengan menjadi anak yang sholeh/ah. Karena anak yang soleh/ah akan selalu menjadi investasi orangtua sampai di akhirat nanti.
***
Kisah nyata perjuangan seorang ibu yang melahirkan anaknya hingga meregang nyawa, perjuangan seorang ayah yang membesarkan bayinya tanpa seorang ibu dan betapa indahnya rencana Tuhan di balik itu.

Sudah cukup lama buku titipan ini berada di rak buku saya. Tertarik membacanya simply karena terlanjur suka dengan buku kedua penulis yang terlebih dulu saya baca (review menyusul :D). Buku ini berisi kumpulan surat inspiratif seorang ayah untuk anaknya. Perlu waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini, sebab lembar demi lembarnya perlu diresapi dan direnungkan. Buku ini pun menemani perjalanan saya ke Kendari minggu lalu. Tak disangka saya bisa langsung mengantarkan buku ini ke pemiliknya.

Ketika membaca buku kedua saya sempat bertanya-tanya, apakah istrinya sudah meninggal? Dan pertanyaan itu pun terjawab selepas membaca buku ini. Sangat sulit sekedar tidak berkaca-kaca membaca buku ini. Betapa tidak mudah perjuangan seorang ayah yang membesarkan bayinya seorang diri. Mungkin benar kata Salim A. Fillah: sebelum menikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. setelah menikah, ia digital variatif. Sebelum menikah, sumber utama kegamangan mungkin mengenai masa depan atau memilih pasangan hidup. Setelah menikah, mungkin akan jauh lebih variatif lagi. Entahlah. Sebelum racauan ini makin menjurus, saya bagikan quotes saja di sini.
"Mau tidak mau, cepat atau lambat, orang di sekitar kita akan pergi, berganti dengan orang yang baru. Atau diri kita sendiri yang harus pergi, hidup di tempat dan suasana baru. Jangan khawatir Sholeh, karena hidup bukanlah tentang bersama siapa kita menjalaninya, tapi bagaimana kita menjalaninya. Siapapun orang yang membersamai kita, jika kita berusaha untuk menjalaninya dengan baik, maka hidup kita juga akan berjalan baik, Sayang. Hidup kita harus dan akan terus berjalan; bersama siapapun, di tempat manapun, tapi tidak sampai kapanpun." - hlm. 40-41
"Di dunia ini, masih banyak orang yang lebih susah daripada kita, Sayang. Masih banyak orang yang memiliki ujian yang berkali-kali lipat besarnya daripada ujian yang kita punya. Jadi jangan pernah merasa sebagai orang paling susah sedunia, merasa kurang beruntung, sedih, mengeluh, dan sebagainya yang berlebihan. Karena sekali lagi, di luar sana, masih banyak orang yang lebih layak untuk bersedih daripada kita, tapi mereka masih bisa merasa bahagia. Masih banyak orang yang lebih layak mengeluh daripada kita, tapi mereka masih tetap bersyukur. Masih banyak orang yang lebih layak berputus asa daripada kita, tapi mereka masih tetap berjuang. Masih banyak orang yang lebih susah daripada kita, tapi mereka masih tetap bersabar." - hlm. 125
"Selalu ada kemudahan untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh, Sayang. Dalam hal apapun itu. Masalahnya terkadang kita harus diuji dulu, untuk mengetahui seberapa sungguh-sungguh kita menginginkan sesuatu dan mengusahakannya. Banyak orang yang gagal dalam ujian kesungguhan. Belum selesai, tapi terburu-buru menginginkan kemudahan. Padahal bisa jadi kita memang belum sampai pada puncak kesungguhan kita. Padahal bisa jadi, kita memang belum layak mendapatkan hadiah kemudahan itu. Saat suatu hari nanti hidup kamu terasa sulit, artinya pada saat itu kamu harus meningkatkan kesungguhan kamu. Karena kesungguhan adalah jembatan penyebrangan, dari kesulitan menuju kemudahan." - hlm. 174
"Dalam hidup ini sebenarnya kita hanya akan menghadapi dua hal, Karel; apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak bisa kita kendalikan. Apa yang bisa kita kendalikan harus kita ikhtiarkan semaksimal mungkin, dan apa yang tidak; harus kita terima dengan selapang mungkin. Usaha kita, perjuangan kita, pengorbanan kita adalah apa yang bisa kita kendalikan. Sedangkan hasilnya tidak bisa kita kendalikan, Allah yang lebih berhak menentukan, Allah yang lebih tahu mana yang terbaik bagi kita." - hlm. 185

Kamis, 16 Maret 2017

Cinta yang Baru

Judul: Cinta yang Baru
Penulis: Ahimsa Azaleav
Penerbit: Lampudjalan
Terbit: 2017
Tebal: 148 halaman

Di luar sana, banyak kisah cinta tentang penantian berujung pertemuan. Tentang kisah memendam cinta yang terungkap dengan kata saling. Tentang janji yang ditepati. Lalu terjadilah perayaannya. Tapi tidak tentang kita. Kisah penantian kita masing-masing yang dulu kita impikan nyatanya tak sempat menjadi cerita. Aku dengan kisah pilu patah hatiku ditinggalkan. Kamu dengan kisah magis merelakan cinta yang harus kautinggalkan. Kamu dan aku adalah dua orang yang sama-sama tak bisa merengkuh cinta yang kita nanti. Tapi kamu dan aku adalah dua hati yang sama-sama kuat untuk mau kembali berdiri lalu saling mencari. Karena barangkali apa yang dulu kita nanti bukanlah apa yang sejatinya ditulis takdir.

Kamu dan aku (yang saat itu belum menjadi kita) terus mencari tanpa pernah tahu bagaimana akan menemukan. Kamu dan aku terus berharap tanpa punya apa-apa selain doa. Kadang kamu merasa menemukan apa yang kaucari. Kadang aku merasa ditemukan apa yang kunanti. Tapi tak pernah ada kata saling. Lalu entah sinyal apa yang memancar, kamu dan aku justru dipertemukan saat kita berhenti mencari.

***

Buku ini menjadi teman perjalanan saya ke Bandung yang ke sekian. Karena promosi salah satu foto di akun insta penerbit, tetiba tertarik menculik buku ini dari parcel seorang teman. Membaca lembar-lembar pertama bab buku ini membuat saya membatin bahwa bacaan saya mulai 'tidak sehat'. Pfft. Namun, terbilang jauh lebih normal dibanding bekal bacaan saya di Wonosobo dulu :v

Kesan pertama setelah menamatkan buku ini, kagum bahwa penulis berani menceritakan kehidupannya. Membaca buku ini seolah membaca diary penulis. Begitu jujur. Entah kapan saya bisa menulis tanpa sandi di sana-sini :p
"Betapa aku sadar aku hanya perempuan biasa, yang barangkali 70% dari diriku dikuasai oleh darah melankolis dan sisanya adalah absurditas, banyak mau, kekonyolan, dan entah apa lagi yang mampu membuatku penasaran dan memikirkan banyak hal." - hlm. 10
Sungguh ada momen ketika otak saya memberi sinyal untuk berhenti membaca, But, my heart trying so hard to compromise. Tidak ada salahnya membaca true story kan ya? Dulu, Abah selalu protes ketika anaknya suka membaca kisah khayalan orang lain, lalu selalu mengakhirinya dengan arahan untuk menulis cerita sendiri. Sepuluh tahun berlalu, anaknya masih suka membaca, tapi insya Allah anaknya ini bisa menyaring apa-apa yang memang baik dan patut dipertahankan. Semoga kebaikan senantiasa menyertai Abah. Semoga Allah selalu menjaga Abah. I (always) wanna go home and meet you in a good shape. Semandiri apapun sekarang, tetap rindu akan ceramah Abah. I'm not fully ready if there is someone wanna take your responsibility as his.
"Perasaan hampir menyerah itu wajar, tapi jangan pernah sekalipun benar-benar menyerah. Karena yang kita kejar adalah kebahagiaan sejati, maka perjuangan yang kita lakukan pun adalah perjuangan sejati." - hlm. 31-32
Satu hal lagi yang saya soroti dari buku ini, tentang passion. Perjuangan di jalan passion memang tidak mudah. Apalagi untuk seorang perempuan yang memiliki passion tidak biasa, yang sulit dicerna. Maju satu langkah, mundur dua langkah. Mari kita nikmati saja prosesnya, toh usaha tidak akan mengkhianati hasil. Semangat berjuang, wahai Pejuang Passion!

Luruskan niat, Percayalah bahwa Allah penulis skenario terbaik. Siapkan bekal. Segera boleh, tapi jangan tergesa-gesa, sekalipun ada proses yang menawarkan kebahagiaan. Tawaran yang cukup menggiurkan bagi perempuan yang katanya bahagianya tertinggal di masa lalu. Namun, tetap saja perlu dipertimbangkan dengan matang.

Kamis, 09 Maret 2017

catching a running train

sebelum memulai cerita, izinkan saya berterima kasih. karena bentuk terima kasih terbaik adalah doa, saya doakan semua orang yang telah membantu saya dan teman saya mengejar kereta pukul 19:25 Bandung-Jakarta ini, semoga dimudahkan segala urusannya, semoga dilimpahkan rezekinya dari tempat yang tidak disangka-sangka, dan semoga Allah membalas kebaikan kalian semua. aamiin. nuhun aa-aa. thank you so much.

pernah mengejar kereta yang sudah berjalan di depan mata?

sejujurnya saya hampir menyerah, mengikhlaskan hangusnya tiket kereta yang sudah berjalan ini. namun, ada beberapa petugas yang berbaik hati membantu menggedor-gedor pintu kereta, bahkan rela membantu menggangkutkan koper saya. saya pun ikut berlari, melompat ke arah pintu kereta.

fyi, sangat tidak direkomendasikan mengejar kereta yang sudah berjalan. sangat memacu adrenalin (re: histeria pun kalah) hingga menyumbat daya pikir dan memungkinkan lebam-lebam akibat terhantam badan kereta bagi pemula.

semua berawal dari (terpaksa) memajukan jadwal kembali karena 'amanah' yang harus diselesaikan. I really hate caught in the middle. entah siapa yang menjanjikan. bisa dihitung jari berapa kali masuk kelas pelatihan, sisanya menyepi di kamar, hingga laptop mengalami bluescreen dan belum ditemukan penyebabnya.

semakin hari di Bandung, I'm not in a good shape. di saat orang-orang sehabis pelatihan bisa shopping atau menonton film, saya cukup pasrah memelototi layar laptop. thanks to this awesome bluescreen, I can slightly take a break from pressure *dalam hati tetep nangis laptop tak kunjung sembuh, ga cocok emang si L dipakai buat kerja keras.

sabar. sabar. sabar. everything shall pass. semoga dirimu dikuatkan. amanah tidak pernah salah memilih pundak kan? namanya juga kerja :'

hari terakhir pelatihan (re: hari ini) pun dipenuhi banyak drama. pagi kasak-kusuk beli tiket, keluar masuk kelas, sore packing, dan penutupan yang sangat lama. teman saya sudah mulai was-was magrib belum selesai juga. saat itu saya masih tenang karena me-nik-ma-ti topik yang dibahas. saya suka kelas malam, sisanya I don't really know, apalagi kelas yang tidak saya ikuti ya.

18:25 makan malam 18:35 balik ke kamar, beres-beres, magriban, 18:45 mencari angkutan online tapi tak jumpa, 18:50 ke resepsionis minta carikan taksi, betapa beruntungnya kami, hari ini hari pertama taksi demo. so, kami berjuang mencari angkutan online lain, menunggu sekitar sepuluh menit. 19:01 masuk angkutan online, berskenario dengan pengemudinya karena demo, jalanan sepi taksi tak beroperasi, angkot pun. hujan deras. pengemudi mencoba jalur alternatif karena kami bilang kami mengejar kereta 19:25, sayang harus putar arah karena banjir. mulai was-was 19:17 masih belum sampai. 19:20 masih belum sampai. pengemudi meyakinkan bahwa ada kemungkinan keberangkatan ditunda. thanks 19:24 tiba di stasiun. namun, tiket sudah tidak bisa dicetak saudara-saudara.

mendengar bunyi peluit kereta kami pun berlari ke pintu keberangkatan. forget about checking identity card. sekuriti langsung otomatis membolehkan kami masuk, detik berikutnya di belakang mereka teriak sudah tidak bisa melihat kereta yang sudah berjalan. namun, petugas di sekitar kereta bertindak sebaliknya. terima kasih. masih banyak orang baik di muka bumi ini. kamu jangan berhenti menjadi orang baik ya, jangan lelah menjadi orang baik, sekeras apapun dunia yang kamu jalani.

n.b: ditulis saat masih di dalam perjalanan menuju Jakarta

Senin, 20 Februari 2017

Teman Imaji

Judul: Teman Imaji
Penulis: Mutia Prawitasari
Penerbit: CV iDS
Terbit: 2015
Tebal: xii + 388 halaman

Akhir Januari lalu ikut pre-order buku self publishing ini atas rekomendasi seorang teman yang cukup saya percaya selera bacaannya. Sudah lebih seminggu lalu buku ini mendarat di kosan, baru sempat menuntaskannya kemarin (15/02). Seharian ini hujan, sehingga tertarik menuntaskan review buku ini.
"Kejujuran itu milik kita yang paling berharga." - hlm. 70
Buku ini berkisah tentang anak kota hujan--Kica. Orang-yang-menulis. Unik. Sebagian karakternya bisa saya terima, sebagian lagi tidak habis pikir. Aneh. Namun, kalau dipikir-pikir lagi kita semua memang aneh atau bisa dibilang punya keanehan tertentu bukan? Keanehan itulah yang kemudian membuat kita menemukan teman dengan satu frekuensi aneh yang serupa.

Banyu. Mantan anak kota hujan. Sosok to good to be true bagi Kica. Seseorang yang bisa memahami apa yang tidak ia katakan dengan baik. Seseorang yang bisa mengatakan dengan baik apa yang tidak ia pahami. Seseorang yang bahkan bisa memahami apa yang tidak ia katakan. Seorang teman yang amat mengerti dirinya yang aneh. Pesan satu kayak Banyu boleh?
"There is no such to good to be true Kica. If  he's too good to be true, you can always do something to be as good as he is." - hlm. 104
Ah, Adit. Sosok yang berpotensi charming, tapi sayang langsung luntur di bab-bab menuju akhir. Kasian loh. Jadi dia begitu saja? Pesan moralnya, sebaik apa pun kita terlihat di mata orang lain, tetap diri kita sendirilah yang paling tahu bagaimana sejatinya kita. 

Bukunya sangat fiksi menurut saya, meminjam istilah Kica--to good to be true. Namun, patut diakui sarat makna. Banyak pesan moral yang diselipkan penulis, yang cukup bisa diterima, yang sayang untuk dilewatkan. Well, setiap karya akan menemukan penikmatnya. Saran ukuran hurufnya mungkin bisa sedikit diperbesar dan pakai font-family Serif agar menambah kenikmatan pembaca hard copies Mbak Uti. Hehe.
"Karena Tuhan menyiapkan yang membuka hati, Kak, bukan membuka hati yang siap." - hlm. 289
"Menemukan jodoh itu rumit Kirana... Seagama belum tentu seiman. Seiman belum tentu setujuan. Setujuan belum tentu sejalan. Sejalan belum tentu sekufu." - hlm. 315
"Kita tidak memilih. Kita tidak dipilih. Tapi kita dipilihkan. Oleh Allah. Maha Pembolak-balik dan Penjaga Hati yang sesungguhnya. Tapi... kita bisa memilih. Untuk jujur atau tidak. Dengan hati kita..." - hlm. 364
Bagian yang paling menggelitik bagi yang terserang salah satu sindrom quarter-life crisis. Entahlah. Kita memang tidak pernah benar-benar tahu hingga kita sendiri menjalaninya. I don't wish, I pray.

Lautan kering menyisakan genangan. Hujan kering menyisakan kenangan. Semoga setiap hujan yang turun senantiasa memberi manfaat bagi kita.

Salam dari pecinta udara basah setelah hujan.

Minggu, 19 Februari 2017

Car free yay!

Setiap orang punya cara farewell masing-masing. Kami mengadakannya dengan cara yang tidak biasa (re: CFD). Absurd, tapi saya pernah diajak ala-ala farewell yang lebih absurd (re: menikmati malam di Monas). Hell-o. Apa coba yang dinikmati? Tentu saja saya tolak dari dering pertama, apalagi berpotensi dijadikan obat nyamuk :p

Seminggu yang lalu (12/02), akhirnya jadi juga CFD, setelah seminggu yang lalunya lagi gagal. Pagi hari itu awalnya mendung, tidak hujan. Berhubung minggu lalunya gagal dan tidak memungkinkan minggu depannya lagi, karena mereka sudah memasuki waktu penempatan, dijadikanlah agenda yang satu ini.

Setelah berbagai insiden di pagi hari, kami berangkat. Sampai Kampung Melayu, pouring rain. Sangat deras. Bis tujuan tak kunjung tampak. Kamipun beralih rute, sambil menunggu hujan reda. Jika dihitung, ada lima kali kami berganti bis. Beruntung sampai Sarinah hujan mereda.

Tidak seorang pun diantara kami yang belum pernah ke CFD. Namun, tetap saja tersihir berbagai pernak-pernik di bibir Jalan Sudirman. Sudah jauh-jauh bertualang, kami pun mengumpulkan niat jogging. Sampai HI, hujan turun lagi. Orang-orang berteduh, termasuk kami. Hujan waktu itu terlihat awet, sehingga kami memutuskan mencari sarapan saja. Forget about jogging :p

Beruntung ada satu diantara kami yang sedia payung, walau satu payung tidak pernah cukup untuk membuat lima orang sekaligus tidak basah. Payungnya cukup melindungi kepala, sisanya tidak. Dua orang diantara kami pun memutuskan bermain hujan, toh hujan tidak akan melukaimu, hanya dingin di kulit, hangat di hati :v

Setelah sarapan, hujan mereda. Tidak terbesit niatan jogging lagi setelah perut terisi. Bukannya membakar, malah menimbun lemak. Maaf bagi yang gagal diet. Jangan jera ikut acara absurd kami lagi ya. Sampai jumpa di waktu yang masih dirahasiakan oleh-Nya :)


Selasa, 24 Januari 2017

Seribu Wajah Ayah

Judul: Seribu Wajah Ayah
Penulis: Azhar Nurun Ala
Penerbit: Azharologia
Terbit: 2014
Tebal: 158 halaman

"Karena cintanya adalah pancaran cahaya--tak 'kan berhenti hanya karena kau menutup jendela."

Sudah cukup lama mengenal karya penulis yang satu ini, sebelumnya melalui Ja(t)uh dan Tuhan Maha Romantis. Ketika melihat buku ini di tumpukan temen tetiba ingin membacanya, dan setelah menelusuri lagi ada dua judul buku barunya yang belum ku baca. Cover TMR berubah jadi kiwi, jadi pengen punya, terlebih Konspirasi Semesta :3

Buku ini menemani perjalanan pelatihan minggu kedua Januari lalu, sepanjang rel kereta dari-menuju Bandung. Buku ini terbilang padat dan berat. Sepertinya banyak yang ingin disampaikan penulis, tapi bagi pembaca macam saya yang tidak begitu sastra, belum tersampaikan dengan halus. Perlu sedikit berkerut-kerut terlebih dahulu.
"..., tapi memang itulah manusia: tak selalu yang kita yakini berani kita jalani." - hlm. 20
Bagian paling menyentuh ketika tokoh menulis puisi untuk ibu. Bagaimana mungkin seorang tokoh yang hanya dibesarkan oleh ayahnya menulis puisi untuk ibu? Kamu harus membaca sendiri rangkaian ceritanya hingga puisi di halaman 94. Bohong kalau tidak berkaca-kaca atau meneteskan air mata membaca cerita novel ini bagi orang yang level sensitifnya di atas rata-rata, dan bagian saya jatuh di #MomenBarengAyah. 

Pesan moral yang paling berkesan, ketika berkarier jangan lupa bahwa orang tua kita juga bertambah tua. Terkadang ada orang tua yang tidak ingin diketahui anaknya bahwa beliau sedang sakit. Terkadang ada orang tua yang mengurungkan niat menelpon karena khawatir anaknya sedang sibuk. Inisiatiflah sebagai anak, bertanya kabar beliau terlebih dahulu, menelpon terlebih dahulu, sebelum semuanya terlambat.

Pesan lain yang saya peroleh di luar buku, tapi masih berhubungan. Cari tahulah kehendak orang tua, cari tahu apa harapan beliau, apa keinginan beliau terhadap anaknya. Bertanyalah. Terkadang apa yang orang tua ucapkan belum semuanya mewakili apa keinginan beliau. Bagi kalian yang masih tinggal dengan orang tua bisa menelusurinya lewat gestur beliau, mendengarkan cerita beliau ke orang lain, dsb. Bagi yang jarak jauh dengan orang tuanya, bersikaplah lebih sensitif, pertajam pendengaran kalian melalui telpon. Setelah mengetahui keinganan beliau, kembalikan lagi ke diri kalian, apakah bersedia mengikuti keinginan beliau atau berkompromi atau bersikap egois. Semua itu pilihan, diri kitalah yang akan menjalani, tapi menurut hemat saya, apa-apa keinginan orang tua tetap perlu kita pertimbangkan dalam pengambilan keputusan.
"Apa yang kita lihat tak selalu seperti apa yang sebenarnya." - hlm. 21