CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 21 April 2017

way back home

"Then I smell a familiar scent and hear a familiar sound." - AKMU
You choose such a good date to go home. Meninggalkan ibukota di tengah riuhnya putaran kedua. I can’t participate in election anyway. But, may Muslim leaders be elected. Semoga ya, semoga hasil quick count-nya sesuai.

Well, I just wanna go out from Jekardah for a while. Life these days is getting rough. Exhausted, I need an escape. Dan ya, I’m glad my ‘home’ still same. Sekarang ketika libur, saya prefer pulang daripada jalan-jalan. Sesuka apapun saya dengan travelling, kadang mendengar ocehan orang tua jauh lebih membahagiakan. Kita tidak pernah tau sampai berapa lama lagi kita bisa membersamai mereka. Taman bermain, pantai, gunung bisa menunggu. So, go home fellas.

Pulang kali ini saya tidak membawa buku bacaan, jadi tidak ada review. Barangkali ada yang nyariin :p Pulang kali ini membawa sejumlah beban pikiran seperti pulang akhir tahun lalu, bedanya beberapa sudah memperoleh jawaban. Feeling relieved, meskipun awalnya kalut-marut. Sangat penting mengambil keputusan ketika sober, not overwhelming. Berusaha segera, tapi tidak tergesa-gesa. Sisanya, biarkan semesta bekerja.

Selamat hari Kartini!

Selasa, 11 April 2017

another perspective

"Ingat, selalu ada hal-hal bahagia yang bisa kita rengkuh. Sekecil apapun, tumbuhkan. Kumpulkan remah-remah bahagia itu. Sampai sakumu penuh. Dipenuhi syukur.
Beri ruang pada hati yang sedang biru untuk memahami bahwa setelah kesulitan, pasti ada kemudahan.
Semua akan terlewati dengan baik-baik saja. Jangan khawatir." - ajinurafifah
Hari kesekian dua minggu lalu di Kendari tergelitik tulisan Selalu Ada Bahagia yang Bisa Disyukuri karya mbak Apik. Betapa punya sahabat yang rela jauh-jauh hujan-hujanan mendatangi, pun bersedia direpotkan ini itu patut disyukuri. Betapa punya teman yang selelah-lelahnya tetap menyempatkan menyebrang untuk berkunjung patut disyukuri. Betapa punya teman-teman baru kenal yang bersedia menemani makan ataupun jalan-jalan patut disyukuri. Sungguh, selalu ada bahagia yang bisa disyukuri.

Hari pertama yang melelahkan pun hari-hari berikutnya, tumpukan surat cinta penggantian sampel, hingga menunda rencana pulang bulan lalu. Mungkin ini yang namanya bahagia yang satu digantikan bahagia yang lain. Tetap ada kepingan-kepingan bahagia yang bisa kamu pungut, seruwet apapun kehidupanmu. Pernah dengar istilah bahagia itu pilihan? Maka pilihlah untuk bahagia. Selamat tinggal frasa bahagia yang tertinggal di masa lalu. Di masa sekarang, pun di masa yang akan datang mungkin kamu bisa bahagia. Apalagi kalau sudah menemukan jawab ya, jawaban atas doa-doa yang kamu gantungkan di langit. Kemudian vanish into thin air *abaikan.

Satu hal lagi yang ingin saya bagi. Fyi, jalanan ibukota sedang tidak sehat. Betapa menyedihkan lembar presensi saya minggu lalu, hingga puncaknya Jumat lalu perjalanan pulang mencapai tiga jam. Gils. Kalau di rumah mungkin sudah bisa tengok ponakan baru. Ah, ada perasaan ingin rehat dari ibukota ini dan kembali setelah pembangunan selesai saja. Tapi ya, setelah mendengar sudut pandang lain kenapa pembangunan serentak di berbagai titik ibukota ini perlu digalakan, membuat saya cukup lapang hampir satu jam berdiri dalam bis menunggu bisa menyebrang menuju Matraman hari berikutnya.

Penebalan jalan, pembangunan jembatan double-double track, pembangunan LRT, flyover dan proyek lainnya membuat macet parah di berbagai titik. Pengguna jalan (termasuk saya) tentu lelah dan banyak mengeluh. Ingin mengubah rute, tapi di ruas jalan lain pun belum tentu bebas macet. Di tengah keriuhan politiknya, pembangunan ini memang harus dimulai, proyek-proyek yang tidak disukai banyak orang ini pun harus tetap berjalan demi perbaikan. Kita sebagai pengguna jalan harus ekstra sabar dan harus banyak-banyak melapangkan dada. Semoga kedepannya sarana dan prasarana transportasi ibukota semakin baik.

Minggu, 02 April 2017

Letters to Karel

Judul: Letters to Karel
Penulis: Nasrul Anwar
Penerbit: - (self publishing)
Terbit: 2014
Tebal: 220 halaman

Jika kamu membaca surat-surat ini kelak, entah di bilangan berapa usiamu menginjak, surat ini hanyalah salah satu cara abi untuk mengenalkan ummi kamu, Karel. Bukan karena ummi perempuan terbaik, masih banyak jutaan perempuan di luar sana yang jauh lebih baik daripada ummi. Tapi agar kamu bisa selalu berbakti kepadanya, Sayang. Walaupun tidak bisa secara langsung, setidaknya dengan meneladani kebaikan-kebaikannya, dengan berusaha sebisa mungkin untuk menjadi anak yang baik lagi sholeh. Karena tak ada cara terbaik untuk membalas kebaikan orangtua, selain dengan menjadi anak yang sholeh/ah. Karena anak yang soleh/ah akan selalu menjadi investasi orangtua sampai di akhirat nanti.
***
Kisah nyata perjuangan seorang ibu yang melahirkan anaknya hingga meregang nyawa, perjuangan seorang ayah yang membesarkan bayinya tanpa seorang ibu dan betapa indahnya rencana Tuhan di balik itu.

Sudah cukup lama buku titipan ini berada di rak buku saya. Tertarik membacanya simply karena terlanjur suka dengan buku kedua penulis yang terlebih dulu saya baca (review menyusul :D). Buku ini berisi kumpulan surat inspiratif seorang ayah untuk anaknya. Perlu waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini, sebab lembar demi lembarnya perlu diresapi dan direnungkan. Buku ini pun menemani perjalanan saya ke Kendari minggu lalu. Tak disangka saya bisa langsung mengantarkan buku ini ke pemiliknya.

Ketika membaca buku kedua saya sempat bertanya-tanya, apakah istrinya sudah meninggal? Dan pertanyaan itu pun terjawab selepas membaca buku ini. Sangat sulit sekedar tidak berkaca-kaca membaca buku ini. Betapa tidak mudah perjuangan seorang ayah yang membesarkan bayinya seorang diri. Mungkin benar kata Salim A. Fillah: sebelum menikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. setelah menikah, ia digital variatif. Sebelum menikah, sumber utama kegamangan mungkin mengenai masa depan atau memilih pasangan hidup. Setelah menikah, mungkin akan jauh lebih variatif lagi. Entahlah. Sebelum racauan ini makin menjurus, saya bagikan quotes saja di sini.
"Mau tidak mau, cepat atau lambat, orang di sekitar kita akan pergi, berganti dengan orang yang baru. Atau diri kita sendiri yang harus pergi, hidup di tempat dan suasana baru. Jangan khawatir Sholeh, karena hidup bukanlah tentang bersama siapa kita menjalaninya, tapi bagaimana kita menjalaninya. Siapapun orang yang membersamai kita, jika kita berusaha untuk menjalaninya dengan baik, maka hidup kita juga akan berjalan baik, Sayang. Hidup kita harus dan akan terus berjalan; bersama siapapun, di tempat manapun, tapi tidak sampai kapanpun." - hlm. 40-41
"Di dunia ini, masih banyak orang yang lebih susah daripada kita, Sayang. Masih banyak orang yang memiliki ujian yang berkali-kali lipat besarnya daripada ujian yang kita punya. Jadi jangan pernah merasa sebagai orang paling susah sedunia, merasa kurang beruntung, sedih, mengeluh, dan sebagainya yang berlebihan. Karena sekali lagi, di luar sana, masih banyak orang yang lebih layak untuk bersedih daripada kita, tapi mereka masih bisa merasa bahagia. Masih banyak orang yang lebih layak mengeluh daripada kita, tapi mereka masih tetap bersyukur. Masih banyak orang yang lebih layak berputus asa daripada kita, tapi mereka masih tetap berjuang. Masih banyak orang yang lebih susah daripada kita, tapi mereka masih tetap bersabar." - hlm. 125
"Selalu ada kemudahan untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh, Sayang. Dalam hal apapun itu. Masalahnya terkadang kita harus diuji dulu, untuk mengetahui seberapa sungguh-sungguh kita menginginkan sesuatu dan mengusahakannya. Banyak orang yang gagal dalam ujian kesungguhan. Belum selesai, tapi terburu-buru menginginkan kemudahan. Padahal bisa jadi kita memang belum sampai pada puncak kesungguhan kita. Padahal bisa jadi, kita memang belum layak mendapatkan hadiah kemudahan itu. Saat suatu hari nanti hidup kamu terasa sulit, artinya pada saat itu kamu harus meningkatkan kesungguhan kamu. Karena kesungguhan adalah jembatan penyebrangan, dari kesulitan menuju kemudahan." - hlm. 174
"Dalam hidup ini sebenarnya kita hanya akan menghadapi dua hal, Karel; apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak bisa kita kendalikan. Apa yang bisa kita kendalikan harus kita ikhtiarkan semaksimal mungkin, dan apa yang tidak; harus kita terima dengan selapang mungkin. Usaha kita, perjuangan kita, pengorbanan kita adalah apa yang bisa kita kendalikan. Sedangkan hasilnya tidak bisa kita kendalikan, Allah yang lebih berhak menentukan, Allah yang lebih tahu mana yang terbaik bagi kita." - hlm. 185