CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 15 Desember 2019

companion

dulu sangat bisa pergi ke mana-mana sendiri, ke tempat yang absurd sekalipun. sekarang juga bisa sih, tapi entah kenapa merasa lebih baik jika ada temannya. ada yang menyadari, tak menduga katanya. I rarely bail out from my own agendas, indeed. I still never go to cinema alone.

dulu I used to be a kind of EO, mengambil inisiatif mengurus sesuatu sebagai tim anti wacana club. sekarang menjadi lebih santai, lebih suka mengekor saja. maybe I just tired of trying so hard. sekarang agenda dadakan pun lebih sering terlaksana, yang terencana cenderung bermuara wacana. just try it, seberapa ku berjuang melawan kemageran. haha.

except for my bestfriends sih, I even willingly to commute from Depok two days in a row, dengan alasan sangat absurd: menemaninya menginap di suite room. when I was in a vulnerable state, sampai ambil CS, tapi malamnya pergi menemani nonton. dasar aku. wkwk. I will make a time somehow, meskipun kurang dari satu jam sebelum ganti hari, after my packed agendas. I will go to you. just know that I stay tuned in if you have something to tell. I will lend you my ears, although I didn't give any solutions. hehe.

so, you're that kind of person. its okay to change. you still being you. just in case you missing your old self, you always can go back :')

Sabtu, 30 November 2019

Heal Yourself: Untukmu yang Pernah Terluka

Judul: Heal Yourself: Untukmu yang Pernah Terluka
Penulis: Novie Octaviane Mufti
Penerbit: CV.IDS
Terbit: Oktober 2019
Tebal: 270 halaman

Seseorang sedang duduk di balik jendela. Seluruh ruang ditutupnya rapat-rapat sebab ia tidak ingin satu sosok pun mengetahui keberadaannya. Tangisnya menggema dalam diam, menggaung tanpa kata-kata. Pikirnya berkelana pada berbagai kilasan masa ketika ia dilupakan, ditinggalkan, dilukai, juga dikhianati hingga ia merasa kehilangan dirinya sendiri.

Kamu tahu, nampaknya ia sedang benar-benar membutuhkan sosok teman yang berbesar hati mendengarkan, menyapa perasaan, menemani berjuang, dan membantunya mengurai benang-benang kusut dari dalam kepalanya yang berjuntaian. “Siapakah dia?” Mungkin itu tanyamu dalam hati. Sekarang, pandangi wajahmu di cermin.

Di sana akan kamu dapati sesosok manusia yang hatinya istimewa sebab dirinya begitu berharga. Sosok yang kamu lihat itu adalah orang yang sejak tadi kita bicarakan.
Maukah kamu menemaninya berjuang?
***

Buku yang masih hangat, belum sampai sebulan mendarat. Memilih menuntaskan buku ini di antara tumpukan buku yang lain. Entah karena belakangan semacam kehilangan diri sendiri, entah sebab apa.
"Kukira aku hanya bisa terluka oleh orang lain atau segala sesuatu yang ada di luar diri. Namun, ternyata aku pun bisa terluka karena diriku sendiri. Lalu harus bagaimana?" - hlm. 1
Pertama kali membaca tulisan teh Novie dalam Bertumbuh. Kemudian sekitar Juni lalu menemukan satu tulisannya dalam tumblr yang berjudul Heal Yourself #29: Quarter Life Crisis, Harus Gelisah, Kah? dan tersadarkan, kita seringkali mengkhawatirkan apa-apa yang sudah ditetapkan Allah #jleb.

Buku ini dirintis penulis dengan tagline #30DaysRamadhanWriting di akun ig @healyourself.id. Sungguh menarik, silakan dikulik, terlebih bagi yang tertarik akan isu kesehatan mental. Buku ini juga mengaitkan berbagai tulisannya dengan literatur psikologi, Al Quran dan hadist. Ya, tulisannya bergenre Islamic self help, hingga sampai pada pemahaman bahwa segala sesuatu mesti dikembalikan kepada Allah SWT.
"By remembering and retelling events, people can deal and making sense of the past." - Charmaz, 1991
Bonus writing for healing journal-nya sepertinya perlu dicoba. Belajar untuk meregulasi emosi. Selain itu, buku ini juga memberikan tips sebagai teman bercerita. Jadi belajar seni mendengarkan. Carilah teman bercerita, jika merasa tak mampu menanggung masalah sendiri, pun tidak mengapa jikalau membutuhkan bantuan psikolog.

Ohiya, buku ini self publishing, jadi yang berminat mengadopsi bisa lewat langitlangit.yk saat periode pemesanan dibuka. Menemukan dua paragraf berulang pada tulisan yang berjudul "Ilfeel sama Allah?", mungkin bisa diperbaiki pada cetakan berikutnya. Rasanya juga ketemu sedikit typo, tapi tidak sampai mengganggu esensi isi. Terima kasih telah menuliskan buku ini teh :')
"The best moments usually occur when a person's body or mind is stretched to its limits in a voluntary effort to accomplish something difficult and worthwhile." - Mihaly Csikszentmihalyi

Kamis, 31 Oktober 2019

Perjalanan Samtama

It's been a long time. Semburat jingga masih malu-malu dibalik jendela, suatu sabtu pagi di depan Jalan Sudirman terlihat salah satu petugas oranye tengah beraksi. Ada yang lebih pagi sudah mulai bekerja, ada yang mengambil peran agar jalanan terlihat lebih bersih. Kemudian tergerak dengan ikhlas membuka laptop pagi itu. Tidak ada salahnya (sesekali) menambah jam kerja sukarela di weekend, sebelum memulai serangkaian agenda yang lain.


Minggu berikutnya mendapati postingan di atas, tagline-nya menarik, sampah tanggung jawab bersama, indeed. Pada kalimat penutupnya ditawarkan perjalanan menuju TPST Bantargebang, untuk merasakan kondisi nyatanya, sekaligus belajar bagaimana cara memilah sampah yang benar, mengolahnya, membuat kompos sendiri, mendaur ulang, dan disadarkan apa jadinya kalau sampah tidak diolah dengan benar.

Kemudian saya memutuskan mendaftar, meskipun tak berhasil mengajak satu teman pun, hingga menjelang batas akhir pendaftaran. Salah satu pertanyaan yang menggelitik adalah motivasi bergabung dalam perjalanan Samtama. Selain yang tertulis, there are another reasons that I keep. Haha. Salah satunya yaitu penasaran dengan setting Aroma Karsa, ingin mencoba sekelebat merasakan menjadi Jati. Masih tidak habis pikir, warung di sana pun benar-benar ada.

perhatikan bagian tengah di zona 3 ini

Rabu, 18 September 2019

The Book Imaginary Beliefs

Judul: The Book of Imaginary Beliefs
Penulis: Lala Bohang
Penerbit: Gramedia
Terbit: Februari 2019
Tebal: 152 halaman

Earth is blue, fragile, light, and not a star. And we’re part of it, not just living on it. Earth is a battle ground where all species constantly face an invisible war. And we’re the main actor of growth, destruction, and peace.

Someone’s precious is someone else’s garbage.
Someone’s interest is someone else’s boredom.
Someone’s principle is someone else’s violation.
Someone’s contentment is someone else’s pressure.
Someone’s recipe for immunity is someone else’s cause of death.
Either you’re the “someone” or the “someone else”, it doesn’t matter because confusion will always bounce back to you, no matter how far you’ve been running away from it.

It’s about facing an empty page each day, it’s about waking up in the morning deciding to be alive, it’s about choosing which mistakes to avoid, it’s about considering what and who to ignore, it’s about crafting a self that’s truly your own, it’s about faking a smile to cure the pain of others, it’s about continuously moving forward because going back is never a choice, it’s about looking at the blue sky and having small talks with it, it’s about everything that feels small and unworthy, it’s about becoming buoyant, never being trapped between other people’s cacophonic agendas, it’s about counting your breath.
***

Buku ini merupakan sekuel The Book of Forbidden Feeling dan The Book of Invisible Questions. Tertarik men-check out-nya sebulan lalu karena diskon, judul, berwarna hijau dan sepotong kalimat pada blurb. 
Either you’re the “someone” or the “someone else”
Ha. Tidak bisa dipungkiri bahwa saya mungkin kadang kala menjadi the "someone else". Bagi yang level bodo amat-nya di atas rata-rata, tidak perlu berbusa-busa mendebat penilaian orang lain terhadap kita, hal yang di luar kendali kita. Just stay focus in your values and priorities.
"You feel anxious when you have nothing to do. You feel anxious when you haven't checked one of your long to-do lists."
Akan terasa buku ini terbilang dewasa dibanding kedua saudaranya. Pada suatu halaman diingatkan untuk stop being so hard on yourself. Bagian yang paling relatable. Sisanya, entahlah, I can't really figured it out, esp the long stories. Maybe I'll reread this book, agar lebih meresapinya :p

Buku ini masih dilengkapi dengan ilustrasi yang weirdly beautiful, dengan ciri khasnya, the cute stripe girl. Haha. Overall, dari ketiga buku, saya tetap merasa lebih berkesan membaca buku yang pertama, lebih dark somehow. Kembali ke selera masing-masing. Selamat membaca.

Sabtu, 24 Agustus 2019

Jakarta Aquarium

Akhir tahun lalu hanya mengunjungi virtual aquarium, kemudian awal bulan Agustus (04/08) terealisasi mengunjungi real aquarium bersama tamu dadakan, so happy little kid. Haha. Memang rezekinya tetap dapat tiket promo, hampir separuh harga weekend. Normalnya harga tiket masuk  aquarium yang beroperasi sejak 2017 ini kala weekday 150ribu dan weekend 200ribu. Berlokasi di NEO Soho, jikalau naik transjakarta bisa turun di S. Parman Podomoro. Lalu, menyeberang dari Central Park melalui Jembatan Eco Skywalk yang katanya lebih bagus dilihat kelap-kelipnya saat malam hari. Aquarium terletak di LG.

finding nemo (re: clownfish) and dory (re: surgeonfish)

Bagi yang pernah snorkelling, tentu tidak asing melihat aneka ikan perairan dangkal. Aquarium ini  menawarkan pengalaman hal serupa versi mini-nya. Anemone lautnya pun hidup. Ada beragam ikan, termasuk nemo dan dory. Selain itu, ada aneka satwa darat, seperti kura-kura, iguana, kukang, biawak, dan landak. Kemudian beranjak mulai melihat aneka ikan perairan dalam, seperti berbagai jenis hiu hingga pari manta.

Senin, 29 Juli 2019

(not) official trip

Strolling with large group was not so bad. Tak masalah membaurkan berbagai angkatan. Terima kasih tour guide dadakan. Terima kasih PIC andalan. Budget traveling terlaksana juga awal (lima) bulan lalu dengan perombakan jadwal di sana-sini. Next, science art museum mesti diagendakan ulang ya. Haha.

Seminggu sebelum berangkat, beberapa teman baru mengurus benda hijau. Sekarang sepertinya jauh lebih mudah prosesnya, bisa mendaftar online via aplikasi dan bisa memantau progress dari aplikasi yang sama. Pun sudah dapat mengantongi benda hijau tersebut kurang dari lima hari kerja. Selagi luang, tidak ada salahnya menyempatkan diri mengurusnya (bagi yang belum punya) sebagai aset yang perlu dimiliki.
sengaja blur :p

Tidak ada kantong yang jebol sepanjang Orchard Road, paling-paling hanya kaki yang pegal berkelana. Sangat disarankan memakai alas kaki yang nyaman kemana pun, karena kebanyakan menggunakan public tranport dan berjalan cukup jauh sampai tujuan. Transportasi umum yang digunakan kadang bus, kadang mrt yang jalurnya mudah dipahami, typical developed country. You can pay using Tourist Pass (STP) or Ez-link card. I prefer the latter.

Rabu, 17 Juli 2019

Seni Tinggal di Bumi

Judul: Seni Tinggal di Bumi
Penulis: Farah Qoonita
Penerbit: Kanan Publishing
Terbit: 2018
Tebal: 178 halaman

Karena kita hidup di sepetak kerajaan-Nya, ketahui seni tinggal di sana.

Mulai dari, Seni Melangkah di Bumi, tentang bagaimana kita menorehkan setiap guratan warna-warni kuas dalam kanvas kehidupan. Tentang Hati yang Ingin Dicintai, perihal bagaimana seharusnya kita memerlakukan hati sang pengemudi diri. Tentang Perempuan, ketahui bagaimana spesialnya perempuan di mata-Nya. Manusia Langit, kenali dan pelajari lebih jauh manusia-manusia yang telah sukses mendapat medali kemenangan nan agung. Dunia Di Sekitarmu, ketahui bagaimana romantisme perjuangan pembebasan Palestina, dan perihal dunia Islam pada umumnya. Terakhir, Menapaki Keabadian, tentang bagaimana kita seharusnya bersikap pada kehidupan setelah kematian.

Selamat menorehkan karya seni paling indah di dunia untuk negeri akhiratmu.

***

Sudah sejak tahun lalu (kadang-kadang) mengintip akun teh qoon, laman dakwah yang breathtaking. Sempat tertarik beli bukunya, tapi baru tergerak dua bulan lalu mengadopsinya dan menargetkan menamatkannya dalam bulan Ramadhan.
"Do what you love? Do what Allah loves!" - hlm. 27
Diksi buku ini terbilang ringan, penulis memparafrasakan aneka cerita Sirah Nabawiyah dikaitkan keseharian dengan sederhana. Penuh hikmah. Agaknya menjembatani bagi yang belum membaca redaksi cerita sahabat nabi secara utuh.

Buku ini bisa dicerna per bab secara acak, kecuali beberapa tulisan yang berupa cerpen. Jika membacanya urut, semakin memasuki tema besar terakhir, semakin keras tamparannya. Semakin dibuat merenung, salah satunya oleh tulisan berjudul "meminta recehan dilemparkan dari langit".
"Jangan-jangan selama ini kita mengerjakan akhirat hanya untuk dunia. Jangan-jangan kita lebih merindu untuk bergelimang harta, dibanding mendapatkan rida, ampunan, dan kasih sayang-Nya." - hlm. 162
Sedikit terganggu dengan beberapa typo, terlebih body tulisan yang kurang konsisten antara Serif atau Sans-Serif. I prefer Serif tho buat buku cetak begini. Despite of anything, formating tidak mengurangi pesan yang ingin disampaikan teh qoon. Grab the new-catchy-cover book dan selamat terinspirasi.

Sabtu, 15 Juni 2019

BukaTalks: Questions of Life

Sebulan lalu (11/05) menghadiri acara BukaTalks sekaligus buka bersama teman sefase bertumbuh. Berawal dari ajakan yang tumben tidak dadakan, saya pun berpartisipasi karena ada penulis "Filosofi Teras" menjadi salah satu pembicaranya. Buku yang masuk wishlist, menunggu bacaan habis dulu baru pinjam. Wkwk. Okeskip.


Najelaa Shihab. Korban pendidikan yang memilih berdaya, mengambil peran untuk pendidikan Indonesia. Proses belajar mengajar cenderung masih sama dari zaman ke zaman, yang hanya mengikuti kurikulum, tanpa tau dan memikirkan relevansi terhadap tujuan hidup. Padahal sebenarnya sejak lahir anak sudah merdeka belajar dengan banyak bertanya. Namun, fitrah anak untuk selalu bertanya dan berekspresi itu dimatikan karena pola pendidikan.

Ciri-ciri orang yang merdeka belajar:
1. Punya komitmen dengan tujuan; murid jarang memiliki pemahaman yang utuh, tujuannya sebagian besar hanya nilai atau peringkat
2. Mandiri; yakin punya kendali pada apapun yang terjadi pada dirinya.
3. Berani berefleksi; murid jarang mencari feedback, padahal perlu berkolaborasi dengan orang lain.

#semuamuridsemuaguru, semua diri kita menjadi murid sekaligus guru. Mari mengambil peran untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik kedepannya.


dr. Jiemi Ardian. Psikiater yang cukup sering tweet-nya mampir timeline meskipun tidak saya follow. Bahasan self awarness menarik minat jiwa-jiwa yang terpapar vulnerability belakangan ini, termasuk saya mungkin (#eh) yang masih belajar meregulasi emosi.

Topik yang disampaikan dr. Jiemi kemarin terkesan ilmiah, namun mudah dicerna. Dibuka dengan kisah salah satu pasiennya yang kemudian dikaitkan dengan konsep definisi: sehat; mental dissorder. Berdasarkan sebuah penelitian, bahagia hanya dipengaruhi 10 persen oleh faktor-faktor/kejadian luar seperti stress, kehidupan, masalah; 50 persennya genetik/nasib yang tidak dapat diubah; sisanya 40 persen dipengaruhi respon internal kita.

Jumat, 17 Mei 2019

Follow @MerryRiana

Judul: Follow @MerryRiana
Penulis: Debbie Widjaja
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2013
Tebal: 360 halaman

5 Reasons Why My Life is Screwed Up:

5. Setelah setahun bekerja di Everell, penampilanku yang berantakan cocok sekali untuk menjadikanku model majalah Cosmopolitan. Judul artikelnya: Tanda-Tanda Anda Bekerja Terlalu Keras.

4. Pacarku marah besar karena katanya aku berubah jadi monster menyeramkan. Dan, oh, mungkin dia selingkuh dengan Agita, pramugari cantik itu.

3. Setiap kali pembaca novelku bertanya, “Kapan novel selanjutnya terbit, Kak?”, aku cuma bisa meringis dan berkelit, “Belum sempat, masih sibuk nih.”

2. Daftar orang yang kukecewakan sudah melampaui daftar film horor Indonesia. Yang paling parah, orang yang sangat kusayangi, Papa dan Mama, justru berada di urutan teratas!

But the number 1 reason why my life is screwed up is:

1. I DON’T EVEN HAVE A LIFE ANYMORE!

Bella punya karier cemerlang yang membentang di hadapannya—tapi ada harga yang harus dibayar. Dan ketika satu per satu masalah memukulnya, barulah ia terenyak dan bertanya, “Apakah aku ada di jalan yang benar?” Lalu cahaya terang itu muncul... lewat sosok yang sangat menginspirasinya: Merry Riana. Dari Merry Riana, Bella mempelajari hal-hal berharga. Makna perjuangan, kesuksesan, dan bagaimana menjalani hidup yang utuh sesuai passion.

***

Sudah lama sekali buku ini, mungkin saya saja yang baru membacanya di 2019. Wkwk. I'm not into Merry Riana back then (sampai sekarang pun). Pernah sekali ikut semacam seminar turunannya, but I didn't get it. Sorry, I just pictured promotions everywhere. Even I didn't post anything about it in here. I also haven't watched the movie.

Kembali ke buku ini, isinya bercerita seorang Bella yang fanatik akan Miss Merry. Akan ada kutipan cuitan (twitter) Miss Merry pada setiap babnya. Penulis (sepertinya) menuliskan kisahnya sendiri, mulai dari bagaimana mengetahui Miss Merry pertama kali, lalu terinspirasi hingga bagaimana hidupnya menjadi lebih baik.

Cerita Bella ini beralur maju mundur. Baru mulai tertarik menamatkan kisahnya ketika masuk petualangan NEXT—New Enterprise Executive Training. Salah satu percakapan menarik antara sang ayah dan Bella; perumpamaan hidup seperti juggling lima bola sekaligus: pekerjaan, keluarga, kesehatan, spiritualitas, dan teman-teman. Kelimanya penting dan usahakan supaya semuanya tetap ada di udara. Bola pekerjaan terbuat dari karet, sedangkan empat bola lainnya terbuat dari kaca.
"Dalam pekerjaan atau bisnis, kalaupun kamu sekarang dipecat atau bangkrut, kamu akan menemukan kesempatan lain. Kamu bahkan bisa mendapat yang lebih baik. Bola karet itu akan selalu membal, Bel. Tapi beda dengan bola kaca. Sekali kamu kena stroke, misalnya, kamu bisa lumpuh seumur hidup. Atau sekali kamu menyakiti hati teman kamu... belum tentu kalian bisa baik lagi." - hlm. 234
Got the point? Bekerjalah secukupnya, istirahat selebihnya *eh, maksudnya penuhi hak jasmani, sirami rohani, dan tengok social life sesekali. Put family first, instead of work. Intinya balik lagi ke value masing-masing. It's your life anyway. Selanjutnya, ada kutipan puisi yang relatable.
"Rest if you must, but don't quit." - hlm. 262
"Don't give up though the pace seems slow,
You may succeed with another blow.
Success is failure turned inside out,
The silver tint of the clouds of doubt,
And you never can tell how close you are,
It may be near when it seems so far,
So stick to the fight when you're hardest hit,
It's when things seem worse,
That you must not quit." - hlm. 265
To sum up, this book share idea to live a fulfilled life. A fulfilled life adalah hidup berdasarkan passion atau panggilan hidup kita. Hanya kita yang paling mengenal dan mengetahui yang paling baik bagi diri kita sendiri. Dengarkan suara hati kita, tanpa terlalu terganggu dengan tekanan dari media atau pendapat orang lain di sekitar kita.
"Don't chase after money; rather, chase your passion and money will chase after you." - hlm. 304
Selamat #HariBukuNasional. 

Jumat, 26 April 2019

when your order expired

Dua hari lalu (24/04) memesan return ticket di aplikasi tiket(dot)com, lumayan ada potongan harga hingga 300ribu. Kala itu sudah melakukan pembayaran BRIVA. Transaksi ibanking hampir gagal akibat koneksi internet, tapi setelah logout mendapat pesan notifikasi bahwa transaksi berhasil. Namun, eticket tak kunjung diterbitkan.

Waktu pesan menumpang via aplikasi seorang kakak karena kesulitan mengganti detail pemesan pada aplikasi sendiri. Alhasil membuat dia panik. Me? Cenderung santai, hanya sedikit cemas karena seorang teman pernah mengalami kejadian serupa saat promo gledek bulan lalu. Eticketnya baru terbit H+5, status pemesanan eticket processing. Deg.

Tiket yang saya pesan untuk keberangkatan Minggu (28/04). Kalau lima hari kemudian eticket baru terbit hanguslah perjalanan saya. Status pada aplikasi pun pesanan sudah kadaluarsa. Berkali-kali menghubungi cs, via email, whatsapp, dan telepon pada hari memesan. Nihil. Tak ada respon. Sambungan telepon cs tak bersambut, disarankan mesin penjawab untuk hubungi via whatsapp.

Hari berikutnya mencoba menghubungi cs lagi via email dan whatsapp. Tetap tak kunjung mendapat balasan. I was not in a good shape that morning. Hingga tidak begitu memikirkan. Worse case-nya ya paling tinggal memesan return ticket ulang. Sorenya disarankan kakak yang direpotin buat hubungi pihak bank bahwa transaksi gagal, saldo terpotong. Setengah mengiyakan. Namun, sore itu diminta memikirkan hal lain dan malamnya reroute menonton Endgame. Terlupakanlah itu menelpon cs bank, rencana besoknya saja langsung bertemu fisik.

Kabar baik sebelum subuh Jumat (26/04) whatsapp dibalas cs tiket(dot)com; diminta mengirimkan screenshot bukti pembayaran. Beruntung belum menghubungi cs bank hari sebelumnya. Jumat pagi sekitar jam sembilan mendapat telepon tiket(dot)com bahwa transaksi pembayaran sudah diterima, tapi tiket gagal issued. Ditawarkan dua opsi apakah dibantu pemesanan tiket ulang atau refund. Setelah berpikir sejenak saya memilih opsi pertama dan cs-nya pun membantu mengecek ketersediaan jadwal penerbangan maskpai yang dipilih. 

Setelah konfirmasi detail pemesan dan jadwal diterima, diberitahukan bahwa tiket akan diproses dalam satu jam. Jika tiket yang dipesankan lebih mahal dari yang sebelumnya dipesan, kelebihannya akan ditanggung pihak mereka. Betapa leganya mendapatkan eticket kurang dari satu jam yang dijanjikan. Intinya belajar tidak tergesa-gesa dalam bertindak. Jika sendiri terasa berat, libatkan beberapa kepala untuk berpikir. YNWA.

Sabtu, 06 April 2019

Aroma Karsa

Judul: Aroma Karsa
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: 2018
Tebal: 724 halaman

Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng, ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia.

Obsesi Raras memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasi melalui aroma, mempertemukannya dengan Jati Wesi.

Jati memiliki penciuman luar biasa. Di TPA Bantar Gebang, tempatnya tumbuh besar, ia dijuluki si Hidung Tikus. Dari berbagai pekerjaan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, satu yang paling Jati banggakan, yakni meracik parfum.

Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Jati masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Bertemulah Jati dengan Tanaya Suma, anak tunggal Raras, yang memiliki kemampuan serupa dengannya.

Semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, semakin banyak misteri yang ia temukan, tentang dirinya dan masa lalu yang tak pernah ia tahu.

***

Sudah lama sekali tidak menyentuh karya Dee. Pun hanya mengecap Madre dan Perahu Kertas sekitar 6-7 tahun yang lalu. Sampai sekarang belum menguatkan diri menyelami seri Supernova-nya, khawatir tenggelam gagal paham :p

Pertama kali disuguhi buku setebal ini menciutkan selera membaca seketika. Membaca bab-bab awal pun terasa membosankan, saraf olfaktori belum tune in dengan dunia aroma. Seiring perkembangan karakter, makin lama makin dibuat candu, menagih, terlebih saat petualangan mencari Puspa Karsa dimulai; dibuat tidak beranjak.

Bagi yang suka fantasi mungkin cocok dengan buku ini, melatih imajinasi dengan kadar yang sulit ditakar, menguji kepekaan indra penciuman. Tidak habis pikir penjabaran aneka aroma yang dijejalkan. Terselip dongeng berlatar sejarah, ditambah sentuhan Bahasa Jawa kuno. Tidak sepakat romansa Jati-Suma tidak terkesan vulgar :p Haha.

Plot twist endingnya patut diacungi jempol. Sempat terkena efek samping; dibuat penasaran dengan Gunung Lawu, apakah benar mistis dan menyimpan sejarah yang tak tertulis dimana pun. Tulisan Dee terkesan apik dan kaya akan riset. Menarik dengan diksi yang tidak lazim.
"Badanmu ringan. Pikiranmu yang berat." - hlm. 624

Senin, 18 Maret 2019

obscure

Beberapa hal terkadang tidak perlu repot dijelaskan dalam situasi tertentu. Terlepas dari benar atau tidak konteks percakapan. Boleh kalau tidak sepakat. Tidak menjawab pertanyaan saat berada di lift yang padat. Tidak menjawab pertanyaan random saat di lorong. Meskipun yang tanya bapak-bapak yang terhormat *ditoyor. Mohon maaf atas ketidakacuhan yang disegaja, membiarkan pertanyaan menggantung di udara, kadang sengaja tidak meralat asumsi jawaban. NB: I use sneakers for other particularly reason anyway. Hobi olahraga (lari) baru belakangan, iya, lari dari kenyataan :p  

Mungkin hanya sebagian kecil populasi tersisa yang masih minta izin terlebih dulu sebelum memberikan nomor orang lain dan saya memilih menjadi salah satunya. Privacy. Tidak banyak yang menyadari. Bukan bermaksud sombong, minimal kasih heads up lah, tidak sembarang kasih. Nanti repot lagi kalau ada yang tersinggung jika pesan tidak segera dibalas atau kalau di grup hanya menjadi silent reader. Lebih mudah matikan saja paket datanya, but I didn't. Ya mudah-mudahan cukup paham sedang hectic atau ada yang lebih urgent. I'll be back if needed. I rarely pick up unknown number calls. Maklum textrovert :p

Pernah suatu ketika membeli sepatu bersama teman yang heran karena mencari sepatu yang seminimal mungkin tampak mereknya. Lalu kapan hari dia kemudian berseloroh barang-barangmu terlihat murah. I take it as compliment. Haha. Membeli barang 'mahal' untuk pembuktian ke orang lain tidak menjadi tujuan saya. Misal, pernah ada yang dikomentari warna tasnya lusuh. Tidak perlu tersinggung. Iya, gantungan monyetnya kok yang mahal. Haha. Tidak perlu tersinggung pun ketika beberapa barang ditanya original atau tidak. Hargai justifikasi masing-masing orang. Pasti ada alasan yang cukup reasonable dibalik hasrat kebendaannya :p

Kalau ditanya worth it atau tidak mengeluarkan sedemikian jumlah rupiahnya, kembali pada preferensi masing-masing. Seringnya ada harga, ada kualitas. Kadang ada juga kok yang murah dan berkualitas. Pintar-pintar kita sebagai pembeli. Ketika si bulky dianggap flagship S, tidak perlu buang energi meralat, senyumin aja. Pun harus merelakan jika temannya (benar) berpindah tangan. Predecessor yang sudah menemani hampir lima tahun. Mudah-mudahan diganti yang lebih baik.

Minggu, 10 Februari 2019

(basic) financial planning

Empat bulan sudah memantau keuangan diri sendiri. Pengeluaran membengkak akibat (antara) dua hal: goods or traveling. Keseringan jebol dalam nominal yang (mungkin) tidak wajar bagi sebagian orang. Kemudian neraca isinya jiwa dan memori yang bahagia. Duh. Middle income trap. YOLO? FOMO? Mari mulai memperbaiki mindset. Income naik, upgrade aset dulu baru upgrade life style.


Kemarin (09/02) tidak sengaja mengikuti sesi "Smart Financial Planning for Millennials" di atamerica. Bagi yang berminat menonton rekaman video-nya, silakan klik link-nya. Lumayan menambah wawasan dasar bagi pemula yang tertarik belajar financial planning. Intinya "how to manage your spending, not your income".

Why consumerism? Seringnya karena peer pressure; insecurity; industry.
Money problem nowadays? Feeling lack of income; difficulity paying debt; no saving; do not understand about: insurance, investment, future needs, how to manage wealth.


Setiap orang punya kebutuhan yang berbeda, minimal mengerti bagaimana prioritas mengatur keuangan pribadi. Mulai menentukan financial goals: short term, medium term, dan long term. Salah satunya tentu ingin mencapai financial freedom, misal agar tidak mengalami kesulitan keuangan dengan mulai mempersiapkan emergency fund dan pension fund.

Beberapa tips: disarankan saving dulu baru spending, manfaatkanlah fitur auto debet setelah terima income. Produk investasi disesuaikan dengan financial goals, manajemen resiko, dan budget. Misal untuk jangka pendek lebih aman dengan reksadana atau obligasi; saham sifatnya volatile, return tinggi risk tinggi. Kemudian lakukan rebalancing, sesuaikan dengan kebutuhan yang ada seiring bertambahnya usia.

Mari berbenah. Kurangi spending buat life style. Tambah saving atau investment. Semakin awal memulai lebih baik. Starting it somewhere. Demi menghindari financial report yang makin lama dilihat makin miris.

Sabtu, 02 Februari 2019

Bertumbuh

Judul: Bertumbuh
Penulis: Satria Maulana, Kurniawan Gunadi, Iqbal Hariadi, Mutia Prawitasari, Novie Ocktaviane Mufti
Penerbit: CV IDS
Terbit: Cetakan kedua, Maret 2018
Tebal: xvi + 297 halaman

Salah satu hal tersulit yang dihadapi oleh seorang manusia adalah perubahan, baik perubahan di lingkungan, orang lain, maupun diri sendiri. Sebab, perubahan itu seringkali tidak disadari, juga tanpa persiapan. Segalanya seperti tiba-tiba saja terjadi, saat kita semua sibuk menjalani hari demi hari.

Tidak ada yang tetap dan menetap. Waktu bergerak. Benih bertumbuh. Air mengalir. Hidup bergulir layaknya segala sesuatu yang kita kenal. Kebahagiaan, ketenangan, kegelisahan, keresahan, kekhawatiran, dan perasaan-perasaan, semuanya turut bertumbuh.

Hari ini kita akan melatih kepekaan, melihat kembali jejak perjalanan yang telah dilewati, meneliti lagi jalan yang membentang di depan, mendengarkan ulang kata hati dan nasihat-nasihat, meraba perasaan-perasaan kita yang semakin samar.

Ada begitu banyak hal berharga yang kadang terlewati begitu saja, ada kebahagiaan yang kerap kita lupa mengenalinya, dan ada kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu repot-repot kita bawa.

Ada banyak hal yang luput tak tercatat, ada banyak hal yang terlupa karena tidak sempat kita abadikan. Akan kita ingat lagi: apa-apa yang sudah terjadi, apa-apa yang tengah kita lewati, dan apa-apa yang akan kita hadapi-dengan satu harapan, semoga semuanya menjadi rasa syukur.

***

Sudah cukup lama punya buku ini, sempat dibawa dalam beberapa perjalanan pun, baru selesai dibaca dalam reckless journey bulan lalu. Tidak mudah menyelesaikan buku yang terbilang padat ini dalam waktu singkat, terlebih bagi yang tengah memasuki fase QLC, menghadapi keresahan dalam berbagai bentuk.

Penulis-penulis buku ini aktif di laman biru tua Tumblr pada masanya. Seperti pernah membaca beberapa tulisan sebelumnya, salah satu yang paling diingat trisula-nya satriamaulana. Sebelumnya juga ternyata pernah dengar podcast subjective-nya iqbalhariadi. Setiap penulis punya warna tulisannya masing-masing.
"Kamu tahu, apa yang paling menarik sekaligus melegakan dari sebuah perjalanan bertumbuh? Kamu tidak sendirian."
 Buku ini terbagi dalam lima sub poin ciri-ciri orang bertumbuh, yakni:
  1. Bangun pagi.
    Dia memiliki cita-cita untuk dicapai setiap hari.
  2. Fokus pada tujuan hidupnya.
    Bukan pada "apa" atau "yang mana" jalannya, melainkan bagaimana cara menjalaninya.
  3. Tidak iri dengan pertumbuhan hidup orang lain.
    Alih-alih, dia ikut senang dan bahagia apabila ada orang lain yang meraih keberhasilan—dan justru terinspirasi untuk menjadi versi dirinya yang lebih baik.
  4. Banyak bersedekah.
    Dia semakin menyadari bahwa apa yang dimilikinya—entah harta, waktu, atau energi—bukanlah miliknya sendiri.
  5. Semakin bertambah keimanan, ketakwaan, dan rasa syukur.
    Dia semakin mengenal siapa dirinya, untuk apa dia diciptakan, dan ke mana dia akan pulang.
Semangat bertumbuh kepada kalian sekalian. Lapangkan pendengaran, ruang pemahaman. Lantas bersedia untuk berjuang, bersedia untuk lelah. Jangan menyerah. Semoga kita dimampukan untuk mengelola setiap keadaan.
"Ada jarak yang harus ditempuh oleh orang-orang yang sedang bertumbuh—jarak yang jauh antara hati dan pikirannya sendiri."
"Ada yang lebih penting daripada mengikuti passion, yaitu menjadi bermanfaat. Pastikan bahwa setiap pilihanmu adalah manfaat—dunia akhirat." 

Minggu, 27 Januari 2019

reckless journey

"tus seriously" - k, delapan menit sebelum kereta Jakarta-Bandung berangkat
Teman perjalanan saya yang lebih panik hari itu (15/01) :v Bagaimana tidak, saya tak kunjung sampai Gambir, padahal berangkat dari kantor. Banyak perkara yang menahan kalau ke kantor dulu :p Empat puluh menit sebelumnya sudah memesan online transport. Lima belas menit berlalu dengan sabar menunggu driver-nya. I rarely canceled my booking. Meskipun agak jauh, pun mesti muter dulu, kalau driver-nya sudah kontak bersedia jemput, I'll wait. Hingga terjawablah sudah kenapa driver-nya salah muter, kenapa lama kali baru sampai tujuan: driver-nya bukan orang Jakarta. Pantesan. Anyway, thanks for saving me, five minutes before departure.

Dilanjut berlarian naik tangga, syukur keretanya belum jalan. Tidak separah catching running train tempo dulu. Bandung lebih banyak menyemai memori tidak menyenangkan bagi saya. Kembali menuju kota itu seperti bersiap akan menghadapi perjuangan yang lain. Sekalipun sudah beralih seksi, tak jauh berbeda. Bonusnya mungkin bisa bertemu lebih banyak teman angkatan. Saban malam bisa berkeliaran cari kuliner.

Semula bimbang apakah melanjutkan rute ke kota berikutnya, kota yang selalu berakhir menjadi wacana subdit. Berhubung ada special occation tour guide saya di negeri sejuta pelangi dua tahun lalu, H-2 (18/01) pun sepakat membeli tiket bersama partner yang berangkat dari ibukota. Batal balik ibukota dulu, langsung berangkat dari Bandung mengingat badan yang ringkih haha habis terkuras energinya. Akan bertemu teman yang sudah lama tak jumpa juga menjadi salah satu alasan yang memicu saya memenuhi undangan.

Pergi sendiri naik kereta membuat saya menjadi lebih awas dengan peron, semenjak tragedi konyol di Pekalongan. Berulang kali memastikan dan mendengarkan nama kereta yang dinaiki sudah sesuai. Beruntung bertemu teman angkatan yang menuju kota yang sama. Baru tau di stasiun, resiko mendadak reroute. Kami pun berbeda gerbong.

Selama perjalanan masih tenang tiket kereta balik ibukota "terlihat" masih ada. Memutuskan belinya setelah bertemu partner. Partner saya sudah tiba setengah jam lebih awal di Tegal. Fascinating fact, we shared same birth date. Sepanjang kenal, baru kali ini satu perjalanan :p I'm not an extrovert, you just knew different shade of me. Haha.

Special thanks for mbak hes, atas segala bantuannya, atas tumpangannya, atas jamuannya, atas oleh-olehnya (P.S. pada doyan bawang gorengnya mbak :v). Maafken telah sangat merepotkan. Kota ini memang lebih pas untuk kuliner ketimbang wisata alam. Ada wisata alamnya, tapi jauh. Kami pun hanya touring ke mangrove terdekat.


Yup. We end up didn't get train tickets. Kami pun naik bus malam yang terjadwal pukul 20.00, tapi baru berangkat pukul 20.45 karena supirnya sakit dan ganti bus. Satu jam kemudian berhenti di salah satu pool bus dan berhenti selama satu jam. Akibat kendala teknis, kami diminta ganti bus (lagi) dan baru benar-benar berangkat pukul 22.30. Having trouble sleeping that night, berujung diskusi topik yang agak berat. Mengingat besok paginya mesti langsung ngantor, kami pun beranjak tidur sebelum hari berganti.

Drained, sungguh perjalanan yang menguras energi. Not in a good shape. Sudah sangat lama tidak naik bus jarak jauh. Kelak perlu mempersiapkan jauh-jauh hari agar dapat tiket kereta yang nyaman.

Rabu, 09 Januari 2019

quiling paper art


Minggu lalu (06/01) ada acara seru komunitas @jendela.jakarta yang bertema "Berkarya dengan Kertas" di @kafesastra @pt_balaipustaka. Adik-adik ketiga perpustakaan diajak belajar seni menggulung kertas oleh Kak Khanif dan Kak Ahmad dari @waroengseniindonesi45. Silakan klik untuk melihat karya-karyanya yang menarik.

Sudah cukup lama gabung jendela, di program yang mungkin jarang terekspose berhubung di luar jadwal kegiatan reguler. Baru tampak batang hidung sejak nimbrung program seni dengan dalih perlu menyalurkan kembali hobi crafting atau coloring. Memotivasi otak kanan agar tidak hanya mainan typography atau gradation dalam bentuk digital. Okeskip.

So, we went to Kafe Sastra. Tempatnya asik dan tergolong nyaman juga, terlebih bagi pecinta buku-buku sastra klasik, misal karya Chairil Anwar atau R. A. Kartini. Ada banyak buku terbitan Balai Pustaka yang bisa dibaca sambil menikmati secangkir kopi dan aneka kudapan. Fyi, Balai Pustaka ini penerbit tertua di Indonesia.

Acara dibuka oleh Direktur Utama Balai Pustaka dengan sulap singkat. Jika pulang membawa kesan yang baik, ibarat buku yang berwarna. Nice stuff. Lalu dilanjutkan penampilan dari Sanggar. Mendapati musikalisai puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul "Dengan Puisi Aku" yang eargasm.

Selanjutnya, acara inti dari Kak Khanif. Kami diajarkan tiga teknik dasar seni menggulung kertas. Katanya masih ada banyak lagi teknik yang lain. Silakan explore. Selebihnya kami dibiarkan berkreasi dengan kertas dan lem masing-masing sambil sesekali didampingi Kak Khanif dan Kak Ahmad.

Hasil kolaborasi dengan Rara, adik dari Subam

Acara pun ditutup dengan wisata edukasi di Istana Peradaban Balai Pustaka. Terima kasih kepada segenap pihak yang telah mensupport. Terima kasih kepada kakak-kakak relawan yang telah berkenan membantu. Bantu mendampingi adik-adik, bantu mendokumentasi, pun bantu mengiringi lagu. Sampai jumpa pada kebaikan lainnya :)

Sabtu, 05 Januari 2019

Pergi

Judul: Pergi
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Terbit: Maret 2018
Tebal: 460 halaman

Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, ke mana hendak pergi, melalui kenangan demi kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ke mana langkah kaki akan dibawa.
***

Sangat yakin sudah membaca sekuel pertama novel ini, yakni Pulang yang masih dengan cover lama. Entah kenapa tak menemukan reviewnya di blog ini, sepertinya terlewat. Novel ini bercerita perjuangan Bujang dalam shadow economy berskala internasional. Tak perlu khawatir yang belum baca Pulang, saya sendiri pun tetap dapat menikmati Pergi walau sudah agak lupa cerita Pulang. Haha. Novel ini dibuka dengan hadirnya tokoh baru yang misterius, membuat penasaran, siapakah gerangan yang mengetahui nama asli Bujang dan bahkan memanggilnya "Hermanito" yang berarti saudara laki-laki dalam bahasa Mexico.
"Pergi. Sejatinya, ke mana kita akan pergi setelah tahu definisi pulang tersebut? Apa yang harus dilakukan? Berangkat ke mana? Bersama siapa? Apa ‘kendaraannya’? Dan kemana tujuannya? Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Kamu akan pergi ke mana?"- hlm. 86
Novel bergenre action ini sedikit banyak akan membuatmu ingin segera membalik halaman demi halaman dengan alurnya yang cepat. Walaupun surat-surat pemuda misterius yang menuliskan kembali atau mengonfirmasi kisah kepada ayahnya itu agak janggal, ya, namanya juga fiksi. Scene stealer goes to Rambang. Scene-nya sedikit, tapi paling berkesan buat saya dibanding kemunculan mengejutkan Thomas dari Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk.

Novel ini sebagian sudah pernah dipublikasikan dalam akun fb Tere Liye, mungkin yang minat membaca bisa berselancar ke sana terlebih dahulu. Sebagai tim yang masih kecanduan esensi membalik lembaran fisik buku, saya pun lebih memilih membeli novel ini pada promo harbolnas bulan lalu.
"Jangan pernah berputus harapan. Kamu akan selalu menemukan harapan baru. Jalan baru yang lebih baik. Saat itu tiba, kamu akan tahu harus pergi ke mana." - hlm 389
Agak tercenung dengan pilihan Bujang untuk Pergi meninggalkan Keluarga Tong dan menyerahkan kepemimpinannya pada Basyir yang pernah berkhianat dalam cerita Pulang. Ah, sepertinya akan ada sekuel lanjutan novel ini.

Pesan yang patut direnungi berkali-kali: mau pergi kemana? Tentukan tujuanmu, lalu siapkan langkah-langkah untuk menapaki tujuanmu.

Sudah lama saya tidak membaca novel, ternyata masih seadiktif ini. Setahun lalu selera kebanyakan bergeser ke dunia persajakan. Mungkin perlu diselingi fiksi sesekali, tuk mengasah imajinasi :p

Rabu, 02 Januari 2019

endapan

2017 short recap: tidak ada jaminan hidup kedepannya menjadi tidak lebih sulit. 
2018 was harder huh? Mengingat kembali apa-apa yang terlewati, ketawain aja. Sungguh, ada harga yang harus dibayar. Ekstremnya mesti bergerilya sejak jam tiga pagi, revisi alokasi baru masuk jam satu pagi. Berujung kehabisan tiket kereta balik ibukota saking 'asiknya' berjuang tiga hari fullday kala itu. Beruntungnya tidak sendiri di medan perang. We survived sebagai ujung tombak :p

Worthy TGIF keep me sane. Kurangi membakar duit tak berfaedah, perbanyak sedekah. Sedekah tidak melulu dalam bentuk materi, ilmu pun bisa. Secapek-capeknya pulang kerja, tingkah adik-adik nan menggemaskan sanggup meluluhkannya. Apalagi 'diantar' pulang, membuatmu rela kembali di waktu luang. Doing volunteer work is great.

Another shot to keep me sane: escape route. Tiap bulan perlu menanggalkan kubikel. Rehat sejenak, biar bisa menabung energi buat bulan depannya. Ke luar ibukota selama tidak menghabiskan suara, tenaga fisik dan mental, it's fine. Seringnya melangkah ke bagian timur, tapi belum ke tempat yang benar-benar ingin dituju.

Prestasi bisa memprakarsai jalan-jalan beningers. Meskipun tidak bisa ikut semua di tengah hiruk-pikuk kegiatan instansi ini. Terima kasih bersedia dihasut menuju ketinggian tempat ini. Langit sungguh tengah menghibur yang lelah di darat sepanjang pendakian. Superb memorable experience.

Belum berjodoh dengan blue fire

The hardest part is... me in last year not so different from me in 2017. Sekalipun menceritakan sebagian kekhawatiranmu, setangkai rencanamu, dan seperlima duniamu yang sulit dicerna. Tidak mudah menyelaraskan frekuensi, berkompromi, meredam ego. Semoga tidak menyesal akan apa-apa yang telah diputuskan. Ambil hikmah baiknya, tidak apa jika belum mengerti sekarang.

Overcome self-doubt is hard. Stay strong. Katanya terbentur, terbentur, terbentuk. Terima kasih telah bersabar. Terima kasih telah bertahan. Terima kasih telah berjuang. One year passed, mari senantiasa menjadi lebih baik lagi. Lakukan percepatan rencana menjemput kereta mimpi.
"Ketuk semua pintu yang ada, libatkan Allah dalam setiap prosesnya, lalu biarkan Allah menjawab melalui skenario terbaik-Nya." - Dewi Nur Aisyah