CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 28 Februari 2016

Do or Don't

Email tiga hari lalu sukses membuatku menghela napas berat. Dadakan, as always. Lama-lama jadi habit kali ya .-. Udah lumayan lama sih mendengar kabar selentingan ini, tapi ga kebayang jadi pelaksananya.

I doubt. Ya, survei kerja sama selalu membuatku ragu untuk melibatkan diri. Walaupun kadang bayarannya menggiurkan, I prefer not to go. Kenapa? Little burdensome. Not my portion. Ada hal lain yang sebaiknya ku lakukan. Sederhananya, pri(de)nsip.

Hitam di atas putih. You must be extra cautions guys. Jangan tergesa-gesa memutuskan sesuatu. Barangkali ada kata-kata yang menjebak. Haha. I know it is kind of task, but you always can freely choose to do it or not, right? Apalagi judulnya baru undangan, bukan surat tugas. Haha.

Masih setengah ga rela kebebasanku terenggut selama dua setengah bulan kedepan. Ah, apa salah mengambil keputusan ya? Tapi aneh banget kalau ga ikut, kecuali tawaran Inda kemaren diambil. Pfft. Hobi memang melewatkan sesuatu. Barangkali aku juga melewatkannmu? Haha. Just tell me if so ya :p
"I think I might give up everything, just ask me to"
Tadinya berharap masih ada yang menahanku. Berhubung sudah mengantongi izin resmi, berarti berangkatlah Senin depan. Think positively. Ambil pengalamannya, tha. Semangat! Semoga masih tersisa ruang buat mengembangkan diri di sana.

Sabtu, 27 Februari 2016

T.G.I.F

Thanks God It's Friday. Let's watch a movie, deadpool maybe. Haha.

Sudah sejak minggu lalu mengagendakan acara yang satu ini. Di tengah riuhnya pikiran kemarin, finally, I make it happens. Kind of reward lah. Setelah betapa rusuhnya diriku dalam dua hari terakhir. I will tell you later, maybe, in the next posting.

But, actually, sayang aja melewatkan agenda yang sudah kepalang berumur jagung. Di samping makelarnya tak henti-hentinya meneror jikalau tak terlaksana. Haha.

So, we were there last night, TIM XXI. Watching what a fuckin- film. Haha. Jangan ditoton kalau belum 17++ ya. Jangan ditonton kalau merasa ingin tetap waras. Haha. Selama itu marvel, I don't mind to watch sih tapi :p

I love the ending most, the very ending. Haha. That "go home" part. Wkwkk. Go home, there is nothing after this. Go home. Pfft. You don't understand? Good, you still normal :p

Anyway, thanks for the awesome Friday night guys. Jangan jera dengan acara dadakan ya. See you very soon.

Critical Eleven

Judul : Critical Eleven
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2015
Tebal : 344 halaman

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

***

Karya Ika Natassa yang pertama kali ku baca gara-gara jatuh cinta sama The Architecture of Love-nya, sebuah #PollStory di twitter. Kalau mau tau ceritanya bisa main ke tweet @ikanatassa dan siap-siap hanyut oleh Bapak Sungai berkaos kaki hijau :D

“Jakarta itu labyrinth of discontent. Dan semua orang, termasuk aku dan kamu, setiap hari berusaha untuk keluar dari labirin itu. The funny thing is, ketika kita hampir berhasil menemukan pintu keluar labirin ini tapi malah ketemu hambatan lagi, pulling us back into the labyrinth, Kita justru senang karena nggak perlu tiba di titik nyaman. It’s the hustle and bustle of this city that we live for. Comfort zone is boring, right?”

Balik ke Critical Eleven. I do love the first conversation between Anya and Ale. Jenis percakapan dengan completely stranger, tanpa pretensi apa-apa. But, in the end, mereka menyadari, mereka menginginkan satu sama lain. 

Setelah lima tahun bersama, hubungan Anya dan Ale ternyata ga baik-baik aja. Sebuah kalimat yang (nyaris) menghancurkannya. Menurutku kok a little too much ya, Nya. Gara-gara sebaris kalimat itu kamu mendiamkan seorang Ale kayak gitu. Ah, di mana lagi coba mencari tukang minyak kece kayak Ale. Haha :p

Overall, I love the story. Ga tau mau menuliskan apalagi. Haha. Mau ikut merasakan sensasinya? Coba aja baca buku ini dalam sebelas menit dan siap-siap jatuh cinta di bacaan pertama *wink*

"Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, Le, jangan mau gampangnya saja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu."

Rabu, 03 Februari 2016

Struggles

I end up stay in there. I don’t think this is something that should be congratulated for. But still, thanks for hold me there. Yeah. You must be thankful to be the chosen one, rite? *sigh*

Maybe, there are some people that desperately want your spot. Wanna swap? But, if it based on division, I guess, I better be there. I don’t know which department will give me more comparative-advantage-things, tough.

Life, surely, not always going as you planned. Everyone have their own struggles. Get yourself together. Even though there is probability of changes, I hope you will get the best for yourself. Keep strong. Just do your part and let Him do the rest.

Selasa, 02 Februari 2016

Tangled

Aku tidak suka terjebak di posisi sulit, seperti hari ini. Menjelaskan hal rumit dengan bahasa sederhana bukan keahlianku. Mempertahankan hal yang sudah lama ku genggam pun bukan perkara mudah. I don’t wanna lose you, sincerely. Can you let me go once? *wink*

Lemme correct something first. Aku tidak berniat menyeretmu ke jalan ini, sungguh. Jika ku bilang ini kebetulan, akankah kamu percaya? Aku cuma tidak sengaja menjadi pengantar pesan hari itu. Dan belakangan, aku baru tau asal muasalnya. Can I say that I’m being a victim too? Haha *sigh*

Aku tidak ingin membuatmu terperangkap dalam lumpur ini, kecuali kamu menjejakkan kakimu sendiri. Itu lain cerita ya. Seperti aku dulu. Haha. Ketika masih polos. Ketika aku tidak sadar tengah mengajak orang untuk bermain lumpur bersama. Dan hingga sekarang lumpur itu kian menghisap, membuatmu sulit keluar. So, be cautious around me. Don’t ask too many questions. It’s okay if you wish playing this mud with me. Wkwkk.

Anyway, hari ini pelantikan salah satu orang penting. Orang yang sangat berjasa dalam paceklikku akhir tahun lalu. Selamat bapak. Resmi sudah surat yang satu itu menjadi surat sakti. Haha. Don't leave us behind, Sir :'