CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 27 September 2020

Strawberry Generation

 

Judul: Strawberry Generation
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: Mizan
Terbit: Juni 2017
Tebal: 280 halaman

Dari bentuk dan warnanya, strawberry itu menawan. Namun, di balik keindahannya, ia ternyata begitu rapuh. Itu adalah ilustrasi dari strawberry generation. Sebuah bagian dari suatu generasi yang rapuh meski terlihat indah.

Dalam buku ini Rhenald Kasali berbicara mengenai perubahan, baik yang tak terhindarkan maupun yang harus diusahakan. Salah satunya, ia mengingatkan anak muda agar tidak menjadi bagian dari strawberry generation. Generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.

Padahal, menurut Rhenald, kesuksesan tidak bisa diraih melalui jalan pintas. Maka, mentalitas rapuh itu harus diubah. "Passenger" harus menjadi "driver". Fixed mindset digantikan growth mindset.

Inilah buku yang penting dibaca oleh mereka yang ingin menjadi manusia tangguh. Yaitu, manusia yang berkarakter kuat, berjiwa terbuka, dan pandai mengungkapkan isi pikirannya.
***

Akhirnya setelah sekian bulan pandemi, berhasil menamatkan sebuah buku dari penulis yang tidak asing. Penulis merupakan pendiri Rumah Perubahan. Artikel beliau yang pertama kali pernah saya baca dan begitu menggugah, berjudul Pasport. Pernah mendaftar salah satu kursus online beliau di IndonesiaX, sayangnya terlewatkan, maybe I will catch up later.

Buku ini berisi kumpulan artikel, seputar dunia pendidikan dan parenting. Topik bahasan dibagi menjadi lima bagian besar, yaitu Pada Mulanya adalah Mindset, Hi-Tech and Hi-Touch Parenting, Memetik Moral dari yang Viral, Bianglala Entrepreneurship dan Mencegah Rajawali jadi Merpati. Banyak hal menarik yang diungkapkan dan membuat mengangguk sepanjang membaca, membenarkan hal yang disampaikan.
"Albert Einstein pernah mengatakan bahwa semua orang yang dilahirkan di muka bumi ini pada dasarnya genius. Masalahnya, mereka selalu diukur kecerdasannya berdasarkan hal-hal yang tidak mereka miliki, bukan atas apa yang mereka miliki." - hlm. 37
Sepakat pentingnya growth mindset dalam pendidikan. Agar berani mengambil tantangan hidup yang lebih besar dan mencoba hal-hal baru, sehingga terlatih melihat peluang untuk berkembang. Selain itu, penting memiliki skill memadai dalam mengambil keputusan dan menentukan skala prioritas. Belajar bukan hanya menghapal, tetapi berpikir kritis.
Namun, bagi Agustinus dari Hippo, "Those who do not travel read only one chapter." - hlm. 44
Pergi ke luar negeri tanpa ditemani satu orang pun supaya berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat atau kehabisan uang. Agar mendapatkan life skills, di antaranya kemampuan mengelola rasa frustasi, cognitive flexibility, focus dan self-control, kemampuan mengambil keputusan dengan jernih, menimbang resiko, berpikir logis, kritis, dan kreatif, berkomunikasi artikulatif, berempati pada kesulitan orang lain, serta kemampuan melihat dari perspektif yang berbeda, menurut Carol Dweck disebut sebagai growth mindset

Agar tidak terjebak sistem pendidikan negeri ini, sebaiknya orang tua perlu membuat kurikulum pendidikan sendiri untuk anaknya, tentu menjadi tantangan mendidik generasi Z atau alpha ke depannya. Zaman sudah berubah dan problematika semakin kompleks sehingga mungkin tidak bisa lagi di-handle dengan cara-cara lama. Jadilah driver yang menentukan arah, membawa penumpang-penumpangnya ke tempat tujuan dan mengambil resiko.
"Kalau kita mau hidup enak, ya kita harus belajar terus, tidak boleh ada tamatnya meski tidak ada ijazahnya." - hlm. 187
"Learning itu gabungan dari relearn dan unlearn." - hlm. 191
"Kalau kita berani melewati jalan tidak nyaman, lambat laun kita pun bisa meraih kemahiran. Kalau sudah mahir dan nyaman, jangan lupa cari jalan baru lagi. Seorang climber, kata Paul Stoltz terus mencari tantangan baru. Dia bukanlah a quiter atau a camper." - hlm. 192
It took me a while to finish reading this book. Beberapa poin penting dalam buku ini mengingatkan kembali hal-hal yang pernah disampaikan pemateri career class. Memberikan perspektif baru untuk menjadi generasi tangguh, tidak mudah rapuh karena tekanan.

Kamis, 04 Juni 2020

(not so) fancy food at home

Setelah hampir tiga bulan wfh, mencermati cashflow bulanan akan makanan, tidak bisa dipungkiri, meningkat cukup signifikan. After all this time far from home, I (almost) always consumed cooked food by others. Did not expect to cook my own meal haha even my family. But, this pandemic forced me to change. I started to buy organic vegetables, brown rice, and (healthy) snacks sometimes. It was costly. They said, it was okay, because we shifted transportation and weekly entertainment cost, do you agree?

The most fancy groceries I ever bought this time was salmon sashimi grade and sliced beef. Haha. Fyi, fresh salmon can be eaten raw. You will realize that anyone can cook, selama ada niat dan bumbu jadi. Wkwk. I only cook simple meal anyway, mostly boiled or steamed, tried to reduce fried foods or foods containing coconut milk.  Tapi ya kalau dikasih, tidak akan menolak :p

(not so) fancy food collection

Truthfully, one food materials can be cooked into many dishes. It's always much cheaper than eating once at a restaurant for the same dish. For example, I can made five portions from 500 gram sliced beef, four dishes shown in picture above. My simplest dish shown above is steamed potatoes with broccoli and cheese, I can make 2-3 servings with the same price I guess, apalagi kemarin (31/05) dapat kiriman brokoli. Haha. You can add flavor with himalayan salt if you want. Last, my favorite salmon soup with kombudashi (seaweed stock). Like ordinary soup actually, the taste was just a little different because of the broth. Not yet achieved making grilled salmon with lemon sauce :v

That's all from me. I don't plan to share some recipes here, because there are already many on cookpad or youtube. And I still faaar away to become a good cook. Haha. Pernah suatu ketika membuat pancake gluten free, snack terniat, percobaan pertama gagal, perlu ada yang bantuin mengayak tepungnya baru berhasil. Begitulah, selamat berkreasi. Stay healthy, stay sane. Thanks for reading.

Senin, 25 Mei 2020

Special eid mubarak

In early stage of lockdown, over two months ago, still keep hoping that I can go home to celebrate this special day. Day after day passed, I did not buy airplane ticket yet. I almost never bought ticket in advance anyway, as impromptu team. Until flight schedule has been restricted from or to red zone area, I even got wild suggestion, to go home by ship from Semarang. Of course I did not take it.
"If you hear of an outbreak of plague in a land, do not enter it; but if the plague breaks out in a place while you are in it, do not leave that place."- Prophet Muhammad said
This too shall pass. Sabr, we were choosen to face this global pandemic, hopefully we can overcome this challenge, physically and mentally healthy. Alhamdulillah, even for little things. We are not laid off or (forced) unpaid leave or hardly earn daily income. Everbody struggling. Thanks for surviving and fighting so far. Keep it up.

I really like the working from home idea before. Thanks to this pandemic, I tasted the bittersweet. First two weeks still excited, tried virtual meeting till predawn with friends. In the third week, I even asked how to get day-off during wfh, to practically doing nothing, halfly joking wkwk. Recently, I just knew it can't be done, except you're sick.

I managed stay at home somehow, just went out to fill my weekly logistic. Everyone has their own coping mechanism anyway, such as gardening, cooking, baking, learning, creating any content or online shopping (?) Haha. Sometimes, I choose cooking (healthy food), joined webinar and career class. I need to make my self busier with other than work, to keep me sane :p

Since last week, I realized how I missed real chit chat with human. I decided to spend Eid with my friends, eat opor ayam, sambel goreng kentang, rendang and other eid food signature. Surely, it felt different, especially when you can only met your family virtually. I am already on acceptance mode. But, it still little bit hurt when read text contain something like "salam untuk keluarga di rumah".
Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal yaa kariim.
Mohon maaf lahir dan batin.
Hope we meet Ramadan again with better conditions.
Wfh is almost lifted, maybe this week will be the last week. People talked about new normal idea, when number of positive cases has not been decreased. Most are worried, including me. We need to think again if using public transportation during wfo, physical distancing seems hard to do. Herd immunity seems to be an illusion. Stay alert, obey healthy protocol, wash hand often, reduce touching face and use mask. Maximize ikhtiar and dua'. May Allah immediately revoke this pandemic.
“I’m so tired of love songs, tired of love songs. Just wanna go home, wanna go home." - Lauv & Troye Sivan on I'm so tired
Stay healthy, stay sane everyone. Thanks for reading. 

Jumat, 08 Mei 2020

Sharia investment that I ever tried

I start to write this because someone drop "sharia investment" topic in my question box five days ago. Haha. Truthfully, I still learning about investment, especially sharia investment. Disclaimer, I didn't have any Economics background, so the story onward will be my personal experience. Don't get your expectation high :p

First thing first, before you start to invest somewhere, make sure you have prepared emergency fund and insurance according to your needs. Then, specify your financial goals and know your risk profile: your risk appetite and risk tolerance. Simply, seberapa ingin menerima resiko (personality, experience, knowledge) dan seberapa besar kapasitas menanggung resiko tersebut (assets, liquidity, number of dependents).

You can choose any investment instruments based on your short or long financial goals and your risk profile. From my basic knowledge of sharia investment, the purpose of its investment to earn halal profits in strict conformity with the precepts of Islamic sharia. The investments must free from riba', uncertainty (gharar) and gambling (maisir).

Don't worry to much as a beginner, there are already custodians to help you review some sharia investment instruments, such as Dewan Syariah Nasional MUI, OJK, Dewan Pengawas Syariah, and Bapepam. Yet, you still need to learn sharia investment terms (e.g. mudharabah-profit sharing, musyarakah-partnership, murabahah-cost plus). In addition, maybe you need to know how to read financial statements.

Learning need a process, step by step. Do not rush, take your time. Better knowing first, before start an investment. Before I started, I learn from many sources, almost six months before my very first investment. Haha. Mostly, from so well-known financial advisor account @jouska_id. I also try to read books, read news about Economics or Business. Recently, I like to listen some podcasts and following @bigalphaid. You can explore and getting insight from everywhere, if you want.

For short financial goals, I try a very low risk investment: governments bonds, called Sukuk Tabungan and Sukuk Ritel. You can go to Kemenkeu website to explore what it is, what akad being used, etc. or explore accounts that I mentioned before. They have already discussed the topic. Be curious, please. I started from small amount, but I feel happy every month got (small) coupon share this past year, even that only cover my phone bills. Haha. Growing mindset of investment that matter the most, beside to help government :p

Next, one level above, you can try some called sharia mutual fund (reksadana). You entrust your investment to investment managers. I never tried it before, there is nothing I can tell you. I will skip it into sharia stock. There are many emitens, you can explore the list on Daftar Efek Syariah OJK, will be updated every semester. I am a type of saving in stock. In this pandemic period, I paused. I am on "wait and see" mode. Poor my bleeding portfolio. I will see you later, when the season changed maybe, when everything seems better. Wkwk. If you are trading person, you can utilize Sharia Online Trading System (SOTS). Stock investment offers high return, but remember it's full of high risk. Don't try it, if you can not bear that risk, especially with the possibility of a recession.

Last, I've tried some agriculture investments on tanijoy.id. Purely because my personal reason, I like agriculture sector, partly come from my childhood. The story to help farmers impressed me. There are some projects that you can choose to invest, go check their website if you are interested. Investment period varies depend on commodities you want to invest. Return of investment will be divided, mostly for farmers. You can check the expected ROI in every investment details.

Okay, that's all from me. Let me remind you, this posting not part of any endorsement haha just sharing my little experieces. Hopefully, it will be usefull for you that wanna to start sharia investments. If you have any questions, comments or any experiences related, just drop it in comment  below or feel free to contact me. Thanks for reading.

Senin, 27 April 2020

My Career Class Story

Last month, in very last minute, I decided to enroll a full package of #CareerClass by @kurniawan_gunadi and @alia.aryo. I have a first class of Topic 3 that night. Actually, I wanna join this class since January 2020. I have already contacted the admin and asked for the cost one of topic that I want. Yet, I have not fulfilled the registration form till last day. I became busy with something maybe.

My weekend in last month became very productive. Hampir tiada akhir pekan tanpa career class. Agile and dynamic. I still try to keep up my pace. Haha. Sudah lama tidak memaksimalkan potensi diri. Kemudian diajak lari, bertumbuh bersama. Lima dari empat belas topik telah dikecap. Setiap kelas menyisakan kesan tersendiri. Kadang-kadang diselipi kejutan, kesempatan dan tentu saja ada tugas. Teori hanya mengendap menjadi teori tanpa praktek. Let's start, action now.

If you ask my ultimate reason why joining this class, to be honest, investasi terhadap diri sendiri. This pandemic made me change my investment slot. Investasi leher ke atas, they named it. When I first heard this, the first thing that crossed my mind, ah, skincare? Wkwk. Just kidding. Sepakat bahwa investasi pada diri sendiri itu penting, upgrade knowledge, upgrade skill, and upgrade networking. It's not cheap, it needs a process to change mindset.

I need to make my self busier, somehow. I need 'safe' escape route from my never ending routine work wkwk. To keep me sane, to get this pandemic through. Even introvert will find it hard to just stay at home, for months, right? I need new circle, to widen my point of view. Setelah sebulan ini berasa banget positive vibes-nya. Belajar hal-hal baru, mencoba kesempatan baru. Cerita per topiknya mungkin nanti bakal aku share di postingan berikutnya. Terima kasih telah membaca sejauh ini.

Minggu, 16 Februari 2020

Arah Musim

Judul: Arah Musim
Penulis: Kurniawan Gunadi
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Oktober 2019
Tebal: 200 halaman

Tindakan-tindakan kecil kita di masa lalu telah mengubah banyak hal di kehidupan kita saat ini. Mungkin kita tidak pernah menyadarinya. Mungkin kita telah melupakannya. Meski kemudian kita kebingungan karena tidak mampu memahami rentetan kejadian sebab dan akibat itu.

Kita sering gagal memahami bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita adalah hal-hal terbaik yang bisa kita dapatkan. Kita seringkali salah memahami maksud-maksud tersembunyi yang Dia hadirkan dalam semua rentetan kejadian hidup yang amat berharga. Dia ingin mengajarkan kita sesuatu. Sesuatu yang seringkali kita tolak kehadirannya. Sesuatu yang barangkali menjadi doa-doa kita selama ini.

Tapi, kita tidak cukup sabar melewati musim-musim yang silih berganti.

***

Buku yang sebenarnya sudah dituntaskan dalam liburan akhir tahun lalu, tapi baru dibuka kembali. 2020 baru berjalan sebulan, tapi berasa sudah terengah-engah. Haha. Berawal dari mencari sebuah penggalan kalimat, berakhir dengan membaca ulang beberapa cerita dalam buku ini. Sudah lama mengetahui judul buku kelima masgun ini, sekitar tiga tahun lalu. Namun, buku ini baru diterbitkan melalui penerbit mayor, tidak seperti Hujan Matahari, Lautan Langit, Menentukan Arah, dan Bertumbuh, yang diterbitkan secara indie.
"Kamu harus kuat, sebab perjalanan ke depan butuh kekuatanmu untuk bisa menahan diri, mengendalikan diri. Bukan karena kamu harus bertarung secara fisik dengan orang lain, melainkan karena kamu harus melawan egomu, ambisimu, dan dirimu sendiri." - hlm. 20
Some parts are relatable, as always. I've tapped his stories on ig and feel like I've been slapped virtually. Haha. Begitu pun dalam membaca buku ini. Pada bagian tertentu akan membuatmu merenung sejenak, membawamu mendapatkan pemahaman baik.
"Ketidakbahagiaan kita saat ini mungkin disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk bersyukur atas hal-hal yang bisa dengan mudah kita dapatkan." - hlm. 76
It's okay to be different. It's okay to have different point of views. But seriously, this book getting deeper, terlebih bagian kisah anak perempuan yang dituliskan oleh seorang ayah. Pesannya sungguh dalam. One of my favourite quote below.
"Kau adalah gadis yang cemerlang. Jangan biarkan tekanan sosial, kata orang, dan pandangan umum masyarakat mengalahkan keteguhan hatimu, mengerdilkan peranmu. Juga, jangan takut untuk menjadi seseorang yang lebih, yang kata orang-orang nanti tidak ada laki-laki yang mau denganmu. Jangan dengarkan itu, dengarkan bahwa itu tidak ada hubungannya sama sekali. Kau adalah gadis yang cerdas. Kamu mampu membuat rumusan hidupmu sendiri, mampu menyesuaikan dirimu dengan keadaan, mampu mengubah keadaan di sekitarmu." - hlm. 54
Buku ini berisi kumpulan cerita seperti buku-buku masgun sebelumnya, yang kentara membedakan, ada cerita bersambung dalam setiap chapter arah musim yang cukup menarik kisahnya. Mungkin bisa dibilang mini serial novel dengan plot twist tak terduga. Suatu saat musim akan berganti, jangan sampai terlambat menyadari dan menyesal di kemudian hari.
"Hal-hal berharga dalam hidup kita memang tidak pernah diukur dengan cara matematis. Hidup kita jauh lebih berharga dari hitungan-hitungan untung dan rugi. Ada yang jauh lebih bernilai dan berharga, yaitu keberkahan." - hlm. 123

"Apa yang kamu lihat dengan apa yang orang lain lihat mungkin berbeda. Apalagi jika kamu hanya melihat dan belum pernah mengalami." - hlm. 132
Sebagai penutup, berikut kutipan pamungkas yang dicari di awal. Haha. Beberapa tulisan kadang menyisakan pertanyaan menggantung, yang entahlah, aku pun kadang belum punya jawaban sedemikian rupa. Salah satu contohnya, 'kalau ada yang memperjuangkan, beranikah untuk ikut berjuang?' Seorang teman mengingatkan untuk memupuk jiwa realistis. Yeah, hopefully.
"Coba ingat-ingat lagi sebenarnya apa yang kita perjuangkan, apakah kamu hanya memperjuangkan seseorang untuk menjadi pendampingmu atau memperjuangkan ibadahmu. Jika memang untuk ibadahmu, sebenarnya, dengan siapa pun kamu bisa melakukannya, tidak harus denganku. Semoga kita bisa ikhlas menerimanya." - hlm. 143-144

Selasa, 07 Januari 2020

vicinity

endapan 2018: Overcome self-doubt is hard. Stay strong.
2019 terlalu banyak bercanda, akhirnya dibecandain sama hidup. Eh? Haha. One year already passed again and feel like I did nothing. Just being wasted. Kebanyakan rebahan. Terlalu santai dan belakangan baru menyadari betapa telah menyia-nyiakan waktu. Penyesalan baru datang di akhir, as always.

Yet, setidaknya ada beberapa pencapaian diri di tahun lalu. Salah satu hal yang patut diapreasi: berhasil memulai makan makanan sehat, walau masih sering cheating dan sulit menahan diri dari godaan kopi. Wkwk. Berawal akibat tidak begitu banyak yang bisa dimakan untuk mensiasati kondisi bawaan imun. Disangka picky-eater atau diet sudah biasa. Ketika yang paham berkomentar, kamu beruntung sedari muda sudah menyadari pentingnya makanan sehat, washed up other comments :v

Hal lain yang mengejutkan, berhasil memaksa diri belajar sendiri satu hal baru di sela-sela working life hingga mendapatkan sertifikasi. Mengatur jadwal agar tetap konsisten menjadi tantangan tersendiri. Semoga senantiasa bertumbuh ke arah lebih baik ya. Sesekali mungkin perlu menengok teman yang telah jauh bertumbuh, sebagai pemicu jantung di jalan sendiri.

highlight from last year trip, thanks for my dearest private driver :p

I used to travel far away a lot. Namun, tahun lalu cenderung hanya sedikit melakukan perjalanan dan dalam jarak dekat saja. Tentu tetap main ke pantai dan gunung, gunung paling epic pun didaki dalam Perjalanan Samtama. Awal mula #aksihidupbaik. Climate change is real thing and it gets worse all the time. Let's save our planet, from small things you can do.

Another my concern, still about basic financial planning. Haha. Tried some investments. Neraca unbalanced, tidak sampai berutang. Tapi entah kenapa berasa broke tahun lalu, sampai pada level selling before buying. Wkwk. Mungkin menambah daftar hobi absurd baru: membeli barang online berebutan, dipakai belum tentu. Selain hobi membeli aneka buku, dibaca tak kunjung purna. Sungguh menyedihkan jika mengingat kembali sedikitnya bacaan yang dituntaskan tahun lalu.

It's okay to be vulnerable sometimes. Yeah, maybe you've read my post about companion. Mental health agak terusik. Perlu kembali mengarah pada visi hakiki: beribadah kepada-Nya :')
"karena hidup bisa saja tiba-tiba mengatakan 'selesai', tak peduli mimpimu sudah atau belum tergapai." - sholahayub