CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 28 Februari 2018

conscience

Setelah bertahun-tahun hidup di ibukota, sore itu (23/02) mendapati diri sendiri (masih) mudah mempercayai orang lain. Orang yang bahkan baru diajak mengobrol hitungan menit sembari menunggu online transport. Saya terhitung jarang memulai pembicaraan dengan orang asing di perjalanan.

Pembicaraan sederhana dimulai dari seorang bapak yang dengan santun mengucap permisi (kepada orang yang lebih muda, which is sangat jarang ditemui) sebelum duduk di teras mushola. Lalu, berlanjut ke kereta, Argo Jati. Bapak tersebut langsung tahu saya dari Cirebon. Beliau ternyata berencana ke Cirebon karena ada keluarga yang sakit dan dirawat. Namun, karena kecelakaan mungkin batal, pulang lagi ke rumah yang lebih jauh dari Serpong (I didn't catch the town that he said).

Awalnya, saya tidak ingin bertanya kecelakaan apa. I didn't want to meddle anymore, yet I asked. Ketika mendengar cerita beliau, sebagai seseorang yang pernah mengalami kejadian serupa, it was relatable. Beliau tidak bisa naik kereta karena tidak memiliki kartu identitas, pun tidak bisa menggunakan surat keterangan dari polisi. Selain itu, tidak ada ongkos beli tiket kereta. Tidak bisa kontak orang yang dikenal, tidak ada hp (sudah diberikan ke cucu). Entah naik bus dari Pulogadung, entah menumpang truk. Miris mendengar beliau berencana jalan kaki ke Pulogadung atau pulang ke rumah.

I chose to believe him. Sebelum naik transport online, saya memutuskan minimal tidak membuat beliau berjalan kaki. Semoga, ya, semoga bapak yang Jumat lalu bertemu sudah tiba di Cirebon dan keluarganya yang sakit cepat sembuh. Saya tidak ingin menyesali kejadian seperti dulu, ketika ada orang yang terlihat tidak sehat ingin pinjam hp untuk menghubungi keluarganya.

Terkadang sulit memang mengenali mana yang beneran atau tipu-tipu. Hal termudah yang umumnya dilakukan: pukul rata tidak percaya. Namun, sebenarnya kalau mau sedikit berusaha, cukup kenali dari gaze-nya and you will know.

Rabu, 07 Februari 2018

Catatan Juang

Judul: Catatan Juang
Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: Mediakita
Terbit: 2017
Tebal: 312 halaman

Seseorang yang akan menemani setiap langkahmu dengan satu kebaikan kecil setiap harinya.

Tertanda,
Juang
***
"Hidup ini keras, buktikan dirimu kuat. Yang membedakan pemenang dan pecundang hanya satu: pemenang tahu cara berdiri saat jatuh, pecundang lebih nyaman tetap ada di posisi jatuh." - hlm. 44
Novel ini merupakan sekuel Konspirasi Alam Semesta. Namun, bisa dinikmati secara terpisah. If you've read the previous novel, maybe you will remember 'buku bersampul merah', buku hadiah Ana untuk Juang, buku tempat Juang merumahkan pemikirannya. Well, yes, this novel about that book. Buku merah tersebut ditemukan oleh Suar secara sangat random di angkot.

Semula Suar berdalih membaca buku merah tersebut untuk menemukan informasi pemilik buku. Semakin banyak lembar catatan yang dibaca, Suar kian terjebak dengan kisah Juang. Suar pun kemudian resign, memutuskan keluar dari zona nyaman, menjemput mimpinya menjadi sineas.
"Jangan lupa bahwa manusia mempunyai mimpi-mimpi untuk diraih, bukan dibunuh atas nama tuntutan hidup. Dan jangan lupa bahwa Tuhan menciptakanmu berjalan di muka bumi ini untuk sesuatu yang baik, maka berbuat baiklah untuk sesama, melebihi kau berbuat baik untuk dirimu sendiri." - hlm. 173
Buku merah itu lalu menjadi 'obat kuat' bagi Suar. Catatan Juang sedemikian rupa related dengan kisah hidupnya, hingga ia ingin bertemu dengan sang penulis. Dalam perjalanan pra-debutnya sebagai sineas, Suar bertemu Dude sebagai salah satu narasumbernya. Pembaca buku KAS tentu aware siapa gerangan Dude. Bagi pembaca karya Bung yang baru, tak perlu khawatir, akan dijelaskan di bab-bab akhir. Kalian pun masih bisa penasaran. Tidak seperti pembaca lama yang sudah bisa menebak-nebak dengan liar. Wkwk.

Btw, I did the same thing with Suar, membawa Catatan Juang kemana-kemana, menemani setiap langkah dalam memenuhi syarat demi syarat satu goal besar bulan lalu. Menunggu tidak menjadi hal yang membosankan jika kita punya hal baik yang dilakukan. Semoga, ya, semoga sampai umur.
"Dan untukmu yang baru saja akan mulai menulis, selalu ingat ini: menulis adalah terapi. Dan kita tidak perlu melakukannya agar terlihat keren dihadapan orang lain, atau berekspektasi punya buku yang diterbitkan penerbit besar. Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah. Entah itu di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan media sosial, menulislah terus tanpa peduli karyamu akan dihargai oleh siapa dan senilai berapa. Menulislah meski orang-orang mengejekmu. Menulislah agar kelak saat kau meninggal, anak-cucumu tahu bahwa suatu ketika engkau pernah ada, pernah menjadi bagian dari sejarah." - hlm. 198
Terkait menulis, still far away from my mentor expectation. Masih amateur aing mah. Masih perlu banyak belajar menjadi penulis yang tidak cenderung dilupakan. Yet, I will give it a try. Stop running away and write.

Jumat, 02 Februari 2018

Because This is My First Life


This is one of my favorite drama last year. Drama bergenre romance comedy ini sungguh absurd and pleasing at the same time. Ceritanya sederhana seputar keseharian, tapi menyuguhkan sudut pandang yang berbeda tentang karir, relationships, dan marriage. Sinematografinya pun apik.

Drama ini bercerita tentang Nam Se-hee (Lee Min-ki) dan Yoon Ji-ho (Jung So-min). Awalnya mereka housemates, tetiba married dengan alasan yang mungkin sulit dicerna sebagian orang, yang satu house-poor perlu tambahan pendapatan untuk cicilan rumah, yang satu homeless ingin punya tempat tinggal. Hutang rumah Se-hee baru lunas 30 tahun kemudian, tepatnya tahun 2048, itu pun dengan tambahan bayaran dari house tenant.

Kebanyakan dialog first lead male di sini dibuat datar, jadi lebih banyak main di ekspresi. Termasuk ketika proposed. He just asked, as if a daily conversation. Wkwkk. "If you have sometime..."