CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 01 Mei 2023

Selamat Tinggal

Judul: Selamat Tinggal
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia
Terbit: November 2020
Tebal: 360 halaman

Kita tidak sempurna. Kita mungkin punya keburukan, melakukan kesalahan, bahkan berbuat jahat, menyakiti orang lain. Tapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji tidak melakukannya lagi, memperbaiki, dan menebus kesalahan tersebut.
Mari tutup masa lalu yang kelam, mari membuka halaman yang baru. Jangan ragu-ragu. Jangan cemas. Tinggalkanlah kebodohan dan ketidakpedulian. “Selamat Tinggal” suka berbohong, “Selamat Tinggal” kecurangan, “Selamat Tinggal” sifat-sifat buruk lainnya.

Karena sejatinya, kita tahu persis apakah kita memang benar-benar bahagia, baik, dan jujur. Sungguh “Selamat Tinggal” kepalsuan hidup.

***

Sudah lama sekali tidak membaca novel Tere Liye. Sampai series Bumi menjadi tiga belas, belum kunjung membacanya juga haha. Ternyata terakhir membaca Pergi.

Selamat Tinggal bercerita tentang Sintong, seorang mahasiswa abadi yang mencari jejak penulis besar yang terlupakan, Sutan Pane, untuk skripsinya. Premis awalnya kontradiktif antara pronsip tokoh dan pekerjaannya sebagai penjaga toko buku bajakan.

Jadi inget dulu awal kuliah pernah berada di antara toko buku serupa di Senen. Buku bajakan yang tulisannya ada yang buram, lem kertasnya lepas-lepas, sampai pernah menjilid spiral sebuah buku .-.
"Di mana coba berkahnya ilmu yang diperoleh dari buku bajakan?" - hlm. 13

Senin, 07 November 2022

Laut Bercerita

Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Terbit: Oktober 2017
Tebal: 379 halaman

Jakarta, Maret 1998

Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.

Jakarta, Juni 1998

Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.

Jakarta, 2000

Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.

Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan akan anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.

***

Sudah melirik novel ini sejak 2018 karena covernya. 2020 men-check-out-nya bersama satu buku prosa (Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau) yang tentu sudah lebih dahulu selesai dibaca. 2022 dibuat sesak seusai membaca novel ini. Sudah lama ternyata tidak membaca fiksi, terakhir Aroma Karsa. Genre sejarah sejujurnya not my cup of coffee, makanya tak kunjung selesai dibaca. Terlalu lama jeda membaca prolog yang sejatinya sudah menyuratkan ending ceritanya. Memasuki pertengahan cerita baru tergesa ingin menyelesaikannya.

Novel ini berisi flashback yang dibagi menjadi dua bagian, dari sudut pandang Biru Laut dan Asmara Jati (adiknya). Sesuai judulnya, benar-benar Laut yang bercerita di awal. Ia turut bergabung dengan Winatra, organisasi mahasiswa yang memihak pada kaum kecil, seperti buruh dan petani. Cerita fiksi yang terasa begitu nyata, perjuangan para aktivis yang kegiatannya dianggap menentang pemerintahan kala itu, dikejar-kejar aparat, hingga harus hidup berpindah-pindah. Kemudian, satu per satu mereka hilang (re: penghilangan orang secara paksa). Bagian terberat mendapati satu pengkhianat berada di antara mereka.

"Setiap langkahmu, langkah kita, apakah terlihat atau tidak, apakah terasa atau tidak, adalah sebuah kontribusi, Laut. Mungkin saja kita keluar dari rezim ini 10 tahun lagi, atau 20 tahun lagi. Tapi apapun yang kamu alami di Blangguan dan Burungasih adalah sebuh langkah. Sebuah baris dalam puisimu. Sebuah kalimat pertama dari cerita pendekmu." -hlm. 183

"Aku hanya ingin kau paham, orang yang suatu hari berkhianat pada kita biasanya adalah orang yang tak terduga, yang kau kira adalah orang yang mustahil melukai punggungmu." - hlm. 31

Emosi kian memuncak di bab Asmara Jati, yang perlahan mengajarkan kita agar berdamai dengan kehilangan. Sekian tahun keluarga para aktivis, baik orang tua, kakak, adik, kekasih, menyangkal bahwa mereka yang hilang sudah tiada. Sang adik, mencoba untuk mengajak kedua orang tuanya ‘keluar dari kepompong’ dan menghadapi kenyataan bahwa Mas Laut hilang dan tak akan pernah kembali. The last part hit the hardest, I couldn't hold back my tears.

"Kalau sampai aku diambil dan tidak kebali, sampaikan pada Asmara, maafkan aku meninggalkan dia ketika bermain perak umpet, dia akan paham. Aku akan selalu mengirim pesan kepadanya melalui apa pun yang dimiliki alam. Dan sampaikan pada Anjani, carilah kata-kata yang tidak terungkap di dalam cerita pendekku." - hlm. 226

"Gelap adalah bagian dari alam. Tetapi jangan sampai kita mencapai titik kelam, karena kelam adalah tanda kita sudah menyerah. Kelam adalah sebuah kepahitan, sebuah titik ketika kita merasa hidup tak bisa dipertahankan lagi." - hlm. 2

"Seandainya belum ada satu pimpinan pun yang menunaikan janjinya untuk mengungkap kasus kematianku dan kematian semua kawan-kawan, maka inilah saranku: kalian semua harus tetap menjalankan kehidupan dengan keriangan dan kebahagiaan." - hlm. 366

I really want to thank all of the activists involved at that time because they have succeeded in creating a better country for us to live in. Selamat (sebentar lagi) Hari Pahlawan!

Sabtu, 13 Agustus 2022

Memberi Ruang

Judul: Memberi Ruang
Penulis: Kurniawan Gunandi
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Juni 2022
Tebal: 160 halaman

Kalau ingin memahami orang lain, pertama-tama kita harus bisa memahami diri sendiri. Sebab, bagaimana mungkin memahami perasaan, masalah, dan apa pun yang sedang dialami orang lain kalau kita gagal melakukan hal serupa pada diri ini.

Beri ruang yang cukup untuk dirimu sendiri. Beri waktu yang lapang untuk mengenali diri dengan baik. Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan dunia luar sehingga gagal memahami diri ini. Lalu saat sudah berumur, kita masih dibuat bingung dengan keinginan yang ada.

Memberi Ruang akan  membawa kita memahami berbagai pelajaran hidup yang hadir lewat kegagalan, kesedihan, kecemasan, dan masalah-masalah lainnya.

***

Buku ketujuh yang ditulis masgun sejak 2014. Kali ini sengaja langsung direview tak lama setelah bukunya selesai dibaca, agar tidak terlewat seperti Bising (yang rencana reviewnya akan disusulkan kemudian, haha). Mungkin di antara kalian ada yang sudah pernah membaca Hujan MatahariLautan LangitMenentukan ArahBertumbuh, atau Arah Musim; tidak akan asing dengan buku kumpulan tulisan pendek ini. 

"Hati-hati segalanya memiliki konsekuensi." - pesan di samping tanda tangan yang dibubuhkan masgun
Hal yang paling terasa sejak Bising, tulisannya lebih dewasa, topiknya lebih kompleks. Tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi dewasa itu sulit. Setiap cerita dalam buku ini bisa diikuti secara acak, tidak ada cerita yang bersambung, beberapa poin berulang. My personal opinion, tidak semelelahkan membaca Bising, karena buku ini memang negasinya.

Bulan lalu mengikuti bedah buku ini secara online. Berikut beberapa catatan yang sempat dikutip. Masalah besar atau kecil itu persfektif, tergantung ruang yang dimiliki. Kemudian, bagaimana respon terhadap masalah yang dihadapi. Seberapa sering menghindar atau lari dari masalah?
"Kita tidak selamanya bisa bergantung kepada orang lain. Seseorang yang akan terus menemani kita adalah diri sendiri. Maka, bantulah dirimu untuk bisa menjadi pribadi yang baik. Pribadi yang menyenangkan. Bantulah dirimu untuk menjadi orang yang berwawasan, bisa kamu ajak bicara, dan kamu merasa nyaman dengannya setiap waktu." - hlm. 42

Apakah nyaman ngobrol dengan diri sendiri di fase krisis? Everyone was a beginner, selami cara berpikirnya. Kalau ada yang bisa diperbaiki, bantu memperbaiki cara berpikirnya. Respect dengan peran yang diambil oleh orang lain. Di luar sana ada yang tidak bisa memilih peran, karena seolah-olah itu takdir. Appreciate, apa yang dikerjakan itu bernilai.

Kapan terakhir kali benar-benar bicara dengan orang tua?

Seberapa penting hal itu bagimu? Jika perlu waktu mencapainya 7 sampai 10 tahun apakah bersedia mengambil konsekuensinya? Jangan memilih sesuatu yang tak ingin kamu miliki seumur hidup.

"Tak ada yang mengejar-ngejarmu, kecuali kekhawatiran dan ketakutanmu sendiri." - hlm. 111

"Kita sering kali memilih sesuatu yang lebih mudah dijalani, mesti bukan yang benar-benar kita inginkan." - hlm. 157

Diselipkan beberapa halaman kosong untukmu menulis tentang dirimu sendiri pada buku ini. Semangat berkontemplasi.

Minggu, 31 Juli 2022

caving

2021 passed like a flash. It has been a long time since I wrote again. As if someone paying attention wkwk. Some people may wonder what I am going through. Gathering myself to write last year's sum up post required more courage, without getting burst into tears. So many things that I wanna skip. However, thanks again, you are survived. Even if you feel weird about yourself, somehow.

Certain someone asked me what I have learned the most in the past year, and my answer was... being healthy. Before you nurse other, make sure to take care of yourself. Even though there was a second wave of Covid-19, walking in and out of hospital for a while. When my legs became helpless, hear the monitor beeped. Then, watching medical dramas will never be the same again. It took a lot of my time, to getting back on my feet. But it's okay, it's really okay to be vulnerable during those time. I even (try) normalized to take annual leave to rest. Last third of last year has been so busy that I did not think much.

Health is one of valuable asset. After three months of window shopping, I decided to buy slow juicer to make green juices. The results are visible when my mood swing improves, and my skin is a bit glowing pfft. But most importantly, I can adjust my diet so it does not cause flare-ups or other digestive problems. Lately, to consistently make green juices is a different story. Haha.

Another skill that was unlocked last year was composting. Previously, I started sorting organics and inorganic waste. The most household waste is organic waste. I knew even sorted waste, when picked up by dustman or dropped on a laystall, it got jumbled up again. Thankfully, my housemates support composting. Then, we bought composting kit and learn how to do it. We failed at first because we did not use the right brown materials. We harvested compost twice last year. She even developed a new hobby (re: gardening). Nowadays, I am not the only one who has plastics laundry :D

Ah ya, for the first time I lost my annual leave. However, I had the opportunity to go home twice, of course while working. And as the third one, I've so tired, thus I decided to plan a vacation, obviously not alone :p Thanks for wrapping last year (at least) beautifully.

Minggu, 31 Januari 2021

shifting

2020 was a tough year. Thank you, at least you survived. I learn to pick up my (messy) self. Despite so many unfortune news circulated. Thanks to every support systems through this year. Tribute to careerclass, one that makes me realistic and shows many perspectives. I wrote a little about it in this post. Tribute to beginagain channel that help calming my feeling, even I didn't understand any single lyrics :p. Tribute to ustadz nuzul zikri one-hour-live every morning that support me spiritually and succeed make me not sleep again after dawn :p

When I look back, ah, slow living idea was nice thing. I simply tried just to be ordinary person. Wkwk. I don't wanna love my self too much. I don't wanna be so hard on my self. I just want to balance things. Being comfortable with imperfection. Dealing with loneliness. Bravely to make life better by my own standards, little by little. In some case I choose to be bold, literally, with eloquent communication skill. Pfft. You can't please everyone anyway.

Changing habit is not easy. You need strong will and perseverance. Start small, for me like a morning walk. I start morning walk / jog to organize my thoughts, two years ago. Nowadays, I simply walk to get some sunlight or just to keep my self from doze off during meetings without coffee. Haha. Another thing that I take seriously as (health) investment is consume real foods; eat less flour, sugar, dairy, and processed food. I learn from rainbowofmylife. It's really helpful to deal with my picky eater problem, even if I haven't tried green smoothies yet.

Based on one of financial class careerclass, I decided to try another investment instruments with smaller risk than stocks (re: mutual funds). Following my previous posting about investment, when my portfolio slightly greener, I came back wkwk. There are still many things that needs to be improved, I also took CSM class. Yet the problem still lies in me who is not disciplined with trading plan and managed greed. Fighting, pension fund target still far away. Haha. So, choose your battle wisely.

Minggu, 27 September 2020

Strawberry Generation

 

Judul: Strawberry Generation
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: Mizan
Terbit: Juni 2017
Tebal: 280 halaman

Dari bentuk dan warnanya, strawberry itu menawan. Namun, di balik keindahannya, ia ternyata begitu rapuh. Itu adalah ilustrasi dari strawberry generation. Sebuah bagian dari suatu generasi yang rapuh meski terlihat indah.

Dalam buku ini Rhenald Kasali berbicara mengenai perubahan, baik yang tak terhindarkan maupun yang harus diusahakan. Salah satunya, ia mengingatkan anak muda agar tidak menjadi bagian dari strawberry generation. Generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.

Padahal, menurut Rhenald, kesuksesan tidak bisa diraih melalui jalan pintas. Maka, mentalitas rapuh itu harus diubah. "Passenger" harus menjadi "driver". Fixed mindset digantikan growth mindset.

Inilah buku yang penting dibaca oleh mereka yang ingin menjadi manusia tangguh. Yaitu, manusia yang berkarakter kuat, berjiwa terbuka, dan pandai mengungkapkan isi pikirannya.
***

Akhirnya setelah sekian bulan pandemi, berhasil menamatkan sebuah buku dari penulis yang tidak asing. Penulis merupakan pendiri Rumah Perubahan. Artikel beliau yang pertama kali pernah saya baca dan begitu menggugah, berjudul Pasport. Pernah mendaftar salah satu kursus online beliau di IndonesiaX, sayangnya terlewatkan, maybe I will catch up later.

Buku ini berisi kumpulan artikel, seputar dunia pendidikan dan parenting. Topik bahasan dibagi menjadi lima bagian besar, yaitu Pada Mulanya adalah Mindset, Hi-Tech and Hi-Touch Parenting, Memetik Moral dari yang Viral, Bianglala Entrepreneurship dan Mencegah Rajawali jadi Merpati. Banyak hal menarik yang diungkapkan dan membuat mengangguk sepanjang membaca, membenarkan hal yang disampaikan.
"Albert Einstein pernah mengatakan bahwa semua orang yang dilahirkan di muka bumi ini pada dasarnya genius. Masalahnya, mereka selalu diukur kecerdasannya berdasarkan hal-hal yang tidak mereka miliki, bukan atas apa yang mereka miliki." - hlm. 37
Sepakat pentingnya growth mindset dalam pendidikan. Agar berani mengambil tantangan hidup yang lebih besar dan mencoba hal-hal baru, sehingga terlatih melihat peluang untuk berkembang. Selain itu, penting memiliki skill memadai dalam mengambil keputusan dan menentukan skala prioritas. Belajar bukan hanya menghapal, tetapi berpikir kritis.
Namun, bagi Agustinus dari Hippo, "Those who do not travel read only one chapter." - hlm. 44
Pergi ke luar negeri tanpa ditemani satu orang pun supaya berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat atau kehabisan uang. Agar mendapatkan life skills, di antaranya kemampuan mengelola rasa frustasi, cognitive flexibility, focus dan self-control, kemampuan mengambil keputusan dengan jernih, menimbang resiko, berpikir logis, kritis, dan kreatif, berkomunikasi artikulatif, berempati pada kesulitan orang lain, serta kemampuan melihat dari perspektif yang berbeda, menurut Carol Dweck disebut sebagai growth mindset

Agar tidak terjebak sistem pendidikan negeri ini, sebaiknya orang tua perlu membuat kurikulum pendidikan sendiri untuk anaknya, tentu menjadi tantangan mendidik generasi Z atau alpha ke depannya. Zaman sudah berubah dan problematika semakin kompleks sehingga mungkin tidak bisa lagi di-handle dengan cara-cara lama. Jadilah driver yang menentukan arah, membawa penumpang-penumpangnya ke tempat tujuan dan mengambil resiko.
"Kalau kita mau hidup enak, ya kita harus belajar terus, tidak boleh ada tamatnya meski tidak ada ijazahnya." - hlm. 187
"Learning itu gabungan dari relearn dan unlearn." - hlm. 191
"Kalau kita berani melewati jalan tidak nyaman, lambat laun kita pun bisa meraih kemahiran. Kalau sudah mahir dan nyaman, jangan lupa cari jalan baru lagi. Seorang climber, kata Paul Stoltz terus mencari tantangan baru. Dia bukanlah a quiter atau a camper." - hlm. 192
It took me a while to finish reading this book. Beberapa poin penting dalam buku ini mengingatkan kembali hal-hal yang pernah disampaikan pemateri career class. Memberikan perspektif baru untuk menjadi generasi tangguh, tidak mudah rapuh karena tekanan.

Kamis, 04 Juni 2020

(not so) fancy food at home

Setelah hampir tiga bulan wfh, mencermati cashflow bulanan akan makanan, tidak bisa dipungkiri, meningkat cukup signifikan. After all this time far from home, I (almost) always consumed cooked food by others. Did not expect to cook my own meal haha even my family. But, this pandemic forced me to change. I started to buy organic vegetables, brown rice, and (healthy) snacks sometimes. It was costly. They said, it was okay, because we shifted transportation and weekly entertainment cost, do you agree?

The most fancy groceries I ever bought this time was salmon sashimi grade and sliced beef. Haha. Fyi, fresh salmon can be eaten raw. You will realize that anyone can cook, selama ada niat dan bumbu jadi. Wkwk. I only cook simple meal anyway, mostly boiled or steamed, tried to reduce fried foods or foods containing coconut milk.  Tapi ya kalau dikasih, tidak akan menolak :p

(not so) fancy food collection

Truthfully, one food materials can be cooked into many dishes. It's always much cheaper than eating once at a restaurant for the same dish. For example, I can made five portions from 500 gram sliced beef, four dishes shown in picture above. My simplest dish shown above is steamed potatoes with broccoli and cheese, I can make 2-3 servings with the same price I guess, apalagi kemarin (31/05) dapat kiriman brokoli. Haha. You can add flavor with himalayan salt if you want. Last, my favorite salmon soup with kombudashi (seaweed stock). Like ordinary soup actually, the taste was just a little different because of the broth. Not yet achieved making grilled salmon with lemon sauce :v

That's all from me. I don't plan to share some recipes here, because there are already many on cookpad or youtube. And I still faaar away to become a good cook. Haha. Pernah suatu ketika membuat pancake gluten free, snack terniat, percobaan pertama gagal, perlu ada yang bantuin mengayak tepungnya baru berhasil. Begitulah, selamat berkreasi. Stay healthy, stay sane. Thanks for reading.